Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2009

Ekologi Hutan

1. Ekologi Hutan – Pendahuluan

2 Ekologi Hutan-Ekosistem

Advertisements

Read Full Post »

Ekologi Hutan: Pendahuluan

Bab ini berisi batasan ekologi, hutan, ekologi hutan, bidang kajian ekologi hutan, posisi ekologi hutan dan dunia ilmu kehutanan, dan aspek-aspek penting ekologi hutan.

1 Ekologi Hutan-Pendahuluan-2009

Selamat belajar!

Read Full Post »

UNFCCC di Denmark

Selasa, 25 Agustus 2009 | 17:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah di Bali, konvensi badan PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC atau UN Framework Convention on Climate Change) akan kembali digelar di Copenhagen, Denmark, Minggu (13/12/09).

Konferensi yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 1992 itu bertujuan mendesak semua negara yang berkepentingan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang dianggap tidak membahayakan iklim bumi. Tahun ini, pertemuan itu akan menjadikan usulan-usulan untuk menggunakan pembayaran karbon untuk melindungi hutan di dunia.

Konferensi bertajuk “Forest Day 3” didedikasikan untuk membahas peran hutan dalam perubahan iklim, mitigasi serta perubahan adaptasi, dan akan difokuskan pada “Hutan Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim.”

Para negosiator juga akan membahas kerangka kerja global REDD (pengurangan emisi gas rumah kaca dari defortasi dan degradasi hutan). Dengan begitu negara-negara yang mengurangi tingkat deforestasi mereka akan memperoleh kredit untuk emisi gas yang berkurang. Kredit-kredit itu kemudian akan dijual pada pasar karbon internasional atau akan dialirkan ke suatu dana internasional.

Dalam sesi tanya jawab saat media briefing di Hotel Intercontinental, Selasa (25/8) pagi, Dr Agus Purnomo, mewakili pemerintah sebagai Executive Secretary National Council on Climate Change, menjelaskan, masyarakat hutan adat di Indonesia tidak memiliki perbedaan persepsi dengan negara-negara maju dan berkembang yang menghasilkan gas emisi terbanyak di dunia seperti China.

“Masyarakat dan desa itu adalah porsi yang besar, jadi dari pemerintah mereka yang memiliki tanggung jawab besar seperti masyarakat hutan adat akan diberikan insentif sekitar 70 persen,” kata Dr Nur Masripatin, pemimpin tim REDD dari Departemen Kehutanan.

Read Full Post »

Website REDD-I Diluncurkan

Selasa, 25 Agustus 2009 | 17:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Center for International Foresty Research (CIFOR) berkerja sama dengan Departemen Kehutanan, Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), dan WWF Indonesia meluncurkan website www. redd-indonesia.org yang bertujuan untuk memantapkan implementasi program pengurangan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia (REDD-I).

Program CIFOR yang terdiri dari tiga bagian, yaitu tanya jawab mengenai apa itu REDD, lokakarya tentang pengalaman mengembangkan proyek percontohan REDD generasi pertama, dan pembuatan website REDD-I di perkenalkan CIFOR, Selasa (25/8) pagi, di Hotel Intercontinental Midplaza Jakarta.

“Isi website ini sendiri kurang lebih adalah penejelasan mendalam mengenai apa itu REDD dan siapa itu CIFOR”, kata Direktur eksekutif PILI, Pam E. Minnigh. “Diharapkan dapat menjadi media sharing yang efektif yang dapat diakses masyarakat” jelas ilmuan senior CIFOR, Dr Daniel Murdiyarso.

Program yang baru dilaksanakan CIFOR tahun 2009 ini sangat diharapkan bisa berhasil dilaksanakan di Indonesia. “Karena, kita adalah salah satu negara yang telah melaksanakan aktivitas nyata yang berkaitan dengan REDD,” jelas Dr Nur Masripatin dari Departemen Kehutanan.

“Seperti yang dilakukan Persatuan Iklim Hutan Indonesia (IFCA) pada tahun 2007, mereka telah meneliti aspek-aspek metodologi, kebijakan, dan institusi, termasuk distribusi insentif,” tambah wanita berkacamata ini.

Mengenai distribusi insentif, Executive Secretary National Council on Climate Change Dr Agus Purnomo mengatakan, negara yang paling banyak menghasilkan gas karbon di atmosfer yang akan paling banyak melakukan upaya. 

