Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2009

Teknologi
14/03/2009 – 07:40
Tertangkap, Ikan Air Tawar Terbesar
ikan-terbesar
INILAH.COM, Jakarta – Sebagai bagian ekspedisi National Geographic ilmuwan mendapatkan ikan pari terbesar.Ikan itu ditandai dan dilepas kembali di Thailand pada 28 Januari lalu dalam ekspedisi untuk mencari dan melindungi ikan tawar terbesar.

 

Tertangkapnya ikan itu dibumbui dengan rumor berat ikan mencapai 350 kilo. Meskipun ikan pari memang berat, tapi bobot ikan ini tidak diketahui secara pasti.

 

“Foto itu memang asli dan memang sangat besar, tapi ikan itu tidak pernah ditimbang,” kata ahli biologi Zeb Hogan dari universitas Nevada di Reno. Hogan adalah peneliti utama ekspedisi.

 

Ikan pari air tawar terbesar diperkirakan terdiri dari 200 spesies. Ikan itu bisa ditemui di sungai di Asia Selatan serta Australia Utara.

 

Ikan itu tertangkap oleh sukarelawan Ian Welch. Ikan itu lebih besar dari ikan tawar yang pernah tertangkap.

 

“Dilihat dari bentuk sayapnya, ini yang kedua. Yang terbesar adalah di Kamboja pada 2003. Tapi ikan ini lebih tebal sehingga mungkin lebih berat,” kata Hogan.

 

Ikan tawar terbesar adalah yang pernah tertangkap nelayan di sungai Mekong seberat 646 pon di utara Thailand.

 

Setelah tertangkapnya ikan itu, peneliti juga menangkap ikan pari lain sejauh 4 kilometer jaraknya. ”Mengejutkan kami menangkap ikan pari lagi pada 28 Februari,” kata Hogan.

 

Penemuan itu bisa berarti populasi lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya. Ahli biologi terus menelusuri pergerakan ikan besar menggunakan alat pendeteksi bawah air.[ito]

http://inilah.com/berita/teknologi/2009/03/14/90553/tertangkap-ikan-air-tawar-terbesar/

Advertisements

Read Full Post »

Berikut soal ujian tengah semester genap t.a. 2008/2009 untuk m.a. Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) dengan dosen penguji: Onrizal

1. Sebutkan ekosistem utama di Indonesia yang memiliki arti penting dalam KSDAH dan bagaimana kondisinya!

2. Apa yang dimaksud dengan habitat?

3. Berikan contoh berbagai tipe hutan di Indonesia dan dukungan terhadap keanekaragaman hayati dan ancamannya?

4. Berikan contoh habitat daratan/terestrial selain hutan di Indonesia dan apa dukungannya terhadap keanekaragaman hayati dan ancamannya?

5. Berikan contoh berbagai tipe habitat perairan di Indonesia dan apa dukungan terhadap keanekaragaman hayati dan ancamannya?

Jawaban berupa hardcopy (hasil printout) beserta CD dikumpulkan pada jadwal UTS yang diberikan Departemen. File jawaban yang disertai dengan dengan pustaka yang diacu (dilampirkan) disimpan dalam CD. Maksimal isi jawaban tidak lebih dari 9 halaman kertas ukuran A4, font Times New Roman 12, spasi 1,5. Nama file jawaban adalah: NIM-Nama mahasiswa.doc atau NIM-Nama Mahasiswa.pdf

Selamat bekerja dan semoga berhasil

Read Full Post »

STRUKTUR DAN KEKAYAAN JENIS TUMBUHAN MANGROVE PASCA TSUNAMI DI PULAU NIAS

(Structure and species richness of mangroves plant post-tsunami in Nias island)

 

Onrizal1,, Cecep Kusmana2

1Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

2Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

 

Abstract

Mangroves is an essential natural resources in coastal area both ecology and socio-economic. Adapted mangrove vegetation on tsunami disaster is important information for mangrove rehabilitation after tsunami. The aim of the research was to determine the structure and species richness of mangrove vegetation after tsunami by vegetation analyses and inventory methods. Field survey was carried out in March 2005 or three months after tsunami disaster. We found 20 adapted mangrove species after tsunami in Nias island with dominated by R. apiculata. Land system of KJP was compound of 17 adapted mangrove species, and land system of PTG and KHY were each compound of 7 adapted mangrove species. Based on our research, R. apiculata is the first priority species for mangrove rehabilitation in Nias island.

