Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2008

UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DALAM PEMULIHAN KUALITAS LINGKUNGAN[1]

 

Oleh

Cecep Kusmana1), Istomo1), Sri Wilarso1), Endes N. Dahlan1), dan Onrizal2)

1) Staf Pengajar Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

2) Staf Pengajar Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian USU, Medan

 

 

A. KONDISI HUTAN INDONESIA SAAT INI

 

Indonesia mempunyai kekayaan alam berupa hutan tropis yang sangat luas dan menempati urutan nomor tiga dari segi luasan setelah Brazil dan Republik Demokrasi Kongo. Hutan tropis ini merupakan hutan yang unik dan memiliki biodiversitas yang sangat tinggi. 

Tipe-tipe hutan di Indonesia berkisar dari hutan-hutan Dipterocarpaceae dataran rendah yang selalu hijau di Sumatera dan Kalimantan, sampai hutan monsun musiman dan padang savanna di Nusa Tenggara serta hutan non Dipterocarpaceae dataran rendah dan kawasan sub-alpin dan alpin di Papua.  Indonesia juga memiliki hutan Mangrove seluas 3,7 juta hektar dan merupakan hutan mangrove terluas di dunia (Kusmana, 2002).

Hutan-hutan tersebut telah memberikan andil yang cukup besar terhadap Pembangunan dan Perekonomian Indonesia selama tigapuluh dekade terakhir ini, namun demikian akankah hutan-hutan yang dimiliki Indonesia masih memberikan sumbangan yang serupa terhadap kehidupan makhluk di bumi ini dimasa yang akan datang?.  Dibawah ini adalah gambaran kondisi hutan Indonesia sejak tahun 1950 hingga kini.

 

Selengkapnya: upaya-rehabilitasi-hutan-dan-lahan


[1] Karya tulis ini disampaikan pada Seminar Nasional Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan, pada hari Jumat, tanggal 4 Juni 2004 di Klub Rasuna, Ahmad Bakrie Hall, Jakarta

Advertisements

Read Full Post »

PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DALAM MENUNJANG KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR

Onrizal

Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan USU dan Departemen Kehutanan USU

HP. +62-81314769742

Disampaikan pada Lokakarya Pengelolaan Mangrove Bagi Masyarakat Pesisir yang diselenggarakan oleh Sub-Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Langkat, Maret 2008

Hutan mangrove saat ini menjadi trend perbincangan, terutama setelah bencana tsunami di akhir tahun 2004 menelan ratusan ribu korban dan kehancuran sebagian besar pesisir pantai. Namun demikian, pada daerah pantai yag memiliki hutan mangrove lebat dampak tsunami sangat minim atau tidak membahayakan, seperti yang dijumpai di pantai utara Nias (Onrizal, 2005), beberapa pesisir barat pantai Aceh Selatan (WIIP, 2005), dan berbagai pesisir pantai Asia dan Afrika bagian Timur (Dahdouh-Guebas, 2005).

Sebelumnya banyak yang menganggap hutan mangrove seperti lahan terlantar yang tidak bermanfaat. Oleh karenanya lebih baik dikonversi menjadi areal tambak, perkebunan (kelapa sawit), misalnya, yang jelas hitungan keuntungannya. Praktek konversi mangrove yang umum dilakukan adalah menebang habis pepohonan mangrove sampai ke pinggir pantai. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tambak yang diusahakan dengan menebang habis hutan mangrove hanya produktif selama 3-4 tahun awal saja, setelahnya sudah tidak menguntungkan sehingga kemudian areal tersebut ditinggalkan begitu saja. Dampak kondisi ini adalah meningkatnya abrasi pantai, instrusi air laut dan berbagai dampak lainnya kerena pelindung alami pantai yang berupa tegakan hutan mangrove hilang. Kasus abrasi di pantai utara Jawa, pantai selatan Lampung merupakan bukti nyatanya, dimana pantai hilang dengan lebar lebih dari 10 m. Bisa dibayangkan luasnya pantai yang hilang atau pulau-pulau kecil, misalnya pulau Tapak Kuda di Langkat. Kondisi yang sama juga terjadi di sebagian besar pantai Aceh dan Sumatera Utara. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 6 tahun, yakni dalam periode 1993 – 1999, sekitar 97% hutan mangrove di Aceh dan 27% hutan mangrove di Sumutera Utara hilang dan rusak.

Lalu, pertanyaannya adalah pengelolaan hutan mangrove yang bagaimana yang dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan?

Sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component). Sebelum membicarakan pemanfaatan secara lestari, akan terlebih dahulu digambarkan berbagai fungsi mangrove, lalu bentuk-bentuk pemanfaatan ril di lapangan apa adanya, kemudian baru bentuk pemanfaatannya yang lestari.

Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam daerah tropika yang mempunyai manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat luas ditinjau dari aspek sosial, ekonomis, dan ekologi. Besarnya peranan hutan atau ekosistem mangrove bagi kehidupan, dapat diketahui dari banyaknya jenis flora dan fauna yang hidup di dalam ekosistem perairan dan daratan yang membentuk ekosistem mangrove. Para ahli antara lain, Harger (1982), Hamilton & Snedaker (1984), Naamin (1990), Odum et al. (1982), dan Snedaker (1978) sependapat bahwa hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik, dengan berbagai macam fungsi, yaitu fungsi fisik, biologi, dan fungsi ekonomi atau produksi.

A. Fungsi Mangrove

A1. Fungsi fisik

Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang; mencegah intrusi garam (salt intrution) ke arah darat; mengolah limbah organik, dan sebagainya.

Hutan mangrove mampu meredam energi arus gelombang laut, seperti tergambar dari hasil penelitian Pratikto et al. (2002) dan Instiyanto et al. (2003). Pratikto et al. (2002) melaporkan bahwa di Teluk Grajagan – Banyuwangi yang memiliki tinggi gelombang tersebut sebesar 1,09 m, dan energi gelombang sebesar 1493,33 Joule, maka ekosistem mangrove di daerah tersebut mampu mereduksi energi gelombang sampai 60%, sehingga keberadaan hutan mangrove dapat memperkecil gelombang tsunami yang menyerang daerah pantai. 

Istiyanto, Utomo dan Suranto (2003) menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut.  Hasil pengujian tersebut dapat digunakan dalam pertimbangan awal bagi perencanaan penanaman hutan mangrove bagi peredaman penjalaran gelombang tsunami di pantai.

Pasca tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Asia dengan pusat di pantai barat Aceh terdapat fakta bahwa hutan mangrove yang kompak mampu melindungi pantai dari kerusakan akibat tsunami (Istiyanto et al., 2003, Pratikto et al. 2002, Dahdouh-Guebas, 2005, Onrizal, 2005, Sharma, 2005). Demikian juga hal sama dijumpai pada kawasan pantai dengan hutan pantai yang baik mampu meredam dampak kerusakan tsunami (WIIP, 2005)

Vegetasi mangrove juga dapat menyerap dan mengurangi pencemaran (polutan).  Jaringan anatomi tumbuhan mangrove mampu menyerap bahan polutan, misalnya seperti jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap 300 ppm Mn, 20 ppm Zn, 15 ppm Cu (Darmiyati et al., 1995), dan pada daun Avicennia marina terdapat akumulasi Pb ³ 15 ppm, Cd ³ 0,5 ppm,   Ni ³ 2,4 ppm (Saepulloh, 1995).  Selain itu, hutan mangrove dapat mengendalikan intrusi air laut sebagaimana yang dilaporkan Hilmi (1998), yakni percepatan intrusi air laut di pantai Jakarta meningkat dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 km menjadi 4,24 km pada areal tidak berhutan. 

 

A2. Fungsi biologis

Secara biologi hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah berkembang biak (nursery ground), tempat memijah (spawning ground), dan mencari makanan (feeding ground) untuk berbagai organisme yang bernilai ekonomis khususnya ikan dan udang. Habitat berbagai satwa liar antara lain, reptilia, mamalia, hurting dan lain-lain. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan sumber plasma nutfah.

Ekosistem hutan mangrove memiliki produktivitas yang tinggi. Produktivitas primer ekosistem mangrove ini sekitar 400-500 gram karbon/m2/tahun adalah tujuh kali lebih produktif dari ekosistem perairan pantai lainnya (White, 1987). Oleh karenanya, ekosistem mangrove mampu menopang keanekaragaman jenis yang tinggi. Daun mangrove yang berguguran diuraikan oleh fungi, bakteri dan protozoa menjadi komponen-komponen bahan organik yang lebih sederhana (detritus) yang menjadi sumber makanan bagi banyak biota perairan (udang, kepiting dan lain-lain) (Naamin, 1990).