Read Full Post »

Perdagangan Karbon, Menjual Kelestarian Hutan
MS Kaban – detikNews

Jakarta – Pelbagai kengerian tentang masa depan umat manusia, terutama bencana yang diakibatkan kerusakan lingkungan semakin menyebar. Salah satu yang membuat gencar penghembuskan wacana tersebut tentu saja film-film produksi Hollywood, Amerika Serikat (AS). Melalui film-film fiksi ilmiah maupun dokumenternya.

Bagi saya, kengerian yang disebarkan secara menghibur tersebut merupakan sebuah bentuk pelajaran mengenai lingkungan yang mudah dicerna banyak orang. Bukan tanpa alasan, salah satu prediksi ilmiah memperkirakan bahwa di tahun 2100 akan terjadi peningkatan suhu global antara 1,0 hingga 4,5 derajat Celsius, gunungan es di kutub semakin mencair dan mengakibatkan tinggi muka air laut bertambah 60
sentimeter.

Apa jadinya bila prediksi tersebut benar-benar terjadi? Kota-kota besar di dunia yang kebanyakan terletak di dataran rendah tentu saja tergenang air, sementara penduduknya tersiksa dengan panasnya suhu luar ruang. Risiko lainnya bagi Indonesia, kemungkinan hilangnya ribuan pulau saat permukaan laut meninggi.

Perubahan iklim secara global tentu saja akan mempengaruhi tanaman juga. Produktivitas dan perkembangan hama serta penyakit tanaman akan mempengarui ketersediaan air dan distribusi vektor penyakit manusia. Dalam jangka panjang ketahanan pangan dan air yang dibutuhkan makhluk hidup akan terganggu. Manusia kehilangan sumber kehidupannya.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu secara global tersebut dikarenakan banyaknya pelepasan karbon ke udara. Karbon tersebut salah satunya berasal dari sisa pembakaran yang dihasilkan industri maupun rumah tangga. Karbon yang terdapat di udara akan menipiskan dan menggangu kemampuan atmosfir untuk
memantulkan sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Hal ini biasa dikenal juga dengan efek gas rumah kaca.

Dalam sebuah lokakarya yang digelar Wetlands International, dipaparkan antara tahun 1850 hingga 1998 diperkirakan 270 gigaton (Gt) karbon telah dilepaskan ke atmosfer. Bagian terbesar disumbangkan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan industri, yaitu sebesar 67 persen.

Pembukaan lahan secara global dalam waktu 20 tahun terakhir telah mengakibatkan terlepasnya 1,65 Gt karbon per tahun. Lebih dari 80 persen berasal dari negara berkembang dan Indonesia sendiri menyumbangkan sembilan persen (0,155 Gt karbon) dengan kemampuan penyerapan 0,110 Gt karbon. Hutan memang memiliki fungsi sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir) karbon, istilahnya carbon
sink.

Dunia pun tidak tinggal diam, hal itu harus diatasi dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya dan juga meningkatkan kemampuan penyerapan. Dalam Konvensi Perubahan Iklim Dunia (The United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) yang diperdengarkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi 1992 di Rio de Janeiro, komitmen penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) itu telah disepakati sekitar 150 negara, termasuk Indonesia.

Komitmen itu dimatangkan dalam Konferensi Negara Pihak (COP) III UNFCCC tahun 1997 yang melahirkan Protokol Kyoto. Negara-negara maju bersepakat menekan emisi mereka ke tingkat lima persen di bawah tingkat emisi 1990. Target itu dicapai dalam periode komitmen pertama, antara 2008-2012. Gas-gas penting yang disebutkan dalam Protokol Kyoto adalah karbondioksida (CO), metana (CH), nitrogen oksida (NO), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfur hexafluorida (SF6).

Sejak saat itu pulalah, berkembang tren baru, perdagangan karbon (carbon trade). Perdagangan karbon merupakan istilah untuk aktivitas penyaluran dana dari negara-negara penghasil emisi karbon kepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk mampu menyerap emisi karbon secara alami. Konservasi dimotivasi dengan imbalan dana segar melalui skema pembangunan bersih (clean mechanism development/CDM).

Hal ini merupakan peluang yang sangat baik untuk memanfaatkan potensi alam. Tentunya dengan cara lain selain menebang pohon. Karena yang dihitung dalam perdagangan karbon adalah hutan yang ada dijaga kelestariannya dan penanaman pada kawasan bukan hutan. Serta melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak dengan cara reboisasi.

Indonesia dengan luas hutannya, berpotensi untuk memasuki era perdagangan karbon tersebut. Berdasarkan data ADB – GEF – UNDP menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas reduksi karbon lebih dari 686 juta ton yang berasal dari pengelolaan hutan. Jika harga rata-rata per ton karbon sebesar US$ 5, maka Indonesia berpotensi menjual sertifikat surplus karbon senilai US$ 3,430 milyar atau sekitar Rp 34 triliun.

