Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2009

LUBUK LARANGAN YANG MENGHIDUPKAN

Onrizal

Peneliti Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan USU

Staf Pengajar Departemen Kehutanan FP USU

 

Umumnya kita manusia ingin selalu hidup bebas. Tidak ada yang ingin ada larangan apalagi apa-apa tidak boleh. Larangan dianggap membatasi dan merugikan! Bukankah demikian?

Namun bagi masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), terutama yang hidup di pinggiran sungai, misalnya Batang Gadis dan Batang Toru atau sungai lainnya, kata “larangan” sudah menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Jika pembaca sempat mengunjungi atau melewati daerah aliran sungai tersebut, kita akan dengan mudah menjumpai papan pengumuman tentang lubuk larangan.

Lalu, apa yang dimaksud dengan lubuk larangan? Lubuk larangan yang dipraktekan di daerah Tapsel dan Madina adalah bagian tertentu dari sungai dengan panjang tertentu dengan larangan mengambil ikan dengan cara apapun bagi siapa saja, kecuali pada waktu tertentu. Daerah yang dilarang tersebut disebut dengan “lubuk larangan”. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda berupa sejumlah uang tertentu (Onrizal, 2007).

……………………..

Lubuk larangan hanyalah salah satu contoh kearifan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam. Mereka memberikan contoh nyata dalam pengelolaan sumberdaya alam secara lestari dan dilakukan secara mandiri. Mereka menjaga sungai yang ada di hulu, sehingga masyarakat di hilir tidak terkurangi haknya untuk mendapatkan sumber kehidupan dari sungai yang airnya terus mengalir. Mereka melakukan hal tersebut bukan karena pengarahan orang ‘terpelajar’ dari kota, tetapi kedekatan mereka dengan alam menjadikan mereka arif dan bijak dalam mengelola sumberdaya alam, sehingga tahu apa yang harus dilakukan untuk kehidupan mereka dan apa yang harus dihindari yang bisa membahayakan atau merugikan (Onrizal, 2007).

Konsep “larangan” yang ada dalam khasanah budaya Mandailing dan Angkola dalam hal ini adalah “lubuk larangan” telah ditransformasikan ke dalam bentuk baru yang lebih rasional oleh komunitas-komunitas desa di sepanjang aliran sungai di wilayah Tapsel dan Madina (Perbatakusuma, 2007). Alam telah menjadi guru bagi mereka untuk berbuat dan berperilaku. Saatnya bagi kita untuk mengambil pelajaran dari mereka.

Selengkapnya setelah Buku EGI 2009 Sumatera Utara terbit

Advertisements

Read Full Post »

Diambang Kepunahan: Sejuta asa menyelamatkan kekayaan dunia di Sumatera Utara

Onrizal

Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Universitas Sumatera Utara

Siapa yang tak kenal harimau si Raja Hutan? Rasanya sulit mencari orang Indonesia, apalagi orang Sumatera yang tak kenal si Belang sang penguasa hutan Sumatera. Umumnya, sejak kecil kita sudah diceritakan dengan kegagahan harimau sang raja hutan. Namun kini, menurut IUCN Red List (2003) Sang Raja Hutan Sumatera menghadapi ancaman kepunahan dengan status Critically Endangered (status kritis yang merupakan kategori ancaman kepunahan tertinggi), seolah-olah kegagahan Sang Raja Hutan Sumatera tidak berarti apa-apa lagi untuk mempertahankan keberadaannya serta keturunannya.

Pulau Sumatera adalah bagian penting Hotspot biodiversitas dataran Sunda. Hotspot biodiversiti berarti kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan penting. Satu dari 34 wilayah di dunia yang memiliki tingkat biodiversitas dan endemisitas (penyebaran yang terbatas) yang luar biasa, namun mendapatkan tingkat keterancaman yang sangat tinggi. Berbagai kawasan hutan yang tersisa di Sumatera Utara telah dipetakan sebagai pusat-pusat keanekaragaman hayati penting yang tercakup dalam Daerah Prioritas Konservasi: Kawasan Kunci Biodiversitas (Priority Sites for Conservation in Sumatra: Key Biodiversity Areas) (Conservation International-Indonesia dkk, 2007).

Harimau Sumatera hanyalah salah satu satwa langka kebanggaan Nasional yang hidup alami di hutan-hutan Sumatera. Masih banyak lagi satwa maupun tumbuhan yang terancam punah menghuni Pulau Sumatera, termasuh hutan-hutan di Sumatera Utara. Menurut Concervation International-Indonesia dkk (2007) di Pulau Sumatera terdapat 248 jenis flora fauna (tumbuhan dan hewan) yang memiliki status terancam secara global pada tahun 2006 berdasarkan Daftar Merah (Red List) Jenis Terancam yang dipublikasikan oleh IUCN.

