Feeds:
Posts
Comments

Islam dan Konservasi Alam

KONTRIBUSI DAI DAN UMAT ISLAM DALAM KONSERVASI ALAM: SEBUAH PENGANTAR© 

Onrizal

Manager Program Islam dan Konservasi Alam, Yayasan Orangutan Sumatra Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Dosen dan Peneliti Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Email: onrizal03@yahoo.com

Pendahuluan

Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa keanekaragaman? Semuanya serba sejenis, serba sewarna atau serba yang sama lainnya. Adakah disitu keindahan? Ketika hal tersebut ditanyakan kepada seluruh manusia, maka bisa dipastikan sebagian besar menyatakan ”tidak”. Allah swt menciptakan alam semesta penuh dengan keanekaragaman.

Namun demikian, apakah kita sadari atau tidak, sebagaimana diungkap Primack et al. (1998) bahwa komunitas hayati di seluruh dunia yang membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk berkembang banyak yang rusak karena ulah manusia. Daftar ekosistem yang rusak karena manusia sudah panjang. Sejumlah besar jenis makluk hidup (hewan atau tumbuhan) menghilang dengan cepat (beberapa diantaranya telah punah selamanya) karena perburuan, perusakan habitat, dan dampak negatif dari pemangsa (predator) dan pesaing (competitor) yang diperkenalkan.

Siklus hidrologi dan kimia alami terganggu oleh pembukaan lahan yang menyebabkan milyaran ton tanah subur mengalami erosi dan hanyut ke dalam sungai, danau, dan laut setiap tahun, sehingga sungai, danau, dan perairan pesisir pantai menjadi dangkal, dimana potensi dan kejadian banjir semakin sering terjadi dalam skala yang semakin meningkat.

Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia juga dianugerahi kekayaan alam luar biasa, termasuk kekayaan keanekaragaman hayati, sehingga Indonesia dikenal sebagai salah satu megabiodiversity country (negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar).

Keanekaragaman hayati beserta alam lingkungannya menyediakan berbagai sumber makanan, obat-obatan dan perlindungan bagi manusia serta fungsi lainnya. Namun demikian, sebagaimana juga terjadi di belahan bumi yang lain, kekayaan alam Indonesia tersebut juga banyak yang mengalami kerusakan dan terus mengalami ancaman kerusakan, baik dalam skala waktu maupun ruang/tempat.

Salah satu dampak kerusakan tersebut adalah lebih dari dua per tiga pelayanan ekosistem dunia telah mengalami penurunan. Manfaat yang diambil dari pembangunan infrastruktur planet, justru mengakibatkan penurunan modal alam (MEA [Millennium Ecosystem Assessment], 2005).

Jasa atau pelayanan ekosistem (ecosystem services) bagi kehidupan manusia sudah sejak lama dirasakan oleh manusia, namun pada era sebelumnya masih dianggap sebagai sesuatu yang gratis. Sebuah ironi terlihat jelas, di saat ekonomi tumbuh, ekosistem justru semakin mengalami kerusakan. Pada sisi lain, upaya-upaya untuk mengubah kecenderungan ini cukup memprihatinkan (van Eijk & Kumar, 2009). Lalu, bagaimana kontribusi dai dan umat Islam dalam pelestarian (konservasi) alam dan lingkungannya?

Menggali khazanah Islam dalam konservasi alam

Prof Emil Salim, pakar lingkungan dan mantar Menteri Lingkungan Hidup saat memberikan tanggapan terhadap buku Prof K.H. Ali Yafie berjudul “Merintis Fiqh Lingkungan Hidup” (Yafie, 2006) menyatakan “kondisi lingkungan hidup di negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Afganistan, Iran, Maroko dan Pakistan sangat memprihatinkan dibandingkan dengan negara-negara bukan Islam seperti Kostarika, Finlandia, Kanada, Norwegia, Swedia dan Singapura. Buruknya penanganan lingkungan hidup bukan karena agama Islam, tetapi karena beda tingkat pendidikan dan inefisiensi pemerintahan (governance) negaranya. Jika agama Islam dihayati dengan fiqh lingkungan dan memuat enam komponen kehidupan dasar manusia seperti diusulkan Prof K.H. Alie Yafie, maka kaum Muslimin bisa menjadi pendorong pembangunan berwawasan lingkungan”.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah dengan tugas untuk membangun (al imaroh) dan memelihara (ar riayah) bumi dan alam sekitarnya, sebagaimana firman Allah berikut:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Quran 2: 30)

Islam hadir untuk membentuk manusia berperadapan tinggi dengan budaya yang luhur. Menurut Jatna Supriatna, PhD ahli konservasi saat memberikan pengantar pada buku “Konservasi Alam dalam Islam” (Mangunjaya, 2005) menyatakan “Islam adalah agama yang berperan dalam membentuk kelompok-kelompok budaya, misalnya budaya Melayu yang biasa diidentikkan dengan Islam, begitu pula beberapa suku bangsa besar di Indonesia yang mempunyai berbagai kearifan tradisional termasuk dalam cara pandang dan sikap melestarikan alam”.

