Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2009

Islam dan Konservasi Alam (1)

KONTRIBUSI DAI DAN UMAT ISLAM DALAM KONSERVASI ALAM: SEBUAH PENGANTAR© 

Onrizal

Manager Program Islam dan Konservasi Alam, Yayasan Orangutan Sumatra Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Dosen dan Peneliti Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Email: onrizal03@yahoo.com

Pendahuluan

Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa keanekaragaman? Semuanya serba sejenis, serba sewarna atau serba yang sama lainnya. Adakah disitu keindahan? Ketika hal tersebut ditanyakan kepada seluruh manusia, maka bisa dipastikan sebagian besar menyatakan ”tidak”. Allah swt menciptakan alam semesta penuh dengan keanekaragaman.

Namun demikian, apakah kita sadari atau tidak, sebagaimana diungkap Primack et al. (1998) bahwa komunitas hayati di seluruh dunia yang membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk berkembang banyak yang rusak karena ulah manusia. Daftar ekosistem yang rusak karena manusia sudah panjang. Sejumlah besar jenis makluk hidup (hewan atau tumbuhan) menghilang dengan cepat (beberapa diantaranya telah punah selamanya) karena perburuan, perusakan habitat, dan dampak negatif dari pemangsa (predator) dan pesaing (competitor) yang diperkenalkan.

Siklus hidrologi dan kimia alami terganggu oleh pembukaan lahan yang menyebabkan milyaran ton tanah subur mengalami erosi dan hanyut ke dalam sungai, danau, dan laut setiap tahun, sehingga sungai, danau, dan perairan pesisir pantai menjadi dangkal, dimana potensi dan kejadian banjir semakin sering terjadi dalam skala yang semakin meningkat.

Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia juga dianugerahi kekayaan alam luar biasa, termasuk kekayaan keanekaragaman hayati, sehingga Indonesia dikenal sebagai salah satu megabiodiversity country (negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar).

Keanekaragaman hayati beserta alam lingkungannya menyediakan berbagai sumber makanan, obat-obatan dan perlindungan bagi manusia serta fungsi lainnya. Namun demikian, sebagaimana juga terjadi di belahan bumi yang lain, kekayaan alam Indonesia tersebut juga banyak yang mengalami kerusakan dan terus mengalami ancaman kerusakan, baik dalam skala waktu maupun ruang/tempat.

Salah satu dampak kerusakan tersebut adalah lebih dari dua per tiga pelayanan ekosistem dunia telah mengalami penurunan. Manfaat yang diambil dari pembangunan infrastruktur planet, justru mengakibatkan penurunan modal alam (MEA [Millennium Ecosystem Assessment], 2005).

Jasa atau pelayanan ekosistem (ecosystem services) bagi kehidupan manusia sudah sejak lama dirasakan oleh manusia, namun pada era sebelumnya masih dianggap sebagai sesuatu yang gratis. Sebuah ironi terlihat jelas, di saat ekonomi tumbuh, ekosistem justru semakin mengalami kerusakan. Pada sisi lain, upaya-upaya untuk mengubah kecenderungan ini cukup memprihatinkan (van Eijk & Kumar, 2009). Lalu, bagaimana kontribusi dai dan umat Islam dalam pelestarian (konservasi) alam dan lingkungannya?

Menggali khazanah Islam dalam konservasi alam

Prof Emil Salim, pakar lingkungan dan mantar Menteri Lingkungan Hidup saat memberikan tanggapan terhadap buku Prof K.H. Ali Yafie berjudul “Merintis Fiqh Lingkungan Hidup” (Yafie, 2006) menyatakan “kondisi lingkungan hidup di negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Afganistan, Iran, Maroko dan Pakistan sangat memprihatinkan dibandingkan dengan negara-negara bukan Islam seperti Kostarika, Finlandia, Kanada, Norwegia, Swedia dan Singapura. Buruknya penanganan lingkungan hidup bukan karena agama Islam, tetapi karena beda tingkat pendidikan dan inefisiensi pemerintahan (governance) negaranya. Jika agama Islam dihayati dengan fiqh lingkungan dan memuat enam komponen kehidupan dasar manusia seperti diusulkan Prof K.H. Alie Yafie, maka kaum Muslimin bisa menjadi pendorong pembangunan berwawasan lingkungan”.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah dengan tugas untuk membangun (al imaroh) dan memelihara (ar riayah) bumi dan alam sekitarnya, sebagaimana firman Allah berikut:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Quran 2: 30)

