Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2010

Natural regeneration and rehabilitation of Aceh mangrove forests five years after the 2004 Indian Ocean Tsunami

1,2Onrizal and 2Mashhor Mansor

1Forestry Sciences Department, Faculty of Agriculture, Universitas Sumatera Utara

2School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia

Abstract

The Indian Ocean tsunami on 26 December 2004 caused catastrophic destruction to coastal communities. Disturbance is an important factor in structuring ecological communities, exerting its influence through changes to the physical environment and to the trajectories of succession processes. We conducted survey in Aceh to look at plant species that are resilient to the onslaught of 30-meter tidal waves which devastated the Aceh coastal zones killing more than 150,000 people in Aceh alone.  The surveys was conducted during April to December 2009 or around five years after the 2004 tsunami in order to observe and record the emergence of several existing plant species as well as new ones that were caused by the tsunami. We also studied the survival of the rehabilitated mangrove forests after the tsunami disaster. Our result show that the disturbance habitat of mangrove forest in Northern Sumatra due to earthquake and tsunami disaster caused change in plant community. In our research site, mangrove tree Rhizophora apiculata and mangrove palm Nypa fruticans was found to migrate land-wand via seedling recruitment, naturally. Some mangrove plants species such as Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera sexangula, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Nypa fruticans and Acrostichum aureum (mangrove fern) seemed to thrive well in the natural stands. However along the intertidal coastal zone, new species such as Typha latifolia are widely colonizing the zone.  Most of the disturbed habitats are occupied with weedy species such as Calotropis gigantea and the noxious weedy species Mimosa pigra. Mangrove fern Acrostichum aureum population occupy the open areas left by mangrove plant communities or unmanaged aquaculture pond. The true mangrove species such as Rhizophora apiculata and Rhizophora mucronata are most popular selected in mangrove rehabilitation after tsunami disaster. The successful degree of mangrove rehabilitation are varied from low to middle survival due to some reason such as mistakes in the selection of planting sites, unsuitable choice of plants, insufficient preparation, inadequate guidance, no tending of the plants, and the low capacity of human resources. It should be noted that before 26th December 2004, most of the mangrove coastal zones had been destroyed to make way for aquaculture ponds. Since the mangroves provide a natural barrier, more human lives could probably be saved during the tsunami. Unfortunately, due to high demand of aquaculture products such as shrimps, prawns and fish, the widespread destruction of these mangrove forests was unmanaged. Therefore, mangrove forests should be rehabilitated and conserved very well in the future.

Keywords: mangroves, natural regeneration, rehabilitation, resilient, tsunami, Aceh

Paper presented at “An International Workshop for Conservation Genetics of Mangroves will be held on 11-12 Feb. 2009 at the Iriomote Station of the Tropical Biosphere Research Center, the University of Ryukyus” as part of the as part of the JSPS Exchange Program for East Asian Young Researchers, Feb. 9 – 25, 2010 at the Graduate School of Science, Chiba University, Japan

Read Full Post »

Open Your Mind

Open Your Mind
(Sindo 29 juli 2010, Prof. Rhenald Kasali Ph.D)

SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall– University of Illinois, Amerika Serikat (AS).

Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya. Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima.Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek,tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali.

Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. “Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?” Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasardasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset. Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.

Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan,atau bahkan diri sendiri agar berhasil dalam hidup.

Kekuatan Argumentasi

Mahasiswa saya tadi mengajak saya berdiskusi, “Prof,” ujarnya. “Jawaban ini salah.” Saya mengernyitkan dahi.Maklum, belum pernah saya mendengar seorang mahasiswa di tingkat persiapan berani-beraninya menyalahkan soal, apalagi menyalahkan isi buku. “Maksud saya, setelah saya tanya-tanya ke kiri-kanan, tak ada orang yang menyimpan handuk mandi sampai 8 tahun,”lanjutnya.

“Jadi berapa tahun?” tanya saya. “Yadua tahun.Ini jawaban saya benar,”katanya lagi. Saya pun teringat dengan cara teman-teman saya sewaktu kuliah dulu mengakali dosen yang “lemah”. Dosen seperti itu biasanya gampang diajak kompromi dan kalau kita pintar mengambil hatinya, angka bisa berubah.Maka, di kepala saya,berkompromi bukanlah karakter saya. Berkompromi sama dengan kelemahan, lembek, merendahkan martabat, plinplan. “Jadilah guru yang teguh.” Kalimat itu terus mengalir di hati saya. Kompromi itu jelek, lemah, tidak konsisten, tidak berwibawa. “Ah, kamu ini cuma cari pembenaran saja. Ini justifikasi namanya.Pokoknya jawaban Anda salah.

