Feeds:
Posts
Comments


132616723711037711013261673011729766444

Gambar hutan mangrove yang mampu bertahan dari terjangan tsunami 26 Desember 2004 di pantai utara Aceh.

Ahad, 26 Desember 2004 sebuah waktu yang akan sangat sulit terhapus dari catatan masyarakat dunia. Ya, saat itu, gempa dahsyat yang diikuti tsunami besar memporak-porandakan kawasan pantai mulai dari Aceh, Nias, dan pantai-pantai lainnya di Asia yang menghadap Samudera Hindia sampai pantai timur Afrika. Tercatat lebih dari 200 ribu jiwa meninggal dan ratusan ribu lainnya hilang. Selain itu, infrastruktur berupa bagunan dan jalan hancur. Sebuah bencana dahsyat di akhir tahun 2004 itu, kini telah 7 tahun sudah.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari bencana itu. Salah satunya, adalah hutan mangrove dan hutan pantai yang diciptakan hidup di pesisir pantai berperan penting untuk melindungi manusia dan hasil karyanya dari daya rusak tsunami. Permukiman penduduk yang terletak di belakang hutan mangrove yang masih baik tidak mengalami kerusakan. Bukti lapangan ini menjadi fakta peranan hutan mangrove yang mampu meredam energi perusak tsunami.

13261679967148557681326168092870553774Salah satunya adalah hutan mangrove di Lahewa, Nias bagian utara. Dengan lebar sekitar 300 meter dari tepi pantai mampu menyelamatkan permukiman penduduk di belakangnya, meskipun rumah tersebut kebanyakan berupa rumah panggung, dengan dinding tepas dan atap nipah (Onrizal et al., 2009).

Hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan pada berbagai jurnal internasional menunjukkan, hutan mangrove dan hutan pantai yang masih baik dan kompak dengan lebar 200 m dan kerapatan 30 pohon/100 meter persegi mampu melindungi pantai dari terjangan tsunami dengan mengurangi tinggi genangan sampai 70%, dan meredam energi tsunami juga sampai 70% dibandingkan pantai tanpa hutan mangrove atau hutan pantai.

Ayo, selamatkan hutan mangrove dan hutan pantai dari kerusakan! Serta, rehabilitasi hutan mangrove dan hutan pantai yang rusak. Selamatkan hutan, sesungguhnya menyelamatkan kehidupan manusia! Mari.

1326169293840428150Gambar yang menjelasakan fungsi perlidungan hutan mangrove dan hutan pantai terhadap kawasan pantai dari terjangan tsunami (Tanaka et al. 2007)

 

(Tulisan sama di http://green.kompasiana.com/penghijauan/2012/01/10/7-tahun-tsunami-mangrove-yang-melindungi/). Ada saran sahabat?

 

The great value of mangrove ecosystem is today widely recognized, but mangrove forests are exploited very rapidly by human activities. Habitat degradation and fragmentation of mangrove forests are of global concerns, but we still do not know how genetic diversity of mangroves are influenced. The distribution range of mangrove species are generally very wide and over many different countries. To assess current genetic diversity of mangrove species, international cooperation is highly required. For this purpose, we established a research network for conservation genetics of mangrove in 2010, supported by Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS) Programme promoted by the Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Graduate School of Science,Chiba University hosted the exchange program. As a part of the exchange program, an International Workshop for Conservation Genetics of Mangroves will be held in Iriomote Island which will be co-organized with the Iriomote Station of the Tropical Biosphere Research Center, the University of the Ryukyus, and International Society for Mangrove Ecosystem (ISME).

For more information: please visit at http://bean.bio.chiba-u.jp/eng/index.php?Plant_Systematics_lab

PEMBAGUNAN KERANGKA PRIORITAS DAN KELEMBAGAAN MITIGASI GRK UNTUK SEKTOR BERBASIS LAHAN DI TINGKAT DAERAH:

SEBUAH POTRET DARI SUMATERA UTARA

 

Onrizal, Darma Bakti, Hasanuddin

Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

Latar Belakang

Tekad pengurangan emisi gas rumah kaca sudah dipancangkan Pemerintah RI. Kini, bagaimana mewujudkan? Bagaimana kesiapan daerah?

