Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2009

Heboh Ular Raksasa Kalimantan Sepanjang 33 Meter

(Gambar: Ular raksasa itu tertangkap kamera)

 Sabtu, 21 Februari 2009 | 05:45 WIB

BARU-BARU ini, muncul sebuah foto udara yang membuat heboh Malaysia. Seekor ular raksasa berenang di Sungai Baleh, Sibu, Serawak, bagian utara Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia. Hiii…

Sebuah foto ular raksasa terlihat berenang melenggak-lenggok di sebuah sungai tropis yang dikelilingi oleh hutan gambut. Ular berwarna hitam itu sangat besar, hampir memenuhi sungai yang terletak di tengah-tengah hutan rawa yang rimbun. Air beriak di kiri kanannya. Kabarnya, foto itu diambil dari sebuah helikopter, 11 Februari 2009 lalu.

Foto itulah yang menjadi perdebatan luas di Malaysia saat ini. Kalimantan memang memiliki ular-ular raksasa.  Namun selama ini, ular yang besar yang baru ditemukan adalah sejenis sanca atau python atau masyarakat Kalimantan menyebutnya ular sawah, yang panjangnya belasan meter.

Namun ular yang terlihat di foto dan beredar luas di internet, termasuk Youtube, jauh lebih panjang dan besar dibanding temuan python selama ini. Diperkirakan panjangnya 100 kaki atau sekitar 33 meter.

Gambar tersebut diambil oleh anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, pekan lalu. New Straits Times di Kuala Lumpur, juga memuat foto tersebut yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris.

Ada juga yang tidak mempercayai foto itu dan menganggapnya rekayasa semata. Hal ini karena terlalu jauhnya pengambilan gambar ular tersebut. Benar atau tidak, foto itu sudah membuat masyarakat di sekitar Serawak, khususnya Sibu, ketakutan. Sebab, sungai itu merupakan urat nadi transportasi masyarakat selama ini.

Berdasarkan legenda yang hidup di masyarakat setempat, memang dipercaya tentang adanya anaconda di kawasan tersebut yang bernama Nabau. Menurut kepercayaan, Nabau merupakan ular dengan panjang 80 meter dengan kepala naga dan tujuh lubang hidung.  Masyarakat desa yang tinggal di sungai Baleh Borneo mempercayai makhluk mistik tersebut. Selain itu, masyarakat memang sering melihat ular-ular besar di kawasan itu.

Nah, pertanyaannya, bila foto itu asli, apakah ular yang terlihat itu sejenis python atau anaconda? Hingga kini memang belum ditemukan adanya anaconda di Kalimantan, kecuali dalam film Anaconda: The Hunt For The Blood Orchid yang laris itu.

Rekor ular terpanjang saat ini memang anaconda (eunectes) dari Amazone. Anaconda merupakan keluarga boa. Panjang anaconda yang baru ditemukan adalah 50 kaki, namun para ilmuwan percaya ada anaconda yang panjangnya 80 kaki, bahkan 100 kaki dari temuan kulit ular tersebut oleh sebuah ekspedisi ilmuwan Inggris tahun 1992. Dalam keluarga anaconda, menurut situs lingkungan Mongabay, yang terbesar adalah anaconda hijau (Eunectes murinus). Panjangnya mencapai 43 meter.

Python Asia adalah ular terpanjang kedua. Ilmuwan menyebutnya Asiatic Reticulated Python (python reticulatus). Python terpanjang yang ditemukan di kawasan Kalimantan panjangnya 33 kaki, dan merupakan rekor dunia sanca terpanjang saat ini. Para ilmuwan percaya panjang python bisa mencapai 50 kaki atau sekitar 15 meter.

Bedanya, anaconda lebih langsing dan ahli berenang. Sementara python lebih gemuk dan hanya suka kelembaban, bukan di air. Anaconda menggigit mangsanya sampai mati sebelum menelan, sementara python menggunakan kekuatannya dengan membalut mangsa sampai tulang-belulangnya hancur atau tak bergerak lagi,  kemudian ditelan bulat-bulat.

