Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2012

Jenis Baru Kelelawar Berhidung seperti Daun
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Minggu, 26 Februari 2012 | 13:42 WIB
Vu Dinh ThongHipposideros griffini

HANOI, KOMPAS.com – Ilmuwan dari Vietnam Academy of Science and Technology di Hanoi, Vu Dinh Thong, menemukan spesies baru kelelawar yang kemudian dinamai Hipposideros griffini atau kelelawar Griffin.

Spesimen kelelawar tersebut ditemukan di Taman Nasional Chu Mom Ray di Vietnam pada tahun 2008. Kelelawar memiliki daun-daun pada hidung yang sejatinya adalah fitur yang berfungsi mendukung ekolokasi.

Awalnya, Vu Dinh sempat mengira bahwa spesies tersebut merupakan kelelawar hidung daun yang sudah dikenal. Namun, penelitian lanjut membuktikan bahwa kelelawar itu spesies yang berbeda.

“Ketika ditangkap, kelelawar yang ukurannya sama, misalnya kelelawar hidung daun, bereaksi keras. Tapi, kelelawar Griffin bereaksi cukup lembut,” ungkap Vu Dinh dikutip situs National Geographic, Jumat (24/2/2012).

Vu Dinh dan timnya menganalisis suara yang dihasilkan kelelawar Griffin dan mengambil jaringannya untuk melakukan analisis genetik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi suara yang dihasilkan kelelawar Griffin berbeda dengan kelelawar berhidung daun lainnya. Analisis genetik juga menunjukkan bahwa kelelawar Griffin ialah spesies baru.

Sejauh ini, belum banyak yang diketahui tentang kelelawar Griffin. Satwa ini diketahui juga hanya terdapat di dua taman nasional di Vietnam meskipun mungkin saja habitat lain bisa diketahui nantinya.

“Penemuan menunjukkan bahwa Vietnam adalah rumah bagi beragam kelelawar dan beberapa di antaranya belum ditemukan,” kata Vu Dinh.

Read Full Post »

Perubahan iklim: ancaman bagi kesehatan manusia

Perubahan iklim telah mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi sebagai dampak dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir (Alvarado & Wertz-Kanounnikoff, 2007). Sebagian besar ilmuwan iklim dunia menyatakan bahwa emisis GRK akibat akumulasi aktivitas manusia telah berkontribusi nyata pada peningkatan pemanasan global (IPCC, 2007). Hasil penelitian terbaru NASA (Cole & McCarthy,  2012) menunjukkan bahwa suhu permukaan rata-rata global pada tahun 2011 merupakan yang terpanas kesembilan sejak tahun 1880. Temuan ini menjadi suatu trend dimana sembilan dari 10 tahun terpanas dalam catatan meteorologi telah terjadi sejak tahun 2000. Data ini juga menunjukkan suhu rata-rata di seluruh dunia meningkat 0,51 oC dibandingkan data baseline pertengahan abad ke-20.

Konsentrasi GRK secara terus-menerus meningkat dalam tempo yang cepat. Konsentrasi gas CO2 di atmosfir pada tahun 1880 sekitar 285 ppm. Pada tahun 1960, konsentrasi rata-ratanya mencapai 315 ppm dan saat ini melebihi 390 ppm (Cole & McCarthy, 2012). Boer (2004) menyatakan sekitar 270 (±30) giga ton karbon (Gt C) telah dilepas ke atmosfir selama periode 1850 – 1998. Hasil invetarisasi GRK Nasional menunjukkan bahwa pada tahun 2000 total emisi GRK Indonesia untuk tiga GRK utama (yaitu CO2, CH4 dan N2O) tanpa LULUCF (land use, land use change and forestry, yakni perubahan penggunaan lahan dan hutan serta kebakaran gambut) mencapai 594,738 Gg CO2e. Dengan memasukkan LULUCF, total emisi GRK Indonesia meningkat menjadi 1.415.988 Gg CO2e (SNC, 2010).

Sektor berbasis lahan pada tahun 2000 menyumbang emisi GRK sekitar 65% dari emisi nasional dan ini merupakan yang terbesar dibandingkan sektor lain. Emisi sektor berbasis lahan tersebut berasal dari kegiatan perubahan penggunaan lahan dan kehutanan (land use change and forestry; LUCF) (47%), termasuk kegiatan pertanian (5%) dan kebakaran lahan gambut (13%). Selanjutnya, sektor energi menyumbang 23% dari total emisi GRK Indonesia. Sekitar 98% dari total emisi sektor energi berasal dari pembakaran bahan bakar, dan 51,5% berasal dari minyak bumi dan penyulingan gas, 18,2% dari transportasi, 12,2% dari produksi listrik, 7,4% dari perumahan dan 5,9% dari industri manufaktur dan konstruksi. Jumlah emisi sektor energi tersebut meningkat 25% pada tahun 2005 dibandingkan emisi tahun 2000. Sektor lainnya sebagai penyumbang emisi adalah industri dan limbah (SNC 2010). Oleh karena itu, terlihat bahwa sektor-sektor utama penyumbang emisi tersebut merupakan hasil dari kebijakan pemerintah dan kemudian diikuti oleh perilaku penduduk Indonesia.