Sumatera bagian utara (Sumatera Utara dan Aceh) memiliki kawasan konservasi alam yang kaya dan unik serta bernilai penting pada tingkat global, yakni Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) (Gambar 1). Kawasan ini menjadi induk dari berbagai sungai yang mengaliri kehidupan ribuan bahkan jutaan orang di daerah hilir, rumah bagi berbagai satwa langka yang dilindungi, seperti harimau Sumatera, orangutan Sumatera, gajah Sumatera. Keberadaan satwa tersebut sangat penting bagi keberlangsungan dan kesehatan ekosistem TNGL.

Pada tahun 1981, Leuser ditetapkan oleh UNESCO sebagai Biosphere Reserve atau Cagar Biosfer, atas usulan dari pemerintah Indonesia. Pengakuan global inipun berlanjut lagi dengan ditetapkannya TNGL sebagai Tropical World Heritage Site of Sumatra (kawasan warisan hutan tropis dunia di Sumatera), bersama-sama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada tahun 2004. Namun sampai saat ini, kerusakan dan ancaman kerusakan terus mengancam kelestarian kawasan tersebut termasuk kehidupan manusia yang hidup disekitar kawasan konservasi alam tersebut.

Gambar 1. Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang kaya keanekaragaman hayati dan sumber air bagi sungai-sungai yang menghidupi ratusan bahkan jutaan manusia yang hidup di sekitarnya

Sebagaimana pengantar Jatna Supriatna, PhD dalam pengantarnya dalam Mangunjaya (2005) yang menyatakan bahwa “konservasi alam memerlukan pendekatan multidisiplin yang keberhasilannya akan melibatkan berbagai pihak, sebab pada hakikatnya keperluan terhadap konservasi merupakan kepentingan bersama. Konservasi alam merupakan kepentingan kemanusiaan dan melindungi alam merupakan kebutuhan manusia di segala tingkat komunitas, karena manusia perlu menjaga dan melestarikan ekosistem untuk keberlanjutan kehidupan di bumi. Hubungan antara agama dan konservasi, dibahas sebagai disiplin: etika konservasi, dalam buku-buku teks biologi konservasi yang membahas mengenai hubungan pandangan manusia terhadap alam yang didasari oleh pandangan hidup mereka di bumi yaitu: agama”.

Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dalam konteks ini, bagaimana khazanah Islam dipahami dan dipraktekan dalam pengelolaan kawasan konservasi di Sumatera bagian utara?

Beberapa buku terkait Islam dan Konservasi telah hadir dalam berbagai penekanan. Sebagamana pandangan Prof Emil Salim, bahwa kerusakan lingkungan bukan karena ajaran Islam, namun karena tingkat pendidikan dan inefisiensi pemerintahan dalam mengelola lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk menggali khazanah Islam dan praktek-praktek pengelolaan alam berbasis kearifan lokal yang hidup dan berkembang di masyarakat Sumatera bagian utara yang didasari oleh pandangan hidup mereka, yakni agama Islam.

Penutup

Pada titik ini, diperlukan kontribusi para dai untuk menggali dan mengumpulkan berbagai prinsip dan khazanah Islam yang hidup dan berkembang di sekitar TNGL. Berbagai bahan tersebut akan ditulis dalam buku ilmiah populer untuk menjadi bagian pendidikan dan pengelolaan kawasan konservasi, terutama bagi kalangan generasi muda.

Program penyebarluasan informasi buku tersebut kemudian dengan dukungan para dai, tokoh masyarakat, aparat pemerintahan dan lembaga lainnya yang terkait kepada umat Islam sebagai upaya peningkatan pemahaman ajaran Islam yang utuh dan sempurna, termasuk dalam konservasi sumberdaya alam.

Selamat berkontribusi!

Pustaka

Mangunjaya, F.M. 2005. Konservasi alam dalam Islam. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

MEA (Millennium Ecosystem Assessment). 2005. Ecosystems and Human Well-being: General Synthesis. Washington, DC: Island Press and World Resources Institute.

Primack, R.B., J. Supriyatna, M. Indrawan, & P. Kramadibrata. 1998. Biologi konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

van Eijk, P., & R. Kumar. 2009. Bio-rights dalam teori dan praktek: sebuah mekanisme pendanaan untuk pengentasan kemiskinan dan konservasi lingkungan. Wetland International. Wstafingen, the Netherlands.

