Feeds:
Posts
Comments

Panduan PPEH2016

Program Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan tahun 2016 (PPEH2016) bagi mahasiswa kehutanan USU alih semester 4 ke 5 akan dilakukan pada 10 hari di awal bulan Agustus 2016. Tema PPEH2016 adalah “Belajar dari Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Ekosistem Hutan secara Berkelanjutan” dengan mengambil lokasi di pesisir pantai Nagalawan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Berikut buku panduan PPEH2016.0 Cover Luar.

Selamat belajar

Judul di atas merupakan tema Paktek Pengenalan Ekosistem Hutan Tahun 2016 (PPEH2016) bagi mahasiswa kehutanan USU,terutama mahasiswa alih semester 4 ke 5. Program PPEH2016 akan dilakukan selama 10 hari di awal bulan Agustus 2016 di pesisir pantai Nagalawan, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Pada kawasan pesisir tersebut terdapat kawasan hutan mangrove yang dikelola oleh kelompok masyarakat lokal sebagai kawasan wisata mangrove Kampoeng Nipah. Kawasan tersebut sebelumnya berupa hutan mangrove yang rusak dan sebagian berupa tanah timbul. Oleh kelompok masyarakat tersebut, mangrove yang rusak mulai tahun 2005 mulai direhabilitasi. Kini kawasan tersebut menjadi salah satu destinasi ekowisata di Sumatera Utara dan menjadi bukti keberhasilan masyarakat lokal dengan kebersamaan, kegigihan dan peduli lingkungan mampu melestarikan ekosistem hutan dan alam sehingga memberikan manfaat, tidak saja manfaat ekologi, namun juga manfaat sosial, ekonomi dan budaya.

Mari menggali inspirasi dari kearifan mereka.

0 Cover Luar

Rektor USU pada tanggal 7 April 2016 telah menandatangani Surat Keputusan Nomor 568/UN5.1.R/SK/SPB/2016 tentang Penelitian Keunggulan TALENTA USU. Apa yang melatar belakanginya? Berikut diantara yang tertulis dalam lampiran SK tersebut:

Pada saat ini jumlah judul penelitian yang dilakukan oleh para dosen tetap USU dengan mekanisme pendanaan dari Kemenristek Dikti melalui Simlitabmas dirasakan masih minim. Status USU sebagai pemangku program Litabmas adalah sebagai PT UTAMA, dimana hanya 60% penelitian di USU yang diarahkan ke penelitian unggulan berdasarkan Rencana Induk Penelitian (RIP). Sebagai sebuah PTN-BH sudah selayaknya USU mempunyai status PT Mandiri agar seluruh penelitian (100%) dialokasikan berdasarkan RIP. Salah satu luaran utama penelitian adalah publikasi ilmiah internasional, baik berupa jurnal ataupun prosiding. Untuk itu jumlah penelitian yang dilakukan oleh dosen tetap USU perlu ditingkatkan demi tercapainya salah satu target kinerja Rektor USU yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti, yaitu 500 judul publiksi ilmiah internasional pada tahun 2016. Berdasarkan hal ini maka pada tahun 2016 USU akan menyelenggarakan kegiatan penelitian sumber dana Non PNBP sebanyak 200 judul.

Salinan panduan Penelitian Keunggulan TALENTA USU yang saya dapatkan dapat diunduh disini.

Selamat meneliti dan memuplikasikan hasil penelitiannya, sehingga diharapkan dapat memberi banyak manfaat.

 

 

Pokok bahasan pada minggu ke-8 m.k. Ekologi dan Manajemen Hutan Mangrove adalah produktivitas mangrove. Hal-hal yang dibahas mencakup:

Photosynthesis
Primary Productivity
Measuring Primary Productivity
Carbon Balance in Mangrove Ecosystems
The Contribution of Mangroves to Carbon Cycling in the Global Coastal Ocean
C Storage of Mangrove and Major Global Forest

Pustaka utama topik ini adalah

1. The Energetics of Mangrove Forests

2. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics

3. Common allometric equations for estimating the tree weight of mangroves

4. The potential of Indonesian mangrove forests for global climate change mitigation atau disini

5. Mangrove tree productivity

Semoga bermanfaat dan selamat belajar

Pada pekan ke-4, pokok bahasan m.k. Dendrologi bagi mahasiswa Kehutanan, USU mencakup morfologi kulit batang, batang, dan pangkal batang serta arsitektur pohon. Slide presentasi dapat diunduh disini.

Selamat belajar.

Pokok bahasan m.k. Ekologi dan Manajemen Hutan Mangrove pada pekan ke-6 dan ke-7 bagi mahasiswa semester 6 di PS Kehutanan USU adalah Silvikultur Mangrove. Bahan bacaan utama terdapat disini, berupa mangrove forest management guidelines yang dipublikasikan oleh FAO.

Selanjutnya, dalam pokok bahasan ini juga terdapat 2 studi kasus. Studi kasus pertama adalah perkembangan Silvikultur Mangrove di Indonesia. Selanjutnya, studi kasus kedua berupa silvikultur mangrove di Matang, Malaysia dan hasil kajian kelestarian hutan mangrove Matang, Malaysia.

Bahan bacaan penting berikutnya dapat diunduh melalui link berikut: disini, disini, dan disini.

Selamat belajar

Ilman et al (2016) di jurnal Land Use Policy memublikasikan artikelnya terkait analisis sejarah faktor-faktor yang menyebabkan kehilangan dan kerusakan mangrove Indonesia. Mangrove Indonesia secara sistematis telah dieksploitasi sejak tahun 1800, terutama untuk pembangunan tambak dan pemanenan kayu. Sampai akhir tahun 1960an, Indonesia telah kehilangan sekitar 200.000 ha hutan mangrove, terutama di Jawa dan Sumatera. Laju kehilangan mangrove meningkat secara drastis ketika mulai tahun 1970 eksploitasi mangrove dilakukan pada kawasan baru di luar Jawa, khususnya di Kalimantan dan Sulawesi melalui kebijakan pemerintah terkait produksi kayu, dan diikuti dengan perluasan tambak pada tahun 1980. Pembangunan tambak besar-besaran dipicu oleh tingginya harga udang selama krisis finansial Asia tahun 1997. Dampaknya, hutan mangrove Indonesia hilang sekitar 800.000 ha hanya dalam 30 tahun saja, dan sekarang berupa tambak dengan produktivitas yang rendah. Pada beberapa tahun belakangan, aktivitas pemanenan kayu di hutan mangrove Indonesia dilakukan lebih lestari. Hasil analisis menemukan bahwa pembangunan tambak diikuti oleh perkebunan kelapa sawit akan terus menjadi faktor utama perubahan (hilang dan rusaknya) ekosistem mangrove Indonesia. Kegagalan dalam meningkatkan produktivitas tambak udang akan mendorong produsen udang untuk membuka mangrove seluas 600.000 untuk dijadikan tambak dalam dua dasawarsa ke depan. Namun, dengan upaya peningkatan produktivitas budidaya tambak di pesisir pantai, menghentikan konsesi kelapa sawit untuk memanfaatkan mangrove, sertadengan mempertahankan tekanan penggunaan mangrove lainnya pada tingkat yang moderat, kehilangan mangrove dalam dua dasawarsa ke depan dapat dikurangi menjadi sekitar 23.000 ha.

File selengkapnya dapat diunduh di http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0264837716302009.

Semoga bermanfaat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.