Kerusakan mangrove di pantai Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara berdampak pada penurunan volume dan keragaman jenis ikan yang ditangkap (56,32% jenis ikan menjadi langka/sulit didapat, dan 35,36% jenis ikan menjadi hilang/tidak pernah lagi tertangkap). Konversi hutan mangrove di pantai Napabalano, Sulawesi Tenggara dilaporkan Amala (2004) menyebabkan berkurangnya secara nyara kelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata). Hasil penelitian Onrizal et al. (2008) menunjukkan bahwa semakin bertambah umur mangrove hasil rehabilitasi akan meningkatkan populasi dan keragaman biota pesisir pantai.

A3. Fungsi ekonomi atau fungsi produksi

Mangrove sejak lama telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya (Saenger et al., 1983). Tercatat sekitar 67 macam produk yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan mangrove dan sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat, misalnya untuk bahan bakar (kayu bakar, arang, alkohol); bahan bangunan (tiang-tiang, papan, pagar); alat-alat penangkapan ikan (tiang sero, bubu, pelampung, tanin untuk penyamak); tekstil dan kulit (rayon, bahan untuk pakaian, tanin untuk menyamak kulit); makanan, minuman dan obat-obatan (gula, alkohol, minyak sayur, cuka); peralatan rumah tangga (mebel, lem, minyak untuk menata rambut); pertanian (pupuk hijau); chips untuk pabrik kertas dan lain-lain.

Menurut Saenger et al. (1983), hutan mangrove juga berperan dalam pendidikan, penelitian dan pariwisata. Bahkan menurut FAO (1982), di kawasan Asia dan Pasifik, areal mangrove juga digunakan sebagai lahan cadangan untuk transmigrasi, industri minyak, pemukiman dan peternakan. 

Dari kawasan hutan mangrove dapat diperoleh tiga macam manfaat. Pertama, berupa hasil hutan, baik bahan pangan maupun bahan keperluan lainnya. Kedua, berupa pembukaan lahan mangrove untuk digunakan dalam kegiatan produksi baik pangan maupun non-pangan serta sarana/prasarana penunjang dan pemukiman. Manfaat ketiga berupa fungsi fisik dari ekosistem mangrove berupa perlindungan terhadap abrasi, pencegah terhadap rembesan air laut dan lain-lain fungsi fisik.

Kerusakan hutan mangrove di Secanggang, menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 33,89% dimana kelompok yang paling besar terkena dampak adalah nelayan. Selain itu sekitar 85,4% masyrakat pesisir di kawasan tersebut kesulitan dalam berusaha dan mendapatkan pekerjaan dibandingkan sebelum kerusakan mangrove.

B. Manfaat Mangrove

Sumberdaya mangrove yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilihat dari dua tingkatan, yaitu tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer (primary biotic component), sebagai berikut :

B1. Tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan.

a.     Lahan tambak, lahan pertanian dan kolam garam

Di beberapa lokasi di Indonesia, seperti di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, kawasan pantai Kalimantan, pantai Sulawesi, Bali, Nusa Tenggra dan pulau-pulau lainnya, banyak lahan mangrove dikonversi untuk lahan tambak, lahan pertanian dan kolam pembuatan garam.  Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengkonversian lahan mangrove menjadi jenis penggunaan lain seperti tersebut di atas dilakukan dengan tidak memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian ekosistem.

Sebenarnya dari sudut pandang ilmiah, lahan mangrove bisa dikonversi menjadi jenis penggunaan lain dalam proporsi dan pada lokasi yang tepat sesuai dengan persyaratan ekologis tumbuhnya mangrove dan persyaratan kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang direkomendasikan.

b.     Lahan pariwisata

Beberapa potensi ekosistem mangrove yang merupakan modal penting bagi tujuan rekreasi adalah :

(1)   Bentuk perakaran yang khas umum ditemukan pada beberapa jenis pohon mangrove, seperti akar tunjang (Rhizophora spp.), akar lutut (Bruguiera spp.), akar pasak (Sonneratia spp. dan Avicennia spp.), akar papan (Heritiera spp.), dan lain-lain.

(2)   Buahnya yang bersifat vivipar (buah berkecambah semasa masih menempel pada pohon) yang diperlihatkan oleh beberapa jenis pohon mangrove, seperti jenis-jenis yang tergolong suku Rhizophoraceae.

(3)   Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi dengan hutan rawa).

(4)   Berbagai jenis fauna dan flora yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, dimana jenis fauna dan flora tersebut kadang-kadang jenis endemik bagi daerah yang bersangkutan.

(5)   Atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove.

(6)   Saat ini, nampaknya hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan/tambak tumpangsari, penebangan, pembuatan garam, dan lain-lain bisa menarik para wisatawan.

Bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang dapat dikembangkan di hutan mangrove adalah berburu, memancing, berlayar, berenang, melihat atraksi berbagai satwa, fotografi, piknik dan berkemah, melihat atraksi adat istiadat tradisional penduduk setempat, dan lain-lain.

B2. Tingkat komponen ekosistem sebagai komponen biotik primer

a.     Flora

Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai :

·         Chips untuk bahan baku kertas terutama jenis Rhizophora spp. dan Bruguiera spp.

·         Penghasil industri papan dan plywood, terutama jenis Bruguiera spp. dan Heritiera littoralis.

·         Tongkat dan tiang pancang (scalfold) terutama jenis Bruguiera spp., Ceriops spp., Oncosperma sp., dan Rhizophora apiculata.

·         Kayu bakar dan arang yang berkualitas sangat baik.

Sudah sejak lama, berbagai jenis tumbuhan mangrove dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal seperti yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal

No.

Jenis

Kegunaan

1.       

Acanthus ilicifolius

Buah yang dihancurkan dalam air dapat digunakan untuk membantu menghentikan darah yang keluar dari luka dan mengobati luka karena gigitan ular.

2.       

Acrostichum aureum

Bagian tanaman yang masih muda dapat dimakan mentah atau dimasak sebagai sayuran.

3.       

Aegiceras corniculatum

Kulit dan bijinya untuk membuat racun ikan.

 

Acanthus ilicifolius &

A. embrathatus

Mandi dengan memakai air ekstraksi rebusan kulit batang dan akar dapat mengurangi simpton dingin, mengobati alergi pada kulit dan penyakit. Jika diminum dapat menyembuhkan gejala penyakit sipilis.  Gilingan kulit batang segar yang dibalurkan pada luka bernanah akan mempercepat proses penyembuhan. Jika dicampur dengan jahe, hasil gilingannya dapat dipakai secara lokal untuk mengobati infeksi pada mata dan malaria. Jika digiling bersama kunyit dan gula tebu, dapat dipakai untuk ambien. Jika digiling dengan madu serta licorice (Glycyrrhiza glabra), diminum akan menghilangkan sakit punggung

4.       

A. alba &

A. officinalis

Kayu gubalnya agak asin bisa mengembalikan vitalitas seseorang.  Umumnya bila direbus bersama kayu gubal Cassia dan ekstraknya diminum berguna memperlancar darah menstruasi.

5.       

Avicennia alba

Daun yang masih muda dapat untuk makanan ternak, bijinya dapat dimakan jika direbus, kulitnya  untuk obat tradisional (astringent), zat semacam resin yang dikeluarkan bermanfaat dalam usaha mencegah kehamilan, salep yang dicampur cara membuatnya dengan biji tumbuhan ini sangat baik untuk mengobati luka penyakit cacar, bijinya sangat beracun sehingga harus hati-hati dalam memanfaatkannya.

6.       

A. marina

Daun yang muda dapat dimakan/disayur, polen dari bunganya dapat untuk menarik koloni-koloni kumbang penghasil madu yang diternakkan, abu dari kayunya sangat baik untuk bahan baku dalam pembuatan sabun cuci.

7.       

A. officinalis

Biji dapat dimakan sesudah dicuci dan direbus.

8.       

Bruguiera gymnorrhiza

Kayunya sangat berguna dalam industri arang/kayu bakar dan tanin, kulit batang yang masih muda dapat untuk menambah rasa sedap ikan yang masih segar.

9.       

B. parviflora

Kayunya untuk arang dan kayu bakar.

10.   