Yafie, A. 2006. Merintis fiqh lingkungan hidup. Ufuk Press. Jakarta


© Disampaikan pada Workshop ”Penguatan Pemahaman Konsep Islam dalam Hal Lingkungan Hidup” di Gedung PKK Kabupaten Langkat, Stabat, 16 November 2009. Diselenggarakan oleh YOSL-OIC bekerjasama dengan BBTNGL, MUI Langkat, Majelis Ulama Aceh Tamiang, IKADI Langkat dan IKADI Aceh Tamiang

The Earthquake and Tsunami Impact on Coastal Vegetation in Aceh Singkil, Northern Sumatra, Indonesia

1,2Onrizal, 2Mashhor Mansor, 3Mohamad Farid, 3Erwin A. Perbatakusuma, 1Nurdin Sulistiyono, 2Mohamed Hifni Baharuddin

1Forestry Sciences Department, Faculty of Agriculture, Universitas Sumatera Utara, Indonesia

2School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia

3Conservation International Indonesia onrizal03@yahoo.com

ABSTRACT

Aceh Singkil in west coast of Northern Sumatra is an affected area both earthquake and tsunami on December 26th 2004. Due to the earthquake, the land in the area had been subsidence from 1.0 to 2.5 m; therefore most of the inter-tidal vegetation communities were destroyed because of the inundation intensity, duration changed and submerged areas. We observed the structure and composition of littoral forests and inter-tidal vegetation communities in Kuala Baru Regency, Aceh Singkil district during 21 to 30 April 2009 or 52 months after tsunami disaster. We found pure stand littoral forests dominated by Casuariana equisetifolia in the mature stage and Cerbera manghas was dominant species in regeneration stages as natural regeneration. In the mangrove area, we found most of the mangrove trees such as Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, and Rhizophora apiculata dead. Sonneratia caseolaris in a mature stage can survive when compare to other mangrove trees but the seedlings of B. gymnorrhiza are growing well with mean height of around 50 cm. The seedlings of B. qymnorrhiza are also higher resilience level than other mangrove trees including S. caseolaris. Mangrove fern Acrosticum aureum population occupy the open areas left by mangrove plant communities. Mangrove palm Nypa fruticans are recorded growing well and a good resiliency and persistence. In fact some of coastal vegetations both dry lands and forested wetlands have a good capacity to naturally restore and grow after environmental destruction and from ecological view, those plant species can be selected for rehabilitation program in the tsunami-affected area.

Keywords: coastal forest, mangrove forest, earthquake, tsunami, Northern Sumatra

Paper presented at the Third South China Sea Tsunami Workshop (SCSTW3) 03-05 November 2009 Eureka Complex, Minden Main Campus, USM Penang, Malaysia

News: Perdagangan Karbon

Senin, 26/10/2009 17:50 WIB
Indonesia Bakal Kantongi 300 Ribu Euro dari Perdagangan Karbon
Gede Suardana
– detikFinance

Jakarta – Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan luas mulai mendapatkan keuntungan dari mekanisme perdagangan karbon. Indonesia akan mendapatkan sekitar 300 ribu Euro dari negara-negara maju penghasil emisi.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Nasional untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar pada pertemuan panel antar pemerintah tentang perubahan iklim (IPCC) ke-31 di hotel Westin, Nusa Dua, Senin (26/10/2009). Pertemuan ini dihadiri 430 pakar perubahan iklim dari 140 negara.

Nilai itu didapatkan dari sebanyak 30 sertifikat pengurangan emisi atau CER (Certified Emission Reduction) yang sudah disetujui Badan Eksekutif CDM (Clean Development Mechanism) di bawah Badan PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCC/ United Nation Framework on Climate Change).

“Satu sertifikat setara dengan satu ton gas karbon dan berharga sekitar 10 ribu Euro,” kata Rachmat.

Rachmat menambahkan Indonesia telah mengajukan sekitar 127 proposal kepada Badan Eksekutif CDM dengan potensi nilai penjualan sebesar 10 juta Euro. Ia berharap, CDM menyetujui proposal sehingga mendapatkan CER.

Namun, Rachmat berharap CER tersebut tidak langsung dijual, terutama kepada negara maju penghasil emisi terbesar. Pasalnya, pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) ke-15 di Copenhagen, Denmark pada Desember 2009 akan kembali dibahas tentang mekanisme perdagangan karbon sehingga harga karbon akan melonjak naik.

Sementara itu, Indonesia menargetkan pengurangan emisi hingga 26% pada 2020 dari kondisi yang ada saat ini. Indonesia juga berambisi akan beralih dari negara penyumbang emisi menjadi negara pengelola karbon pada 2030.

Target itu bakal dicapai karena Indonesia memiliki hutan sebagai paru-paru dunia dengan kapasitas penyerapan karbon yang besar.

