Feeds:
Posts
Comments

Kebakaran hutan dan lahan di Riau tak hanya menjadikan warga Riau seperti hidup dalam hidup dalam dapur bertungku kayu tak cukup kering dengan pintu dan jendela ditutup. Kayu yang tak cukup kering menyebabkan pembakaran tak menjadi sempurna dan menghasilkan asap lebih banyak. Pernahkah anda merasakan? Sangat menyesakkan. Kekurangan oksigen, mata perih, ISPA meradang.

Ratusan km dari sumber api di pantai timur Sumatera itu, 3 hari rekan penelitian saya tak bisa mendarat di Bandara Internasional Minangkabau Padang karena bandara tertutup asap: jarak pandang tak memungkinkan pilot untuk mendaratkan pesawat.

Ketika sebagian anggota tim melanjutkan ke lokasi survey di sekitar Danau Maninjau, semua kaget alang kepalang: danau maninjau “hilang”, tak terlihat dari pandangan! Begitupun pergunungan yang kokoh itupun seperti disulap hilang tak berbekas.

Masihkan pembakar hutan dan lahan, apalagi cukongnya, akan terus bebas berkeliaran tanpa sanksi yang menghentikannya dan menghalangi yang lain untuk ikut membakar? Bila itu terus berlangsung, asap akan terus lestari. Semoga sebaliknya ya.maninjau1

Picture1

 

 

 

Dataran tinggi Toba berupa Danau Toba, areal persawahan dan lahan basah lainnya merupakan tempat persinggahan berbagai jenis burung air migran. Berikut potret beberapa populasi burung air di dataran tinggi Toba di awal tahun 2014.

Picture1 Picture2 Picture3 Picture4

burung airBurung-burung air kembali hadir pada kawasan mangrove hasil rehabilitasi di Banda Aceh. Sebelumnya kawasan ini terdampak tsunami 26 Desember 2004. Kehadiran berbagai jenis burung air ini menjadi salah satu indikator mulai pulihnya kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

 

 

UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DALAM PEMULIHAN KUALITAS LINGKUNGAN*

Cecep Kusmana1), Istomo1), Sri Wilarso1), Endes N. Dahlan1), dan Onrizal2)

1) Staf Pengajar Fakultas Kehutanan IPB, Bogor
2) Staf Pengajar Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian USU, Medan

A. KONDISI HUTAN INDONESIA SAAT INI

Indonesia mempunyai kekayaan alam berupa hutan tropis yang sangat luas dan menempati urutan nomor tiga dari segi luasan setelah Brazil dan Republik Demokrasi Kongo. Hutan tropis ini merupakan hutan yang unik dan memiliki biodiversitas yang sangat tinggi.

Tipe-tipe hutan di Indonesia berkisar dari hutan-hutan Dipterocarpaceae dataran rendah yang selalu hijau di Sumatera dan Kalimantan, sampai hutan monsun musiman dan padang savanna di Nusa Tenggara serta hutan non Dipterocarpaceae dataran rendah dan kawasan sub-alpin dan alpin di Papua. Indonesia juga memiliki hutan Mangrove seluas 3,7 juta hektar dan merupakan hutan mangrove terluas di dunia (Kusmana, 2002).

Hutan-hutan tersebut telah memberikan andil yang cukup besar terhadap Pembangunan dan Perekonomian Indonesia selama tigapuluh dekade terakhir ini, namun demikian akankah hutan-hutan yang dimiliki Indonesia masih memberikan sumbangan yang serupa terhadap kehidupan makhluk di bumi ini dimasa yang akan datang? Dibawah ini adalah gambaran kondisi hutan Indonesia sejak tahun 1950 hingga kini.

A.1. Kondisi Penutupan Lahan.

Pada tahun 1950, luas total lahan di Indonesia tercatat 193.700.000 ha, dimana sebagian besar (84% atau 162.290.000 ha) merupakan hutan (Hannibal, 1950 dalam FWI/GFW, 2001). Berdasarkan hasil perhitungan GFW dalam FWI/GFW (2001) diketahui bahwa pada tahun 1997 luas lahan di Indonesia adalah 189.702.068 ha atau berkurang sekitar 2%, dan luas hutan menjadi hanya 100.000.000 ha atau pengurangan luas hutan mencapai 39% dibandingkan dengan luas pada tahun 1950. Selanjutnya, Badan Planologi Kehutanan (2003) melaporkan bahwa sampai bulan Juni 2003, luas lahan dan hutan terus berkurang, dimana luas lahan dan hutan secara berturut-turut menjadi 187.783.000 ha dan 90.907.000 ha.

A.2. Degradasi Hutan

Hutan di Indonesia sudah mengalami tekanan-tekanan sejak tahun 1950, dan lebih meningkat lagi setelah diundangkannya UU PMA dan PMDN pada tahun 1970-an, dimana era dimulainya exploitasi hutan secara besar-besaran sebagai sumber devisa dalam rangka Pembangunan Nasional. Tekanan terhadap sumberdaya hutan semakin kencang akhir-akhir ini yang diakibatkan oleh illegal logging, over cutting, perambahan yang disertasi pendudukan lahan hutan, serta adanya bencana alam seperti kebakaran hutan dan lain-lain. Tekanan terhadap sumberdaya hutan diperparah lagi pada saat era reformasi dan otonomi daerah saat ini.

Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan RI, luas lahan sangat kritis dan lahan kritis pada akhir Pelita VI (awal tahun 1999/2000) seluas 23.242.881 ha terdiri dari 35 % dalam kawasan hutan dan 65 % luar kawasan hutan. Deforestasi hutan di Indonesia telah terjadi sejak tahun 1950, namun sejak tahun 1970-an deforestasi menjadi semakin besar dimana era penebangan hutan secara komersial dimulai secara besar-besaran. Antara tahun 1970-an dan 1990-an, laju deforestasi diperkirakan antara 0,6 dan 1,2 juta ha ( Sunderlin dan Resosudarmo, 1996 dalam FWI/GFW, 2001). Lebih lanjut, berdasarkan pemetaan hutan pada tahun 1999 oleh Pemerintah Indonesia menyimpulkan bahwa laju deforestasi rata-rata dari tahun 1985-1997 mencapai 1.7 juta ha. Pulau-pulau yang mengalami deforestasi terbesar dalam kurun waktu tersebut adalah Sulawesi, Sumatera, Kalimanatan, yang secara keseluruhan kehilangan tutupan lahannya lebih dari 20 % (GoI/World Bank, 2000). Jika laju deforestasi berlangsung dengan kecepatan seperti tahun 1997 dan tidak ada usaha-usaha rehabilitasi, maka hutan dataran rendah non rawa akan lenyap dari Sumatera pada tahun 2005 dan Kalimantan setelah tahun 2010 (Holmes, 2000, dalam FWI/GFW, 2001).

Selengkapnya di Upaya rehabilitasi hutan…

* Karya tulis ini disampaikan pada Seminar Nasional Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan, pada hari Jumat, tanggal 4 Juni 2004 di Klub Rasuna, Ahmad Bakrie Hall, Jakarta

ou2

Dari empat primata kera besar (great apes) di dunia, orangutan merupakan satu-satunya yang hidup di benua Asia, sedangkan tiga kerabat lainnya, yakni gorila, simpanse, dan bonobo hidup di benua Afrika (Rijksen & Meijaard 1999; Buij et al. 2002). Sampai akhir masa Pleistocen, orangutan masih menyebar pada kawasan yang meliputi China bagian selatan hingga Pulau Jawa, namun saat ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Borneo (Bacon & Long 2001). Hasil lokakarya IUCN-Primate Spesialist Group membagi orangutan menjadi dua spesies, yaitu orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang menempati daerah sebaran yang sempit di sebelah utara bagian utara dan selatan Danau Toba di Pulau Sumatera dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terdapat di pulau Kalimantan dan di beberapa tempat yang merupakan kantong-kantong habitat hutan Sabah dan Serawak (Groves 2001; Rijksen & Meijaard 1999; Supriatna & Wahyono 2000). Sekarang, orangutan Sumatera di dunia hanya ditemukan di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

ou1

Orangutan merupakan “umbrella species” dalam konservasi hutan hujan tropis di Indonesia, khususnya hutan Sumatera dan Kalimantan. Mengingat kondisi hutan sebagai habitat alami orangutan dan kebutuhan akan daerah jelajah yang luas serta keanekaragaman jenis flora fauna hidup bersamanya, orangutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Keberadaan dan kepadatan populasi orangutan dapat digunakan sebagai ukuran konservasi hutan hujan tropis tanpa analisis yang lebih jauh mengenai struktur keanekaragaman jenis flora dan fauna di suatu kawasan tertentu. Hal ini dapat berarti bahwa konservasi populasi orangutan liar identik dengan melakukan konservasi terhadap ekosistem hutan hujan tropis yang memiliki struktur keanekaragaman yang unik (Whitten et al. 1997; Rijksen & Meijaard 1999).

Sebagian besar makanan orangutan adalah buah-buahan. Dengan demikian, bagi kelestarian hutan, orangutan merupakan pemencar biji terbaik. Oleh karena itu, orangutan sangat berperan penting bagi regenerasi hutan tropika.

ou3

Orangutan Sumatera tinggal dengan densitas yang rendah (mulai dari nol sampai tujuh ekor per km2 di Sumatera), sehingga membutuhkan ruang yang sangat luas berupa blok-blok hutan yang luas (Departemen Kehutanan 2007). Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu habitat terpenting dan mengandung sebagian besar dari orangutan Sumatera yang masih tersisa.

OU

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan luas sekitar 1.094.962 ha selain merupakan rumah bagi orangutan Sumatera, juga merupakan rumah bagi berbagai satwa langka lainnya, seperti harimau Sumatera, badah Sumatera, harimau Sumatera, ratusan jenis burung dan satwa lainnya serta berbagai jenis flora yang membentuk hutan tropika yang sangat kaya. Kawasan hutan TNGL selain berfungsi sebagai habitat flora fauna langka dan penting, juga merupakan hulu dari 10 DAS utama di Aceh dan Sumatera Utara yang airnya menghidupi lebih dari 4 juta penduduk yang hidup di sekitar kawasan TNGL. Keberadaan hutan di kawasan TNGL juga menjadi benteng bagi daerah di sekitarnya dari ancaman banjir saat musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.  Oleh karena itu, keutuhan ekosistem TNGL sangat penting untuk dijaga, tidak saja untuk kelestarian orangutan Sumatera dan berbagai jenis flora fauna lainnya, namun lebih daripada itu, hutan TNGL adalah benteng dalam menjaga kehidupan manusia.

#save forest; #save orangutan, #save our live

Picture1menyeberang dan mendaki

Picture2orangutan Sumatera dan keahliannya :-)

Picture3orangutan Sumatera menuju sarang diujung dahan,

senyum petugas dan peneliti

:-)

#save forest, #save orangutan, #save our life

 

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15#save mangrove, #save our life

Disampaikan pada Rapat Koordinasi Regional Kelompok Kerja Mangrove Daerah se Wilayah Kerja BPHM-II di Hotel Mercure, Batam, 17 – 18 Oktober 2013

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.