B. sexangula

Daun muda, embrio buah, buluh akar dapat dimakan sebagai sayuran, daunnya mengandung alkaloid yang dapat dipakai untuk mengobati tumor kulit, akarnya untuk kayu menyan, buahnya untuk campuran obat cuci mata tradisional.

11.   

Ceriops tagal

Kulit batang baik sekali untuk mewarnai dan sebagai bahan pengawet/penguat jala-jala ikan dan juga untuk industri batik, kayunya baik untuk industri kayu lapis (plywood). Kulit batang digunakan sebagai astrigen, namun kurang disukai. Hasil ekstraksi diminum dapat menghentikan diare, anti muntah dan anti beberapa penyakit disentri. 

 

Clerodendron inerme

Air ekstraksi daunnya digunakan untuk membasuh kulit yang diserang parasit.  Gilingan daun kering akan melindungi luka dari infeksi.  Daun yang direndam dalam spiritus panas dapat mengurangi bengkak bila ditempelkan.  Air ekstraksi akar kering terasa pahit dan dapat digunakan untuk mengobati dingin, hepatitis, kanker hati dan luka memar.

12.   

Derris trifoliana

Batang, akar dan daun dapat berfungsi sebagai perangsang untuk kontipasi dan mengurangi cairan pada saluran pernapasan serta dapat mengurangi pengaruh malnutrisi pada anak-anak.

13.   

Excoecaria agallocha

Getahnya beracun dan dapat dipakai untuk meracuni ikan. Asap hasil pembakaran kayu dipakai untuk mengobati lepra.  Kayu gubal untuk anti perut kembung dan mucolulitic.  Tepung dalam keadaan basah dapat dibalurkan pada kulit untuk menurunkan panas dan mengurangi bengkak. Ekstraksi daun yang diminum dapat mengurangi gejala epilepsi

14.   

Heritiera littoralis

Kayunya baik untuk industri papan, air buahnya beracun dan dapat untuk meracuni ikan.

15.   

Hibiscus tiliaceus

Bunga segar direbus dengan susu segar dan dipakai ketika dingin untuk membersihkan infeksi pada telinga.

16.   

Lumnitzera racemosa

Rebusan daunnya untuk obat sariawan.

17.   

Nypa fruticans

Daun untuk atap rumah, dinding, topi, bahan baku kertas, keranjang dan pembungkus sigaret, nira untuk minuman dan alkohol, biji untuk ”jely” dan sebagai kolang-kaling, dan pelepah yang dibakar untuk menghasilkan garam.

18.   

Oncosperma tigillaria

Batangnya untuk pancang rumah, umbut untuk sayuran, bunganya untuk menambah rasa sedap nasi.

19.   

Rhizophora apiculata

Kayunya untuk kayu bakar, arang, chips dan kayu konstruksi.

 

20.   

R. apiculata &

R. mucronata

Air rebusan kulit batang dipakai untuk astrigen, anti-diare dan anti muntah.  Kulit batang yang sudah dilumatkan bila ditempelkan pada luka baru dapat menghentikan pendarahan luka. Gilingan daun muda yang dikunyah berfungsi untuk menghentikan pendarahan (hoemostatic) dan antiseptik.

 

21.   

R. mucronata

Kayunya untuk arang/kayu bakar dan chips.  Air buah dan kulit akar yang muda dapat dipakai untuk mengusir nyamuk dari tubuh/badan.

 

22.   

Sonneratia caseolaris

Buahnya dapat dimakan, cairan buah untuk menghaluskan kulit, daunnya untuk makanan kambing dan menghasilkan pektin.

 

 

Thespesia populnea

Kudis dapat diobati dengan menempelkan gilingan buah dan daunnya pada tempat yang sakit.  Ekstrak kulit batang dipakai untuk membersihkan luka yang sudah kronis. Akar muda digunakan sebagai tonik.

 

23.   

Xylocarpus granatum &

X. mollucensis

Bijinya diminum untuk menyembuhkan diare dan kolera.  Air ekstraknya dapat dipakai untuk membasuh luka

 

24.   

X. moluccensis

Kayunya baik sekali untuk papan, akar-akarnya dapat dipakai sebagai bahan dasar kerajinan tangan (hiasan dinding, dll), kulitnya untuk obat tradisional (diarhoea), buahnya mengeluarkan minyak yang dapat dipakai untuk minyak rambut tradisional.

 

 

b.     Fauna

Sebagian besar jenis fauna mangrove yang berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat adalah berupa berbagai jenis ikan, kepiting dan burung.

b.1. Ikan

Berdasarkan hasil penelitian para ahli ada lebih dari sekitar 52 jenis ikan yang hidup di habitat mangrove Indonesia.  Dari berbagai jenis ikan tersebut ada enam jenis yang umum diketemukan, yaitu Mullet (Mugil cephalus), Snapper (anggota Lutjanidae), Milkfish (Chanos chanos), seabass (Lates calcarifer), Tilapia (Tillapia sp.), Mudskipper (Periothalmus spp.)

b.2. Udang dan kepiting

Ada sekitar 61 jenis udang dan kepiting yang hidup di habitat mangrove Indonesia, diantaranya jenis-jenis yang umum diketemukan di habitat tersebut, adalah : Uca spp. (fiddler crab), Sesarma spp., Scylla serata, Macrobrachium rosenbergii, Penaeus spp. Jenis udang, bandeng dan kepiting biasanya dibudidayakan oleh masyarakat dalam bentuk tambak, sedangkan jenis-jenis ikan lainnya dan Crustaceae serta moluska diperoleh oleh masyarakat melalui penangkapan.

b.3. Burung

Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai lokasi dilaporkan bahwa ada sekitar 51 jenis burung yang berasosiasi dengan mangrove, diantaranya yang umum ditemukan adalah pecuk (Anhinga sp. dan Phalacocorax sp.), cangak dan blekok (Ardea sp.), bangau/kuntul (Egretta sp. dan Leotoptilos sp.). Masyarakat sekitar mangrove pada waktu-waktu tertentu berburu burung dan memungut telur burung untuk bahan makanan atau untuk dijual, seperti yang terjadi di hutan mangrove Pulau Rambut (Departemen Kehutanan, 1994), Karang Gading dan Langkat (Hanafiah-Oeliem et al. 2000). Hal yang sama juga penulis temui di berbagai kawasan mangrove seperti di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua dan pulau-pulau lainnya.

b.4. Lebah madu

Hutan mangrove merupakan salah satu tempat bersarang yang baik bagi lebah madu, sehingga mangrove sangat potensial untuk menghasilkan madu. Umumnya, lebah madu membuat sarang pada pohon Avicennia spp, Ceriops spp., dan Excoecaria agallocha. Dengan adanya lebah madu membuat sarang di pohon-pohon mangrove akan sangat menguntungkan bagi masyarakat di sekitar kawasan mangrove, yakni dapat memungut madu. Selain memungut madu dari alam dari alam, masyarakat juga bisa mendapatkannya dengan beternak lebah madu.

Berdasarkan kegunaan produk yang dihasilkannya maka produk-produk ekosistem mangrove dikelompokkan menjadi dua yaitu : produk langsung (Tabel 2) dan produk tidak langsung (Tabel 3). Beberapa produk mangrove yang saat ini sudah diusahakan secara meluas dan komersial adalah sebagai berikut :

(a)  Arang

Arang digunakan secara tradisional untuk memasak sehari-hari. Di beberapa negara berkembang arang tersebut telah diusahakan secara komersial dan diekspor, contoh : Rhizophora mucronata dan Rh. apiculata (nilai kalori kayu 7.300 kal/g).

(b)  Kayu Bakar

Kayu bakar dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di sekitar pesisir untuk  keperluan sehari-hari, contoh : Ceriops, Avicennia, Xylocarpus, Heritiera, Excoecaria, Bruguiera dan Lumnitzera .

(c)  Ekstraksi Tanin

Tanin adalah produk hutan mangrove yang dapat dipakai untuk   keperluan pabrik tinta, plastik dan lem. Selain itu juga tanin digunakan untuk mencelup jala ikan dan menyamak bahan dari kulit, contoh : kulit batang Rhizophora  (kandungan tanin 27 %), Bruguiera gymnorrhiza (kandungan tanin 41 %), dan Ceriops tagal (kandungan tanin 46 %).  