(gds/dro)

Source: http://www.detikfinance.com/read/2009/10/26/175025/1228918/4/indonesia-bakal-kantongi-300-ribu-euro-dari-perdagangan-karbon

Waduh… Kepunahan Masal Makin Dekat

Jejak keberadaan koloni terumbu karang

Artikel Terkait:

Jumat, 2 Oktober 2009 | 19:37 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Irene Sarwindaningrum

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Para ahli biologi memperkirakan dunia tengah menghadapi ancaman kepunahan keanekaragaman hayati secara masal. Dugaan ini muncul dari krisis keanekaragaman hayati yang semakin parah. Diperkirakan, saat ini sebanyak 50-150 spesies bumi punah setiap harinya.

“Perkiraan ini berdasar atas proyeksi laju kepunahan yang terjadi saat ini. Proyeksi tersebut menyebutkan Sekitar 50 persen dari sekitar 10 juta spesies yang ada saat ini diprediksi akan punah dalam kurun waktu 100 tahun ke depan. Laju kepunahan beragam spesies saat ini mencapai 40-400 kali lipat dari laju kepunahan 500 tahun yang lalu,” kata Ign Pramana Yuda, Peneliti Teknobiologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dalam pidato ilmiah dies natalies ke-44 universitas tersebut di Yogyakarta, Jumat (2/10).

Laju kepunahan burung dan binatang menyusui antara tahun 1600-1975, misalnya, telah diperkirakan mencapai 5-50 kali lipat dari laju kepunahan sebelumnya. Tidak hanya spesies, kepunahan juga mengancam gen dan ekosistem di mana spesies tersebut tinggal.

Menurut Pramana, Indonesia adalah salah satu kawasan yang memiliki ancaman kepunahan terbesar. Ekosistem hutan tropis berkurang 10-20 juta hektar setiap tahunnya. Sebanyak 70 persen terumbu karang di Indonesia juga mengalami kerusakan sedang hingga berat. Kerusakan juga terjadi di sejumlah ekosistem khas di Indonesia lainnya seperti hutan bakau, sungai, danau, dan kawasan pertanian.

Pramana mengatakan, kepunahan massal kali ini terjadi dalam skala yang jauh lebih luas dan laju l ebih cepat dari lima kepunahan massal yang pernah terjadi di Bumi sebelumnya. Kepunahan massal yang terbaru terjadi sekitar 65 juta tahun lalu. Luasnya skala kepunahan massal kali ini bisa dilihat dari banyaknya spesies yang punah dan makin pendeknya usia kelestarian satu spesies. Saat ini usia spesies kurang dari 35 ribu tahun, padahal jutaan tahun yang lalu satu spesies bisa berusia 10 juta tahun.

Solidaritas lintas spesies

Besarnya skala kepunahan ini perlu diredam karena bisa berakibat berdampak buruk pada kelangsungan kehidupan di bumi . Salah satu upaya peredaman itu adalah dengan menumbuhkan solidaritas lintas spesies yang saat ini masih sangat minim. Selama ini, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih berorientasi kesejahteraan umat manusia.

Menurut Pramana, sektor pendidikan berperan sangat penting dalam hal ini. Komunitas akademis perlu mulai mengembangkan program dan kurikulum pendidikan serta pelestarian yang mengacu pada konservasi keanekaragaman hayati. Sejumlah penelitian menunjukkan, belum banyak perguruan tinggi yang membekali dengan keterampilan dan pengetahuan memadai soal konservasi hayati.

Peneliti Keanekaragaman Hayati dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Djoko Raharjo berpendapat, kepunahan yang terjadi saat ini tidak bisa disebut alami karena dipicu oleh berbagai sebab buatan , antara lain polusi, eksploitasi berlebihan pada sumber daya alam, dan industrialisasi. “Meskipun sudah sangat parah, sebenarnya masih banyak yang bisa kita lakukan untuk meredamnya pada laju yang alami,” ujarnya.

Berbagai penemuan di bidang konservasi memberikan harapan baru di bidang pelestarian alam. Masyarakat juga bisa berkontribusi dengan menekan penggunaan energi dari bahan tambang serta mengurangi konsumsi yang bisa menyebabkan polusi serta ekploitasi alam berlebihan.

Source: http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/02/19374057/Waduh….Kepunahan.Masal.Makin.Dekat

24 Pulau di Indonesia Hilang, Ribuan Lainnya Terancam

 

Jumat, 2 Oktober 2009 | 12:18 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono

BANDUNG, KOMPAS.com — Tercatat sebanyak 24 pulau kecil di Indonesia telah lenyap, baik akibat kejadian alam, maupun ulah manusia. Namun, itu belum seberapa. Yang lebih mengkhawatirkan, 2.000 pulau lain di Tanah Air juga terancam tenggelam akibat dampak pemanasan global. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Freddy Numberi saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Widyatama (Utama) Bandung, Jumat (2/10). Acara kuliah umum ini dihadiri pula oleh Bupati Sorong Stepanus Malak dan civitas akademika Utama.