Indonesia, sebagaimana disampaikan Presiden RI pada pertemuan G-20 di Pittsburg, USA, bulan September 2009, secara sukarela berkomitmen akan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26% (atau sampai dengan 41% dengan adanya dukungan internasional) pada tahun 2020 dari tingkat emisi yang berlangsung seperti saat ini atau “Business as Usual” (BAU). Sektor berbasis lahan pada tahun 2000 menyumbang emisi GRK sekitar 65% dari emisi nasional dan ini merupakan yang terbesar dibandingkan sektor lain. Emisi sektor berbasis lahan tersebut berasal dari kegiatan perubahan penggunaan lahan dan kehutanan (land use chang and forestry; LUCF) (47%), termasuk kegiatan pertanian (5%) dan kebakaran lahan gambut (13%) (SNC, 2010).

Salah satu upaya untuk memenuhi komitmen tersebut, pemerintah telah menetapkan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2011 (Perpres 61/2011) pada tanggal 20 September 2011. Perpres 61/2011 antara lain menetapkan kebijakan dan strategi serta besaran nominal dari target penurunan emisi untuk setiap bidang. Dalam pasal 6 Perpres 61/2011 tersebut juga mengharuskan Gubernur untuk menyusun Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) yang mengacu pada RAN-GRK dan prioritas pembangunan daerah yang selambat-lambat selesai dalam waktu 12 bulan (pasal 6). Terkait dengan hal tersebut, bagaimana potret pemanfaatan lahan di Sumatera Utara dan kaitannya dengan upaya penurunan emisi GRK di daerah?

Selengkapnya di: Pembangunan Kerangka Prioritas dan Kelembagaan Penurunan Emisi GRK di Sumatera Utara

*Makalah disampaikan pada Semiloka Nasional ”Implementasi Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca untuk Bidang Berbasis Lahan” di IPB International Convention Center (IICC), Jl. Raya Padjajaran, Baranangsiang, Bogor pada Selasa 4 Oktober 2011

Warta Konservasi Lahan Basah (WKLB) yang diterbitkan oleh Wetland International Indonesia Programme. WKLB edisi Juli 2011 telah terbit dan berikut pengantar redaksi WKLB.

WKLB ditujukan untuk mewadahi informasi-informasi  seputar  perlahanbasahan Indonesia yang datang  dari  berbagai  kalangan  baik  secara  individu  maupun  kolektif.  Diharapkan  media WKLB  ini  dapat  berperan  dalam  meningkatkan  pengetahuan,  kesadaran  dan kepedulian  seluruh  lapisan  masyarakat  untuk  memanfaatkan  dan mengelola  lahan  basah  secara  bijak  dan  berkesinambungan.

WKLB 19 (2), Juli 2011 diawali dengan informasi bencana banjir awal tahun. Fenomena alam yang terjadi di Medan ini, seakan  mengingatkan  kita  bahwa  alam  sudah  tidak  lagi  seimbang.  Usaha  terpadu  pengelolaan  dan perbaikan  lingkungan  adalah  jawaban  wajib  yang  perlu  dinyatakan,  agar keharmonisan  antara  seluruh  mahluk  hidup  dengan  alam  dapat  terajut  kembali.

Kolom-kolom berikutnya, tidak  hanya  mengetengahkan  sajian  informasi  keadaan  suatu  wilayah,  akan  tetapi  juga  gambaran  mengenai  teknik-teknik  mengatasi  ancaman  kerusakan  lingkungan  yang diakibatkan  oleh  alam  maupun  manusia.  Seperti  pengalaman  yang  dilakukan  Wetlands  International – IP  dalam  menerapkan  program pengurangan  resiko  bencana  di  wilayah  Nusa  Tenggara  Timur.

Semoga, lembar demi lembar informasi yang kami suguhkan  ini  dapat  mendukung  dan  memotivasi  semangat  kita  semua  untuk  terus  berupaya  mengembalikan  peran  dan  fungsi  lingkungan, sehingga  manfaatnya  dapat  kita  rasakan  secara  berkesinambungan.

Salam Redaksi.

WKLB 19 (2), Juli 2011 dapat diunduh disini.