Sebagai bagian perjalanan mengungkap kekayaan hayati melalui Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 Sumatera Utara dalam tulisan ini, penulis akan mengungkapkan kondisi beberapa satwa langka seperti harimau Sumatera, orangutan Sumatera dan gajah Sumatera. Satwa langka tersebut merupakan komponen kunci dalam pelestarian biodiversitas yang tidak hanya bernilai secara nasional namun juga menjadi perhatian dan isu internasional.

Si Raja Hutan Sumatera: akankah tinggal cerita?

Orangutan Sumatera: Satwa Endemik Sumatera yang Terancam Punah

Gajah Sumatera: Mamalia Besar yang Semakin Langka

Upaya Penyelamatan

Artikel lengkap setelah Buku EGI 2009 Sumatera Utara terbit

Read Full Post »

REFLEKSI 4,5 TAHUN PASCA TSUNAMI-KEARIFAN MASYARAKAT LAHEWA, NIAS:

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, MENYELAMATKAN KEHIDUPAN MANUSIA

 

 

Oleh: Onrizal

Peneliti pada Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan Universitas Sumatera Utara

Staf Pengajar bidang Ekologi Hutan pada Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

E-mail: onrizal03@yahoo.com

 

 

Empat setengah tahun lalu, tepatnya hari Minggu tanggal 26 Desember 2004, masyarakat dunia berduka. Saat gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang berpusat di Samudra Hindia, sebelah barat Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)diikuti gelombang tsunami dahsyat dengan ketinggian mencapai 30 m melanda sebagian besar wilayah Sumatera bagian utara dan belasan negara lainnya, mulai dari Asia Tenggara sampai pantai timur Afrika. Bencana dahsyat itu menyisakan keprihatinan dan duka yang mendalam. Banyak orang hampir tak percaya dengan apa yang terjadi! BAPPENAS (2005) dan GCRMN (2006) menyatakan bahwa hanya dalam hitungan menit, ratusan ribu orang tewas dan hilang, ribuan rumah, gedung, perkantoran, rumah sakit, serta sarana dan prasarana publik ikut ditelan gelombang laut maha dahsyat dan mengerikan itu. Tentu, dan saya yakin, kita semua belum lupa akan peristiwa tersebut.

Namun diantara kisah-kisah yang memilukan dan menyesakkan dada tersebut, terselip kisah-kisah masyarakat dan perkampungan yang selamat dari tsunami. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil dari apa yang mereka pelajari dan alami untuk merajut hidup kita yang lebih baik di masa datang.

Mengapa perkampungan mereka selamat dari tsunami?

Permukiman penduduk di Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa berada pada daerah pasang surut. Hanya saja perumahan penduduk tersebut tidak langsung berhadapan dengan laut, namun antara permukiman dengan laut berdasarkan pengukuran penulis terdapat hutan mangrove dengan lebar sekitar 200 – 300 m dan kerapatan pohon berdiameter 2-10 cm yang sangat lebat (lebih dari 17.000 ind/ha). Meskipun pohon-pohon mangrove tersebut diameternya masih relatif kecil, namun tegakannya kompak dan tersebar secara merata dengan ketinggian pohon mencapai 9 meter.

Menurut penduduk di pantai utara Nias, hutan mangrove yang ada saat tsunami melanda berumur sekitar 10 tahun. Sebab sebelum tahun 1995, hutan mangrove di daerah tersebut sudah rusak akibat penebangan. Hal ini kemudian menyebabkan perkampungan mereka terancam abrasi pantai dan tangkapan ikan mereka jauh berkurang. Kondisi ini menyadarkan mereka dan kemudian masyarakat desa sepakat untuk tidak menebang pohon mangrove yang berada di pinggir laut.

Saat tsunami datang di pantai utara Nias, gelombang tsunami tidak langsung menghantam perumahan penduduk, namun terlebih dahulu melewati hutan mangrove. Setelah melewati hutan mangrove lebat tersebut, arus tsunami menjadi tenang sesampai di permukiman. Fenomena di pantai utara Nias menggambarkan bahwa banjir akibat gelombang tsunami yang menggenangi rumah-rumah penduduk setinggi 2 – 3 m tidak menyebabkan kerusakan yang berarti pada permukiman tersebut karena airnya sudah tenang karena diredam oleh hutan mangrove. Seperti telah ditulis sebelumnya, di Desa Moawo hanya terdapat 1 (satu) rumah yang hancur karena rumah tersebut berada persis di bibir sungai yang tegak lurus terhadap datangnya air laut, sehingga arus tsunami di pinggir sungai tersebut tidak terhalang oleh hutan mangrove. Perumahan penduduk di Desa Pasar Lahewa tidak ada yang mengalami rusak sedang dan berat.

Bagaimana mereka selamat dari tsunami? ALAM JADI GURU

Kapan dan dimana ajal menjemput, kita tidak akan pernah tahu. Namun, bagaimana mengenali bahaya yang bisa mengancam nyawanya dan bagaimana menghadapinya, manusia diberikan peluang untuk itu.