Awal Februari, para ilmuwan menemukan fosil ular seberat sebuah mobil kecil. Ular itu diperkirakan bisa melumat binatang seukuran sapi. Monster sepanjang 45 kaki bernama Titanoboa sangat besar dan hidup dengan memakan buaya dan kura-kura raksasa. Beratnya mencapai 1,25 ton. Ia biasa merayap di sekitar hutan-hutan tropis Amerika Selatan 60 tahun silam. (yan/berbagai sumber)

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/02/21/05450289/Heboh.Ular.Raksasa.Kalimantan.Sepanjang.33.Meter…….

Advertisements

Read Full Post »

Buaya air tawar Sinyulong (Tomistoma schlegelii) mati terjerat jaring

(Gambar: Buaya sinyulong yang bermoncong runcing)

Kompas, Jumat, 20 Februari 2009 | 07:02 WIB

JAMBI, KAMIS – Buaya air tawar Sinyulong (Tomistoma schlegelii) sepanjang dua meter ditemukan mati terperangkap di jaring ikan milik petani di Danau Sipin Kota Jambi.

Buaya Sinyulong punya moncong lonjong agak keputihan, sehingga juga menjadi salah satu maskot Jambi setelah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Buaya itu banyak hidup di Sungai Batanghari dan anak sungai seperti Danau Sipin hingga ke wilayah muara pantai timur Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.
ONO
Sumber : Ant

Read Full Post »

Iklim telah berubah

Iklim Telah Berubah  

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Gelombang besar menjebol tanggul di Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (13/1), sehingga menyebabkan banjir. Akibatnya, kegiatan bongkar hasil laut di pasar ikan terganggu karena pasar tersebut terendam luapan banjir. / Artikel Terkait:

 Senin, 16 Februari 2009 | 08:10 WIB

JAKARTA, SENIN – Cuaca ekstrem, badai tropis yang semakin sering, dan pergeseran musim merupakan fenomena terjadinya perubahan iklim. Munculnya fenomena tersebut di Indonesia diakui merupakan indikasi bahwa perubahan iklim memang telah terjadi di Indonesia.

Ketua Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi, yang dihubungi Minggu (15/2) di Jakarta, menegaskan, “Itu sudah merupakan implikasi dari pemanasan global dan merupakan indikasi perubahan iklim.”

Pemanasan global, kata Armi, telah menyebabkan semakin tidak meratanya pola temperatur dan tekanan udara secara spasial (ruang). Perbedaan temperatur terjadi antara daerah subtropis dan daerah tropis, juga di daerah subtropis atau daerah tropis sendiri yang mengakibatkan terjadinya pergerakan udara. Semakin tinggi perbedaan tekanan udara akibat perbedaan temperatur semakin kencang angin yang ditimbulkannya dan dapat melahirkan badai pada lintang tertentu. Perbedaan temperatur yang ekstrem dapat memicu munculnya cuaca ekstrem.

Perhitungan musim tanam dan musim melaut tidak lagi presisi. Bencana pun selalu datang baik pada musim kemarau maupun pada musim hujan.

Terjadinya perubahan iklim ditegaskan dengan hasil analisa yang telah dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari pengolahan data yang diambil selama 50 tahun. Kepala Bidang Analisa Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Soetamto, Jumat lalu di Jakarta, mengungkapkan, “Ini untuk melihat kecenderungan yang ditunjukkan sebagai dampak perubahan iklim.”

Analisis tersebut menghasilkan lima peta kecenderungan periode 1951-2000 yang dikategorikan sebagai dampak perubahan iklim di Indonesia. Peta itu meliputi perubahan panjang musim, permulaan musim hujan, permulaan musim kemarau, curah hujan pada musim hujan, dan curah hujan pada musim kemarau.