Perhitungan tersebut memang belum menyertakan karbon yang dilepaskan oleh Indonesia sendiri. Tetapi, semakin banyak hutan lindung, semakin banyak pohon yang ditanam di setiap lahan kosong, semakin luas lahan yang direhabilitasi dan direboisasi tentunya akan meningkatkan potensi penerimaan dana.

Hal ini menjadi insentif moral bagi semangat Departemen Kehutanan dalam melakukan konservasi sumber daya alam hutan dan rehabilitasi lahan. Seperti yang sudah dilakukan selama ini melalui berbagai gerakan dan kampanye. Di antaranya Gerakan Penananam Serentak Indonesia yang memiliki tema dan target tersendiri setiap tahunnya, serta Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).

Bagi negara, mekanisme perdagangan karbon tentunya menguntungkan. Keberhasilan dalam upaya menjaga, meningkatkan, dan mengembalikan kelestarian hutan yang dalam operasionalnya menghabiskan biaya yang tidak sedikit ternyata malah menghasilkan keuntungan dalam bentuk finansial.

Tawaran Nyata Untuk Indonesia

Jika selama ini perdagagan karbon masih dianggap sebagai wacana, tawaran yang paling nyata untuk perdagangan karbon datang belum lama dari Australia. Medio November 2008, Carbon Strategic Global (CSG) Australia menawarkan pembelian oksigen yang dihasilkan hutan di Sumatera Barat.

Oksigen yang diusulkan itu diproduksi hutan lindung dalam wilayah 10 kabupaten dan satu kota di Sumatera Barat. Seluas 865.560 ha hutan lindung itu berada di Kabupaten Solok seluas 126.600 ha, di Solok Selatan 63.879 ha, Tanah Datar 31.120 ha, Pesisir Selatan 49.720 ha, Pasaman 232.660 ha, 50 Kota 151.713 ha dan Kabupaten Agam 34.460 ha. Lalu di Kabupaten Pasaman Barat 56.829 ha, Padang
Pariaman 19.894 ha, Sijunjung 85.835 ha dan hutan lindung di Kota Padang yang luasnya 12.850 ha.

CSG telah menawarkan kompensasi Rp 900 miliar per tahun untuk oksigen yang diproduksi hutan-hutan lindung di Sumatera Barat tersebut. Jika perdagangan itu terealisasi, maka dana kompensasi akan diterima juga oleh pemerintah daerah yang memiliki kawasan hutan lindung dan menghasilkan oksigen.

Dana yang cukup besar itu, selain menjadi pendapatan baru bagi daerah juga bisa dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat adat pemilik ulayat hutan lindung. Sehingga upaya untuk menuju pemanfaatan hutan yang lestari untuk kemakmuran rakyat segera terwujud. Segala permasalahan seperti kasus pencurian kayu, pembakaran hutan, perambahan hutan dapat ditekan semaksimal mugkin, dampaknya tentu positif secara ekonomi dan sosial.

*MS Kaban: Menteri Kehutanan
http://www.detiknews.com/read/2009/08/13/115020/1182448/103/perdagangan-karbon-menjual-kelestarian-hutan

Read Full Post »

Amazon clear-cutting in Peru. (Photo by R. Butler)

A WORLD Imperiled: FORCES BEHIND FOREST LOSS

As the first seven sections of this site have described, tropical rainforests are incredibly rich ecosystems that play a fundamental role in the basic functioning of the planet. Rainforests are home to probably 50 percent of the world’s species, making them an extensive library of biological and genetic resources. In addition, rainforests help maintain the climate by regulating atmospheric gases and stabilizing rainfall, protect against desertification, and provide numerous other ecological functions.

However, these precious systems are among the most threatened on the planet. Although the precise area is debated, each day at least 80,000 acres (32,300 ha) of forest disappear from Earth. At least another 80,000 acres (32,300 ha) of forest are degraded. Along with them, the planet loses as many as several hundred species to extinction, the vast majority of which have never been documented by science. As these forests fall, more carbon is added to the atmosphere, climactic conditions are further altered, and more topsoil is lost to erosion.

Despite increased awareness of the importance of these forests, deforestation rates have not slowed. Analysis of figures from the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) shows that tropical deforestation rates increased 8.5 percent from 2000-2005 when compared with the 1990s, while loss of primary forests may have expanded by 25 percent over the same period. Nigeria and Vietnam’s rate of primary forest loss has doubled since the 1990s, while Peru’s rate has tripled.

