Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2014

Buletin WANAMINA (Wahana Berita Mangrove Indonesia) 2014 (2): 6-11

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yakni 3.112.989 ha atau ~ 22,6% dari luar total mangrove dunia yang seluas 13.776.000 ha (Giri et al. 2011). Namun demikian, Indonesia juga menyumbang kerusakan hutan mangrove terbesar dibandingkan negara-negara lain. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menginformasikan bahwa hutan mangrove Indonesia yang rusak mencapai 57,6% (RLPS, 2001). Berbagai dampak negatif akibat kerusakan mangrove telah dirasakan, seperti berkurangnya populasi ikan dan malah banyak jenis-jenis ikan yang hilang, abrasi pantai, air tanah yang menjadi asin karena intrusi air laut, banjir rob seperti sekarang yang rutin “menenggelamkan” permukiman di pantai utara Jakarta ketika bulan purnama dan berbagai dampak negatif lain. Oleh karena itu, hutan mangrove yang rusak perlu direhabilitasi sebagai bagian dari upaya pemulihan fungsi dan manfaat hutan mangrove bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Berbagai program rehabilitasi mangrove yang rusak telah banyak dilakukan dengan tingkat keberhasilan dari rendah (gagal) sampai sukses. Salah satu langkah penting untuk menjamin keberhasilan program rehabilitasi mangrove diawali dengan merancang kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai secara terpadu dan partisipatif.

rehabmng

Konsep Rehabilitasi Mangrove
Rehabilitasi ekosistem mangrove adalah tindakan sebagian atau (lebih jarang) sepenuhnya menggantikan karakteristik struktural atau fungsional dari suatu ekosistem mangrove yang telah berkurang atau hilang, atau pengganti yang berkualitas atau karakteristik ekosistem mangrove hasil rehabilitasi memiliki lebih banyak nilai sosial, ekonomi atau ekologi dibandingkan dengan keadaan lahan mangrove yang terganggu atau terdegradasi. Dengan demikian, rehabilitasi ekosistem mangrove merupakan kegiatan pemulihan lahan mangrove yang terdegradasi ke ekosistem mangrove yang dapat berfungsi kembali terlepas dari keadaan asli dari lahan yang terdegradasi tersebut. Restorasi mangrove adalah tindakan membawa ekosistem mangrove ke, sedekat mungkin, dengan kondisi aslinya (Gambar 1). Dengan demikian, restorasi merupakan kasus khusus dari rehabilitasi (Field, 1998, 1999)
Rehabilitasi termasuk didalamnya restorasi ekologi merupakan salah satu cabang ekologi yang paling menantang (Bradshaw, 1987). Namun demikian, rehabilitasi ekosistem mangrove memiliki tantangan yang lebih lagi karena merupakan ekosistem alam yang sangat dinasmis sebagai akibat pengaruh pasang surut air laut serta gangguan akibat manusia dan alam (natural and anthropogenic disturbances) (Biswas et al., 2009).
Restorasi ekologi menurut Society for Ecological Restoration (2002) adalah proses untuk membantu pemulihan suatu ekosistem yang telah terdegradasi, rusak atau hancur. Namun demikian, seringkali tidak praktis menuntut pemulihan total dari ekosistem mangrove ke kondisi semula (kondisi sebelum mengalami gangguan; pre-disturbance state). Akan terdapat gap (perbedaan) antara kondisi ekosistem mangrove yang alami (tidak terganggu atau gangguan alam dengan intensitas dan frekuensi yang rendah) dengan ekosistem mangrove hasil rehabilitasi. Tujuan rehabilitasi (termasuk restorasi) adalah meminimalkan gap antara ekosistem alami dengan ekosistem hasil rehabilitasi (Gambar 2) (Biswas et al., 2009).

Selengkapnya di Isi Edisi2 Tahun 2014_Onrizal artikel

Advertisements

Read Full Post »