Indikasi lainnya adalah meningkatnya intensitas siklon tropis yang menyebabkan gelombang tinggi. “Siklon tropis di Samudra Hindia rata-rata setiap tahun terjadi 7-8 kali dalam rentang waktu lima bulan dari November sampai Maret. Jarang sekali mengumpul seperti empat siklon Charlotte, Dominic, Ellie, dan Freddy dalam masa kurang dari satu bulan,” kata Mezak Arnold Ratag, dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Sabtu.

Empat siklon tropis itu terjadi dalam jangka waktu 28 hari, antara 11 Januari hingga 7 Februari. Akibatnya, terjadi gelombang tinggi di perairan Indonesia, mulai dari perairan di barat Sumatera hingga di sebelah timur Nusa Tenggara.

Dampak perubahan iklim antara lain pulau tenggelam akibat naiknya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub, ancaman kekeringan, banjir, ketidakpastian iklim, dan cuaca ekstrem. Kejadian-kejadian itu secara langsung akan mengancam penghasilan dan kehidupan nelayan, masyarakat pesisir, dan petani karena berdampak terhadap menurunnya produktivitas pertanian. Secara nasional, kondisi ini dapat mengganggu ketahanan pangan.

Nelayan bangkrut

Semakin seringnya terjadi gelombang tinggi akibat badai tropis, nelayan kini terlilit utang karena mereka praktis tidak berpenghasilan atau penghasilan mereka turun drastis. Mereka terpaksa beralih profesi menjadi penarik becak, buruh tani, kuli angkut, tukang batu, atau menganggur di rumah membantu istri. Mereka antara lain berada di Lamongan, Gresik, Jember, di Provinsi Jawa Timur, dan Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, serta Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, juga di sejumlah daerah di Sumatera Utara.

Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Lamongan Sudarlin kondisi saat ini sungguh berbeda dengan 10 tahun lalu. Saat ini cuaca semakin susah diprediksi. “Kelihatannya biasa saja, ternyata di tengah laut gelombangnya besar dan angin kencang,” katanya.

Dari 7-10 hari melaut hanya 2-3 hari efektif untuk menangkap ikan dan hasilnya pun turun drastis. “Di tempat pelelangan ikan di Brondong. Dulu paling tidak sehari bisa dibongkar 100 ton hingga 200 ton sehari, kini hanya 10 ton-20 ton saja,” katanya. “Saat paceklik ikan dan cuaca buruk banyak nelayan menggadaikan perhiasan emas, barang elektronika, dan surat kendaraan bermotor, hingga mereka terjerat utang ke rentenir,” kata Sudarlin.

Di Jember, sejumlah 15.225 orang nelayan menganggur, dengan jumlah perahu 1.865 unit.

Selain terjerat utang dan kehilangan penghasilan, nelayan juga mempertaruhkan nyawanya saat melaut.

Hingga Kamis dua nelayan asal Lamongan, Miftahul Arif (19) dan Febriyanto (25) yang melaut 29 Januari lalu belum juga ditemukan. Kisah tiga nelayan Sungairujing, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean yaitu M Syafi’i (27), M Syahrul (27), dan Ridah (64) tak beda jauh. Sudah dua hari lewat mereka tak kembali. Diduga perahu mereka terbalik diempas ombak. Cerita serupa terjadi di berbagai tempat.

Menurut Guru Besar Oceanografi Institut Teknologi Bandung, Safwan Hadi, Oceanografi ITB mencatat ada 16 daerah di pantai selatan Jawa yang rawan terkena gelombang badai pasang.

Daerah itu antara lain Nusakambangan (Jawa Tengah), Palabuhan Ratu (Jawa Barat), Pamengpeuk (Jawa Barat), Manjungan (Jawa Tengah), Pananjung (Jawa Barat), Pacitan (Jawa Timur), dan Tanjung Pelindu (Jawa Timur). Selain itu juga berpotensi terjadi di Karang Taraje (Jawa Barat), Tanjung Purwa (Jawa Timur), dan Tanjung Tereleng (Jawa Barat).