Freddy menyatakan, ke-24 pulau ini hilang akibat tsunami Aceh pada 2004, abrasi, dan kegiatan penambangan pasir yang tidak terkendali. Pulau-pulau ini di antaranya Pulau Gosong Sinjai di NAD akibat tsunami, Mioswekel di Papua akibat abrasi, dan Lereh di Kepulauan Riau akibat penambangan pasir. Pemanasan global, ucapnya, menjadi ancaman paling konkret dan berbahaya bagi pulau-pulau lain di Tanah Air.

Menurut analisis bersama Departemen Kelautan Perikanan RI dan PBB, pada tahun 2030, sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia akan lenyap. “Saya punya list-nya, tetapi tidak bisa diungkapkan di sini,” ujarnya. Dikatakan Freddy, kenaikan permukaan laut bisa mencapai lebih dari 2 meter jika tidak ada penanganan serius dalam menghentikan laju pemanasan global.

Tidak hanya di pulau-pulau kecil, dalam simulasi dampak perubahan iklim, sebagian wilayah pesisir utara Jakarta akan tenggelam. “Bandara Soekarno-Hatta pun akan tenggelam jika tidak ada upaya serius mengurangi laju pemanasan global. Percaya sama saya, adik-adik sekalian kalau masih hidup di masa itu suatu hari akan mengingat omongan saya ini,” ujarnya.

Ancaman tenggelamnya pulau akibat kenaikan permukaan laut, ucapnya, bukanlah isapan jempol. “Sekarang, telah betul-betul terjadi,” ucapnya memberikan contoh negara Kepulauan Kiribati dan Tuvalu. “Presiden Kiribati telah meminta warga dunia untuk menampung warganya karena ‘negeri’ mereka telah hilang,” tuturnya. Warga-warga dari negara yang berada di Samudra Pasifik ini telah ditampung di Australia dan Selandia Baru.

Source: http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/02/12185635/24.pulau.di.indonesia.hilang.ribuan.lainnya.terancam

Protokol Copenhagen Punya Harapan Lebih Baik

Bumi dipotret dari ruang angkasa.

Kamis, 1 Oktober 2009 | 20:44 WIB

Laporan wartawan Kompas Caesar Alexey dari Los Angeles

LOS ANGELES, KOMPAS.com – Langkah berbagai negara untuk menyusun kesepakatan yang baru mengenai perubahan iklim mulai mendapat harapan yang lebih baik. Amerika Serikat menyatakan mau turut mengurangi emisi gas rumah kaca yang mereka hasilkan.

“Harapan bagi Protokol Copenhagen bakal lebih cerah daripada Protokol Kyoto. Jika negara adidaya itu mau turut berpartisipasi mengurangi pencemaran guna menahan laju perubahan iklim, negara-negara lain akan lebih mudah diajak untuk berperan serta,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dalam pembukaan Governors Global Climate Change Summit di Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (30/9).

Governors Global Climate Change Summit adalah salah satu pertemuan pendahuluan tingkat pemerintah daerah dari seluruh negara sebelum menyusun kesepakatan lingkungan tingkat dunia di Copenhagen, Denmark, atau yang lebih dikenal sebagai Protokol Copenhagen, pada Desember 2009 mendatang. Protokol Copenhagen disusun guna menggantikan Protokol Kyoto yang tidak pernah ditandatangani Amerika Serikat.

Pada kesempatan yang sama, Administrator of The US Enviromental Protection Agency, Lisa P Jackson mengatakan, pemerintahan AS di bawah Presiden Barack Obama memberi perhatian besar pada pengembangan energi bersih yang rendah karbon. Saat ini sedang disusun undang-undang mengenai energi bersih untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Tidak ada alasan lagi untuk menunda langkah guna menangani perubahan iklim . AS akan menentukan target untuk menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2020,” kata Lisa.

Dorongan bagi Presiden Barack Obama untuk turut berpartisipasi dalam penanganan perubahan iklim juga disuarakan oleh Gubernur Washington Chris Gregoire dan Gubernur California Arnold Schwarzenegger. Chris Gregoire mengatakan, semua gubernur sudah bertindak di wilayah mereka untuk me ngatasi perubahan iklim. Saat ini, perlu tindakan kongkret dari pemerintah nasional AS untuk mengatasi pemanasan global.  

“Perlu kolaborasi global untuk mengatasi perubahan iklim karena dampaknya akan dan sudah dirasakan oleh warga di berbagai negara. Jika perlu, harus ada revolusi dan otot yang kuat untuk menurunkan emisi karbon. Pemerintah subnasional sudah bertindak, kini giliran pemerintah nasional bertindak,” kata Arnold, yang merupakan mantan binaragawan dan aktor Hollywood.

