Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2012

“Agar banjir bandang tak berulang, agar nyawa tak melayang sia-sia karena ketidak pedulian dan tak mau mengambil pelajaran”

*****

Saat itu bulan Ramadhan 1423H, bulan nan suci dan agung bagi kaum muslimin seluruh dunia. Pada tahun 1423H tersebut, awal Ramadhan terdapat di pekan akhir bulan Oktober 2003. Sebagaimana ungkapan lama dalam masyarakat, bulan yang berakhiran ber-ber, seperti September, Oktober, November dan Desember agar menyediakan ember. Kenapa ? Karena pada bulan yang berakhiran ber-ber tersebut adalah musim penghujan.

Ya, waktu itu di daerah Langkat Hulu, Sumatera Utara sedang berlangsung hujan lebat. Air hujan seolah-olah ditumpahkan dari langit, tidak ada hentinya selama beberapa hari terakhir saat itu. Hari itu Minggu tanggal 2 November 2003 bertepatan dengan dengan hari ke-8 bulan puasa (Ramadhan) 1423 H. Ketika takbir dan tahmid dikumadangkan dengan khusuk mengiringi sholat tarawih, tiba-tiba suara air bergemuruh di antara derasnya hujan, datang mendekat dan menerjang apa saja yang dilaluinya. Banjir bandang itupun menghantam Bukitlawang.

Musibah banjir bandang Bukitlawang itu juga menghantam kawasan wisata Bahorok di perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser. Air bah yang membawa segala macam material: kayu gelondongan, lumpur, pasir dan bebatuan menerjang semua yang berada di sepanjang Sungai Bahorok, sungai utama yang mengalir di Bukitlawang. Gelondongan kayu yang besar tersebut beserta material lainnya yang dibawa air bah menyergap semua yang berada di bantaran sungai. Rumah, pondok wisata, hotel yang tersebar di kiri kanan sungai itu pada ketinggian kurang dari 5 meter permukaan sungai saat normal hancur diterjang air bah.

Kejadian mencekam di malam hari sekitar pukul 20.30 wib itu telah merenggut 154 jiwa tewas atau hilang dari penduduk asli maupun wisatawan asing dan lokal. Hingga bulan Februari 2004 tercatat 80 orang dinyatakan tidak ditemukan jasadnya [1]. Inna lil lahi wa inna ilaihi rojiun.

*****

Akankah hujan terus menjadi tersangka, biang keladi terjadinya banjir bandang? Mengapa kita yang diberi akal tidak menggunakannya secara jujur dan objektif? Bukan kah alam telah memberi tanda? Dimana kita harus membangun permukiman, dimana yang berbahaya? Kitalah yang sering membuat kerusakan di muka bumi.

Kasus banjir di Bukitlawang antara lain dari berbagai publikasi dinyatakan karena hutan di hulunya di pergunungan Leuser banyak yang gundul akibat penebangan haram atau yang lebih dikenal dengan illegal logging dan perambahan [2, 3, 4] – meskipun banyak pihak yang memperdebatkan. Lalu, kayu gelondongan yang berserakan pasca banjir bandang itu berasal darimana?[5] Sementara di Jember dilaporkan hutan di pegunungan Argopuro yang merupakan daerah hulu dengan kelerengan yang cukup tajam juga dalam kondisi rusak. Sehingga ketika musim hujan, sisa hutan yang ada yang telah rusak tidak sanggup lagi menyimpan air dan menahan tanah dari erosi dan longsor. Maka air banjirpun membawa lumpur tanah.

Hasil penelitian Fakultas Kehutanan IPB dalam periode 1978 – 2004 [6] juga bisa menjelaskan hal tersebut. Pada areal berhutan lebat, laju erosi tertingginya hanya 0,02 ton/ha/th. Jika hutan lebat tersebut kemudian berubah menjadi semak belukar, maka laju erosinya meningkat menjadi 2,09 ton/ha/th atau meningkap hampir 105 kali lipat. Selanjutnya apabila menjadi lahan gundul tanpa vegetasi, maka laju erosinya meningkat secara spektakuler, yakni mencapai 514,00 ton/ha/th atau meningkat 25.700 kali lipat dari areal berhutan. Sangat bisa dibayangkan, betapa besar peluang banjir bandang membawa lumpur ketika hutan digunduli saat musim hujan.