Pulau tenggelam

Ketua Jurusan Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Junun Sartohadi mengatakan, dengan garis pantai sepanjang 88.000 Kilometer dan 17.500 pulau, Indonesia sangat rawan dengan naiknya permukaan air laut. Pulau-pulau berketinggian satu meter di atas permukaan laut terancam tenggelam-jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan.

Menurut dia, dampak kenaikan permukaan air laut di Indonesia terlihat dengan meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir di kota pesisir seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta.

Salah satu penelitian yang pernah dilakukan di Kota Semarang menunjukkan, saat ini rob semakin jauh memasuki daratan atau maju beberapa kilometer dari garis pantai.

Dalam lima tahun terakhir, di Jawa Timur terdapat lima pulau kecil terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Sejumlah pulau di Kabupaten Sumenep, Madura terancam tenggelam. Pulau-pulau itu adalah Pulau Gili Pandan, Pulau Keramat, Pulau Salarangan, dan Pulau Mamburit. Pulau Gresik Putih telah hilang sejak 2005.

“Luas Pulau Gili Pandan awalnya 1 kilometer persegi, sekarang tinggal 100 meter persegi, Pulau Keramat semula 700 meter persegi kini tinggal 50 meter persegi. Sedang Pulau Gresik Putih yang luasnya 500 meter persegi tak lagi tampak sejak tahun 2005,” ucap Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan Jawa Timur Oki Lukito di Surabaya.

Sementara itu Armi menegaskan, perubahan iklim juga mengakibatkan terjadinya pergeseran musim hujan dan musim kemarau. “Musim hujan semakin pendek tetapi intensitas hujannya amat tinggi.”

Kondisi itu menimbulkan masalah air kian parah. Kepala Desa Luwung, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Ahmad Kosasih, mengakui, 20 tahun terakhir kondisi lingkungan menurun drastis. Desanya krisis air setiap kali kemarau.

Sementara di musim penghujan, banjir melanda persawahan di pesisir. Mu'in (45), petani dari Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu bahkan harus menanam ulang hingga tiga kali pada musim tanam penghujan 2008. (ISW/ABK/ACI/SIR/BIL/CHE/ NIT/HEN/IRE/SEM/RUL/ROW/ NAW)

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/16/08101050/iklim.telah.berubah

Read Full Post »

Kenaikan Muka Laut 10 Milimeter

 Selasa, 17 Februari 2009 | 02:50 WIB

JAKARTA,SENIN-Berdasarkan pemantauan Departemen Kelautan dan Perikanan serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, kenaikan muka air laut di Indonesia rata-rata 5-10 milimeter per tahun.

Strategi adaptasi dan mitigasi belum menyeluruh sehingga garis pantai semakin mundur. Luas daratan hilang setiap tahun mencapai 4.759 hektar.

Demikian dikemukakan Kepala Subdirektorat Pengelolaan Pesisir dan Lautan Terpadu pada Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono, Senin (16/2). “Mundurnya garis pantai berdampak terhadap banyak hal,” kata Subandono.

Menurut dia, terkikisnya daratan pesisir itu memusnahkan vegetasi mangrove karena tidak mampu bermigrasi. Mangrove sebagai penahan gelombang air laut terancam punah.

Abrasi atau terkikisnya pantai dari tahun ke tahun sudah merusak berbagai fasilitas dan bangunan di pantai di sejumlah tempat.

Secara terpisah, Kepala Bidang Analisa Klimatologi dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Soetamto mengatakan, dinamika atmosfer di wilayah Indonesia menunjukkan kecenderungan musim kemarau bertambah panjang, sedangkan musim hujan semakin pendek, tetapi intensitas curah hujan meningkat. Intensitas curah hujan itu kemudian meningkatkan intensitas bencana banjir dan tanah longsor.