Keywords: mangrove, adapted species, post-tsunami, rehabilitation, Nias island

 

Artikel ini akan diterbitkan pada Jurnal Nasional Terakreditasi: Berita Biologi edisi April 2009

, Alamat Korespodensi: Jl Tri Dharma Ujung No. 1 Kampus USU Medan 20155. Telp. +6261-8220605; Fax. +6261-8201920. Email: onrizal03@yahoo.com

 

Read Full Post »

SIMPANAN KARBON BIOMASSA HUTAN TANAMAN EUCALYPTUS GRANDIS DI SUMATERA UTARA

(Carbon biomass stock in planted Eucalyptus grandis forests in North Sumatra)

 

Onrizal1ª, Rudi Hartono1, Rangga Bayu Basuki2, Cecep Kusmana3

1Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

2Alumni Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

3Guru Besar Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

 

ABSTRACT

Afforestation and reforestation are very prospective forestry project under the clean development mechanism of Kyoto Protocol. Tree growth by CO2 fixation through photosynthesis process can decrease concentration of CO2 gases in atmosphere. This is very important provision of the Kyoto Protocol, in which developing countries with tropical rain forest are to be involved in an effort to decrease carbon emission through the development of carbon sink, biodiversity, and sustainable forest management. Therefore, estimating carbon fixation in planted forests is very important activity within global warming issues. Objective of this research was to estimate carbon biomass in planted stands of 1- to 9-year-old Eucalyptus grandis trees in North Sumatra, using destructive sampling data of 18 trees to formulate allometric equations. The parameters observe include biomass for individual stem, branch, and leaf for aboveground biomass. The result showed that allometric equation was in good relation with stem diameter (DBH) as log-linear equation where allometric equation for total aboveground biomass is 0.0678DBH2.5794 (R2 98.8%). Total aboveground biomass in planted stand of 9 years old was 129.52 t/ha or eqiavalen to 58.28 t C/ha of carbon.

Keywords: allometric, biomass, carbon, Eucalyptus grandis

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada Direktur DP2M, Dirjen Dikti, Depdiknas atas dukungan dana penelitian melalui program Hibah Pekerti Angkatan IV tahun 2006. Kepada pimpinan PT TPL juga disampaikan terima kasih atas izin dan bantuan untuk melakukan penelitian di areal konsesi hutan tanaman E. grandis yang dikelolanya.

 

 

Artikel ini akan diterbitkan pada Jurnal Nasional Terakreditasi: Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

ª Alamat Korespodensi:

Departemen Kehutanan FP USU. Jl Tri Dharma Ujung No. 1 Kampus USU Medan 20155

E-mail: onrizal03@yahoo.com

Read Full Post »

Pengunduran Jadwal Penerimaan Proposal PKM-AI dan PKM-GT Tahun 2009
Download file : Jadwal Penerimaan Proposal PKM-AI dan PKM-GT 2009.pdf (17kb)

Jadwal penerimaan Proposal PKM-AI dan PKM-GT diperpanjang s.d. 10 April 2009. Semoga waktu yang tersedia dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk menghasilkan karya yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara.

Read Full Post »

Tanaman Hias Pembasmi Serangga

(Gambar: Dok. Majalah GARDEN Ingin membasmi nyamuk dan serangga pengganggu? Coba tanam tanaman pemakan serangga. Nepenthes salah satunya)

Artikel Terkait:

 Rabu, 4 Maret 2009 | 15:37 WIB

Nepenthes bukanlah tanaman baru di Indonesia. Dari sekitar 200 jenis Nepenthes di seluruh dunia, hampir separuhnya tumbuh di Sumatera dan Kalimantan. Sayang, karena banyak terjadi penebangan hutan, akhirnya spesies tanaman ini semakin berkurang.

Kita, di Indonesia, mengenal Nepenthes dengan berbagai sebutan. Di Jawa Tengah, orang biasa menyebutnya Kantong Semar. Berbeda halnya dengan di Jawa Barat, tanaman ini biasa disebut Sorok Raja Mantri.

Di antara sekian jenis tanaman karnivora, Nepenthes termasuk yang paling mudah ditanam dan dibudidayakan. Flora asli Indonesia dan berbagai daerah di Asia Tenggara ini menyukai kelembapan. Oleh karena itu, siapkan media yang cukup lembap sebagai tempat hidupnya.

Satu hal lagi yang perlu diketahui, jangan memindahkan tempat Nepenthes terlalu sering. Pasalnya, tanaman pemakan serangga ini membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan media tanamnya.

Pada kira-kira satu minggu awal tumbuhnya di media tanam baru, biasanya Nepenthes tampak layu. Namun, ini bukan berarti ia mati. Berikan nutrisi tambahan pada masa-masa awal ini. Setelah satu minggu, Nepenthes akan kembali segar seperti semula.

Nepenthes memiliki bunga berbentuk kantung. Di bibir bunga ini terdapat cairan licin, yang aromanya mengundang datangnya serangga. Setelah hinggap di permukaannya, serangga akan tergelincir dan masuk ke dalam “kantong”. Di kantong ini, serangga akan hancur oleh zat asam, dan menjadi makanan Nepenthes.

Bunga Nepenthes memiliki beragam warna. Beberapa ada yang berwarna ungu, merah, hijau, atau ungu. Tinggal pilih mana yang menjadi favorit Anda.

http://properti.kompas.com/read/xml/2009/03/04/15374796/Tanaman.Hias.Pembasmi.Serangga

Read Full Post »