Feeds:
Posts
Comments

Alhamdulillah dapat kiriman email dari Pemimpin Redaksi Majalah Herpetologer Mania, Akhmad Junaidi Siregar. Kirimannya adalah Majalah Herpeloger Mania edisi November 2014. Edisi ini berisi berbagai informasi dan kegiatan terkait herpetofauna dan penggiatnya. Artikel yang dimuat mencakup hasil riset, ekspedisi, situasi lapangan (gambar/foto), dan profil. Edisi ini juga terdapat artikel dari dua pulau berbeda, yakni Sumatera dan Nusa Tenggara. Sangat menarik.

Silahkan file lengkap diunduh di Majalah digital Herpetologer Mania edisi November 2014.

Selamat membaca dan terima kasih kepada redaksi yang telah mengirimkan file lengkap majalah Herpetologer Mania edisi November 2014 ini.

HM nov 2014

Gambir

Gambir. Ya, gambir biasa digunakan untuk menemani makan sirih. Tradisi yang sudah sangat lama, meskipun kini mulai berkurang ya?

Gambir yang dimaksud dihasilkan dari tumbuhan gambir (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.) yang merupakan tumbuhan perdu. Gambir yang digunakan untuk menemani makan sirih tersebut sebenarnya dalah getahnya yang telah kering yang sebelumnya diesktrak melalui perebusan.

 

Petani gambir di Desa Bongkaras di tepi Hutan Lindung Batuardan, Dairi menceritakan bahwa dalam setahun, tanaman gambir dapat dipanen sebanyak 3 s.d. 4 kali, atau sekali dalam 3 atau 4 bulan. Setiap panen saat ini dapat menghasilkan sekitar Rp. 12.500.000 per hektar dari gambir yang telah dikeringkan. Hasil yang cukup lumayan, bukan?

Persoalannya adalah tanaman gambir biasanya ditanam tanpa pohon peneduh, dan biasanya untuk perluasan kebun terlebih dahulu dengan menebang hutan alias mengkonversi hutan menjadi kebun gambir. Oleh karena tanaman ini ditanam di dataran tinggi, konversi hutan pada daerah demikian dapat memicu terganggunya fungsi hutan dalam pengaturan tata air dan pencegahan erosi dan tanah longsong. Sehingga perlu terobosan untuk mengurangi dampak negatif dari budidaya gambir selama ini. Ada ide atau solusi?

Picture1

Tanaman Gambir

Picture2Getah gambir yang sedang dikeringkan setelah diekstrak

BPK Lestarikan Mangrove

Wanamina 2014

BPK dan Perannya dalam Pelestarian Mangrove
Pasca tsunami 26 Desember 2004, perhatian terhadap sumberdaya mangrove semakin meningkat. Kerusakan hutan mangrove telah memicu berbagai bencana ekologi. Pada sisi laian, hutan mangrove yang baik tidak saja memberikan keuntungan secara sosial, ekonomi dan budaya, namun jug mampu meredam dan meminimalisir kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami. Fakta-fakta ini lan yang membuka mata masyarakat dunia untuk melestarikan sumberdaya mangrove dan merehabilitasi mangrove yang telah rusak.
Berbagai upaya rehabilitasi mangrove yang rusak telah banyak dilakukan dengan dukungan mulai dari tingkal lokal, nasional, regional sampai dunia internasional. Demikian pula lembaga kementerian Republik Indonesia dan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) yang cakupan kegiatannya mencakup ataupun beririsan dengan sumberdaya mangrove membuat dan melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove yang rusak baik secara langsung maupun menyokong atau memfasilitasi pihak lembaga non pemerintah dalam kegiatan rehabilitasi mangrove.