Sementara itu, Fauzi Bowo menyuarakan mengenai pentingnya pelibatan pemerintah kota dan provinsi dalam penanganan perubahan iklim dalam Protokol Copenhagen. Pemerintah daerah dinilai memegang peranan kunci untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di setiap wilayah.

Di sisi lain perlu ada transparansi teknologi dalam efisiensi energi dan pengurangan penggunaan bahan bakar karbon. Fauzi Bowo meminta agar negara maju tidak mengeksklusifkan teknologi semacam ini dan tidak menjualnya dengan harga terlalu mahal karena bakal menghambat negara berkembang untuk turut mengurangi emisi gas rumah kaca.

Fauzi Bowo juga meminta kemudahan prosedur dalam perdangangan karbon atau carbon trade. Carbon trade adalah insentif yang diberikan kelompok negara-negara maju pada negara berkembang yang beru saha menurunkan emisi gas karbon.

“Usaha Jakarta untuk mendapatkan insentif dari carbon trade banyak yang gagal hanya karena masalah prosedur, bukan substansi. Padahal, bus Transjakarta dan tempat pengolahan sampah terpadu Bantargebang sudah mampu mengurangi polusi karbondioksida dan gas metan, yang menjadi pemicu pemanasan global,” kata Fauzi Bowo.

 Source: http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/01/20441161/protokol.copenhagen.punya.harapan.lebih.baik

 

24 Pulau di Indonesia Hilang, Ribuan Lainnya Terancam
Jumat, 2 Oktober 2009 | 12:18 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono

BANDUNG, KOMPAS.com - Tercatat sebanyak 24 pulau kecil di Indonesia telah lenyap akibat kejadian alam maupun ulah manusia. Namun itu belum seberapa. Yang lebih mengkhawatirkan, 2.000 pulau lain di tanah air juga terancam tenggelam akibat dampak pemanasan global. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Freddy Numberi saat menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Widyatama (Utama) Bandung, Jumat (2/10). Acara kuliah umum ini dihadiri pula oleh Bupati Sorong Stepanus Malak dan civitas akademika Utama.

Freddy menyatakan, ke-24 pulau ini hilang akibat tsunami Aceh 2004 lalu, abrasi, dan kegiatan penambangan pasir yang tidak terkendali. Pulau-pulau ini diantaranya Pulau Gosong Sinjai di NAD akibat tsunami, Mioswekel di Papua akibat abrasi dan Lereh di Kepulauan Riau akibat penambangan pasir. Pemanasan global, ucapnya, menjadi ancaman paling kongkrit dan berbahaya bagi pulau-pulau lain di tanah air.

Ancaman akan hilangnya 2.000 pulau kecil di Indonesia pada 2030 itu merupakan hasil analisis bersama Departemen Kelautan Perikanan RI dan PBB. “Saya punya listnya, tetapi tidak bisa diungkapkan di sini,” tuturnya. Dikatakan Freddy, kenaikan permukaan laut bisa mencapai lebih dari 2 meter jika tidak ada penanganan serius dalam menghentikan laju pemanasan global.

Tidak hanya di pulau-pulau kecil, dalam simulasi dampak perubahan iklim, sebagian wilayah pesisir utara Jakarta akan tenggelam. “Bandara Soekarno Hatta pun akan tenggelam, jika tidak ada upaya serius mengurangi laju pemanasan global. Percaya sama saya, adik-adik sekalian kalau masih hidup di masa itu suatu hari akan mengingat omongan saya ini,” tuturnya.

Ancaman tenggelamnya pulau akibat kenaikan permukaan laut, ucapnya, bukanlah isapan jempol. “Sekarang, telah betul-betul terjadi,” ucapnya memberikan contoh negara kepualauan Kiribati dan Tuvalu. “Presiden Kiribati telah meminta warga dunia untuk menampung warganya karena ‘negeri’ mereka telah hilang,” tuturnya. Warga-warga dari negara yang berada di Samudera Pasifik ini telah ditampung di Australia dan Selandia Baru.

Source: http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/02/12185635/24.Pulau.di.Indonesia.Hilang..Ribuan.Lainnya.Terancam

Environment
Major South Pacific Quake Spawns Tsunami

By LiveScience Staff

posted: 29 September 2009 03:20 pm ET
Updated 6:01 p.m. ET:

Editor’s Note: The Pacific Tsunami Warning Center cancelled all warnings and watches associated with this event. The article below remains as last updated prior to the cancellations.

A major earthquake struck in the Somoa Islands region of the South Pacific Ocean. The preliminary magnitude was 7.9, according to the USGS, which later upgraded the temblor to 8.0.

A tsunami warning was issued for New Zealand and nearby islands but it’s not yet clear if any real danger exists.