(d)  Destilasi Kayu

Kegiatan destilasi kayu umumnya dilakukan di negara Thailand, alat destilasinya terdapat di Ranong, pesisir barat Thailand.  Bahan mentah destilasi ini diperoleh dari lubang-lubang angin alat pembakaran arang.  Bahan mentah destilasi ini mengandung pyroligneous yang bisa dipecah menjadi asam asetat, metanol dan tar dengan perbandingan 5.5 %, 3.4 % dan 6.6 % berturut-turut.

(e)   Kayu Chips

Kayu chips ini merupakan bahan baku untuk pembuatan rayon, negara yang membuat kayu chips dari mangrove adalah Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina dengan tujuan ekspor terutama ke Jepang.

 

3. Pemafaatan Mangrove yang Lestari

Secara garis besar minimal ada tiga bentuk pemanfaatan hutan mangrove yang lestari yang dapat dilakukan oleh masyarakat yaitu (a) tambak tumpangsari, (b) hutan rakyat, (c) budaya mangrove untuk mendapatkan hasil hutan selain kayu, dan (d) bentuk kombinasi pemanfaatan mangrove secara simultan.

 

 

Tabel 2. Produk langsung dari ekosistem mangrove

Jenis Kegunaan

Produk

Bahan Bakar

Kayu bakar untuk memasak, memanggang ikan, memanaskan lembaran karet, memanaskan batu bata, arang, alkohol

Konstruksi

Kayu untuk tangga, konstruksi berat (misal jembatan), penjepit rel kereta api, tiang penyangga terowongan pertambangan, tiang pancang geladak, tiang dan galah untuk bangunan, bahan untuk lantai, material untuk membuat kapal, pagar, pipa air, serpihan kayu, lem

Memancing

Pancing untuk menangkap ikan, pelampung pancing, racun ikan, bahan untuk pemeliharaan ikan, bahan untuk pemeliharaan jaring, tempat berlindung bagi ikan-ikan

Pertanian

Makanan ternak, pupuk hijau

Produksi tekstil dan kulit

Serat sintetik, bahan pencelup pakaian, bahan untuk penyamak kulit

Produksi kertas, makanan,

Berbagai jenis kertas, gula, alkohol

minuman dan obat-obatan

 

Produk Agroindustri

Minyak goreng, cuka, pengganti teh, minuman fermentasi, pelapis permukaan, rempah-rempah dari kulit kayu, daging dari propagul, sayur-sayuran, buah atau daun, pembalut rokok, bahan obat-obatan dari kulit, daun dan buah

Peralatan rumah tangga

Perabot, perekat, minyak rambut, kerajinan tangan, penumbuk padi, mainan, batang korek api, kemenyan

Lain-lain

Pengepakan / Pengemasan

 Sumber :  Hamilton & Snedaker (1984)

 

Tabel 3.  Produk tidak langsung dari ekosistem mangrove

Sumber

Produk

Finfish (berbagai jenis spesies)

Makanan

 

Pupuk

Crustacea (udang, kepiting)

Makanan

Mollusca (tiram, remis)

Makanan

Lebah

Madu, Lilin

Burung

Makanan

 

Bulu

 

Rekreasi (watching, berburu)

Mamalia

Makanan

 

Kulit berbulu (fur)

 

Rekreasi (watching, berburu)

Reptil

Kulit

 

Makanan

Fauna lainnya (amfibi, serangga)

Makanan

Rekreasi

Sumber : Hamilton & Snedaker (1984)

 

A. Tambak Tumpangsari

Tambak tumpangsari (sylvofishery) ini merupakan unit tambak yang didalamnya mengkombinasikan bagian lahan untuk pemeliharaan ikan/kepiting dan bagian lahan untuk penanaman mangrove. Sampai saat ini dikenal 5 macam model tambak tumpangsari, yaitu model empang tradisional, model komplangan, model empang terbuka, model kaokao dan model tasik rejo. Sistem tambak tumpangsari ini, sebagaimana dilaporkan oleh Quarto (1996, 2000), Fitzgerald (2000) sudah banyak diterapkan diberbagai negara dan merupakan alternatif pengelolaan mangrove yang lestari. Sebagai gambaran, beberapa model sistem tambak tumpangsari disajikan pada Gambar 1.

Perbandingan hutan mangrove dan tambak sebesar 80 : 20 diterapkan pada hutan mangrove yang masih utuh , baik yang berada di dalam kawasan maupun di luar kawasan hutan/tanah milik.  Perbandingan ini lebih menekankan kepada aspek kelestarian sumberdaya mangrove dan ekosistemnya daripada hasil tambak, berupa ikan atau udang. Sedangkan perbandingan hutan mangrove dan tambak sebesar 30 : 70 digunakan untuk hutan mangrove yang berada di luar kawasan hutan yang telah banyak dibuka/digarap guna peruntukan lain.  Perbandingan ini lebih diarahkan untuk memberi peluang kepada masyarakat dalam meningkatkan hasil pendapatan dari produksi tambak berupa ikan atau udang tanpa meninggalkan aspek kelestariannya.

Selain model tambak tumpangsari, terdapat tambak terbuka yang merupakan kolam pemeliharaan ikan yang sama sekali tidak ada tanaman mangrovenya (kolam tanpa tanaman mangrove).  Untuk memperbaiki lingkungan tambak, tanaman mangrove dapat ditanam di sepanjang saluran primer dan sekunder pinggir sungai maupun sepanjang pantai.

B. Hutan Rakyat

Hutan rakyat merupakan salah satu bentuk pemanfaatan mangrove yang dapat dikelola secara berkelanjutan, yang mana hasil utamanya berupa kayu bakar atau arang atau serpih kayu (chips).  Jenis-jenis pohon yang umumnya diusahakan adalah Rhizophora spp. dan Bruguiera spp. dengan siklus tebang sekitar 15 – 30 tahun tergantung pada tujuan penanaman.

C. Budidaya mangrove untuk mendapatkan hasil selain kayu

Bentuk pemanfaatan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil hutan ikutan (hasil hutan bukan kayu), misalnya  madu, tanin, pakan ternak, dan lain-lain. Beternak lebah dan memanen madu di hutan mangrove dipandang sebagai salah satu manfaat mangrove yang tidak memberikan dampak negatif terhadap fungsi dasar mangrove serta terhadap bahan-bahan yang dihasilkan oleh hutan mangrove. Kehadiaran lebah-lebah tersebut akan sangat menguntungkan bagai regenerasi mangrove terutama pada penyerbukan pohon-pohon mangrove yang tergantung pada serangga penyerbuk yang antara lain adalah lebah. Departemen Kehutanan (1997) menyatakan bahwa beberapa keuntungan dengan beternak lebah di hutan mangrove antara lain adalah:

·         Menyediakan makanan yang bersifat tahan lama bagi penduduk

·         Menghasilkan produk perdagangan dalam bentuk madu dan lilin

·         Menyediakan lapangan kerja ketika petani/nelayan tidak sibuk dengan kegiatan bertani/menangkap ikan

·         Menyediakan lapangan kerja bagi pengrajin setempat untuk membuat peralatan beternak lebah, dan

·         Meningkatkan produksi tanaman lain melalui penyerbukan silang.

Dari segi sosial ekonomi, beternak lebah madu pada dasarnya merupakan begiatan berskala keluarga dan memiliki keununggulan dibandingkan tipe pertanian lainnya (Departemen Kehutanan, 1997) sebagai berikut:

·         Memerlukan inventasi yang relatif kecil

·         Memanfaatkan sedikit lahan dan kualitas lahan bukan merupakan faktor pembatas

·         Dapat dilakukan oleh laki-laki atau perempuan dewasa

·         Tidak bersaing dengan kegiatan pertanian lainnya dalam hal penggunaan lahan, dan

·         Merupakan suatu kegiatan yang menghasilkan pendapatan dari sumberdaya hutan tanpa merusak sumberdaya tersebut.

 

Gambar 1. Model-model tambak tumpangsari yang umum di Indonesia

D. Bentuk kombinasi pemanfaatan mangrove secara simultan

Bentuk ini ditujukan untuk mendapatkan berbagai jenis produk sekaligus, misalnya untuk memperoleh pakan ternak, ikan/kepiting, madu dan kayu bakar/arang dari suatu kawasan mangrove. Salah satu contoh pengelolaan hutan mangrove oleh masyarakat yang menguntungkan dan berkelanjutan adalah di batu Ampar, Kalimantan Barat. Hasil penelitian magister Salmah tahun 2001 di hutan mangrove di daerah tersebut menunjukkan besarnya manfaat ekonomis dari ekosistem mangrove, dimana masyarakat lokal mendapatkan manfaat (pendapatan) yang cukup besar dari ekosistem mangrove dengan efisiensi usaha diatas 70 % tanpa merusak hutan, seperti disajikan pada Tabel 4.

Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan ekosistem hutan mangrove adalah penataan lahan, dimana seharusnya kawasan lindung berupa tegakan hutan mangrove, dimana yang boleh dilakukan kegiatan budidaya, seperti tambak sylvofishery, permukiman, wisata dan sebagainya. Pada Gambar 2 diberikan salah satu contoh penataan kawasan pantai dengan memperhatikan berbagai fungsi dan manfaat hutan mangrove.

Tabel 4. Nilai manfaat langsung ekosistem mangrove Batu Ampar Kalimantan Barat.

Jenis Manfaat

Nilai Manfaat (Rp/th)

Biaya (Rp/th)

%

Manfaat Bersih (Rp/th)

%

Potensi Kayu

60.688.525.900

18.206.553.600

30

42.481.972.300

70

Arang

1.367.871.200

512.729.300

37

855.141.900

63

Daun Nipah

98.205.184

16.874.352

17

81.330.832

83

Bibit Mangrove

100.677.700

21.072.400

21

79.695.300

79

Ikan

1.534.309.800

498.050.900

32

1.036.258.900

68

Udang

8.486.116.800

784.210.200

9

7.701.906.600

91

Kepiting

2.920.904.300

829.454.700

28

2.091.449.600

72

Jumlah

75.196.610.884

20.868.945.452

28

54.327.665.432

72

Sumber: Salmah (2001)

 

 

Gambar 2. Contoh penataan lahan mangrove untuk pemanfaatan secara lestari

 

Penutup

Hutan mangrove yang dikelola dengan baik telah memberikan dukungan bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir melalui fungsi fisik, biologi dan ekonomi sehingga bias dimanfaatkan secara lestari. Pada sisi lain, kerusakan hutan mangrove justru mengancam kehidupan masyarakat pesisir, seperti hilangnya ikan, udang, kepiting dan berbagai biota air lainnya, abrasi pantai, intrusi air laut dan berbagai dampak negative lainnya. Semoga kita menjadi bagian dari yang melakukan perbaikan dan terus berupaya menularkan kepada yang lain sehingga semakin bertambah banyak orang yang berperan dalam perbaikan ekosistem mangrove bagi kehidupan manusia. Semoga.

Read Full Post »

Hutan kota dan kualitas hidup

MEMBANGUN HUTAN KOTA, MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP

 

Onrizal

HP. +6281314769742, Email: onrizal03@yahoo.com

(Ditulis pertama kali pada 29 Oktober 2006) 

 

Kota merupakan salah satu bagian paling penting dalam kehidupan manusia, mengingat kota sebagai pusat berbagai aktivitas. Kota menjadi pusat pemerintahan, industri, bisnis, perdagangan, sekolah, permukiman dan lain sebagainya. Oleh karena itu, lingkungan kota harus memiliki kualitas yang baik, agar daya dukungnya tinggi sehingga mampu menunjang berbagai aktivitas tersebut.

Permasalahan lingkungan kini melanda perkotaan dan masyarakat kota. Pencemaran udara, timbulnya efek rumah kaca, makin panasnya udara kota, banjir, kekeringan dan lain-lain membuat kota makin tidak nyaman bagi penghuninya. Hal ini sangat ironis dimana kota sangat diandalkan sebagai lahan subur dalam meraup penghasilan, baik bagi masyarakat asli maupun para pendatang.

Peningkatan penghuni kota, peningkatan industri dan aktifitas lainnya, seperti peningkatan pemakaian kendaraan bermotor telah memicu pencemaran udara dan air tanah di perkotaan. Udara kota yang tercemar oleh berbagai polusi menyebabkan ketidak nyamanan dalam beraktifitas dan berusaha. Demikian pula dengan pencemaran air tanah, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

Semburan asap kendaraan bermotor di sejumlah kota besar menyumbang berton-ton polutan berupa debu, timbal (Pb), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), dan lainnya ke atmosfer, yang siap dihirup hidung siapa pun. Dampaknya tak main-main. Memicu penyakit saluran pernapasan, jantung, mata, darah tinggi, hingga menimbulkan kematian. Bahkan, tak mustahil dapat melahirkan fenomena hujan asam yang merusak alam.

Idealnya, udara bersih dan layak irup terdiri atas N2 (78%), O2 (21%), H2, dan unsur lain (0,1%). Namun kenyataannya, udara kita dipenuhi partikulat dan senyawa beracun yang sangat berbahaya. Pada pertengahan tahun 2005, Bappedaldasu menginformasikan tingginya kandungan zat-zat pencemar di beberapa ruas jalan di Kota Medan.

Di antara debu (TSP/Total Suspended Particulate), CO, sulfur dioksida (SO2), NOx, dan ozon (O3), debu merupakan polutan paling berbahaya. Untuk ukuran di atas 50 mikron, ia masih kasat mata, tersaring oleh bulu hidung. Tapi debu di bawah 10 mikron tak terlihat mata. Bahkan, ia bisa langsung menyusup ke paru-paru, mengganggu sistem pernapasan.

Kota-kota yang hanya maju secara ekonomi, namun tidak memperhatikan aspek ekologi, harus dibayar mahal. Untuk merasakan dan menikmati udara yang sejuk dan nyaman, maka rumah dan kantor mesti dipasang AC, padahal penggunaan AC akan menyebabkan udara di luar akan semakin panas dan tentu meningkatkan penggunaan listrik yang semakin terbatas. Untuk mengatasi kekurangan air, karena air tanah sudah tercemar limbah, maka air harus didatangkan dari luar daerah. Untuk mengatasi pencemaran air harus dipasang pengolah air limbah. Selanjutnya, agar dapat menikmati kesegaran dan kesejukan lingkungan alam, maka harus pergi ke luar kota. Tentu itu semua harus dibayar yang tidak mungkin dinikmati oleh orang-orang yang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja sudah susah.

Pembangunan kota yang kurang memperhatikan aspek ekologis menjadikan kota menjadi penuh oleh polusi, kotor dan sakit atau gheto. Kota yang demikian dijuluki sebagai miserapolis atau cacopolis. Konon, menurut Dahlan (2004), pindahnya ibukota negara India ke New Delhi, karena kota Delhi (lama) telah tidak layak lagi dijadikan ibukota negara.

Pada kota yang sakit, misalnya kota yang tercemar timbal (Pb) yang dihasilkan dari kendaran bermotor dengan BBM bertimbal, akan mengancam pertumbuhan anak-anak mengingat anak-anak merupakan kelompok yang rentan terkena pencemaran timbal dalam darah. Timbal dihasilkan dari kendaraan bermotor dengan bahan bakar bertimbal. Bermacam hambatan pertumbuhan mengancam mereka yang memiliki kandungan timbal dalam darah yang di atas batas normal. Hal tersebut akan memicu anemia, gangguan pertumbuhan fisik, menurunkan tingkat kecerdasan, hingga tidak mampu mendengar pada frekuensi-frekuensi tertentu. Tentu hal ini akan sangat mengganggu proses menimba ilmu pengetahuan dan teknologi. Apa yang bisa diharapkan dari mereka, jika mereka sakit dan loyo?

Kandungan timbal dalam darah sedikit banyak mempengaruhi kesuburan wanita dewasa. Pada ibu yang mengandung, timbal yang terserap dan ditimbun dalam tulang diremobilisasi dan masuk peredaran darah. Lalu, mengalir ke janin dan menghambat perkembangan otak dan intelengensia janin.

Pada kota yang tercemar timbal, juga sangat berpengaruh pada pelaku ekonomi. Masyarakat menjadi tidak sabaran, mudah emosi dan brutal, sehingga tidak produktif. Pejabat pemerintah pun demikian. Mereka kurang dapat mengambil keputusan dengan baik. Padahal keputusan mereka, golongan yudikatif, eksekutif dan legislatif sangat menentukan tegak dan runtuhnya negara. Oleh sebab itu, nilai kualitas lingkungan kota akan sangat menentukan kuatnya negara dan masa depan bangsa. Bukankah ini merupakan biaya ekonomi yang amat sangat mahal harganya, jika kerusakan lingkungan kota dibiarkan terjadi.