Sementara itu, dijelaskan, pemerintah di Jakarta mengatur kebijakan hanya 20 persen luas lahan yang boleh dibangun di daerah resapan, seperti di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Subandono mengatakan, kondisi tanah di pantai utara Pulau Jawa sebetulnya masih labil sehingga pembangunan di wilayah itu berpotensi menimbulkan pemampatan. Beban bangunan di pantai mengakibatkan tanah ambles sehingga memicu permukaan air laut menggenangi daratan.

“Kenaikan permukaan air laut 5-10 milimeter per tahun itu cukup kecil, tetapi dalam hitungan waktu puluhan tahun akan banyak berarti dalam menimbulkan kerusakan lingkungan,” kata Subandono. (NAW)

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/17/02502462/kenaikan.muka.laut.10.milimeter

Read Full Post »

KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTHOS PADA HUTAN MANGROVE YANG DIREHABILITASI DI PANTAI TIMUR SUMATERA UTARA

Macrozoobenthos Diversity at Rehabilitated Mangrove Forests in East Coastal of North Sumatra

 

Uca-spOnrizal1, Fernades SP Simarmata1, Hesti Wahyuningsih2

1Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan

2Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan

 

ABSTRACT

Macrozoobenthos is a group of important fauna in mangrove ecosystem. Mangrove rehabilitation is required to increase biodiversity and density of fauna, including macrozoobenthos. The aim of this research was to study influence of biotic and abiotic factors to diversity and abundance of macrozoobenthos. The research was conducted at natural and rehabilitated mangrove forest in Percut Sei Tuan, east coastal of North Sumatra. The results showed that density of macrozoobenthos were significantly correlated to the soil texture, soil organic carbon and pH. Besides, macrozoobenthos diversity was mostly influenced by stand basal area, salinity and silt proportion of soil texture.

Keywords: macrozoobenthos, mangrove, density, diversity, rehabilitation

mangrove-4-years-old

Artikel ini telah disetujui untuk terbit pada jurnal ilmiah terakreditasi nasional: Jurnal Natur Indonesia edisi April 2009

Read Full Post »

Dampak Pemanasan Global Jauh Lebih Buruk TPG IMAGES  

Minggu, 15 Februari 2009 | 15:44 WIB

CHICAGO, SABTU – Pengaruh buruk pemanasan global ternyata jauh lebih parah dari semua perkiraan berdasarkan asumsi yang terukur saat ini. Kerusakan yang dapat ditimbulkan akibat naiknya suhu Bumi dalam seabad ke depan mungkin sangat buruk.

Profesor Chris Field yang menjadi penulis utama laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2007 tentang perubahan iklim mengatakan hal tersebut dalam konferensi sains di Chicago, Sabtu (14/2) waktu setempat. Ia mengatakan, prediksi yang dibuat selama ini belum melihat dampak terburuk.

“Kita sekarang jelas menghadapi perubahan iklim di masa depan yang jauh di atas perkiraan yang diusulkan dalam kebijakan iklim,” ujar Field. Misalnya, laporan tahun 2007 yang memperkirakan kenaikan suhu antara 1,1 hingga 6,4 derajat celsius dalam 100 tahun ke depan.

Menurutnya, perkiraan tersebut masih mengabaikan berbagai masalah yang sebanarnya turut memengaruhinya. Ia mengatakan, kenaikan suhu bergerak lebih cepat dan dampaknya bakal lebih buruk.

Temperatur yang meninggi menyebabkan hutan basah di kawasan tropis mengering sehingga lebih mudah terbakar. Selain itu, suhu tinggi juga mempercepat pencairan permafrost, kandungan es dalam tanah dekat kutub. Hal tersebut turut mempercepat kenaikan kadar gas rumah kaca di atmosfer sehingga mempercepat laju pemanasan global.