Mangrove forest structure and condition in Northern Sumatra, Indonesia in relation to tsunami and human disturbance

 

 

1Onrizal, 2Mashhor Mansor

1Department of Forestry Sciences, Universitas Sumatera Utara

2School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia

Natural and human disturbance of mangrove forests have caused many areas to vanish worldwide or degraded forests with secondary vegetation. The structure, composition, condition and regeneration status of mangrove forests with affected by the 2004 Indian Ocean tsunami and human activities in Northern Sumatra were studied during April to August 2009. Three mangrove forests were selected, i.e. Singkil’s mangrove as affected areas by tsunami, Besitang-Brandan’s mangrove as affected area by extensive cutting and Secanggang’s mangrove as conservation forests. A total of 33, 30m x 30m quadrats were set in the outer, middle and lower parts of the mangrove forests at all sampling sites. Measurements included stem diameter at breast height (DBH) and height of tree stage and sapling stage. Seedling stage trees (with stem diameter of less than 2 cm) were classified as juvenile. To assess forest condition, trees within the quadrat were classified into intact, standing dead trees (die back) and stump. The result shown that the highest number of species was found at mangrove forest as conservation area (17 species) and followed by mangrove forest at affected area by tsunami and cutting, both of them has 10 species. The highest of stem density was found at conservation forest having 1,070 stem per ha. On the other hand, the stand density of mangrove forest at affected area by tsunami and cutting area were very low (only 21% and 43%, respectively). The exploitation level of mangrove forests at cutting area was up to 37% of standing trees or 271 stumps per ha. The lowest natural regeneration was recorded at affected area by tsunami as effect of lost of mother trees. This result indicates the tsunami caused higher level of density loss rather than harvesting activities. The baseline data from this study confirm that conservation area supports a diverse mangrove forest community and can provide a valuable comparison with other more degraded mangrove forests in Northern Sumatra. Therefore, the need to improve mangrove management and replanting both affected area by tsunami and extensive cutting.

Keywords: mangrove, tsunami, disturbance, conservation, Northern Sumatra

The paper will be presented at the 22nd Pacific Science Congress, 14-17 June 2011, Kuala Lumpur Convention Center, Kuala Lumpur, Malaysia

 

MEDAN DILANDA BANJIR: BENCANA EKOLOGIS DI TAHUN BARU 2011

Onrizal

Staf Pengajar dan Peneliti pada Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara

Belum genap sepekan di tahun baru 2011, masyarakat yang bermukim di sepanjang Sungai Deli pada dini hari tanggal 6 Januari 2011 dikejutkan oleh air bah yang memasuki rumah mereka. Hujan yang terjadi pada malamnya, berubah menjadi banjir bandang, mengalir cepat, dan menghantam apa saja yang dilewatinya. Menurut kabar sementara, 10 kecamatan di Kota Medan yang dilalui Sungai Deli terendam banjir antara 1 s.d. 3 meter selain berbagai daerah di Deli Serdang yang terletak lebih ke hulu. Korban nyawapun tak terelakkan. Kampus Universitas Sumatera Utara pun tak luput dari banjir. Ini banjir terbesar setelah bencana serupa tahun 2002.

Banyak pihak berkomentar, hujan lebat yang terjadi malamnya adalah sebagai penyebab banjir itu. Ya, sangat sering kita mendengar hujan menjadi tertuduh sebagai penyebab suatu daerah di landa banjir. Sepintas terlihat benar, namun apakah betul demikian? Benar, hujan merupakan input dalam peristiwa banjit dan itu di luar kuasa manusia. Lalu, salahkah hujan?

Potret DAS Deli

Kota Medan merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli. Apa itu DAS? Menurut UU No 7 Tahun 2004, DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Selain dialiri Sungai Deli, Kota Medan juga dialiri berbagai anak-anak sungai yang kemudian mengalir ke Sungai Deli.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Wampu Ular yang wilayah kerjanya juga meliputi DAS Deli terlihat bahwa kondisi DAS Deli yang makin kritis. UU mensyaratkan suatu DAS minimal 30% berupa hutan. Ingat, 30% adalah batas minimal, bukan batas maksimal. Namun, faktanya kawasan berhutan di DAS Deli pada tahun 2010 hanya tersisa 5,21% saja atau hanya 2.463,69 ha yang berhutan dari luas total DAS Deli sebesar 47.298,01 ha.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu DAS yang baik (dengan hutan yang masih baik dan dengan luasan kawasan berhutan yang cukup) akan mampu penampung dan penyimpan curah hujan menjadi air tanah. Hanya sekitar 0,1 – 10% saja dari curah hujan yang akan mengalir langsung ke sungai atau menjadi aliran permukaan (run off), sedangkan 90 – 99,9% dari curah hujan yang terjadi pada DAS yang baik akan diresapkan ke dalam tanah. Sehingga peluang terjadinya banjir pada DAS yang masih baik akan sangat-sangat kecil kalau tidak boleh dibilang tidak ada.