Mengingat dana yang digunakan oleh pemerintahan pusat maupun daerah untuk kegiatan rehabilitasi mangrove merupakan keuangan negara, sehingga kegiatannya harus dapat dipertanggung jawabkan. Dalam konteks ini, para pemeriksa (auditor) Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) Republik Indonesia yang oleh UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara diberikan kewenangan kepada BPK untuk melaksanakan pemeriksaan atau pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, termasuk didalamnya aset negara berupa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, serta biaya/kewajiban untuk mengelola aset tersebut. Dengan demikian peran para pemeriksa BPK antara lain adalah turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan dengan mengintegrasikan perspektif lingkungan dalam langkah-langkah pemeriksaan yang akan dilakukan pada setiap jenis pemeriksaan, termasuk pemeriksaan kegiatan rehablitasi mangrove. Dalam konteks ini, pemeriksa BPK berperan untuk memastikan sumberdaya keuangan negara yang digunakan dalam kegiatan rehabilitasi mangrove dapat dipertanggungjawabkan dan mencapai tujuan sebagaimana yang diamanatkan.

Selengkapnya di Wanamina 2014

Buletin WANAMINA (Wahana Berita Mangrove Indonesia) 2014 (2): 6-11

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yakni 3.112.989 ha atau ~ 22,6% dari luar total mangrove dunia yang seluas 13.776.000 ha (Giri et al. 2011). Namun demikian, Indonesia juga menyumbang kerusakan hutan mangrove terbesar dibandingkan negara-negara lain. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menginformasikan bahwa hutan mangrove Indonesia yang rusak mencapai 57,6% (RLPS, 2001). Berbagai dampak negatif akibat kerusakan mangrove telah dirasakan, seperti berkurangnya populasi ikan dan malah banyak jenis-jenis ikan yang hilang, abrasi pantai, air tanah yang menjadi asin karena intrusi air laut, banjir rob seperti sekarang yang rutin “menenggelamkan” permukiman di pantai utara Jakarta ketika bulan purnama dan berbagai dampak negatif lain. Oleh karena itu, hutan mangrove yang rusak perlu direhabilitasi sebagai bagian dari upaya pemulihan fungsi dan manfaat hutan mangrove bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Berbagai program rehabilitasi mangrove yang rusak telah banyak dilakukan dengan tingkat keberhasilan dari rendah (gagal) sampai sukses. Salah satu langkah penting untuk menjamin keberhasilan program rehabilitasi mangrove diawali dengan merancang kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai secara terpadu dan partisipatif.

rehabmng

Konsep Rehabilitasi Mangrove
Rehabilitasi ekosistem mangrove adalah tindakan sebagian atau (lebih jarang) sepenuhnya menggantikan karakteristik struktural atau fungsional dari suatu ekosistem mangrove yang telah berkurang atau hilang, atau pengganti yang berkualitas atau karakteristik ekosistem mangrove hasil rehabilitasi memiliki lebih banyak nilai sosial, ekonomi atau ekologi dibandingkan dengan keadaan lahan mangrove yang terganggu atau terdegradasi. Dengan demikian, rehabilitasi ekosistem mangrove merupakan kegiatan pemulihan lahan mangrove yang terdegradasi ke ekosistem mangrove yang dapat berfungsi kembali terlepas dari keadaan asli dari lahan yang terdegradasi tersebut. Restorasi mangrove adalah tindakan membawa ekosistem mangrove ke, sedekat mungkin, dengan kondisi aslinya (Gambar 1). Dengan demikian, restorasi merupakan kasus khusus dari rehabilitasi (Field, 1998, 1999)
Rehabilitasi termasuk didalamnya restorasi ekologi merupakan salah satu cabang ekologi yang paling menantang (Bradshaw, 1987). Namun demikian, rehabilitasi ekosistem mangrove memiliki tantangan yang lebih lagi karena merupakan ekosistem alam yang sangat dinasmis sebagai akibat pengaruh pasang surut air laut serta gangguan akibat manusia dan alam (natural and anthropogenic disturbances) (Biswas et al., 2009).
Restorasi ekologi menurut Society for Ecological Restoration (2002) adalah proses untuk membantu pemulihan suatu ekosistem yang telah terdegradasi, rusak atau hancur. Namun demikian, seringkali tidak praktis menuntut pemulihan total dari ekosistem mangrove ke kondisi semula (kondisi sebelum mengalami gangguan; pre-disturbance state). Akan terdapat gap (perbedaan) antara kondisi ekosistem mangrove yang alami (tidak terganggu atau gangguan alam dengan intensitas dan frekuensi yang rendah) dengan ekosistem mangrove hasil rehabilitasi. Tujuan rehabilitasi (termasuk restorasi) adalah meminimalkan gap antara ekosistem alami dengan ekosistem hasil rehabilitasi (Gambar 2) (Biswas et al., 2009).