Gas CO yang dihasilkan dari pembakaran mesin yang tidak sempurna merupakan racun bagi manusia dan memicu timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Gas CO yang gentayangan di udara bebas bila terhirup akan mengikat haemoglobine darah. Hal ini akan menyebabkan pasokan O2 dalam darah minus. CO dalam darah (COHb) menimbulkan beragam gangguan, tergantung kadarnya. Gas ini bisa menaikkan aliran darah (sehingga emosi pun terpicu). Kadar COHb 10-20% menimbulkan sakit kepala, gangguan napas, bahkan kematian janin. Pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi, ia membuat pelipis berdenyut dan muntah-muntah; lebih gawat lagi penderita merasa lemah, atau sakit kepala dan pingsan, bahkan collaps, koma. CoHb kadar amat tinggi menyebabkan depresi pernapasan jantung. Yang paling fatal kalau kadarnya 70- 80%.

Itu baru akibat tercemar Pb dan CO. Padahal sangat banyak unsur polutan yang mencemari kota dan jika tidak ditangani dengan baik, maka jumlah dan konsentrasinya akan semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga, hal ini akan mengancam produktivitas manusia dan pada akhirnya akan menjadi ancaman serius bagi hidup dan kehidupan manusia.

Manusia modern abad ini, secara sadar atau pun tidak telah menjauh-sisihkan hutan. Pembabatan hutan secara serampangan, baik tebangan legal mapun haram (illegal) telah menyebabkan laju kerusakan hutan dari tahun ketahun terus meningkat. Jika sebelum tahun 2000, laju kerusakan hutan Indonesia berkisar antara 1,6-2,0 juta ha/tahun, namun saat ini laju kerusakannya mencapai 2,8 juta ha/tahun. Kerusakan tersebut awal bencana yang datang silih berganti, seperti banjir bandang waktu penghujan dan kekeringan di musim kemarau serta berbagai bencana lainnya dengan memakan korban.

Sebagian manusia telah lupa bahwa hutan yang selama ini dibutuhkan dalam hidup dan kehidupannya, kini ditinggalkan bahkan dirusak. Lahan berhutan dibabat habis dan dibuka dijadikan kawasan permukiman dan areal terbangun lainnya. Kemajuan kebudayaan manusia telah menjadikan lingkungan hidupnya yang semula berhutan kini menjadi hutan besi dan beton. Kota yang semula nyaman untuk dihuni karena sejuk, asri, tenang dan bersih terbebas dari polusi akhir-nya berubah menjadi kota yang panas, tercemar dan gersang. Beberapa gejala mundurnya kualitas lingkungan kota antara lain: penurunan air tanah, banjir, penurunan permukaan tanah, abrasi pantai, intrusi air laut, meningkatnya kebisingan serta pencemaran udara, tanah dan air.

Oleh karena itu, penataan lingkungan perkotaan harus segera dilakukan untuk meminimalkan gangguan dan ancaman akibat kerusakan lingkungan kota dan secara sekaligus untuk menunjang produktivits kerja. Salah satu program untuk meningkatkan mutu lingkungan yang akan berdampak pada kualitas hidup adalah pengembangan hutan kota atau kadangkala disebut penghijauan kota.

Hutan kota

Sejarah pengembangan penghijauan berawal sejak pemerintahan kolonial Belanda. Di beberapa kota besar di Pulau Jawa seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Solo, Yogyakarta, Magelang, Malang dan Surabaya masih dapat dilihat sisa-sisa penghijauan yang dilakukan. Jalan raya, pusat perkantoran, tempat umum telah ditanami pohon penghijauan seperti beringin, flamboyan, trembesi, asem, palem raja ataupun mahoni.

Kawasan penghijauan merupakan kawasan yang ditumbuhi oleh tanaman baik berupa pohon, semak maupun perdu yang terdapat di dalam maupun pinggiran kota untuk menyangga dampak lingkungan akibat aktivitas di daerah perkotaan. Hutan kota tidak mutlak merupakan daerah yang kompak dengan luas yang besar, tetapi termasuk juga daerah yang terpisah pisah. Oleh karena itu bentuk hutan kota sangat fleksibel tergantung kebutuhan dan aktivitas masyarakat di daerah tersebut. Bentuk-bentuk hutan kota dapat berupa boulevar, pohon peneduh pinggir jalan, taman kota. Tanaman dipinggiran sungai yang melintasi kota, tanaman di kawasan pabrik, taman di tengah jalan dan lain sebagainya.

Hutan Kota dapat menyerap dan menjerap kontaminan udara, mereduksi kebisingan, menyejukkan suhu udara kota, meningkatkan air tanah, menyerap gas CO2 dan menghasilkan oksigen serta berbagai manfaat ekonomi, ekologi dan sosial lainnya, maka kota khususnya kota-kota besar sangat perlu untuk dilengkapi dengan  Hutan Kota yang cukup luas. Program pembangunan dan pengembangan Hutan Kota diperlukan karena alasan.

1.  Hutan Kota memiliki biomassa lebih banyak daripada taman, sehingga dapat menjerap dan menyerap polutan lebih banyak. Hasil penelitian Puslitbang PU membuktikan adanya korelasi yang erat antara volume kerimbunan daun dan jarak tanam pepohonan dengan penurunan NOx.

2.  Hutan dapat menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen lebih banyak.

3.  Hutan dengan dedaunannya yang lebat dan pohonnya yang tinggi dapat mengurangi kebisingan lebih baik.

4.  Hutan dapat digunakan sebagai penahan angin (wind break). Angin yang sangat kencang dapat membahayakan bagi manusia dan lingkungannya. Dengan adanya pepohonan maka angin dapat diatur dengan cara dihalangi, dibelokkan, disalurkan dan disaring.

5.  Hutan dapat mengurangi bahaya hujan asam.

6.  Mikro-organisme yang terdapat pada humus di lantai hutan dapat  menyerap gas CO (karbon-monoksida).

7.  Hutan dapat mencegah aliran udara yang berbau dan menggantinya dengan udara yang lebih bersih dan harum, jika tanaman yang ditanam adalah jenis yang bunganya berbau harum seperti: Cempaka, Kenanga dan Tanjung.

8.  Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai asset untuk perdagangan karbon (carbon trade) mengingat kemampuannya dalam menyerap dan mengakumulasikan karbon dalam biomassanya.

Hutan kota dengan tajuk pohonnya menciptakan suasana yang sejuk pada lingkungan perkotaan di siang hari, karena dapat menahan radiasi matahari dan menyerap radiasi balik dari jalan aspal, gedung-gedung, jembatan layang, papan reklame dan lainnya. Saya sangat yakin, bahwa kita bisa merasakan itu semua. Saat siang hari dengan matahari penuh, kondisi udara di bawah pohon yang rindang sangat nyaman. Udara dibawah pohon tersebut akan terasa lebih teduh, sejuk dan lembab. Lebih teduh karena intensitas cahaya matahari langsung sebagian besar tidak dapat menembus kanopi pohon tersebut. Lebih sejuk karena berkurangnya masukan energi cahaya untuk memanaskan udara dan permukaan di bawah kanopi.

Dengan kehadiran pepohonan di sekitar lingkungan tempat tinggal kita, pada malam hari udara tidak terlalu dingin karena pepohonan berperan sebagai penahan panas, sehingga udara dibawah tajuknya akan lebih hangat dibandingkan suhu udara di atas permukan terbuka (tanpa tanaman). Tajuk tanaman akan menyerap sebagian energi yang dipancarkan oleh permukaan tanah; sedangkan jika tanpa pepohonan radiasi yang dipancarkan dari permukaan tanah tersebut, akan langsung hilang ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Dengan demikian, pada daerah yang duteduhi pepehonan, fluktusi udara antara siang dan malam hari sangat kecil atau mendekati stabil, sehingga nyaman bagi manusia.

Selain berbagai kenyataaan yang kita rasakan tersebut, berbagai hasil penelitian juga melaporkan bahwa suhu udara pada lokasi dengan jalur hijau lebih rendah dari pada di lokasi tanpa jalur hijau, mengingat pada daerah yang ditumbuhi pepohonan, sinar matahari tidak secara langsung mencapai permukaan tanah karena terhalang tajuk pohon. Sinar matahari yang jatuh pada tajuk tanaman ada yang diteruskan, dipantulkan dan diserap oleh tanaman. Untuk sinar matahari yang diteruskan oleh daun ke permukaan tanah, berkurang energinya sehingga udara pada permukaan tanah lebih rendah.