“Tanpa upaya yang efektif, perubahan iklim semakin besar dan semakin sulit diduga,” ujar Field.
WAH (http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/15/15440572/dampak.pemanasan.global.jauh.lebih.buruk)

Sumber : AP

Stanford Report, February 18, 2009

Global warming damage could be worse than predicted

 

BY MARK SHWARTZ

Chris Field Chris Field

Without decisive action, global warming in the 21st century is likely to accelerate at a much faster pace and cause more environmental damage than predicted, according to a leading member of the Nobel Prize-winning Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

IPCC scientist Chris Field of Stanford University and the Carnegie Institution for Science points to recent studies showing that, in a business-as-usual world, higher temperatures could ignite tropical forests and melt the Arctic tundra, releasing billions of tons of greenhouse gas that could raise global temperatures even more-a vicious cycle that could spiral out of control by the end of the century.

“There is a real risk that human-caused climate change will accelerate the release of carbon dioxide from forest and tundra ecosystems, which have been storing a lot of carbon for thousands of years,” said Field, a professor of biology and of environmental Earth system science at Stanford, and a senior fellow at Stanford’s Woods Institute for the Environment. “We don’t want to cross a critical threshold where this massive release of carbon starts to run on autopilot.”

Field presented his findings on Feb. 14 at the annual meeting of the American Association for the Advancement of Science (AAAS) in Chicago during a symposium titled “What Is New and Surprising Since the IPCC Fourth Assessment?”

Nobel Prize

Established by the United Nations in 1988, the IPCC brings together hundreds of experts from around the world to assess the science and policy implications of climate change. In 2007, the IPCC and Al Gore were awarded the Nobel Peace Prize. Field was among 25 IPCC scientists who attended the award ceremony in Oslo, Norway.

Since 1990, the IPCC has published four comprehensive assessment reports on human-induced climate change. Field was a coordinating lead author of the fourth assessment, Climate Change 2007, which concluded that the Earth’s temperature is likely to increase 2 to 11.5 degrees Fahrenheit (1.1 to 6.4 degrees Celsius) by 2100, depending on how many tons of greenhouse gases are released into the atmosphere in coming decades.

But recent climate studies suggest that the fourth assessment report underestimated the potential severity of global warming over the next 100 years. “We now have data showing that from 2000 to 2007, greenhouse gas emissions increased far more rapidly than we expected, primarily because developing countries, like China and India, saw a huge upsurge in electric power generation, almost all of it based on coal,” Field said.

This trend is likely to continue, he added, if more developing countries turn to coal and other carbon-intensive fuels to meet their energy needs. “If we’re going to continue re-carbonizing the energy system, we’re going to have big CO2 emissions in the future,” he said. “As a result, the impacts of climate change will probably be more serious and diverse than those described in the fourth assessment.”

IPCC assessment reports are organized into three working groups. In September 2008, Field was elected co-chair of Working Group 2, which is charged with assessing the impacts of climate change on social, economic and natural systems. One of his major responsibilities is to oversee the writing and editing of the “Working Group 2 Report” for the IPCC fifth assessment, which will be published in 2014.

“In the fourth assessment, we looked at a very conservative range of climate outcomes,” Field said. “The fifth assessment should include futures with a lot more warming.”

Forest-carbon feedback

Of particular concern is the impact of global warming on the tropics. “Tropical forests are essentially non-flammable,” Field said. “You couldn’t get a fire to burn there if you tried. But if they dry out just a little bit, the result can be very large and destructive wildfires.”

According to several recent climate models, loss of tropical forests to wildfires, deforestation and other causes could increase atmospheric carbon dioxide concentrations from 10 to 100 parts per million by the end of the century. This would be a significant increase, given that the total concentration of carbon dioxide in the atmosphere is currently about 380 parts per million, the highest in 650,000 years.