Apa Anda tidak baca buku. Coba buka halaman 40,” ujar saya pada mahasiswa tadi. “Betul,”katanya lagi. “Di buku memang tertulis begitu.Saya tahu.” “Ah, Anda tidak baca saja…,” ujar saya lagi. “Bukan, tetapi ini tidak masuk akal.” Dia mencoba menjelaskan. Namun sebagai orang Indonesia yang terbiasa dididik tanpa kompromi di sekolah, saya mencoba untuk tidak mendengarkan argumentasinya. Saya khawatir wibawa saya terganggu. Dosen kokdidebat. Namun dia tetap menjelaskan panjang lebar bahwa sekarang tidak ada lagi handuk yang seawet itu.

Dua tahun sudah rusak.“Dulu sabunnya tidak sekuat yang sekarang, lagipula mana ada produsen yang mau membuat handuk dengan material yang kuat dan harganya mahal? Konsumen memilih yang terjangkau dan produsen memilih barang-barang yang murah.Kalau cepat rusak tak apa-apa,setelah itu beli lagi,”katanya bersemangat. Matanya berbinar menjelaskan gagasannya dan penuh harap saya mau mengubah pendapat saya. Saya masih ingat dia menjelaskan tentang mesin cuci yang dulu tidak dipakai rumah tangga sehingga tidak merusak material. Lama kita berdebat dan sebenarnya saya suka mempunyai peserta didik yang kritis seperti itu. Namun, sebagai guru dari Indonesia, saya tidak suka ditawar-tawar.

Ini soal integritas. “Nope,” jawab saya menolak permohonannya agar saya mengoreksi nilainya. Dia pun keluar dengan kecewa. Saya berpikir, urusan pun selesai. Namun, di luar dugaan, setengah jam kemudian dia kembali lagi. Kali ini dia datang diantar profesor saya.Seperti tak ada masalah sama sekali profesor itu datang dengan penuh senyum. “Rhenald,”ujarnya. “I talk to this guy, and I like his idea.” Sudah tahu arahnya, saya pun segera menukas.“Yes, he did talk to me, and indeed he was wrong. He didn’t give the right answer,” ujar saya.

“Saya mengerti,” jawab profesor itu,“Tapi perhatikan ini.Saya suka cara berpikirnya. Dia memang memberi jawaban yang berbeda dengan buku, tetapi argumentasinya kuat dan dia benar.” Singkat cerita, profesor itu meminta saya agar mendengarkannya dan memahami logika anak itu. Kejadian itu sekali lagi telah membuka pikiran saya. Betapa memalukannya otak reptil saya. Guru kok tertutup. Namun, saya beruntung segera menyadari kesalahan saya. Saya belajar bahwa saya menganut nilai-nilai yang salah.Tertutup, tak berkompromi, tegas, teguh, terlalu mengedepankan wibawa hanyalah merupakan bentuk defensif saya sebagai guru yang sebenarnya hanya perwujudan dari rasa takut yang berlebihan saja.

Takut dibilang lembek, kompromistis, mudah dirayu, tidak objektif,dan sebagainya.Pendapat yang semula saya tentang kini harus saya terima dan nilai anak itu saya koreksi. Bahkan seperti penjual kacang rebus yang suka menambah kacang ke dalam bungkusan pelanggannya, saya pun memberikan bonus angka kepadanya. Mendidik adalah lebih dari sekadar menjaga imej.

Mendidik adalah proses menjadikan orang lain seorang “master” dan bukan menciptakan pengikut.Yang ingin kita lahirkan adalah manusia yang mampu berpikir,terbuka terhadap logika. Bukan manusia-manusia dogmatik yang hanya mengikuti maunya kita,menulis apa yang kita diktekan, berpendapat apa yang menjadi pikiran kita, dan tak bisa menerima perbedaan pendapat. Malas berpikir.

Keluar dari Buku

Kisah anak-anak yang tak mampu berpikir di luar buku teks sudah banyak kita saksikan. Salah satu film yang paling saya suka dan selalu saya pakai untuk mengajari dosen-dosen muda menjadi pendidik adalah potongan film yang dibintangi Julia Roberts berjudul Monalisa Smile. Dalam film itu dikisahkan kesulitan seorang guru yang mengajar karena setiap kali dia menampilkan slide yang diambil dari buku, selalu disambar muridmuridnya yang berebut menjelaskan.