Fungsi Penurunan Zat Polutan

Hasil penelitian Dahlan (1989), Fakuara dkk (1990) menunjukkan bahwa pohon damar (Agathis alba), mahoni (Swietenia macrophylla), jamuju (Podocarpus imbricatus) dan pala (Mirystica fragrans), asam landi (Pithecelobium dulce), johar (Cassia siamea) mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menurunkan kandungan timbal dari udara. Untuk beberapa tanaman glodogan (Polyalthea longifolia), keben (Baringtonia asiatica) dan tanjung (Mimusops elengi), walaupun kemampuan serapannya terhadap timbal rendah namun tanaman tersebut tidak peka terhadap pencemaran udara. Namun tanaman daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dan kesumba (Bixa orellana) mempunyai kemampuan yang sangat rendah dan sangat tidak tahan terhadap pencemaran yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

Selanjutnya hasil penlitian Irawati (1991) memperlihatkan bahwa pohon mahoni, bisbul, tanjung, kenari, meranti merah, kere payung dan payung hitam memiliki ketahanan yang tinggi terhadap pencemaran debu semen serta kemampuan yang tinggi dalam menjerap (adsorpsi) dan menyerap (absorpsi) debu semen. Namun pohon-pohon duwet, medang lilin dan sempur kurang baik digunakan sebagai tanman untuk penghijauan di kawasan industri pabrik semen. Ketiga jenis tanaman ini selain agak peka terhadap debu semen, juga memiliki kemampuan yang rendah dalam menjerap dan menyerap partikel semen.

Bidwell dan Fraser mengemukakan, kacang merah (Phaseolus vulgaris) dapat menyerap gas ini karbon monoksida sebesar 12 – 120 kg/km2/hari. Mikroorganisme serta tanah pada lantai hutan memiliki peranan yang baik dalam menyerap gas karbonmonoksida (Bennet dan Hill, 1973). Inman dkk mengemukakan, tanah dengan mikroorganismrnya dapat menyerap gas karbonmonoksida dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 mg/m3)  menjadi hampir mendekati nol hanya dalam waktu 3 jam saja.

Widyastama (1991) mengemukakan, tanaman yang baik sebagai penyerap gas CO2 dan penghasil oksigen adalah: damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auriculiformis) dan beringin (Ficus benyamina).

Strategi Pembagunan Hutan Kota

Strategi umum dalam pembangunan hutan kota adalah dengan memperhatikan tujuan pemulihan lingkungan dan zat-zat polutan, baik yang aktual saat ini ada atau yang diperkirakan akan muncul dan mencemari lingkungan kota di masa mendatang. Lalu, kemudian dipilih jenis-jenis pepohonan yang mampu mereduksi zat-zat polutan tersebut sampai pada ambang batas yang aman. Agar diperoleh fungsi pengelolaan lingkungan yang maksimal, dalam pembangunan hutan kota secara ringkas harus memperhatikan:

1.      Tanaman harus dapat tumbuh dengan baik. Hal ini dapat diperoleh jika jenis tanaman yang dipilih sesuai dengan kondisi iklim dan tanah setempat.

2.      Tanaman yang dipilih harus sesuai dengan issu lingkungan yang telah muncul atau yang diperkirakan akan muncul di masa yang akan datang.

3.      Tanaman harus dapat dipadu-padankan dengan elemen keras: gedung, jembatan, menara, patung atau elemen keras lainnya agar diperoleh komposisi yang indah dan menawan.  Oleh karena itu, perlu tata kota yang baik dan konsisten dilaksanakan.

 

Penutup

Menghadirkan udara bersih, nyaman dan sehat perlu dukungan semua pihak, namun harus dimulai dan tidak saling tunggu. Karena, sesungguhnya langit bersih bukan tanggung jawab satu pihak, misalnya pemerintah saja, namun tanggung jawab kita semua, sehingga masing-masing kita wajib berperan serta.

Keberadaan pepohonan dalam wujud hutan kota, selain mampu mempercantik dan memperindah kota, juga mampu mereduksi berbagai zat polutan yang dihasilkan dari berbagai aktifitas manusia, sehingga pada akhirnya kehadiran hutan kota akan mampu meningkatkan kualitas hidup dan produktifitas penghuninya.

Selain pembangunan hutan kota, hidup ramah lingkungan harus terus dibudayakan, mulai dari skala pribadi sampai skala negara. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah mengendalikan sumber pencemar, misalnya berhentilah menggunakan BBM bertimbal. Pemerintah sudah mencanangkan program tersebut tahun 2001 dengan pelenyapan premium di Jabodetabek, kemudian tahun 2002 targetnya seluruh pulau Jawa, dan tahun 2003 untuk seluruh Indonesia. Selain itu, penggunaan bahan bakar hayati (BBH) yang berasal dari berbagai tumbuhan harus terus didorong secara kongkrit, karena selain tidak mencemari udara, juga merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharuhi dan sekaligus membuka lapangan kerja.

Read Full Post »

KISAH-KISAH MASYARAKAT DAN PERKAMPUNGAN YANG SELAMAT DARI TSUNAMI  

Onrizal

HP. 081314769742, E-mail: onrizal03@yahoo.com

(Ditulis pertama kali pada 30 Desember 2005)

 

 

Saat gempa diikuti gelombang tsunami setahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004, melanda sebagian besar wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan pantai barat Sumatera utara, dan belasan negara lainnya, mulai dari Asia Tenggara sampai pantai timur Afrika menyisakan keprihatinan yang mendalam. Banyak orang hampir tak percaya dengan apa yang terjadi! Hanya dalam hitungan belasan menit, ratusan ribu orang tewas dan hilang, ribuan rumah, gedung, perkantoran, rumah sakit, serta sarana dan prasarana publik ikut ditelan gelombang laut maha dahsyat dan mengerikan itu.

Namun diantara kisah-kisah yang memilukan dan menyesakkan dada tersebut, terselip kisah-kisah masyarakat dan perkampungan yang selamat dari tsunami. Mungkin kita akan bisa belajar dan mengambil hikmah dari apa yang mereka pelajari untuk merajuk hidup yang lebih baik di masa datang. Tulisan ini, penulis susun berdasarkan perjalanan menulis saat rapid assesment tentang dapak tsunami bagi kawasan pesisir di awal tahun 2005 dan berbagai informasi lainnya yang relevan.

Kisah perkampungan di pesisir utara Nias: Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa

Kedua desa tersebut, yaitu Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa, termasuk Kecamatan Lahewa yang desanya langsung berbatasan dengan laut. Sebagian besar rumah penduduk berupa rumah panggung bertiangkan kayu, berdindingkan anyaman kulit dan bambu atau kayu, dan beratapkan daun nipa atau rumbia. Sangat sedikit dijumpai rumah yang semi permanen. Melihat kondisi tersebut, sebagian besar mereka tergolong ekonomi pra-sejahtera.

Saat penulis berkunjung ke desa tersebut di awal bulan Maret 2005 atau 2 bulan setelah tsunami melanda, sangat sulit melihat bekas atau dampak secara fisik dari tsunami pada kedua desa tersebut, kecuali bekas tanda-tanda bekas air di dinding rumah-rumah penduduk yang merupakan batas tertinggi air tsunami. Hanya ada 1 rumah di Desa Moawo yang hancur total sampai fondasinya. Setelah masyarakat bercerita, baru penulis tahu kalau sebagian desa tersebut juga tenggelam saat tsunami datang. Namun mengapa tidak terlihat kerusakan rumah serta sarana dan prasarana lainnya di desa tersebut, kecuali hanya 1 rumah, seperti telah disebutkan di atas?

Aceh Selatan: Desa Lhok Pawoh dan Desa Ladang Tuha

Desa Lhok Pawoh, Sawang, dan Desa Ladang Tuha, Pasie Raja merupakan dua desa di pesisir pantai barat Aceh yang termasuk dalam Kabupaten Aceh Selatan. Kedua desa tersebut, sebagaimana dua desa di pantai utara Nias, juga selamat dari tsunami, sebagaimana dilaporkan WI-IP (2005). Di daerah pesisir Desa Lhok Pawoh terdapat padang lamun, pantai berbatu dan terumbu karang yang masih baik, lalu di Desa  Desa Ladang Tuha yang memiliki hutan pantai yang rapat dan kompak yang didominasi oleh pohon-pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia).