  Rate of change
in total deforestation rate
2000-2005 period vs 1990-2000 period
  Country   Rate of change
(%)
  Malaysia   85.7
  Cambodia   74.3
  Burundi   47.6
  Togo   41.6
  Nigeria   31.1
  Sri Lanka   25.4
  Benin   24.1
  Brazil   21.2
  Uganda   21.0
  Indonesia   18.6
  Total
(62 tropical countries)
  8.5

Overall, FAO estimates that 10.4 million hectares of tropical forest were permanently destroyed each year in the period from 2000 to 2005, an increase since the 1990-2000 period, when around 10.16 million hectares of forest were lost. Among primary forests, annual deforestation rose to 6.26 million hectares from 5.41 million hectares in the same period. On a broader scale, FAO data shows that primary forests are being replaced by less biodiverse plantations and secondary forests. Due to a significant increase in plantation forests, forest cover has generally been expanding in North America, Europe, and China while diminishing in the tropics. Industrial logging, conversion for agriculture (commercial and subsistence), and forest fires—often purposely set by people—are responsible for the bulk of global deforestation today.

But enough about the extent and some of the effects of deforestation. What is responsible for this loss? This is the question this section addresses.

Deforestation and Degradation

 

Before expanding further on forest loss it is critical to first explain what is considered “forest” and what is meant by deforestation and forest degradation.

The Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), the leading source for information on the status of the world’s forests, defines forests as land with a tree canopy cover of more than 10 percent and an area of more than half a hectare. FAO says that “forest” includes natural forests and forest plantations but specifically excludes stands of trees established primarily for agricultural production (i.e. fruit tree and oil palm plantations) and trees planted in agroforestry systems.

Other organizations use different standards for defining forests. For example, the United Nations Environment Programme (UNEP) uses 40 percent cover as the threshold for “closed forests” and 10-40 percent cover for “open forests,” while the Tropical Ecosystem Environment Observations by Satellite (TREES) project—funded in the 1990s by the European Commission—classifies areas with more than 70 percent canopy cover as “dense forests” and those with 40-70 percent cover as “fragmented forest.”

 

To reduce confusion, this site will generally follow FAO’s convention, even though it has been criticized for its generous definition of what it considers forest.

FAO defines deforestation as “the conversion of forest to another land use or the long-term reduction of the tree canopy cover below the minimum 10 percent threshold.” Depletion of forest to tree crown cover greater than 10 percent (say from 90 percent to 12 percent) is considered forest degradation. Logging most often falls under the category of forest degradation and thus is not included in FAO deforestation statistics. For this reason, forest degradation rates are considerably higher than deforestation rates.

Digging a little deeper, FAO says that “deforestation includes areas of forest converted to agriculture, pasture, water reservoirs and urban areas,” but the term “specifically excludes areas where the trees have been removed as a result of harvesting or logging and where the forest is expected to regenerate naturally or with the aid of silvicultural measures.”

Deforestation vs. Degradation

Causes of Deforestation

  Causes of Degradation

[print version | spanish | french | portuguese | chinese | japanese]

Review questions:

  • What is the difference between deforestation and forest degradation?
  • What are some examples of activities that cause deforestation?
  • What are some causes of forest degradation?

http://rainforests.mongabay.com/0801.htm

Read Full Post »

Ecological restoration substantially boosts biodiversity and ecosystem services
mongabay.com
July 30, 2009

A new analysis reports that ecological restoration generally deliver benefits for both conserving biodiversity and supporting human livelihoods, but does not completely reverse degradation caused by humans.

The research, published in Science, examined 89 studies and found that ecological restoration increased provision of biodiversity and ecosystem services by 44 percent and 25 percent respectively. Values of both, however, remained lower in restored than in intact reference ecosystems. Still Jose Rey Benayas and colleagues are encouraged that restoration projects could become increasingly viable under emerging payments for environmental services schemes like the Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) mechanism proposed for a post-Kyoto climate agreement. Such initiatives, which could compensate developing countries for protecting and restoring ecosystems, could simultaneously deliver benefits to the environment and local communities.

The authors suggest the development of cost-benefit analyses that incorporate the values of biodiversity and associated ecosystem services could help “maximize return on investments in restoration.”

José M. Rey Benayas, Adrian C. Newton, Anita Diaz, James M. Bullock. “Enhancement of Biodiversity and Ecosystem Services by Ecological Restoration: A Meta-Analysis.” Science 31 July 2009

http://news.mongabay.com/2009/0730-restoration.html

Read Full Post »

Older Posts »