Demikian pula sebaliknya, bila DAS rusak maka kemampuannya dalam menampung dan menyimpan air hujan turun drastis. Ketika hujan terjadi, hampir seluruh air hujan akan langsung menjadi aliran permukaan, mengalir ke sungai dalam waktu bersamaan. Meluap, dan jadilah air bah! Ini bukan bencana alam, tapi adalah bencana ekologis!

Lalu bagaimana dengan banjir Kota Medan di awal tahun 2011 ini? Kota Medan yang berada dalam DAS Deli, kondisinya sudah rusak. Kawasan berhutan di DAS Deli sangat jauh dari batas minimalnya, hanya 5% dari batas minimal 30%. Demikian pula sungai-sungai yang melewati Kota Medan juga mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan juga penyempitan akibat reklamasi sungai untuk pembangunan bangunan beton baik permukiman maupun hotel di atas bantaran sungai. Oleh karena itu, kemampuannya dalam menampung dan menyimpan air hujan jauh menurun, sehingga sebagian besar curah hujan akan terus mengalir ke dalam sungai dan jadilah wujudnya berupa air bah.

Nah, masihkah hujan menjadi tertuduh sebagai penyebab banjir Kota Medan (dan daerah disekitarnya) ataukah aktivitas manusia di atas lahan DAS Deli tanpa memperhatikan aspek lingkungan?

Penutup: Lahan Kritis vs Rehabilitasi di Sumatera Utara

Secara umum di Sumatera Utara, kawasan kritis terus bertambah. Pada tahun 2004 terdapat 1.665.908,68 ha atau 26,53% lahan kritis di Sumatera Utara. Angka lahan kritis itu terus bertambah bukan berkurang meskipun gerakan rehabilitasi digaungkan. Pada tahun 2010, Kepala BPDAS Wampu Ular, melaporkan seluas 2.471.246,61 ha atau 35,14% lahan di Sumatera Utara berupa lahan kritis. Dengan demikian terdapat penambahan seluas 805.337,93 ha lahan kritis di Sumatera Utara dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (2004-2010).

Berdasarkan data BP DAS Wampu Ular dan BP DAS Asahan Barumun diketahui rehabilitasi lahan di Sumatera Utara selama 5 tahun terakhir seluas 85.047,77 ha atau hanya 17.009,55 ha per tahun. Sementara pada saat bersamaan, laju penambahan lahan kritisnya mencapai 134.222,99 ha per tahun. Terlihat jelas, kerusakan hutan dan lahan jauh melebihi kapasitas untuk memperbaiki.

Oleh karena itu, dengan luas lahan kritis pada tahun 2010 sebesar 2.471.246,61 ha diperlukan waktu rehabilitasi lebih dari 145 tahun! Itu hanya dapat dicapai bila tidak ada penambahan lahan kritis baru. Mungkinkah itu dicapai atau bencana terus berlanjut?

Jawaban pesimisnya, tidak! Bila perilaku terhadap lahan dan hutan masih berjalan sebagaimana yang saat ini terjadi. Ketika penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Sumatera Utara yang saat ini sedang dilakukan tidak berbasis DAS. Ketika berbagai kepala daerah mengusulkan kawasan hutan dirubah menjadi kawasan non hutan. Ketika hutan terus dibabat tanpa mengindahkan aspek kelestarian. Ketika eksekutif terus memberi izin pembangunan di kawasan lindung. Ketika aparat bermain mata dengan pelanggar penggunaan lahan. Ketika rakyat tak berdaya melihat berbagai kerusakan atau mereka sudah apatis! Maka lahan kritis terus bertambah mengalahkan kemampuan dalam merehabilitasi. Dan akibatnya, banjir dan bencana ekologis lainnya akan berkelanjutan!