Selanjutnya, pada tanah yang tidak stabil penebangan hutan menaikkan hampir lima kali kejadian longsor dan volume tanah yang longsor meningkat tiga kalinya. Pembuatan jalan untuk penebangan meningkatkan 50 kali pada kejadiaan longsor dan volume tanah yang longsor meningkat 30 kali [6]. Dengan demikian, hutan sangatlah penting untuk pengendaliaan tanah longsor.

Dari berbagai fakta dan kejadian serta hasil penelitian ilmiah, sudah sangat jelas kaitan kerusakan hutan dan lahan terhadap meningkatnya potensi banjir dan tanah longsor.

Cukuplah bencana banjir dan tanah longsor tersebut sebagai penyadaran bagi kita semua. Jadilah bagian dari solusi, bukan menjadi bagian masalah. Lingkungan adalah milik bersama, mari jaga dan kelola lingkungan secara arif, bersama dan berkelanjutan untuk kemakmuran umat manusia sebagaimana tujuan penciptaannya.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran!


[1] Brahmantyo, B. 2009. Mengenang kembali banjir bandang Bukitlawang Bahorok 2003-2009. Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 Sumatera Utara. Bakosurtanal, Bogor, Hal. 88 – 89

[2] Ridho, P.G. 2003. Walhi: Banjir Bahorok akibat degradasi lingkungan. [http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2003/11/04/brk,20031104-80,id.html]

[3] Julianty. 2006. Menengok kembali peristiwa banjir bandang Bahorok – apa yang harus diperbaiki? Buletin Planolog 1: 12-17

[4] BAPPENAS dan BAKORNAS PB. 2006. Rencana aksi nasional pengurangan risiko bencana 2006-2009. Kerjasama antara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dengan Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (BAKORNAS PB)

[5] Malley, F.C. 2004. Kataspora banjir Bahorok dan persekongkolan mengelabui publik. Intip Hutan edisi Juni 2004: 6-9

[6] Kusmana, C., Istomo, S. Wilarso, E.N. Dahlan, & Onrizal. 2004. Upaya rehabilitasi hutan dan lahan dalam pemulihan kualitas lingkungan. Makalah utama pada Seminar Nasional Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan, pada 4 Juni 2004 di Klub Rasuna, Ahmad Bakrie Hall, Jakarta

*Disarikan dari Onrizal. 2010. Ayat-ayat konservasi

Other link: http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/27/refleksi-banjir-bandang-bukitlawang/

Read Full Post »

Thomson Reuters: Riset Indonesia Sedikit, tetapi Berkualitas

[Source: http://sains.kompas.com/read/2012/04/26/19424848/Thomson.Reuters.Riset.Indonesia.Sedikit.tetapi.Berkualitas]

JAKARTA, KOMPAS.com — Jumlah paper publikasi penelitian Indonesia memang rendah, tetapi kualitas riset Indonesia tergolong unggul. Demikian hasil analisis Thomson Reuters, sumber informasi intelijen terkemuka di dunia untuk perusahaan dan para profesional, yang disampaikan kepada wartawan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/4/2012).
Diketahui, secara ranking, jumlah publikasi riset Indonesia tergolong kedua terendah se-Asia Tenggara. Berdasarkan jumlah publikasi, negara yang paling produktif dalam riset berturut-turut adalah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
“Namun, berdasarkan jumlah riset yang disitasi, Indonesia nomor tiga se-Asia Tenggara. Artinya, risetnya sedikit tetapi kualitas dunia,” kata Wong Woei Fuh, Managing Director Rest of Asia Pacific Intellectual Property and Science di Thomson Reuters.
Berdasarkan jumlah citation (kutipan), negara yang dengan riset berkualitas di Asia Tenggara adalah Singapura, Filipina, dan Indonesia. Malaysia tergolong terendah di Asia Tenggara.
Demikian pula dalam dampak hasil penelitian di dunia. “Jadi, hasil penelitian Indonesia itu banyak dikutip oleh ilmuwan di dunia,” kata Wong.
Berdasarkan analisis Thomson Reuters, riset Indonesia didominasi oleh bidang ilmu hewan dan tanaman (botani dan zoologi), medis atau kedokteran, lingkungan, geologi, dan pertanian.
Sementara itu, hasil riset yang paling banyak dikutip adalah bidang ilmu sosial dan humaniora, medis, pertanian, lingkungan, ekologi, dan imunologi (kekebalan tubuh).
“Penelitian ilmu sosial Indonesia punya dampak yang besar,” ungkap Wong.
Ia mengungkapkan, hasil analisis Thomson Reuters bisa menjadi salah satu pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang riset manakah yang paling perlu mendapatkan perhatian dan pendanaan.
“Indonesia perlu fokus. Pendanaan bisa cepat terbuang percuma kalau tidak fokus,” ungkap Wong.
Melihat hasil analisis, Indonesia terbukti unggul pada ilmu-ilmu dasar.
Dengan demikian, perlu dipertimbangkan agar penelitian dasar dan eksploratif, yang hasilnya sering dianggap tidak segera berguna, mendapat perhatian dan pendanaan.
———————————————
Nah, para akademisi dan peneliti Indonesia, ayo terus meneliti dan mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal Internasional sebagai wujud kontribusi bagi kehidupan yang lebih baik.

