Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

Sahabatku yang mulia.

Takbir kemenangan telah berkumandang. Allah Akbar 3x, wilillah ilhamd. Sebulan penuh kita puasa. Menahan diri dari sesuatu yang halal di bulan lain. Ketika Ramadan mengajarkan kita arti keihlasan, berbuat hanya karena Sang Maha Melihat, Allah swt.

Sahabat,

Banyak pelajaran yang kita dapatkan. Kita ditempa untuk kuat dan kokoh menghadapi cobaan dan rintangan.

Sahabat,

Semoga kita menjadi pemenang, kembali kepada fitrah. Suci bersih seperti bayi terlahir kembali. Selamat berhari raya. Hari Raya Iedul Fitri 1431 H. Taqobballahu minna waminkum. Shiyasmana wa shiysamakum. Taqobbal yaa kariim.

Sahabat,

Di waktu dan kesempatan yang baik ini, kami mohon maaf atas salah dan khilaf. Maaf kami atas tingkah laku kami yang bisa jadi telah menorehkan luka di hatimu. Maafkan kami sahabat.

Sahabat,

Ketika kita kembali kepada fitri, karenanya, tidaklah pantas di hari-hari berikutnya kesuciaan itu kita kotori, kita nodai. Jauhkan diri dari mengambil hak orang lain dan makluk lain. Hindarkan diri dari menyusahkan orang lain. Hindarkan diri dari perilaku dan perbuatan merusak. Terhadap yang halal saya kita bisa menahan diri, apatah lagi terhadap yang samar-samar atau yang terlarang.

Sahabat,

Mari berkontribusi untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk bumi yang lebih baik. Bukankan kita, manusia diamanahi sebagai khalifah di muka bumi ini. Khalifah sebagai pengatur dan pemakmur bumi. Selamat berlebaran dan kembali fitri, sahabat.

Semoga!

Read Full Post »

Apakah konservasi ada dalam ajaran Islam. Jika ada, lalu bagaimana bentuk prakteknya serta apakah khazanah itu hidup di saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi perbincangan saat peluncuran buku “Ayat-ayat Konservasi” yang diterbitkan oleh Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) dan Forum Dai Peduli Lingkungan (FORDALING) Aceh Sumut.

Sang penulis, Onrizal, membuka diskusi dengan membuka cakrawala: Bumi – Rumah Kita Bersama. Bumi dan segala isinya disediakan untuk sumber penghidupan manusia, namun bumi kini dalam kondisi sakit (rusak) akibat eksploitasi manusia. Manfaat yang diambil dari pembangunan infrastruktur planet, justru mengakibatkan penurunan modal alam (MEA, 2005). Upaya-upaya untuk mengubah kecenderungan ini cukup memprihatinkan (van Eijk & Kumar, 2009).

Akibatnya kini, sekitar 2/3 pelayanan ekosistem dunia telah mengalami penurunan (MEA, 2005). Lalu, kontribusi apa yang dapat kita berikan untuk bumi lebih baik? Komunitas biologi (makhluk hidup/ hayati) di seluruh dunia yang membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk berkembang banyak yang rusak karena ulah manusia. Banyak spesies telah punah. Daftar ekosistem (sistem alam, misal hutan, sungai, danau dan sebagainya) yang rusak karena manusia sudah panjang. Siklus hidrologi dan kimia alami terganggu oleh pembukaan lahan yang menyebabkan milyaran ton tanah subur mengalami erosi dan hanyut ke dalam sungai, danau, dan laut setiap tahun, sehingga sungai, danau, dan perairan pesisir pantai menjadi dangkal , sehingga potensi dan kejadian banjir semakin sering terjadi dalam skala yang terus dan semakin meningkat.

Bagian selanjutnya dikupas Leuser – anugrah tak ternilai, Rekleksi banjir bandang Bukit Lawang saat Ramadhan 7 tahun lalu, Konservasi alam zaman Rasulullah, Akhlak Rasulullah terhadap satwa liar, Khazanah masyarakat sekitar Leuser dalam praktek konservasi dan ditutup dengan Amanat suci nan agung. Hutan Leuser menjadi sumber air bersih bagi lebih 4 juta penduduk Aceh dan Sumatera Utara serta berbagai manfaat baik tingkat lokal dan global juga diulas oleh penulis.

Saat rekleksi banjir bandang Bukit Lawang dibahas: Salahkan Hujan? Rasulullah 14 abad yang lalu telah memberikan contoh kegiatan konservasi, meskipun istilahnya bukan KONSERVASI. Rasulullah menetapkan ‘hima’ atau kawasan lindung atau setara dengan taman nasional saat ini. Dalam kawasan tersebut, tumbuhannya dilarang ditebang, binatangnya dilarang dibunuh/diburu. Praktik konservasi lainnya seperti al harim – zona larangan, ihya al mawaat – mengidupkan lahan terlantar juga dibahas dikaitkan dengan kondisi kekinian dan hukum positif yang ada.

Kisah sayangnya Rasulullah menyayangi binatang dengan contoh larangan menangkap anak burung dan larangan membakar sarang semut dipaparkan dalam book launching tersebut.

Masyarakat di sekitar Leuser memiliki khazanah konservasi yang sangat tinggi seperti hutan larangan, lubuk larangan yang menghidupkan, kawasan sabuk hijau – salah satu bentuk al harim, ular dan produksi pertanian, konservasi tanah dan air melalui agroforestry, penyelamatan orangutan Sumatera, sang Raja hutan diambang kepunahan serta gajah Sumatera dan ekowisata Tangkahan – the hidden paradise of Sumatra menjadi contoh yang dipaparkan penulis.

Ada dua pesan utama sebagai penutup oleh penulis, yakni (1) pelihara alam yang masih baik, manfaatkan tanpa merusak dan (2) lakukan perbaikan – berkontribusi untuk bumi lebih baik mulai saat ini dari lingkungan terdekat. Mari!

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik [QS Al A’raf: 56].

Kepala Balai Besar Taman Nasioanal Gunung Leuser (TNGL) Bapak Ir Harijoko, MM dan Kepala Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara yang diwakili Bapak Ir Siswoyo dalam sambutannya menyampaikan penghargaan atas inisiasi penulisan dan peluncuran buku Ayat-ayat Konservasi. Upaya konservasi membutuhkan pengelolaan bersama dan multisdisiplin. Harapannya buku tersebut dapat menjadi pemicu upaya konservasi yang lebih baik di masa mendatang.

Sebelumnya, Direktur YOSL – OIC, mas Panut Hadisiwoyo, SS, MSc menyampaikan bahwa kegiatan peningkatan pemahaman ajaran Islam dalam konservasi alam menjadi kebutuhan dalam aktivitas konservasi alam dan YOSL OIC mendorong dan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan konservasi dengan melibatkan masyarakat lokal dan memperbaiki sumber ekonomi mereka. Peluncuran buku dilakukan di Hotel Madani, Medan pada Kamis 2 September 2010 mulai pukul 16.00 dan diakhiri dengan buka bersama.

Semoga bermanfaat untuk bumi yang lebih baik

http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/02/ayat-ayat-konservasi-diluncurkan/-12

Read Full Post »