Perubahan iklim telah mempengaruhi kesehatan manusia. Hal ini termasuk dampaknya terhadap perubahan sebaran beberapa vektor penyakit infeksi (seperti kutu pada daerah lintang yang lebih tinggi atau malaria di dataran tinggi) dan dampak cuaca ekstrim dan kejadian iklim yang terkait dengan kematian, kecelakaan dan kondisi kesehatan lainnya (Zell, 2004, Kovats et al., 2005, McMichael & Lindgren, 2011). Secara global, tingkat kerentanan manusia terhadap perubahan iklim antara lain dipengaruhi perbedaan geografis (misalnya kepadatan penduduk, letak dari garis equator) dan perilaku dalam kebijakan perubahan iklim (Kovats et al., 2005, Wiley, 2010, Samson et al., 2011).

Banyak penyakit menular yang sensitif terhadap kondisi iklim (Gambar 1). Suhu, curah hujan dan kelembaban mempengaruhi replikasi, pematangan dan kelangsungan hidup patogen, organisme vektor (jika ada), dan kisaran dan sebaran berbagai jenis hewan yang berperan sebagai perantara atau pembawa. Sebagai contoh, penyakit yang disebabkan oleh serangga ‘berdarah dingin’ yang sangat sensitif terhadap suhu (McMichael & Lindgren, 2011).

Gambar 1. Faktor iklim yang berpengaruh terhadap penyakit infeksi pada manusia (Human ID) melalui banyak jalur dan kompleksitas yang bervariasi (Sumber: McMichael & Lindgren, 2011)

Sebagai contoh, penyakit infeksi yang terpengaruh oleh perubahan iklim diantaranya adalah malaria, demam berdarah dengue (DBD) dan tubercolosis (TBC). Malaria disebabkan gigitan nyamuk malaria (sebagai vektor) yang mengandung parasit. Infeksi DBD terjadi melalui gigitan vektor berupa nyamuk Aedes spp. (misalnya nyamuk Ae. aegymti yang berkembang di daerah perkotaan di Indonesia dan Kamboja sampai daerah beriklim sedang seperti Nepal dan Argentina, dan nyamuk Ae. albopictus yang baik dari Asia tenggara sampai utara (Jepang dan Cina) sampai Amerika dan Eropa)  (Ng, 2011), sedangkan TBC disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tubercolosis (WHO, 2009, Alavi et al., 2011) yang tingkat kerentanannya antara lain dipengaruhi perubahan iklim (Ford et al., 2010).

Secara global, tantangan yang ditimbulkan oleh DBD telah meningkat secara tajam dalam tiga dekade terakhir, tanpa tanda-tanda mereda. Diperkirakan DBD mempengaruhi setidaknya 50-100 juta orang setiap tahun. Dengan lebih dari 124 negara endemik dengue, 3,6 milyar orang beresiko terinfeksi (WHO, 2012a). Lebih dari 70% dari mereka yang beresiko berada di kawasan Asia Pasifik yang mebuat wilayah ini menjadi pusat aktivitas dengue (Gambar 2) (Ng, 2011), termasuk Indonesia. Laporan WHO (2009) memperkirakan perubahan iklim berperan penting pada 3,8% kematian di seluruh dunia akibat DBD pada tahun 2004. Pada tahun 2009 prevelensi TBC secara global adalah sebesar 5.797.317 dan sebesar 292.754 (5,05%) terdapat di Indonesia (WHO, 2011) dengan sebaran seperti pada Gambar 3.

 Gambar 2. Sebaran DBD pada tahun 2011 menurut negara atau daerah yang beresiko terserang (Sumber: WHO, 2012b)

Gambar 3. Prakiraan sebaran tuberkolosis di seluruh dunia berdasarkan kasus baru tahun 2010 (Sumber: WHO, 2012c)

Bagaimana upaya mitigasi dan adaptasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan penduduknya terkait dengan kerentanan terinfeksi penyakit dalam iklim yang berubah? Apakah data yang dimiliki cukup untuk mengambil kebijakan dan program aksi yang tepat, baik mitigasi ataupun adaptasi? Berdasarkan penelusuran penulis, pada tingkat regional dan nasional di Indonesia, masih sangat terbatas analisis sebaran dan perubahan berbagai penyakit yang terkait dengan perubahan iklim.

Lalu, …..?

Bagaimana kesiapan dan saranmu sahabat?


Read Full Post »

Mangrove Capital adalah sebuah program yang diprakarsai oleh Wetlands International bersama para mitranya, bertujuan untuk mengedepankan nilai-nilai mangrove, memberikan pengetahuan dan cara-cara yang diperlukan untuk meningkatkan pengelolaan hutan mangrove.

Melalui kegiatan ini diharapkan agar pemerintah, organisasi sektor swasta dan masyarakat lokal di Indonesia dapat berperan lebih signifikan dalam mengelola mangrove, termasuk melindungi pantai yang rentan dan mendukung perekonomian lokal.

Lebih lengkapnya, silahkan baca di Warta Konservasi Lahan Basah Edisi Januari 2012

Read Full Post »