Jawaban optimisnya adalah YA! Bila perilaku pembangunan dikembalikan ke jalan yang benar. Harus ada perubahan yang radikal, dan pemerintah yang diberi kekuasaan seharusnya menjadi pelopor. Tata ruang harusnya berbasis DAS. Demikian juga aktivitas pembangunan juga seharusnya berbasis ekosistem atau dalam satu kesatuan DAS, tidak hanya berpatokan pada batas administrasi. DAS adalah suatu ekosistem yang komponennya saling bergantungan. Perubahan suatu komponen ekosistem akibat pembangunan akan berpengaruh pada komponen ekosistem lainnya. Sehingga aktivitas pembangunan di suatu tempat akan berdampak kepada tempat lain dalam suatu DAS meskipun berbeda wilayah administrasi.

Semoga banjir Kota Medan di awal tahun 2011 ini menyadarkan pemerintah agar bekerja dengan sepenuh hati dan profesional, para pengusaha yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi sesaat namun berbasis keseimbangan lingkungan, penegak hukum yang tidak bermain mata dengan pelanggar bukan takluk oleh duit, dan rakyat yang berdaya memperjuangkan hak-haknya.

Semoga banjir dan bencana ekologis lainnya tidak lestari. Cukup sampai disini!

Medan, 6 Januari 2011

 

 

Air bah mulai memasuki permukiman di kompleks USU

Air mulai merendam Jl Dr Mansur di depan kampus USU Medan

 

Jalan raya ibarat sungai

Onrizal and Cecep Kusmana

The research on species composition and structure of mangrove forest in Pulau Rambut Wildlife Reserve (SMPR), Jakarta bay was done. Field research was carried out from October to November 2002. Transect of 40 m width with was continuously divided into subplots of 20 x 20 m (for tree stage), 5 x 5 m (for sampling stage) and 2 x 2 m (for seedling stage) was set up perpendicularly seaward in order to know the change of the vegetation from the seaward to the landward. Ten tree mangrove species were found, with Rhizophora mucronata as dominant species in all growth stage. Tree density is exponentially decreased from trees with small diameter to trees with big diameter

Jurnal Peronema Vol. 2 No. 1 April 2006

[PDF]

KAJIAN EKOLOGI HUTAN PANTAI DI SUAKA MARGASATWA PULAU RAMBUT   

Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat
oleh C Kusmana – 2010
Onrizal. Cecep Kusmana. Jurnal KOMUniKASI PENELITIAN. Volume 16 ( 6) 2004.

Ecological studies on littoral forest in Pulau Rambut Wildlife Reserve have been carried out with transect method from October to November 2002. This study would be covered on species composition, forest structure, and bird habitat. The result from three plots recorded the totally species number as 22 tree species. The dominant species in each growth stage were Dysoxylum amooroides in tree stage and Morinda citrifolia in sapling and seedling stage. Tree density is exponentially decreased from trees with small diameter to trees with big diameter. Some trees in littoral forest were in nesting and resting place by some bird.

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19680/1/kpr-des2004-2.pdf
Satwa Dilindungi

Orangutan, Berliner Sejak 1928

Penulis: Indira Permanasari S | Editor: Nasru Alam Aziz
Rabu, 23 Februari 2011 | 18:47 WIB

Dibaca: 1195

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Orang utan

KOMPAS.com — Berlin sebagai kota multikultur tidak hanya tecermin dalam kehidupan sehari-hari warganya, melainkan juga di Kebun Binatang Berlin, rumah bagi ribuan spesies dari berbagai negara. Salah satu penghuninya adalah hewan eksotik dari Indonesia, orangutan sumatera (Pongo abelii).

Di Kebun Binatang Berlin, Bini dan Bagus, anaknya, asyik bergelayutan di antara tali-temali di dalam kandang mereka. Orangutan menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya di atas pohon. Ketika Bini bertingkah lucu, seperti berjungkir balik, pengunjung yang menyaksikannya tersenyum. Pengunjung betah berlama-lama di kandang primata, yang tersedia kursi dan bersuhu hangat.

Bini lahir di Kebun Binatang Berlin tahun 1980. Itu berarti dari dalam kandangnya, orangutan yang aslinya hidup di hutan tropis itu ikut menjadi saksi bisu runtuhnya tembok Berlin dan perubahan yang terjadi di kota itu.