Dia benar-benar bingung. Muridnya aktif-aktif dan pintarpintar. Mereka sudah membaca assignment sebelum pelajaran dimulai.Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk kelas dengan membaca, membuat ringkasan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan aktif berbicara. Hari pertama mengajar dia gagal total. Namun minggu berikutnya, setelah merenungi dalam-dalam, dia mendapatkan ide. Kali ini dia mengajak muridmuridnya keluar dari buku teks. Dia menunjukkan slide yang sama sekali baru.Tak ada di buku dan bahan ajarannya sama sekali baru. “Coba lihatlah gambar ini. Apakah ini bagus?” Semua murid tertegun.

Gambar itu belum pernah mereka lihat dan tanpa referensi mereka tidak punya acuan sama sekali.Padahal, selama ini mereka hanya mengikuti perintah buku. Gambar itu bagus kalau kalimat di buku berkata gambar itu bagus. Sekarang saat gambar itu tak ada penjelasannya, mereka pun tak berani berpendapat. Mereka saling lihat kirikanan. Seorang yang mencoba menjawab kebingungan. “Apakah ada gambar yang bagus?” “Siapa yang berhak mengatakannya?” “Sesuatu yang bagus itu akan menjadi bagus tergantung siapa yang mengatakannya.” Mereka terbelah. Ibu guru pun menjelaskan wisdom-nya. “Look, kalian baru saja keluar dari cara berpikir buku teks,” ujarnya.

Dia mengajarkan perihal kehidupan, yaitu berani berpendapat dan membuat keputusan pribadi. Apa yang dapat dipelajari dari film Monalisa Smile dan kasus yang saya alami saat saya menjadi teaching assistant di University of Illinois dan berhadapan dengan mahasiswa yang minta agar saya mengoreksi jawaban soalnya 15 tahun yang lalu itu? Benar! Kita adalah manusia dan tugas guru adalah mendidik manusia,memerdekaka nnya dari segala tekanan, dari perilakuperilaku buruk, dari pikiranpikiran negatif, dari rasa sok pintarnya yang sesungguhnya belum apa-apa, dari belenggu-belenggu dogma, dan mengajaknya melihat keindahan dari apa yang diciptakan Tuhan.

Dari semua itu,yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dengan otak yang terbuka dan mengajarkan keterbukaan. Bukankah otak kita bekerjanya seperti parasut, yang artinya dia baru bisa dipakai kalau dia mengembang dan terbuka? Itulah yang saya ajukan selama ini kepada anak-anak didik saya dan terbukti mereka mampu menjadi orang-orang yang hebat. Itu pula yang saya sharing-kan kepada para guru dan dosen. Sebagian orang cepat mengubah diri, tapi sebagian pendidik lain tidak peduli dengan cara ini. Mereka tetap ingin mengajar dengan cara-cara dogmatik. Ingin dipuja tanpa argumentasi, tak mau mendengarkan, takut dibilang lembek, dan ingin diterima bak seorang ulama besar yang tak terbantahkan. Itulah hidup, tak semua orang mau berubah. Namun Anda tak perlu cemas.

Orang-orang seperti itu sudah pernah menyurati saya dengan amarah berlembar-lembar. Mereka menembaki saya dengan ratusan peluru. Di antara suratsurat cinta mereka pun ada yang berisi ancaman, memperingatkan saya dan mengusir dari keguruan ini. Namun saya berkeyakinan, seorang pendidik sejati tak akan menyerah oleh ancaman-ancaman kosong. Dia tak berorientasi pada persaingan, melainkan pada masa depan anak-anaknya. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Read Full Post »

ATBC Bali Declaration
Unequivocal Support for Recent Forest-Conservation Initiatives in Indonesia

(released on 23 July 2010)  Source: http://atbc2010.org/html/declaration.html

Whereas, the Republic of Indonesia sustains some of the richest biological and cultural diversity of any nation on Earth, distributed across an archipelago of over 17,000 islands that span both the Asian and Australasian biogeographic regions; and

Whereas, a great many Indonesian species are confined to just one or a few nearby islands, and therefore occur nowhere else on earth; and

Whereas, biologists are still encountering many species in Indonesia that are entirely new to science, indicating that much of the nation’s biodiversity is yet to be discovered and that the conservation status and distribution of many other species are poorly known; and

Whereas, the high pace of forest destruction in Indonesia, averaging some 2-2.5 million hectares annually from 1996 to 2005, has led to the degradation, fragmentation, and loss of critical ecosystems and livelihoods, especially in species-rich lowland forests, as a result of unsustainable logging, land conversion, forest fires, overharvesting, and other environmental stresses; and

Whereas, forest loss and degradation has imperiled many Indonesian animal and plant species, including over 100 mammal species classified by the IUCN as being threatened or endangered, such as the Javan and Sumatran Rhinoceros, Asian Elephant, Tiger, and Orangutan; and

Whereas, the rapid destruction and degradation of forests, peat swamps, wetlands, and other habitats is also a major source of atmospheric carbon emissions, contributing significantly to global warming and climatic change.