AP reports that a tsunami rolled 100 yards inland at Pago Pago in American Samoa, but few details were provided. Reuters reports there are deaths, citing a U.S. National Park Service official. Various wave heights are being reported, from 5 feet to 20 feet high.

Even major earthquakes under the sea do not always generate significant tsunamis. It depends on whether and how much the floor of the sea shifts. A tsunami can be created when a significant thrust on the seafloor acts like a giant paddle.

No tsunami is expected along the California, Oregon, Washington, British Columbia, and Alaska coasts, the Pacific Tsunami Warning Center said initially. The center did, however, release a map showing how long it would take for any possible tsunami from this quake to reach various shorelines in the Pacific basin. A tsunami watch — not a warning — is now in effect for Hawaii. Tsunamis can take hours to cross the open ocean.

This quake was centered 1,670 miles (2685 km) from Auckland, New Zealand and just 125 miles from one of the Samoan islands. It originated 21.7 miles (35 km) beneach the seafloor. It struck at about 1:48 p.m. ET.

On the open ocean, a tsunami is barely noticeable. A wave that might be just inches high can soar to building-tall proportions as it meets a rising seafloor near the coast.

Earthquakes and Tsunamis: How They Work
Video – Recreating an Ancient Tsunami
West Coast Tsunami Risk Higher Than Thought

Source: http://www.livescience.com/environment/090929-somoa-earthquake-tsunami.html

Earthquakes and Tsunamis: How They Work

Andrea Thompson
Senior Writer
LiveScience.com andrea Thompson
senior Writer
livescience.com
Tue Sep 29, 4:32 pm ET

Earthquakes and tsunamis, such as the powerful quake that occurred today in the South Pacific and wave it generated, can often go hand-in-hand.

 

Tsunamis, which can travel over the ocean surface from many hundreds of miles, can be generated when chunks of the planet’s crust separate under the seafloor, causing an earthquake. Today’s temblor was put at magnitude 8.0 by the U.S. Geological Survey. The potential height of the tsunami is not yet known.

 

Here’s what happens: One slab of lifting crust essentially rapidly acts as a giant paddle, transferring its energy to the water.

 

Tsunamis can also be caused by volcanic eruptions, underwater detonations and even landslides.

 

Exactly what caused today’s tsunami is not yet clear. And officials have been scrambling to issue watches and warnings and estimate what might occur.

 

The resulting waves are hard to predict for several reasons. Nobody knows how a quake has affected the seafloor until hours, days or even months after the event. And a tsunami is almost imperceptible on the open ocean, rising to full ferocity only as it nears the shore.

 

While more tsunami-sensing buoys cover the ocean than before the devastating 2004 Indian Ocean tsunami, these waves can still be missed.

 

Not all seafloor earthquakes will generate a tsunami – if the friction between the crustal plates occurs very deep below the ocean floor or move in a way that causes a minimal paddle effect, a tsunami isn’t as likely to form.

 

The 2004 quake just off the coast of Sumatra, Indonesia, was colossal, eventually put at magnitude 9.3. But an 8.7-magnitude earthquake in 2005 that originated at the same location, while large enough to generate a devastating tsunami, scientists say, did not do so. The exact reasons remain mysterious.

 

The 2004 tsunami, and those spurred by the 9.2-magnitude Great Alaska Earthquake in 1964, were examples of teletsunamis, which can cross entire oceans.

 

Several devastating tsunamis have occurred throughout recorded history, including one that leveled Lisbon, Portugal in 1755 and one generated by the explosion of Krakatoa in Indonesia that drowned an estimated 36,000 people.

 

Except for the largest tsunamis, such as the 2004 Indian Ocean event, most tsunamis do not result in giant breaking waves; instead they come in much like very strong and fast-moving tides, according to the U.S. Geological Survey. As a tsunami nears the shoreline, the rising seafloor forces a wave that might have been just inches tall into a monster that can be several feet high.

 

The Pacific Ocean basin is particularly prone to tsunamis; a study earlier this year found that the tsunami risk to the west coast of the United States was higher than previously thought.

LiveScience.com chronicles the daily advances and innovations made in science and technology. We take on the misconceptions that often pop up around scientific discoveries and deliver short, provocative explanations with a certain wit and style. Check out our science videos, Trivia & Quizzes and Top 10s. Join our community to debate hot-button issues like stem cells, climate change and evolution. You can also sign up for free newsletters, register for RSS feeds and get cool gadgets at the LiveScience Store. Earthquakes and tsunamis, such as the powerful quake that occurred today in the South Pacific and wave it generated, can often go hand-in-hand.

 

Tsunamis, which can travel over the ocean surface from many hundreds of miles, can be generated when chunks of the planet’s crust separate under the seafloor, causing an earthquake. Today’s temblor was put at magnitude 8.0 by the U.S. Geological Survey. The potential height of the tsunami is not yet known.