Read Full Post »

Bagaimana menilai suatu lahan mangrove, apakah masih baik atau kritis? Faktor apa saja yang harus diukur? Lalu, bagaimana membaca hasil-hasil pengukuran tersebut.

Nah, tahun 2005, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan RI (begitu namanya saat itu) mengeluarkan Pedoman Inventarisai dan Identifikasi Lahan Kritis Mangrove

Semoga bermanfaat.

Read Full Post »

Pendahuluan

Perubahan iklim telah mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi sebagai dampak dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir (Alvarado & Wertz-Kanounnikoff, 2007). Emisi GRK akibat akumulasi aktivitas manusia telah berkontribusi nyata pada peningkatan pemanasan global (IPCC, 2007). Hasil penelitian terbaru NASA (Cole & McCarthy,  2012) menunjukkan bahwa suhu permukaan rata-rata global pada tahun 2011 merupakan yang terpanas kesembilan sejak tahun 1880. Data ini juga menunjukkan suhu rata-rata di seluruh dunia meningkat 0,51 oC dibandingkan data baseline pertengahan abad ke-20.

Konsentrasi GRK secara terus-menerus meningkat dalam tempo yang cepat. Konsentrasi gas CO2 di atmosfir pada tahun 1880 sekitar 285 ppm, kemudian konsentrasi rata-ratanya mencapai 315 ppm pada tahun 1960, dan saat ini melebihi 390 ppm (Cole & McCarthy, 2012). Boer (2004) menyatakan sekitar 270 (±30) giga ton karbon (Gt C) telah dilepas ke atmosfir selama periode 1850 – 1998. Deforestasi dan degradasi (menurunnya kualitas) hutan secara global menyumbang sekitar 20% (World Bank, 2007) sampai 25% (Santili et al., 2005; Myers, 2007) dari total emisi tahunan karbondioksida (CO2) dan menjadi salah satu faktor yang sangat nyata penyebab meningkatnya suhu global (global warming) sebagai salah satu bentuk dari perubahan iklim. Diperkirakan 96% dari emisi tersebut disumbang oleh deforestasi yang terjadi pada negera-negara berkembang di daerah tropis.

Hasil invetarisasi GRK Nasional menunjukkan bahwa pada tahun 2000 total emisi GRK Indonesia untuk tiga GRK utama (yaitu CO2, CH4 dan N2O) tanpa LULUCF (land use, land use change and forestry, yakni perubahan penggunaan lahan dan hutan serta kebakaran gambut) mencapai 594,738 Gg CO2e. Dengan memasukkan LULUCF, total emisi GRK Indonesia meningkat hampir tiga kali menjadi 1.415.988 Gg CO2e (SNC, 2010). Oleh karena itu, perubahan simpanan karbon dalam ekosistem daratan sebagai akibat penggunaan lahan oleh manusia telah menjadi perhatian masyarakat dunia dalam kaitannya dengan isu (permasalahan) perubahan iklim.

Pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya karbon dari deforestasi (berkurang/hilangnya hutan) dan upaya konservasi hutan alam, saat ini, menjadi salah satu kunci pencegahan (mitigasi) perubahan iklim. Hasil analisis Stern (2006) dengan jelas menyatakan bahwa menghindari deforestasi akan memberikan biaya yang terendah di antara opsi-opsi mitigasi meningkatnya emisi CO2 dan juga memungkinkan meningkatkan gudang karbon. Pada saat yang sama, berbagai manfaat lainnya, seperti pengurangan kemiskinan, konservasi keanekaragaman hayati  (biodiversity), konservasi tanah dan air, dan adaptasi terhadap perubahan iklim dapat ditingkatkan.