Therefore, be it resolved that the Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC), the world’s largest scientific organization devoted to the study and wise use of tropical ecosystems, on the occasion of its 2010 International Meeting in Bali, Indonesia:

Heartily commends H. E. President Susilo Bambang Yudhoyono for his innovative and forward-thinking efforts to promote forest conservation, combat illegal logging, and improve forest monitoring and governance in Indonesia, which have led to illegal logging reportedly declining by 50-75% since 2002; and
Congratulates the Government of Indonesia on the agreement initiated by H. E. President Yudhoyono and the Government of Norway to reduce dangerous carbon emissions by funding up to $1 billion in forest-conservation and monitoring initiatives, thereby complementing ongoing efforts to slow deforestation and strengthen protected areas in the country; and
Gratefully acknowledges the inspiring address of H. E. Vice President Boediono to the ATBC in Bali, which highlighted the nation’s efforts to promote sustainable development; and
Respectfully urges the Indonesian government to implement and maintain the planned two- year moratorium on issuance of new permits for timber, oil palm, and other plantation concessions; to implement this planned moratorium immediately; and to ensure that any further expansion of plantations is restricted to lands without standing forests; and
Respectfully requests that all concessions to clear natural forest issued prior to the moratorium be carefully re-evaluated for their biodiversity and carbon values; and
Strongly recommends that the Indonesian government reinstate the 2007 ban on clearing of peat forests that was rescinded in 2009, because of the high carbon-storage value of these wetlands; and
Respectfully urges the Indonesian government to renew and strengthen its efforts to combat destructive forest fires, which increased by 59% between 2008 and 2009; and
Specifically recommends that efforts to reduce deforestation be immediately concentrated in existing and emerging ‘hotspots’ of forest conversion, such as central Sumatra, East and West Kalimantan, and West Papua; and
Encourages the Government of Indonesia to effectively protect and manage sites of high biodiversity value, including existing protected areas and new conservation initiatives such as the transnational Heart of Borneo program and Ecosystem Restoration forest concessions; and
Unequivocally applauds the Government’s plan for an independent organization to be established in Indonesia to monitor forests, land use, and compliance with the nation’s new and ongoing forest-conservation initiatives in a fully transparent manner; and
Especially urges that free and prior informed consent be obtained from Indigenous Peoples for conservation actions and that benefits from the Indonesia-Norway initiative be equitably distributed to all stakeholders, including local communities and Indigenous Peoples, according to best international practice; and
Fully congratulates the Indonesian Government in this International Year of Biodiversity for its inspiring commitments to markedly reduce forest loss and degradation, and to diminish its annual carbon emissions by at least 26% by the year 2020.

Read Full Post »

Comparison of carbon reserve at mangrove forests under different management type in North Sumatra

Onrizal & Mashhor Mansor

Abstract

Mangrove deforestation and degradation will be influence on the forest carbon stock and to be one of substantial factor of climate change. The objective of this research was to estimate the carbon stock of mangrove forests under different management type in North Sumatra. A total of 16 sampling plots on the four mangrove management types (4 on each type) were surveyed during July-August 2009. At each sampling site, four plots (30 m x 30 m) were layout, and all trees with diameter at breast height (DBH) ≥ 5 cm were identified and the DBH and height were recorded. The highest of carbon stock was found in village/community forests (78.39 ± 43.31 t C/ha), and followed by conservation forests (22.39 ± 9.54 t C/ha), production forests without cutting for charcoal (10.09 ± 3.29 t C/ha), and the lowest of carbon stock was found in production forests with cutting for charcoal (2.47 ± 2.22 t C/ha). The research result show that the mangrove forests under village/community forests is better than others forest management type within carbon reserve in North Sumatra. Therefore, the traditional wisdoms in mangrove forests management should be promoted to mitigate the climate changes.

Keywords: mangrove, carbon reserve, forest management, North Sumatra

Presented at the 2010 International Symposium of Association for Tropical Biology and Conservation on 19–23 July 2010 in Bali, Indonesia

Read Full Post »