“It is increasingly clear that as you produce a warmer world, lots of forested areas that had been acting as carbon sinks could be converted to carbon sources,” Field said. “Essentially we could see a forest-carbon feedback that acts like a foot on the accelerator pedal for atmospheric CO2. We don’t exactly know how strong the feedback could be, but it’s pretty clear that the warmer it gets, the more likely it is that degradation of tropical forests will increase the atmospheric CO2.”

The ocean is another vital reservoir for carbon storage. Recent studies show that global warming has altered wind patterns in the Southern Ocean, which in turn has reduced the ocean’s capacity to soak up excess atmospheric carbon dioxide. “As the Earth warms, it generates faster winds over the oceans surrounding Antarctica,” Field explained. “These winds essentially blow the surface water out of the way, allowing water with higher concentrations of CO2 to rise to the surface. This higher CO2 water is closer to CO2 saturated, so it takes up less carbon dioxide from the atmosphere.”

Tundra thawing

Climate scientists also worry that permafrost in the Arctic tundra will thaw, releasing enormous amounts of carbon dioxide and methane gas into the atmosphere. According to Field, the most critical, short-term concern is the release of carbon dioxide from decaying organic matter that has been frozen for millennia.

“The new estimate of the total amount of carbon that’s frozen in permafrost soils is on the order of 1,000 billion tons,” he said. “By comparison, the total amount of CO2 that’s been released in fossil fuel combustion since the beginning of the Industrial Revolution is around 350 billion tons. So the amount of carbon that’s stored in these frozen soils is truly vast.”

Much of the carbon is locked up in frozen plants that were buried under very cold conditions and have remained in deep freeze for 25,000 to 50,000 years, he added. “We know that the Arctic is warming faster than anyplace else,” he said. “And there is clear evidence that these frozen plants are very susceptible to decomposition when the tundra thaws. So melting of permafrost is poised to be an even stronger foot on the accelerator pedal of atmospheric CO2, with every increment of warming causing an increment of permafrost-melting that shoots an increment of CO2 into the atmosphere, which in turn increases warming.

“There’s a vicious-cycle component to both the tundra-thawing and the tropical forest feedbacks, but the IPCC fourth assessment didn’t consider either of them in detail. That’s basically because they weren’t well understood at the time.”

For the fifth assessment report, Field said that he and his IPCC colleagues will have access to new research that will allow them to do a better job of assessing the full range of possible climate outcomes. “What have we learned since the fourth assessment? We now know that, without effective action, climate change is going to be larger and more difficult to deal with than we thought. If you look at the set of things that we can do as a society, taking aggressive action on climate seems like one that has the best possibility of a win-win. It can stimulate the economy, allow us to address critical environmental problems and ensure that we leave a sustainable world for our children and grandchildren. Somehow we have to find a way to kick the process into high gear. We really have very little time.”

Mark Shwartz is communications manager at the Woods Institute for the Environment at Stanford University.

SR

http://news-service.stanford.edu/news/2009/february18/aaas-field-global-warming-ipcc-021809.html

Read Full Post »

14 Negara Pulau Terancam Hilang,

Ekonomi Hijau untuk Dorong Ekonomi Global

 Selasa, 17 Februari 2009 | 10:14 WIB

JAKARTA, SELASA – Tanpa upaya mereduksi emisi gas-gas rumah kaca – terutama karbon dioksida – ke atmosfer, dalam jangka panjang bukan hanya pola iklim dan siklus hidup berubah. Hilangnya ribuan pulau, termasuk 14 negara pulau di muka bumi ini, akan mengubah peta dunia.

Bencana ini disebabkan naiknya permukaan laut karena mencairnya es di kutub. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dalam pidato kunci pada Pertemuan Ke-25 Dewan Pengarah (Governing Council) Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) di Nairobi, Kenya, Senin (16/2), mengingatkan kembali dampak global dari perubahan iklim.