Konversi hutan di Sumatera umumnya untuk memenuhi permintaan konsumen global telah menyebabkan deforestasi dan dampak ekologi dan sosial. Pertanian secara luas diyakini sebagai salah satu penyebab utama deforestasi. Di seluruh dunia, hutan dijadikan lahan untuk perkebunan kopi, rempah-rempahan, kelapa sawit dan berbagai jenis tanaman lainnya.  Berdasarkan laporan Gaveau et  al. (2009), Philpott et al. (2008) and WWF (2007) diketahui bahwa sebesar 21% hutan alam di Taman Nasional Bukit Barisan telah hilang dalam kurun waktu 1972 sampai 2006 (67.225 ha dari 310.670 ha). Aktivitas pengembangan pertanian menjadi penyumbang utama (80%) dari konversi hutan tersebut. Beberapa aktivitas kunci penyebab deforestasi dan degradasi hutan tersebut antara lain adalah lemahnya kebijakan dan praktek penggunaan lahan, tidak memadainya peraturan penundangan, kurangnya pengakuan hak milik, pertanian dan balak komersial, dan terbatasnya kapasitas dalam melindungi hutan.

Sejak kurun waktu yang lama, Sumatera bagian utara dan daerah disekitarnya dengan aktivitas agroforestrinya dikenal sebagai penghasil kopi, yang dikenal dengan Kopi Gayo dan Kopi Sidikalang. Perkebunan kopi arabika tersebut berdekatan dengan kawasan hutan yang memiliki kekayaan hayati yang sangat tinggi dan kandungan karbon yang tinggi pula, yakni Ekosistem Hutan Leuser dan Ekosistem Hutan Ulu Masen. Lalu, bagaimana posisi kebun kopi dalam kancah isu perubahan iklim, terutama kapasitasnya dalam menyimpan karbon dan peranannya dalam upaya mitigasi perubahan iklim?

Full presentation: Karbon kebun kopi dan mitigasi perubahan iklim

[Disampaikan pada Seminar Nasional “Dampak perubahan iklim terhadap produktivitas kopi” pada 18 April 2012 di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara]

Read Full Post »

Rasanya sulit mencari orang di bumi ini yang tak pernah minum kopi. Mungkin pembaca salah seorang penikmat kopi. Berbagai fakta manfaat kopi bagi kesehatan manusia telah banyak diungkap. Namun demikian, apakah kesukaan anda akan terus dapat dirasakan pada waktu-waktu mendatang seperti yang anda nikmati hari ini?

Secangkir kopi, selain enak menemani kita saat berdiskusi atau sambil kerja, juga merupakan salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia. Selain itu, kopi juga penting secara sosial yang menghangatkan hubungan di dalam masyarakat, mulai dari rumah, kedai tradisonal sampai kafe dan restoran dengan gaya moderen.

Mengapa kopi penting secara ekonomi dan sosial?

Berdasarkan statistik perkebunan, pada tahun 2009, terdapat 1.266.235 ha perkebunan kopi di Indonesia. Sebagian besar perkebunan kopi tersebut berupa perkebunan rakyat (1.217.506 ha atau 95,2%) dan sisanya perkebunan milik pemerintah (22.794 ha atau 1,8%) dan swasta (25.935 ha atau 2,0%). Hasil kopi yang dihasilkan perkebunan tersebut, selain dikonsumsi di dalam negeri, juga menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan, sehingga menghasilkan devisa bagi negara. Tentunya dengan fakta ini, kopi penting sebagai sumber pendapatan petani dan juga pendapatan daerah dan negara.

Sumatera merupakan salah satu sentra penghasil kopi di dunia. Sudah sejak lama, pasar internasional mengenal kawasan di Sumatera bagian utara ini sebagai produsen kopi unggulan, yaitu (1) kopi Sidikalang yang berasal dari kebun kopi di dataran tinggi Dairi dan sekitarnya (Sumatera Utara), dan (2) kopi Gayo yang berasal dari kebun kopi di dataran tinggi Gayo, terutama yang tersebar di kabupaten seperti Aceh Tengah, Bener Merian, dan Gayo Luwes.