 

Here’s what happens: One slab of lifting crust essentially rapidly acts as a giant paddle, transferring its energy to the water.

 

Tsunamis can also be caused by volcanic eruptions, underwater detonations and even landslides.

 

Exactly what caused today’s tsunami is not yet clear. And officials have been scrambling to issue watches and warnings and estimate what might occur.

 

The resulting waves are hard to predict for several reasons. Nobody knows how a quake has affected the seafloor until hours, days or even months after the event. And a tsunami is almost imperceptible on the open ocean, rising to full ferocity only as it nears the shore.

 

While more tsunami-sensing buoys cover the ocean than before the devastating 2004 Indian Ocean tsunami, these waves can still be missed.

 

Not all seafloor earthquakes will generate a tsunami – if the friction between the crustal plates occurs very deep below the ocean floor or move in a way that causes a minimal paddle effect, a tsunami isn’t as likely to form.

 

The 2004 quake just off the coast of Sumatra, Indonesia, was colossal, eventually put at magnitude 9.3. But an 8.7-magnitude earthquake in 2005 that originated at the same location, while large enough to generate a devastating tsunami, scientists say, did not do so. The exact reasons remain mysterious.

 

The 2004 tsunami, and those spurred by the 9.2-magnitude Great Alaska Earthquake in 1964, were examples of teletsunamis, which can cross entire oceans.

 

Several devastating tsunamis have occurred throughout recorded history, including one that leveled Lisbon, Portugal in 1755 and one generated by the explosion of Krakatoa in Indonesia that drowned an estimated 36,000 people.

 

Except for the largest tsunamis, such as the 2004 Indian Ocean event, most tsunamis do not result in giant breaking waves; instead they come in much like very strong and fast-moving tides, according to the U.S. Geological Survey. As a tsunami nears the shoreline, the rising seafloor forces a wave that might have been just inches tall into a monster that can be several feet high.

 

The Pacific Ocean basin is particularly prone to tsunamis; a study earlier this year found that the tsunami risk to the west coast of the United States was higher than previously thought.

LiveScience.com chronicles the daily advances and innovations made in science and technology. We take on the misconceptions that often pop up around scientific discoveries and deliver short, provocative explanations with a certain wit and style. Check out our science videos, Trivia & Quizzes and Top 10s. Join our community to debate hot-button issues like stem cells, climate change and evolution. You can also sign up for free newsletters, register for RSS feeds and get cool gadgets at the LiveScience Store.

Source: http://news.yahoo.com/s/livescience/earthquakesandtsunamishowtheywork

Biarkan Ikan Purba Itu Berbiak di Perairan Sulawesi Utara

 

Kamis, 24 September 2009 | 08:27 WIB

MANADO, KOMPAS.com — Perairan Sulawesi Utara (Sulut) layak dijadikan konservasi ikan purba Coelacanth, sejalan dengan cukup seringnya ikan jenis itu ditemukan di wilayah tersebut.
     
“Beberapa tahun terakhir di perairan Sulut ditemukan ikan purba Coelacanth, makanya perlu diberi perhatian serius sehingga ikan tersebut tidak punah,” kata Heard Runtuwene, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado, Kamis (24/9).
     
Coelacanth adalah ikan yang berasal dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Sebelumnya, ikan tersebut sempat diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun lalu, sampai sebuah spesimen kemudian ditemukan di Timur Afrika Selatan, di perairan Sungai Chalumna tahun 1938.
     
Di Indonesia, khususnya di sekitar perairan Manado dan Minahasa Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut. Coelacanth terdiri atas sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil.
     
Setelah penemuan pada tahun 2007 lalu oleh nelayan di Manado, pada 2009 kembali ditemukan di perairan Minahasa Utara melalui survei yang dilakukan Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Unsrat, LIPI, dan Fukushima Aquarime.
     
“Ditemukannya ikan purba di perairan Sulut menandakan wilayah kita masih diselimuti beragam ikan unik dan purba,” katanya.
     
Temuan di perairan Minahasa Utara pada 16 September 2009 itu berawal dari tersangkutnya ikan purba itu pada jaring seorang nelayan di Pulau Talise. Ikan yang terjaring saat itu memiliki panjang tubuh 114,5 sentimeter, dengan berat 27 kg.
    
Usulan perairan Sulut layak dijadikan daerah konservasi mendapat dukungan resmi dari DPRD Sulut, dengan meminta pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius. “Perairan Sulut menggambarkan penuh dengan kekayaan sumber daya hayati serta menyimpan sejarah penting bagi dunia kelautan,” kata Benny Rhamdani, anggota DPRD Sulut.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/24/08270268/Biarkan.Ikan.Purba.itu.Berbiak.di.Perairan.Sulawesi.Utara

Older Posts »