Selengkapnya di Isi Edisi2 Tahun 2014_Onrizal artikel

Ekologi Ternate

Tahun 2011, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menerbitkan buku Ekologi Ternate yang merupakan hasil penelitian dalam berbagai bidang, yang mencakup Geologi, Iklim, Flora, Fauna, Mikrobiologi, dan Sosial Budaya. Selengkapnya dapat diunduh di: http://www.biologi.lipi.go.id/bio_indonesia/mTemplate.php?page=2&h=29

Selamat membaca dan berbagi

Kunjungan singkat di Kota Muar, Johor sambil mencatat jenis-jenis tumbuhan mangrove yang tumbuh di sekitar muara Sungai Muar. Tepi Sungai Muar bagian timur sebagian besar telah dibeton dan lantai lahan ditimbun dengan pecahan batu. Meskipun demikian, bagian sempit dari tepi sungai di bagian timur tersebut masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada bagian barat tepi Sungai Muar tidak dibeton dan masih terdapat tegakan hutan mangrove yang masih bagus. Berdasarkan pengamatan dari sebelah timur tepi sungai, tepi sebelah barat dari Sungai Muar didominasi oleh mangrove jenis Avicennia spp. Tampak juga jenis-jenis Rhizophora spp dari seberang sungai.

Pada tepi sebelah timur Sungai Muar yang berdekatan dengan Pelabuhan Jeti Emas dapat ditemukan anakan Avicennia alba, A. marina, A. officinalis, Rhizophora apiculata dan Nypa fruticans. Anakan tumbuhan mangrove ini diperkirakan berasal dari tegakan mangrove di sebelah barat sungai yang terbawa oleh pasang surut air laut. Pada bagian yang lebih hulu dekat Hotel Muar Traders  yang juga berada di tepi timur Sungai Muar dapat ditemukan pepohonan Avicennia alba dan Sonneratia caseolaris. Pada daerah ini juga banyak ditemukan anakan berbagai jenis tumbuhan mangrove yang telah disebutkan di atas, kecuali anakan Rhizophora apiculata.

Salah satu hal yang penting dicatat adalah anakan jenis Ficus benjamina dapat tumbuh pada celah tembok yang dibagun di tepi sungai. Jenis terakhir ini bukan termasuk jenis pohon mangrove.


1

2

Mangifera caesia

Mangifera caesia Jack (Anacardiaceae)

Nama lokal: Danish (binjai); Filipino (bayuno); Indonesian (palong, binglu); Javanese (binglu); Malay (sedaman,beluno); Thai (lam-yaa, bin-ya)

Nama perdagangan: machang

Jenis ini diyakini berasal dari Borneo, namun biasanya ditanam di Semenanjung Malaysia, Sumatra, Borneo dan Bali dan jarang dibudidayakan di Jawa atau negara-negara lain (WCMC 1998). Namun menurut Orwa dkk (2009), sekarang jenis ini juga dibudayakan di negara-negara selain Malaysia dan Indonesia, yaitu Papua New Guinea, Philippines, Thailand.

Jenis ini merupakan salah satu jenis mangga yang berharga. Buahnya untuk makanan atau minuman dan kayunya bisa untuk konstruksi ringan.

Saat ini, mangga jenis ini sudah mulai jarang dijumpai. Upaya penanaman, baik secara in situ maupun ex situ penting dilakukan untuk menghindakan dari kepunahan, sehingga  manfaatnya dapat dirasakan sampai masa-masa mendatang.

Ref.

Orwa C, A Mutua, Kindt R , Jamnadass R, S Anthony. 2009 Agroforestree Database:a tree reference and selection guide version 4.0 (http://www.worldagroforestry.org/sites/treedbs/treedatabases.asp)

WCMC [World Conservation Monitoring Centre] (1998). Mangifera caesia. In: IUCN 2014. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.1. . Downloaded on 22 June 2014.

Photo taken by Prof Isa Ipor; at Penang Botanical Garden, 21 Juni 2014

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.