Masyarakat di kedua desa tersebut juga mengisahkan bagaimana desa mereka terlindung dari tsunami karena gelombang tsunami tertahan oleh hutan pantai, serta keberadaan padang lamun dan terumbu karang yang masih baik yang mampu meredam dan mengurangi energi gelombang tsunami sebelum sampai ke desa mereka.

Mengapa perkampungan mereka selamat dari tsunami?

Permukiman penduduk di Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa berada pada daerah pasang surut. Hanya saja permukiman penduduk tersebut tidak langsung berhadapan dengan laut, namun antara permukiman dengan laut berdasarkan pengukuran penulis terdapat hutan mangrove lebar dengan lebar sekitar 200 – 300 m dengan kerapatan pohon berdiameter 2-10 cm yang sangat lebat (lebih dari 17.000 ind/ha). Meskipun pohon-pohon mangrove tersebut diameternya masih relatif kecil, namun tegakannya kompak dan tersebar secara merata dengan ketinggian pohon mencapai 9 meter.

Menurut penduduk di pantai utara Nias, hutan mangrove yang ada saat ini berumur sekitar 10 tahun. Sebab sebelum tahun 1995, hutan mangrove di daerah tersebut sudah rusak akibat penebangan. Namun akibat penebangan tersebut, perkampungan mereka terancam abrasi pantai dan tangkapan ikan mereka jauh berkurang. Kondisi ini menyadarkan mereka dan kemudian masyarakat desa sepakat untuk tidak menebang pohon mangrove dan kebutuhan mereka akan kayu diambilkan dari hutan dataran kering.

Dengan adanya tegakan mangrove yang lebat dan kompak tersebut, maka saat tsunami datang di pantai utara Nias, gelombang tsunami tidak langsung menghantam perumahan penduduk, namun terlebih dahulu melewati hutan mangrove. Setelah melewati hutan mangrove lebat tersebut, arus tsunami menjadi tenang sesampai di permukiman.

Kondisi di pantai utara Nias menggambarkan bahwa banjir akibat gelombang tsunami yang menggenangi rumah-rumah penduduk setinggi 2 – 3 m tidak menyebabkan kerusakan yang berarti pada permukiman tersebut karena airnya sudah tenang karena diredam oleh hutan mangrove. Seperti telah ditulis sebelumnya, di Desa Moawo hanya terdapat 1 (satu) rumah yang hancur karena rumah tersebut berada persis di bibir sungai yang tegak lurus terhadap datangnya air laut, sehingga arus tsunami di pinggir sungai tersebut tidak terhalang oleh hutan mangrove. Perumahan penduduk di Desa Pasar Lahewa tidak ada yang mengalami rusak sedang dan berat.

Bagaimana mereka selamat dari tsunami? ALAM JADI GURU

Kapan dan dimana ajal menjemput, memang masing-masing manusia tidak akan tahu terkait dengan dirinya secara langsung. Namun, bagaimana mengenali bahaya yang bisa mengancam nyawanya dan bagaimana menghadapinya, manusia diberikan peluang untuk itu.

Saat gempa besar di Minggu pagi 26 Desemeber 2004, kemudian diikuti dengan surutnya air laut secara tiba-tiba, maka seketika penduduk di pesisir pantai Lahewa, seperti di Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa saling bersahutan “awas galoro, galoro, galoro, …..” dan kemudian secara cepat mereka mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Orang-orang sakit ditandu, anak-anak digendong. Rumah-rumah merekapun tidak sempat ditutup.

Galoro merupakan salah satu kata dalam bahasa Nias yang berarti tsunami. Pengetahuan turun-temurun yang dimiliki masyarakat di pantai utara Nias sejak awal tahun 1900-an, seperti halnya pengetahuan yang sama pada masyarakat pulau Simeulu telah mengajarkan meraka bahwa apabila terjadi gempa, kemudian diikuti oleh air laut yang surut secara cepat, maka hal itu pertanda galoro (tsunami) akan datang. Tidak ada hal yang harus dilakukan, kecuali segera mencari tempat yang lebih tinggi supaya aman dari tsunami.

Seperti kata pepatah orang minang “alam takambang jadi guru” yang artinya alam semesta dengan segala kejadian yang menyertainya merupakan sumber pelajaran dan pengetahuan (guru). Demikianlah, masyarakat di pesisir pantai utara Nias selamat dari tsunami karena ketika tsunami datang dan merendam rumah dan perkampungan, mereka sudah berada di daerah yang tinggi dan tidak terjangkau oleh tsunami. Tidak ada seorangpun penduduk psisir pantai di Kecamatan Lahewa yang menjadi korban tsunami!

Bukti-bukti ilmiah

Kejadian selamatnya perkampungan di pantai barat Aceh di Aceh Selatan dan di pantai utara Nias, tentu menjadi bukti kuat di lapangan akan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai serta padang lamun dan terumbu karang di pesisir pantai bahwa keberadaan mereka mampu melindungi daerah pantai dengan mereduksi energi perusak gelombang tsunami.

Berbagai fakta di atas, semakin menguatkan hasil simulasi di laboratorium, seperti yang dilakukan oleh Istiyanto dkk. (2003) yang menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut. Hal ini seiring dengan penjelasan Venkataramani (2004) bahwa hutan mangrove yang lebat berfungsi seperti tembok yang melindungi kehidupan masyarakat pesisir di belakang mangrove dari tsunami.

Secara ilmiah, hal ini dijelaskan oleh lembaga penelitian MSSRF (2005) bahwa hutan mangrove mengurangi dampak tsunami melalui dua cara, yaitu kecepatan air berkurang karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat, dan volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan menjadi sedikit karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove. Konferensi para ahli ekologi di India pada tanggal 2 Februari 2005 juga menyimpulkan bahwa hutan mangrove secara mencolok mengurangi dampak tsunami di pesisir pantai berbagai negara di Asia, sehingga hutan mangrove merupakan pelindung alami pantai dari tsunami dan apabila mangrove hilang, maka kerusakan yang terjadi akan maksimal.

PENUTUP

Alam telah memberi pelajaran yang cukup banyak buat kita, bahwa ketika kita menjaganya maka ia akan bermanfaat buat manusia. Pada daerah pesisir, Sang Pencipta yang Maha Kuasa, telah menumbuhkan hutan mangrove dan hutan pantai. Ketika hutan mangrove dan hutan pantai tersebut terpelihara, dan ketika tsunami datang yang tidak mungkin dielakkan, maka fakta telah menunjukkan bahwa keberadaan hutan mangrove dan hutan pantai yang baik mampu melindungi penduduk dan permukimannya dari bencana akibat tsunami. Berbagai fakta di lapangan tersebut, juga didukung dengan bukti-bukti ilmiah dari berbagai hasil penelitian.

Selain itu, hal penting yang harus dikembangkan adalah pendidikan interpretasi lingkungan harus dilakukan sejak dini, seperti pengenalan tanda-tanda alam dan tindakan segera yang efektif sebagai tanggapan apabila tanda-tanda alam tersebut terjadi. Sebagai contoh misalnya, meskipun dengan adanya hutan mangrove yang lebat mampu meredam energi arus tsunami, namun banjirnya bisa menyebabkan korban nyawa karena tenggelam. Sehingga ketika melihat tanda-tanda tsunami akan datang, maka tindakan yang tepat adalah segera mengungsi ke daerah yang tinggi, sebagaimana pengalaman masyarakat di pesisir utara Nias dan pulau Simeulu.

Read Full Post »

Mengapa memilih kuliah di Departemen Kehutanan? Apakah ilmu kehutanan penting bagi kehidupan manusia?

Pengantar Ilmu Kehutanan secara khusus ditujukan bagi mahasiswa Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Sumatera Utara semester 1 dan secara umum bagi pegiat ilmu dan praktisi kehutanan dan lingkungan.

Berikut disampaikan file bahan kuliah Pengantar Ilmu Kehutanan.

GBPP gbpp-pikel

Kuliah ke-1-pikel-pendahuluan; Contoh kasus letter-from-year_2070

Kuliah ke-2-pikel-hutan-peradapan-manusia

Kuliah ke-3-pikel-hutan-kehutanan-ilmu-kehutanan

Kuliah ke-4-pikel-fungsi-manfaat-hutan

Kuliah ke-5-pikel-hutan-pembangunan-indonesia

Pengantar Ekologi Sumatera-the-ecology-of-sumatra

Selamat belajar dan beramal.

Wassalamualaikum wr wb

Onrizal

Read Full Post »

« Newer Posts