Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2012

2012 in review

The WordPress.com stats helper reader prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 14,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Read Full Post »

Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah II (BPHM II) yang berpusat di Medan, Sumatera Utara pada tahun 2012 meluncurkan media informasi terkait hutan mangrove dan pengelolaannya yang diberi nama: WANAMINA, singkatan dari Wahana Berita Mangrove Indonesia. Pada tahun 2012 ini telah diterbitkan 2 (dua) edisi WANAMINA yang berisi berbagai artikel, informasi kegiatan dan pengelolaan mangrove. Semoga edisi online bisa juga segera terwujud.

Wanamina

Link artikel:

Mangrove dan keutuhan wilayah Indonesia

Mangrove, nelayan dan kita

Read Full Post »

pic02

Wisata alam dan wisata kuliner merupakan atraksi andalan pariwisata dunia saat ini, termasuk dunia pariwisata di Indonesia. Bila kita ke wilayah bagian selatan Jepang, misalnya ke pulau Iriomote, menjelajahi hutan mangrove dengan kayak atau kapal merupakan salah satu atraksi wisata alam yang banyak ditawarkan dan banyak peminatnya, tidak saja wisatawan lokal, namun juga wisatawan manca negara. Jepang dengan luas hutan mangrove yang hanya dalam hitungan ratusan hektar, mampu menghasilkan devisa yang tidak sedikit tanpa merusak sumberdaya hutan mangrove yang dimilikinya. Hutan mangrove juga merupakan objek penelitian yang sangat menarik dalam skala global.

Namun, Indonesia yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia (3.112.989 ha atau ~ 22,6% dari hutan mangrove dunia) (Giri et al., 2011) belum mampu menjadikan kegiatan wisata alam di hutan mangrove yang sangat luas tersebut sebagai salah satu andalan pendapatan devisa negara. Pada beberapa wilayah di Indonesia, seperti di hutan mangrove Bali, dan hutan mangrove di Angke Kapuk, Jakarta telah dimulai pembangunan sarana prasarana yang mendukung wisata alam mangrove. Selain melihat berbagai keunikan vegetasi mangrove, seperti perakarannya yang khas, hutan mangrove juga menyediakan atraksi pemancingan ikan, udang dan kepiting serta atraksi pemantauan burung-burung air.

Selengkapnya di  Wanamina 2 (2012): 6-11

Read Full Post »

Hutan mangrove bukan sekedar hutan yang tumbuh di daerah pasang surut pantai. Namun, bila lebih dalam kita menggali, hutan mangrove berperan penting dalam menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperjuangkan dengan harta dan jiwa oleh para pahlawan bangsa, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan. Benarkan demikian? Jika ya, apa argumentasinya dan bagaimana caranya?

pic01

Selengkapnya di Wanamina 2 (2012): 1-5

Read Full Post »

Hutan mangrove berperan sangat penting bagi kehidupan manusia. Manfaat ganda hutan mangrove bagi kawasan pesisir telah dikenal dengan baik (Aksornkoae, 1993, FAO, 1993, 1994, Soeroyo & Sapulete, 1998, Aprilwati, 2001, Joshi et al., 2006, Le et al., 2007). Nilai penting mangrove dalam mendukung produktivitas ekosistem pesisir telah dikenal dengan baik (Kusmana et al., 1997). Al Rasyid (1986) melaporkan bahwa produksi udang sangat terkait dengan produksi serasah mangrove. Walters et al. (2008) menginformasikan bahwa 80% species biota laut yang komersial diduga sangat tergantung pada kawasan mangrove di kawasan Florida, USA, 67% spesies hasil tangkapan perikanan komersial di bagian timur Australia, dan hampir 100% udang yang ditangkap pada kawasan ASEAN bergantung pada kawasan mangrove.

Produktivitas berbagai tipe vegetasi di dunia yang terdiri dari biomassa tegakan dan produktivitas serasah sangat bervariasi karena perbedaan struktur vegetasi, umur tegakan, situasi geografi (ketinggian), perubahan iklim (Tanner, 1980). Para ahli antara lain, Snedaker (1978), Harger (1982), Odum et al. (1982), Hamilton & Snedaker (1984), dan Dahdouh-Guebas et al., (2000) sependapat bahwa hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik, dengan berbagai macam fungsi, yaitu fungsi fisik, biologi, dan fungsi ekonomi atau produksi.

Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia dengan 3,7 juta ha (Dirjen INTAG, 1993) atau 25% dari total mangrove dunia (16,5 juta ha) (FAO, 1994). Konversi hutan mangrove terus meningkat, sehingga menyebabkan penurunan produktivitas ekosistem tersebut (Primavera, 2005, Dave, 2006). Dalam kurun waktu 25 tahun, mangrove dunia telah hilang sebesar 35% (Valiela et al., 2001) dan mangrove Indonesia yang rusak mencapai 57,6% (RLPS, 2001). Oleh karena itu, sangat penting dilakukan upaya penyebarluasan informasi mangrove dengan kondisinya, dan peningkatan kemampuan dalam menginventarisasi sumberdaya mangrove, sehingga menjadi bekal dalam memuwujudkan pengelolaan sumberdaya mangrove yang lebih lestari dan bermanfaat lebih optimal bagi kehidupan manusia.

Berikut bahan presentasi dalam training ekologi, inventarisasi dan identifikasi mangrove yang dilaksanakan pada tanggal 12-15 Desember 2012:

1. Ekologi Mangrove

2. Inventarisasi Mangrove

3. Pengenalan Jenis Mangrove

Semoga bermanfaat, dan mangrove kita semakin baik.

Read Full Post »