Islam hadir untuk membentuk manusia berperadapan tinggi dengan budaya yang luhur. Menurut Jatna Supriatna, PhD ahli konservasi saat memberikan pengantar pada buku “Konservasi Alam dalam Islam” (Mangunjaya, 2005) menyatakan “Islam adalah agama yang berperan dalam membentuk kelompok-kelompok budaya, misalnya budaya Melayu yang biasa diidentikkan dengan Islam, begitu pula beberapa suku bangsa besar di Indonesia yang mempunyai berbagai kearifan tradisional termasuk dalam cara pandang dan sikap melestarikan alam”.

Sumatera bagian utara (Sumatera Utara dan Aceh) memiliki kawasan konservasi alam yang kaya dan unik serta bernilai penting pada tingkat global, yakni Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) (Gambar 1). Kawasan ini menjadi induk dari berbagai sungai yang mengaliri kehidupan ribuan bahkan jutaan orang di daerah hilir, rumah bagi berbagai satwa langka yang dilindungi, seperti harimau Sumatera, orangutan Sumatera, gajah Sumatera. Keberadaan satwa tersebut sangat penting bagi keberlangsungan dan kesehatan ekosistem TNGL.

Pada tahun 1981, Leuser ditetapkan oleh UNESCO sebagai Biosphere Reserve atau Cagar Biosfer, atas usulan dari pemerintah Indonesia. Pengakuan global inipun berlanjut lagi dengan ditetapkannya TNGL sebagai Tropical World Heritage Site of Sumatra (kawasan warisan hutan tropis dunia di Sumatera), bersama-sama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada tahun 2004. Namun sampai saat ini, kerusakan dan ancaman kerusakan terus mengancam kelestarian kawasan tersebut termasuk kehidupan manusia yang hidup disekitar kawasan konservasi alam tersebut.

Gambar 1. Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang kaya keanekaragaman hayati dan sumber air bagi sungai-sungai yang menghidupi ratusan bahkan jutaan manusia yang hidup di sekitarnya

Sebagaimana pengantar Jatna Supriatna, PhD dalam pengantarnya dalam Mangunjaya (2005) yang menyatakan bahwa “konservasi alam memerlukan pendekatan multidisiplin yang keberhasilannya akan melibatkan berbagai pihak, sebab pada hakikatnya keperluan terhadap konservasi merupakan kepentingan bersama. Konservasi alam merupakan kepentingan kemanusiaan dan melindungi alam merupakan kebutuhan manusia di segala tingkat komunitas, karena manusia perlu menjaga dan melestarikan ekosistem untuk keberlanjutan kehidupan di bumi. Hubungan antara agama dan konservasi, dibahas sebagai disiplin: etika konservasi, dalam buku-buku teks biologi konservasi yang membahas mengenai hubungan pandangan manusia terhadap alam yang didasari oleh pandangan hidup mereka di bumi yaitu: agama”.

Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dalam konteks ini, bagaimana khazanah Islam dipahami dan dipraktekan dalam pengelolaan kawasan konservasi di Sumatera bagian utara?

Beberapa buku terkait Islam dan Konservasi telah hadir dalam berbagai penekanan. Sebagamana pandangan Prof Emil Salim, bahwa kerusakan lingkungan bukan karena ajaran Islam, namun karena tingkat pendidikan dan inefisiensi pemerintahan dalam mengelola lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk menggali khazanah Islam dan praktek-praktek pengelolaan alam berbasis kearifan lokal yang hidup dan berkembang di masyarakat Sumatera bagian utara yang didasari oleh pandangan hidup mereka, yakni agama Islam.