Saat gempa besar di Minggu pagi 26 Desemeber 2004, kemudian diikuti dengan surutnya air laut secara tiba-tiba, seketika penduduk di pesisir pantai Lahewa, seperti di Desa Moawo dan Desa Pasar Lahewa saling bersahutan “awas galoro, galoro, galoro, …..” dan kemudian secara cepat mereka mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Orang-orang sakit ditandu, anak-anak digendong. Rumah-rumah merekapun banyak yang tidak sempat ditutup.

Galoro merupakan salah satu kata dalam bahasa Nias yang berarti tsunami. Pengetahuan turun-temurun yang dimiliki masyarakat di pantai utara Nias sejak awal tahun 1900-an, seperti halnya pengetahuan yang sama pada masyarakat pulau Simeulue telah mengajarkan meraka bahwa apabila terjadi gempa, kemudian diikuti oleh air laut yang surut secara cepat, maka hal itu pertanda galoro (tsunami) akan datang. Tidak ada hal yang harus dilakukan, kecuali segera mencari tempat yang lebih tinggi supaya aman dari tsunami.

Seperti kata pepatah orang minang “alam takambang jadi guru” yang lebih kurang artinya adalah alam semesta dengan segala kejadian yang menyertainya merupakan sumber pelajaran dan pengetahuan (guru). Demikianlah, masyarakat di pesisir pantai utara Nias selamat dari tsunami karena ketika tsunami datang dan merendam rumah dan perkampungan, mereka sudah berada di daerah yang tinggi dan tidak terjangkau oleh tsunami. Tidak ada seorangpun penduduk psisir pantai di Kecamatan Lahewa yang menjadi korban tsunami!

Artikel lengkap setelah buku EGI 2009 Sumatera Utara terbit.

Read Full Post »

Pada tanggal 20-29 Mei 2009, saya mengikuti Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 Sumatera Utara (EGI 2009 Sumatera Utara). Kegiatan ini diinisiasi oleh Badan Koordinasi Survey dan Perpetaan Nasional (BAKOSURTANAL), dan merupakan kegiatan EGI ke-enam. Berikut pengantar kegiatan EGI 2009 Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN

Ekspedisi Geografi Indonesia (EGI) adalah suatu rangkaian perjalanan mengamati fenomena geografi pada suatu trase atau rute tertentu. Pengamatan fenomena sepanjang trase tersebut dimulai dari pegunungan sampai daerah pantai.

Fenomena geografi yang diamati meliputi unsur :

–                      Hayati (biotik)

–                      Nir Hayati (abiotik)

–                      Budaya (culture)

–                      Dampak lingkungan

Dengan menjadikannya fenomena geografi sebagai dalam suatu rekaman melalui tulisan ilmiah populer dan audio visual dari lokasi atau wilayah, diharapkan dapat memberikan wacana baru kepada masyarakat luas bahwa didalamnya masih ada banyak peluang ekonomi dan nilai-nilai budaya yang pada akhirnya dapat membangkitkan semangat dan kecintaan pada tanah air, temasuk didalamnya mengkomunikasikan dengan masyarakat internasional.

Sumatera utara merupakan provinsi multietnis dengan suku Melayu, Batak, dan Nias sebagai penduduk asli daerah ini, dan suku-suku lain seperti Jawa dan Tionghoa yang telah masuk sejak jaman Hindia Belanda dan mendiami wilayah tertentu di Provinsi ini. Keberadaan Danau Toba yang merupakan danau terbesar di Indonesia juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Provinsi Sumatera Utara. Danau Toba terbentuk dari letusan supervolcano yang terjadi sekitar 75.000 tahun lalu dan menghasilkan kaldera yang kemudian terisi air. Tekanan ke atas magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Sumatera Utara juga tersohor karena luas perkebunannya yang hingga kini tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Kekhasan fenomena ini akan menarik diamati dalam Ekspedisi Geografi Indonesia 2009, sehingga diharapkan dapat menarik benang merah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada wilayah ini.

 

II. TUJUAN

Tujuan Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 adalah melakukan kajian ilmiah dan menyampaikan dalam bentuk buku ilmiah populer berbasiskan abiotik, biotik, budaya, dan dampak lingkungan yang ada di wilayah Sumatera Utara. Hasil kajian ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air ke masyarakat luas, dengan cara tayangan dan penyebarluasan informasi potret atau gambaran fenomena yang ada di wilayah Sumatera Utara.

 

III. PESERTA

Ekspedisi geografi 2009 ini didukung oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu yang dikelompokkan dalam bidang abiotik (geologi, geodesi), biotik (biologi), budaya (antrapologi, ekonomi, toponimi), serta dampak lingkungan (geologi lingkungan, geografi).

Read Full Post »