Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2009

Pembukaan lahan  dengan dan tanpa bakar

Pertambahan penduduk dunia antara lain berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan lahan, baik untuk permukiman beserta sarana dan prasarananya, maupun untuk lahan produksi pangan dan lainnya.  Sementara itu luas lahan sendiri bukannya bertambah namun cenderung berkurang, sebagaimana diulas oleh Pandey (1980) bahwa berdasarkan laporan UNEP berjudul “State of World Environment Report” diketahui bahwa pada tahun 1977 total lahan pertanian di dunia sekitar 1,24 milyar ha dengan 4 milyar jiwa penduduk dunia, atau rata-rata 0,31 ha per orang.  Pada tahun 2000 luasan lahan tersebut diperkirakan turun menjadi 940 juta ha dengan jumlah penduduk dunia sekitar 6,25 milyar jiwa, sehingga areal pertanian per orang hanya 0,15 ha pada tahun tersebut.

Salah satu strategi untuk memenuhi kebutuhan akan lahan yang terus bertambah tersebut adalah dengan membuka lahan-lahan baru.  Oleh karena jumlah penduduk terus bertambah, maka kegiatan pembukaan lahan (land clearing) telah terjadi dan akan terus terjadi sepanjang kehidupan manusia di bumi dan baru berhenti setelah tidak ada lahan lagi yang akan dibuka.

Berbagai metode pembukaan lahan telah dipraktekkan.  Teknik tebang dan bakar (slash-and-burn) merupakan metode yang umum dan telah lama diaplikasikan dalam pembukaan lahan (Van Noordwijk, 2001).  Alasan utama penggunaan teknik slash-and-burn karena dianggap lebih murah, cepat dan praktis dibandingkan dengan teknik tanpa bakar.  Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumberdaya alam dan kegiatan pembangunan tanpa merusak lingkungan pada beberapa dekade terakhir, serta isu penurunan kualitas sumberdaya alam dan lingkungan yang semakin cepat dan pencemaran asap di udara dikaitkan dengan pembakaran dalam kegiatan pembukaan lahan, maka berbagai upaya dilakukan – baik dalam skala nasional maupun internasional – untuk mencari metode alternatif pembukaan lahan yang lebih baik.

Tulisan ini lebih lanjut akan mengulas praktek pembukaan lahan dengan teknik slash-and-burn dan teknik tanpa bakar (zero burning technique), terutama dari pandangan ekologi.

Advertisements

Read Full Post »

Restorasi lahan terkontaminasi logam berat

Sejak kasus kecelakaan merkuri di Minamata Jepang tahun 1953 yang secara intensif dilaporkan, issue pencemaran logam berat meningkat sejalan dengan pengembangan berbagai penelitian yang mulai diarahkan pada berbagai aplikasi teknologi untuk menangani polusi lingkungan yang disebabkan oleh logam berat.  Kecemasan yang berlebihan terhadap hadirnya logam berat di lingkungan dikarenakan tingkat keracunannya yang sangat tinggi dalam seluruh aspek kehidupan makhluk hidup (Suhendrayatna, 2001).  Beberapa ion logam berat, seperti arsenik, timbal, kadmium dan merkuri pada kenyataannya berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelangsungan kehidupan di lingkungan (USDA NRCS, 2000).  Walaupun pada konsentrasi yang sedemikian rendah efek ion logam berat dapat berpengaruh langsung hingga terakumulasi pada rantai makanan.  Seperti halnya sumber-sumber polusi lingkungan lainnya, logam berat tersebut dapat ditransfer dalam jangkauan yang sangat jauh di lingkungan, selanjutnya berpotensi mengganggu kehidupan biota lingkungan dan akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia walaupun dalam jangka waktu yang lama dan jauh dari sumber polusi utamanya.  Suatu organisme akan kronis apabila produk yang dikonsumsinya mengandung logam berat pada tingkat di atas ambang batas.

 

Berdasarkan pengetahuan tentang resiko polusi lingkungan oleh ion logam berat, berbagai upaya untuk merestorasi lahan yang tercemar logam berat tersebut terus meningkat, seperti perbaikan sistem pengolahan limbah logam-logam berat.  Lasat (2000) merangkum beberapa teknik yang telah diujicobakan dan diaplikasikan dalam remediasi tanah terkontaminasi logam berat, yaitu vitrifikasi, landfilling, kimia, elektrokinetik dan biologi (bioremediation).  Di antara berbagai teknik tersebut, teknik phytoextraction yang merupakan salah satu bentuk dari bioremediasi merupakan yang paling murah (Glass, 1999 dalam Lasat, 2000).

Read Full Post »

Happy New Year

Hampir pada waktu bersamaan kita memasuki 2 tahun baru, yaitu tahun baru Islam 1 Muharram 1430H dan tahun baru 1 Januari 2009 M. Semoga perputaran waktu dan apa yang kita alami bersamanya menjadikan kita untuk selalu mawas diri dan selalu berupaya untuk menjadi lebih baik. Semangat berkontribusi dan semangat dalam berbagi.
In uridu illal ishlahu mastatoktu (tidaklah aku menginginkan kecuali melalukan perbaikan/ishlah/reformasi selagi Allah beri kekuatan) [Al Quran:……).
Happy new year for all

Read Full Post »