Pencemaran gas-gas rumah kaca telah berdampak nyata pada naiknya suhu muka laut, mencairnya es di kutub, naiknya tinggi muka laut, tenggelamnya pulau-pulau, serta hancurnya terumbu karang akibat pengasaman dan melemahnya ketahanan pangan dari laut.

Karena itu, dalam pertemuan yang dihadiri delegasi dari 136 negara itu, Freddy mengajak UNEP mengangkat isu laut dan perubahan iklim serta mengundang dunia untuk bersama-sama hadir di World Ocean Conference (WOC) 2009 di Manado untuk menyepakati Manado Ocean Declaration (MOD).

Dalam pertemuan yang akan berlangsung hingga Jumat, delegasi RI dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, beranggotakan Gubernur Sulut sebagai Wakil Ketua Panitia WOC Sinyo H Sarundajang, Sesmenko Kesra/Sekretaris WOC Indroyono Soesilo, Dubes RI di Kenya Budi Bowoleksono, Deputi II Menneg LH Masnellyarti Hilman, Dirjen Multilateral Deplu Rezlan Jenie, dan Kepala BRKP-DKP Gelwyn Yusuf.

Target delegasi Indonesia adalah melaporkan persiapan WOC, Coral Triangle Initiative Summit, dan draf MOD.

Tampil menyampaikan pidato kunci lainnya, yaitu Menteri Pertanian Belanda Gerda Verburg dan Inspektur United Nations System Tadanori Inamata.

Pulau tenggelam

Indroyono Soesilo menambahkan, di antara peserta pertemuan hadir delegasi dari Small Islands Development State (SIDS) yang menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam WOC 2009. Mereka akan mendukung MOD sebagai upaya untuk mitigasi dan adaptasi menghadapi perubahan iklim.

Diperkirakan dari 44 anggota SIDS, 14 negara kecil di antaranya terancam hilang akibat naiknya permukaan laut, antara lain beberapa negara pulau di Samudra Pasifik, yaitu Sychelles, Tuvalu, Kiribati, dan Palau, serta Maladewa di Samudra Hindia.

Akibat pemanasan global, minimal 18 pulau di muka bumi ini telah tenggelam, antara lain tujuh pulau di Manus, sebuah provinsi di Papua Niugini. Kiribati, negara pulau yang berpenduduk 107.800 orang, sekitar 30 pulaunya saat ini sedang tenggelam, sedangkan tiga pulau karangnya telah tenggelam.

Maladewa yang berpenduduk 369.000 jiwa, presidennya telah menyatakan akan merelokasikan seluruh negeri itu. Sementara itu, Vanuatu yang didiami 212.000 penduduk, sebagian telah diungsikan dan desa-desa di pesisir direlokasikan

Karena ancaman nyata itu, delegasi dari negara kepulauan tersebut serta Aljazair dan Tanzania sangat mendukung WOC dan akan hadir di Manado, mengingat negara tersebut terancam hilang dari muka bumi ini akibat perubahan iklim.

Indonesia sendiri berpotensi kehilangan 2.000-an pulau pada tahun 2030 bila tidak ada program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ujar Indroyono, yang juga mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP.

Ekonomi hijau

Dalam pertemuan itu UNEP mengusung tema “Green is the New Deal“. Meski dunia tengah didera krisis finansial, krisis lingkungan akibat perubahan iklim tetap lebih parah dampaknya. Karena itu, UNEP memperkenalkan green economy, termasuk ketahanan pangan, biofuel, dan berupaya terus mengangkat isu kelautan ke dalam program UNEP, kata Indroyono.

Direktur Eksekutif UNEP Ahiem Steiner dalam sambutannya juga menyatakan mendukung WOC dan memberikan komitmennya akan membawa hasil-hasil WOC dan MOD pada COP-15 UNFCCC yang akan diadakan di Kopenhagen, Desember 2009.
Yuni Ikawati

(http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/17/10140516/14.Negara.Pulau.Terancam.Hilang)

Read Full Post »

Older Posts »