Daerah dataran tinggi Gayo dan Dairi serta sekitarnya, secara alami, baik faktor iklim dan geografisnya cocok untuk budidaya kopi. Namun dengan perubahan iklim yang telah terjadi, misalnya dalam bentuk meningkatnya suhu permukaaan bumi dan perubahan curah hujan, baik jumlah maupun distribusi akan berpengaruh pada produktivitas kopi.

Mengapa produktivitas kopi rentan terhadap perubahan iklim? Rupanya, tumbuhan kopi hanya dapat berproduksi optimal dalam kisaran suhu yang relatif sempit, yakni antara 18-20 oC (Witgens, 2009). Di kisaran suhu itu, meski kopi dapat tumbuh namun kemampuannya menghasilkan buah kopi jauh berkurang. Hasil penelitian Fakultas Pertanian USU bekerjasama dengan Conservation International Indonesia (Bakti et al, 2011) menunjukkan bahwa pada periode 2006-2010 di sentra penghasil kopi Dairi, suhu rata-rata berkisar 20,25 – 21,85 oC, sehingga sudah berada di luar kisaran suhu optimal berbuah dan berproduksi.

Hasil olahan data statistik Kabupaten Aceh Tengah dalam angka menunjukkan bahwa sejak tahun 2007 sampai 2010 telah terjadi penurunan secara terus menerus produktivitas rata-rata kebun kopi per hektar, dari 0,83 ton/ha pada tahun 2007 menjadi hanya 0,52 ton/ha. Sementara buah kopi merupakan hasil yang sangat diharapkan oleh petani sebagai sumber pendapatannya.

Meskipun belum tersedia data serangan hama dan penyakit dalam kurun waktu yang lama, namun secara teori kehidupan hama dan penyakit kopi membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai, termasuk iklim. Nah, dengan demikian patut diduga perubahan iklim akan berpengaruh pada serangan hama dan penyakit tumbuhan kopi. Mengapa demikian? Hasil penelitian, seperti disampaikan oleh Zell (2004), Kovats et al. (2005), McMichael & Lindgren (2011), bahwa perubahan iklim telah mempengaruhi perubahan sebaran beberapa vektor penyakit infeksi (seperti kutu pada daerah lintang yang lebih tinggi atau malaria menjangkau ke dataran yang lebih tinggi). Sehingga, perubahan iklim telah mempengaruhi kesehatan manusia.

Bagaimana hubungan antara perubahan iklim dengan produktivitas kopi? Berdasarkan hasil-hasil penelitian terkait perubahan iklim dengan perubahan penyakit pada manusia, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, patut diduga perubahan iklim juga akan mempengaruhi populasi, keanekaragaman dan sebaran vektor penyakit dan hama tanaman kopi, sehingga pada akhirnya akan berpengaruh pada produktivitas kopi. Akibat selanjutnya, hasil panen yang diperoleh petani tentu berkurang.

Dr Hasanuddin, ahli penyakit tumbuhan dari FP USU mengungkapkan perlunya antisipasi kemungkinan berubahnya status populasi dan serangan hama dan penyakit menjadi gangguan yang serius pada produktivitas kopi akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang berkelanjutan terkait hama dan penyakit kopi kaitannya dengan berbagai faktor iklim, sehingga akan dapat diduga secara lebih tepat keterkaitan antara perubahan iklim terhadap kejadian dan tingkat serangan hama dan penyakit kopi.

 

Bumi makin panas, daerah yang sesuai untuk kebun kopi berubah!

Peningkatan suhu permukaan bumi sebagai salah satu bentuk perubahan iklim disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfir, salah satunya adalah gas karbondiokasida (CO2). Secara global, konsentrasi gas CO2di atmosfir terus meningkat secara cepat, dari sekitar 285 ppm pada tahun 1880, terus mencapai 315 ppm pada tahun 1960, dan saat ini melebihi 390 ppm, seperti diungkap oleh peneliti NASA (Cole & McCarthy, 2012).

Bank Dunia tahun 2007 dan peneliti perubahan iklim lainnnya menyatakan bahwa kerusakan (degradasi) dan kehilangan (deforestasi) hutan menyumbang 20% sampai25% dari total emisi tahunan CO2 dunia, sehinga hal ini menjadi salah satu faktor yang sangat nyata sebagai penyebab meningkatnya suhu global (global warming) sebagai salah satu bentuk dari perubahan iklim.