Bukan baru-baru saja orangutan menghuni Kebun Binatang Berlin. Tobias Rahde, kurator Zoologischer Garten, mengatakan, orangutan pertama lahir di Kebun Binatang Berlin tahun 1928. Setelah itu, masih ada tiga kelahiran lainnya sebelum pecah Perang Dunia II. Setelah perang usai, program pembiakan dimulai dan bayi orangutan baru lahir tahun 1963.

Saat ini, Kebun Binatang Berlin mempunyai dua kelompok orangutan sumatera. Pasangan Bini, Mano, lahir di Kebun Binatang Rotterdam tahun 1977. Mereka hidup bersama anak mereka Bagus yang lahir tahun 2002 di Kebun Binatang Berlin. Kemudian datang kelompok orangutan kedua, yakni Enche, yang lahir di Kebun Binatang Heidelberg tahun 1989 dan Njamuk yang lahir di Kebun Binatang Berlin tahun 1990. Dari keduanya lahir Satu, anak mereka, pada tahun 2002.

Tobias Rahde mengatakan, pihaknya tidak lagi mendapatkan orangutan secara langsung dari Indonesia. Mereka tidak lagi mengambil hewan dari habitat liar aslinya karena sebagian besar spesies itu terancam punah. Orangutan yang mereka miliki sekarang lahir di kebun binatang.

Sekalipun hewan-hewan tersebut lahir di Berlin, secara biologis tetap merupakan mahluk daerah tropis. Oleh karena itu, selama bulan-bulan musim dingin, hewan-hewan dari negara lain yang beriklim lebih panas disediakan pula ruangan tertutup khusus. Selama musim panas, tidak ada masalah karena cukup hangat. The Monkey House dan Tropical House sengaja dibuat dan selesai dibangun akhir tahun 1970-an. “Mereka tetap hidup dan lebih mudah beradaptasi lantaran lahir di Eropa,” ujarnya.

Selain orangutan, beberapa hewan dari Indonesia lainnya ialah tupai (Callosciurus prevostii) dan lutung (Trachypithecus auratus). Pada tahun 1984 dan awal 1990-an, mantan Presiden Soeharto pernah menghadiahkan komodo (Varanus komodoensis) kepada Aquarium Berlin, hanya saja reptil raksasa itu sudah lama mati.

Hewan nyaris punah  

Tidak hanya satwa langka orangutan yang tinggal di Kebun Binatang Berlin. Spesies yang terancam punah dapat dilihat di sini, seperti reptil tuatara (Spehenodon punctatus) asal Selandia Baru yang dapat berumur hingga lebih dari seratus tahun, penguin (Aptenodytes patagonicus), badak hitam (Diceros bicornis) dari Afrika, gajah asia (Elephas maximus), dan tentu saja knut Si Beruang Es (Ursus maritimus).

Kini di Kebun Binatang Berlin terdapat 1.028 mamalia (174 spesies), 2.310 burung (329), 435 reptil (73), 500 amfibi (52), 5.434 ikan (511), serta 6.006 hewan tanpa tulang belakang (586). Spesies tersebut berasal dari berbagai benua. Dengan semua hewan itu, Kebun Binatang Berlin yang dibuka pertama kali tahun 1 Agustus 1844 itu merupakan kebun binatang dengan jumlah spesies terbanyak dan terbesar di dunia.

Tobias mengungkapkan, Kebun Binatang Berlin bersama dengan kebun binatang lain di Eropa bekerja sama dalam berbagai program pembiakan. Kebun Bintang Berlin terlibat dalam 88 program pembiakan berbeda mulai dari tikus lemur yang sangat kecil hingga gajah asia. Khusus untuk orangutan dari Indonesia, Kebun Binatang Berlin terlibat dalam European Endangered Species Programme (EEP). Bayi-bayi hasil pembiakan yang lahir sebagian ditransfer ke berbagai kebun binatang lain di seluruh dunia.

(Indira Permanasari, wartawan Harian Kompas peserta Program Nahaufnahme-Pertukaran Jurnalis, Goethe Institut)

Tidak Gampang Beruang Madu Bereproduksi

Penulis: Lukas Adi Prasetya | Editor: I Made Asdhiana
Rabu, 23 Februari 2011 | 22:56 WIB

Dibaca: 654

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA Beruang madu di kawasan wisata pendidikan lingkungan hidup, Balikpapan, Kalimantan Timur.

BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Beruang madu (Helarctos malayanus), keberadaannya terus menyusut. Namun bukan perkara gampang menambah jumlahnya. Tak hanya karena luas habitatnya berkurang akibat penambangan batubara di Kalimantan Timur, namun satwa ini pun juga seperti enggan bereproduksi jika luas wilayahnya terus menyusut.

“Ada sifat beruang madu yang unik, yakni tidak atau menahan untuk punya anak jika merasa anaknya nanti tak mendapat luas area jelajah yang sesuai. Keadaan ini yang sepertinya terjadi sekarang,” ujar Caecilia Nurimpi Kanasari, Kepala Divisi Pendidikan Lingkungan Hidup di Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH), Balikpapan, Kaltim, Rabu (23/2/2011).

Beruang madu ditetapkan pemerintah tahun 1973 sebagai salah satu hewan yang dilindungi. Saat ini diperkirakan hanya terdapat 50-an beruang madu di alam liar, yakni Hutan Lindung Sungai Wain, dan lima yang ditempatkan dalam KWPLH. KWPLH adalah salah satu unit pengelola di bawah Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Manggar. KWPLH terletak di Jalan Soekarno Hatta km 23 (jalan penghubung Samarinda-Balikpapan).

Beruang madu adalah yang terkecil dari delapan jenis beruang di dunia. Pada Senin (21/2/2011) lalu, beruang diperingati secara internasional. Di Indonesia, bertempat di Balikpapan.

Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, populasi beruang madu di dunia berdasarkan hilangnya habitat mereka, diperkirakan 30 persen. Karena itulah, gerakan penyelamatan satwa ini harus digencarkan.

“Hewan ini sudah tak bisa menyelamatkan habitat mereka sendiri,” ujar Caecilia yang juga Ketua Panitia Peringatan Hari Beruang se-Dunia di Balikpapan.

Di Hutan Lindung Sungai Wain (Kaltim) yang seluas 15.000 hektar, diperkirakan dihuni 50 beruang madu. Bagi beruang dengan jumlah seperti itu, memiliki daerah jelajah 15.000 hektar pun, bisa dibilang kurang. Sebab, seekor beruang jantan setidaknya menjelajahi hingga 25 km persegi. Beruang betina, mungkin separuhnya. Apalagi daerah sekitar hutan lindung sudah ada penambangan batu bara.

Luasan habitat yang berkurang adalah persoalan serius. Namun ancaman dari pemburu liar pun tak bisa dibaikan. Karena itu, menurut Caecilia, patroli di hutan lindung tersebut, juga pemantauan dari para pemerhati beruang wajib dilakukan rutin. “Jangan sampai beruang yang menjadi maskot Balipapan ini berkurang jumlahnya,” katanya.

Selain 50-an beruang di alam liar, terdapat 5 beruang ditempatkan di Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH), Balikpapan Utara. Beruang-beruang hasil sitaan dari kolektor tahun 2006 lalu ini, diberi tempat jelajah 1,3 hektar. Sebelum diselamatkan dan ditempatkan di KWPLH, kondisi mereka mengenaskan. Salah satu beruang benama Haris, mata kanannya buta akibat pukulan majikannya dulu. Benny, beruang lain, kuku dan taringnya dipotong.

“Sempitnya area jelajah bagi lima beruang (dua betina, tiga jantan) di KWPLH ditengarai juga bisa menjadikan beruang madu tersebut belum saling tertarik untuk menghasilkan keturunan. Beruang butuh ruang jelajah yang sangat luas,” kata Caecilia.

Beruang madu adalah beruang terkecil dari delapan jenis beruang di dunia. Berat hewan yang berbulu hitam dan tebal ini hanya 30-65 kg. Beruang ini lebih pendek ketimbang tinggi orang dewasa. Setiap beruang madu memiliki tanda unik yakni warna kuning atau oranye, membentuk seperti huruf V, U, atau melingkar.

Hutan hujan tropis adalah habitatnya. Makanan pokok beruang madu yakni serangga, namun ia juga menyukai buah buahan dan madu. Saat makan buah, beruang madu memakan bijinya. Setelah melewati proses pencernaan, bijian mulai bertunas. Itulah sebabnya hewan pemanjat ulung ini berperan penting dalam penyebaran biji di hutan.

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.