Penutup

Pada titik ini, diperlukan kontribusi para dai untuk menggali dan mengumpulkan berbagai prinsip dan khazanah Islam yang hidup dan berkembang di sekitar TNGL. Berbagai bahan tersebut akan ditulis dalam buku ilmiah populer untuk menjadi bagian pendidikan dan pengelolaan kawasan konservasi, terutama bagi kalangan generasi muda.

Program penyebarluasan informasi buku tersebut kemudian dengan dukungan para dai, tokoh masyarakat, aparat pemerintahan dan lembaga lainnya yang terkait kepada umat Islam sebagai upaya peningkatan pemahaman ajaran Islam yang utuh dan sempurna, termasuk dalam konservasi sumberdaya alam.

Selamat berkontribusi!

Pustaka

Mangunjaya, F.M. 2005. Konservasi alam dalam Islam. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

MEA (Millennium Ecosystem Assessment). 2005. Ecosystems and Human Well-being: General Synthesis. Washington, DC: Island Press and World Resources Institute.

Primack, R.B., J. Supriyatna, M. Indrawan, & P. Kramadibrata. 1998. Biologi konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

van Eijk, P., & R. Kumar. 2009. Bio-rights dalam teori dan praktek: sebuah mekanisme pendanaan untuk pengentasan kemiskinan dan konservasi lingkungan. Wetland International. Wstafingen, the Netherlands.

Yafie, A. 2006. Merintis fiqh lingkungan hidup. Ufuk Press. Jakarta


© Disampaikan pada Workshop “Penguatan Pemahaman Konsep Islam dalam Hal Lingkungan Hidup” di Gedung PKK Kabupaten Langkat, Stabat, 16 November 2009. Diselenggarakan oleh YOSL-OIC bekerjasama dengan BBTNGL, MUI Langkat, Majelis Ulama Aceh Tamiang, IKADI Langkat dan IKADI Aceh Tamiang

Advertisements

Read Full Post »

The Earthquake and Tsunami Impact on Coastal Vegetation in Aceh Singkil, Northern Sumatra, Indonesia

1,2Onrizal, 2Mashhor Mansor, 3Mohamad Farid, 3Erwin A. Perbatakusuma, 1Nurdin Sulistiyono, 2Mohamed Hifni Baharuddin

1Forestry Sciences Department, Faculty of Agriculture, Universitas Sumatera Utara, Indonesia

2School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia

3Conservation International Indonesia onrizal03@yahoo.com

ABSTRACT

Aceh Singkil in west coast of Northern Sumatra is an affected area both earthquake and tsunami on December 26th 2004. Due to the earthquake, the land in the area had been subsidence from 1.0 to 2.5 m; therefore most of the inter-tidal vegetation communities were destroyed because of the inundation intensity, duration changed and submerged areas. We observed the structure and composition of littoral forests and inter-tidal vegetation communities in Kuala Baru Regency, Aceh Singkil district during 21 to 30 April 2009 or 52 months after tsunami disaster. We found pure stand littoral forests dominated by Casuariana equisetifolia in the mature stage and Cerbera manghas was dominant species in regeneration stages as natural regeneration. In the mangrove area, we found most of the mangrove trees such as Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, and Rhizophora apiculata dead. Sonneratia caseolaris in a mature stage can survive when compare to other mangrove trees but the seedlings of B. gymnorrhiza are growing well with mean height of around 50 cm. The seedlings of B. qymnorrhiza are also higher resilience level than other mangrove trees including S. caseolaris. Mangrove fern Acrosticum aureum population occupy the open areas left by mangrove plant communities. Mangrove palm Nypa fruticans are recorded growing well and a good resiliency and persistence. In fact some of coastal vegetations both dry lands and forested wetlands have a good capacity to naturally restore and grow after environmental destruction and from ecological view, those plant species can be selected for rehabilitation program in the tsunami-affected area.

Keywords: coastal forest, mangrove forest, earthquake, tsunami, Northern Sumatra

Paper presented at the Third South China Sea Tsunami Workshop (SCSTW3) 03-05 November 2009 Eureka Complex, Minden Main Campus, USM Penang, Malaysia

Read Full Post »