Sementara itu, hasil invetarisasi GRK Nasional oleh Bappenas tahun 2010 mendapat fakta bahwa 2/3 emisi GRK di Indonesia diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan gambut serta konversi hutan, termasuk menjadi kebun kopi atau penggunaan lahan lainnya. Semakin tinggi emisi yang dilepas ke atmosfir, semakin tinggi perubahan suhu yang akan terjadi. Oleh karena itu, terlihat hubungan yang saling melingkar antara produksi kopi dengan perubahan iklim dan perilaku kita dalam menggunakan lahan. Lalu dengan demikian, upaya apa yang bisa kita lakukan?

 

Terry Hills, seorang peneliti Conservation International yang berbasis di Brisbane, Australia menyatakan bahwa kopi sangat rentan terhadap perubahan iklim, termasuk naiknya suhu sebagai akibat meningkatnya emisi GRK. Pada akhirnya areal yang sesuai untuk budidaya kopi di Sumatera bagian utara akan semakin sempit.

 

Tindakan lokal saat ini, dampaknya menyelamatkan kesempatan generasi berikutnya

Fakta ilmiah telah menjelaskan kepada kita bahwa peningkatan konsertrasi emisi GRK, termasuk gas karbon akibat berbagai aktivitas manusia telah memicu perubahan iklim, berubah naiknya suhu permukaan bumi serta berubahnya pola, jumlah dan distribusi curah hujan. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mencegah (mitigasi) meningkatnya gas-gas GRK yang lepas ke udara.

Hills, antara lain menyarankan untuk menggunakan pohon naungan dalam budidaya kopi sebagai salah satu bentuk adaptasi perubahan iklim. Hasil simulasi Terry Hills menunjukkan pemberian pohon naungan pada kebun kopi dapat menurunkan suhu mikro antara 3-4 oC. Selain itu, keberadaan pohon naungan akan mengurangi kecepatan angin, meningkatkan kelembaban udara, melindungi bunga dari curah hujan yang terus menerus, menghindari penurunan temperatur yang besar pada malam hari, menghindari puncak produksi dua tahunan dan membantu dalam pengelolaan hama/penyakit.

Hasil penelitian kami pada tahun 2010 dan 2011 di kebun kopi di dataran tinggi Gayo menunjukkan bahwa kapasitas kebun kopi untuk menyerap CO2 (karbon) dari udara dan menyimpannya dalam bagian tumbuhan masih dapat ditingkatkan menjadi dua kali dari kondisi budidaya kopi saat ini. Hal itu dapat dilakukan dengan pengaturan jenis dan jumlah pohon naungan.

Penambahan pohon naungan tersebut, selain dapat meningkatkan serapan dan simpanan karbon juga menghadirkan iklim mikro (suku) yang optimal bagi kopi untuk berbuah. Pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani, karena kopinya semakin produktif dibandingkan yang diusahakan saat ini, juga petani mendapat sumber tambahan penghasilan dari berbagai jenis pohon pelindung penghasil buah komersial seperti alpukad, jeruk dan nangka.

Tentunya dengan berbagai perbaikan budidaya kopi, baik berupa aktivitas adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim, produktivitas kopi akan tetap terjaga. Apabila itu dilakukan, tentu generasi yang dapat menikmati kelezatan kopi akan semakin panjang.

Semoga…..!

Link lain: http://green.kompasiana.com/iklim/2012/04/20/akankah-perubahan-iklim-mengancam-kenikmatan-anda-minum-kopi/

 

Read Full Post »

Letter from Peter C Boyce

 

Message: 1
Date: Sun, 15 Apr 2012 12:40:32 +0800
From: Peter Boyce <phymatarum@googlemail.com>
To: <fm-info@lists.floramalesiana.org>
Subject: [fm-info] new URL for our Flickr site
Message-ID: <001001cd1ac1$e6debde0$b49c39a0$@com>
Content-Type: text/plain; charset=”us-ascii”

Dear Friends & Colleagues,

Please take note that our Flickr site has a new url:

http://www.flickr.com/photos/indomalayan_aroids/

In addition, we are also now experimenting (very tentatively) with a blog:

http://indomalayan-aroids.blogspot.com/

Best wishes

Peter

 

 

Read Full Post »

Tahun 2009, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia merilis buku Emisi Gas Rumah Kaca Dalam Angka yang disusun berdasarkan berbagai data dari berbagai institusi pemerintah dan swasta baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bagaimana gambaran emisi setip propinsi di Indonesia? Silahkan baca lebih lanjut

Read Full Post »