Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2015

cover Edisi1 Tahun 2015_001

Wanamina (edisi 1 tahun 2015, hal. 1-4)

Hutan Mangrove dan Keanekaragaman Biota Perairan Pantai

Onrizal
Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
Email: onrizal@gmail.com

Mangrove di sepanjang zona pantai merupakan sumberdaya alam penting bagi manusia sebagai sumber makanan, serat, dan pendapatan (Johsi dkk., 2006) serta vital secara ekonomi, baik skala lokal maupun nasional (FAO, 1982; Dahdouh-Guebas dkk., 2000). Berdasarkan hasil-hasil penelitian, hutan mangrove telah terbukti sebagai ekosistem yang sangat produktif.
Meskipun pentingnya keberadaan hutan mangrove bagi kehidupan pesisir telah diketahui, namun sumberdaya alam penting ini terus mengalami kerusakan dan malah hilang akibat eksploitasi yang berlebihan dan konversi lahan. Berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa konversi hutan mangrove terus meningkat untuk dijadikan lahan pertanian atau tambak ikan/udang, sehingga menyebabkan penurunan produktivitas ekosistem tersebut (Dave, 2006, Primavera, 2006). Dalam kurun waktu 25 tahun, Valiela dkk. (2001) mencatat 35% mangrove dunia telah hilang.

Dampak kerusakan hutan mangrove terhadap biota perairan pantai
Al Rasyid (1986) melaporkan bahwa produksi udang sangat terkait dengan produksi serasah mangrove. Hasil telaah oleh Walters dkk. (2008) menginformasikan bahwa 80% species biota laut yang komersial diduga sangat tergantung pada kawasan mangrove di kawasan Florida, USA, 67% spesies hasil tangkapan perikanan komersial di bagian timur Australia (Hamilton dan Snedaker, 1984), dan hampir 100% udang yang ditangkap pada kawasan ASEAN bergantung pada kawasan mangrove. Macintosh (1982) melaporkan bahwa 49% ikan-ikan demersal di Selat Malaka sangat tergantung pada hutan mangrove.
Huxham dkk. (2004) dan Shinnaka dkk. (2007) melakukan penelitian untuk membandingkan populasi dan keanekaragaman ikan pada hutan mangrove yang relatif masih baik dengan yang telah ditebang habis. Hasilnya sangat mencengangkan. Hasil penelitian di Kenya oleh Huxham dkk. (2004) menunjukkan bahwa 2/3 dari 30 jenis ikan yang ditangkap hanya ditemukan pada hutan mangrove yang masih baik. Di Thailand, Shinnaka dkk. (2007) melaporkan bahwa hutan mangrove yang masih baik memiliki populasi dan jenis ikan secara berturut-turut 159-234% dan 116-129% lebih besar dibandingkan hutan mangrove yang telah rusak. Hasil penelitian di Kenya dan Thailand tersebut sejalan dengan penelitian lapang yang panjang selama 50 tahun yang dilaporkan oleh Faunce dan Serafy (2006), yakni hutan mangrove secara nyata mendukung keanekaragaman jenis ikan yang ditunjukkan dengan kekayaan jenis ikan yang tinggi dan populasi setiap jenis yang besar.
Hasil-hasil penelitian eksperimen, seperti yang dilakukan oleh Laegdsgaard dan Johnson (2001), de la Morinière dkk. (2004), Verweij dkk. (2006), Crona dan Ronnback (2007), Wang dkk. (2009), menjelaskan bahwa anak-anak ikan sangat menyenangi perakaran mangrove yang sangat komplek dan sekaligus mengurangi predator. Dengan demikian, hutan mangrove menjadi tempat ideal untuk pembesaran (nursery ground) berbagai jenis-jenis ikan pesisir pantai.
Thayer dkk. (1987) dan Morton (1990) sebelumnya juga melaporkan bahwa populasi ikan di hutan mangrove lebih tinggi dibandingkan dengan habitat yang berdekatan dengan mangrove. Di Australia, Morton (1990) menemukan bahwa rata-rata kepadatan ikan di hutan mangrove mencapai 2 kali lebih besar dibandingkan habitat yang bersebelahan dengan mangrove. Perbandingan kepadatan yang lebih tinggi dilaporkan oleh Thayer dkk. (1987) yang melakukan penelitian di Florida selatan. Thayer dkk. (1987) menemukan bahwa rata-rata kepadatan ikan di mangrove adalah 8 individu per m2, sedangkan pada habitat tanpa mangrove hanya sebesar 0,22 individu per m2. Lugendo dkk (2007) yang melakukan penelitian di Tanzania juga melaporkan bahwa kepadatan ikan di hutan mangrove secara nyata lebih tinggi dibandingkan habitat lain di pesisir pantai.
Hasil penelitian Crona dan Ronnback (2007) di Kenya menunjukkan bahwa hutan mangrove hasil rehabilitasi sangat penting bagi kelestarian hasil perikanan di sekitarnya. Crona dan Ronnback (2007) juga melaporkan bahwa dari keseluruhan jenis ikan yang tertangkap, sebagian besar (75%) merupakan jenis-jenis ikan komersial. Selanjutnya, Wang dkk. (2009) menjelaskan pentingnya keberadaan kanal-kanal (sungai-sungai kecil) di sekitar mangrove dan tidak memutus keterkaitannya dengan mangrove, misalnya dengan tidak membuat dam atau pematang yang memisahkan mangrove dengan sungai-sungai kecil tersebut.
Pada kawasan mangrove yang masih baik di Provinsi Thrang, Thailand, Tongnunui dkk. (2002) melaporkan 135 jenis ikan yang termasuk dalam 43 suku menjadikan hutan mangrove sebagai habitatnya. Di Pagbilao, Pilipina dan Queensland, Australia masing-masing dilaporkan sebanyak 128 species ikan menjadikan hutan mangrove sebagai habitatnya, seperti dilaporkan oleh Pinto (1988) untuk Pilipina dan Robertson dan Duke (1990) untuk Australia.
Martosubroto dan Naamim (1977) melakukan penelitian keterkaitan hutan mangrove dengan produksi tangkapan udang komersial di Indonesia. Mereka menemukan hubungan bahwa setiap kehilangan 1.000 ha hutan mangrove akan menyebabkan berkurangnya hasil tangkap udang komersial sebesar 112,8 ton. Dengan demikian, kita dapat menghitung berapa kehilangan nilai ekonomi akibat hilangnya hutan mangrove? Itu baru dari jenis udang saja yang merupakan sebagian kecil saja dari total kontribusi hutan mangrove.
Kathiresan dan Rajendran (2002) melaporkan hutan mangrove yang baik di pantai tenggara India mendukung hasil perikanan tangkap yakni 11 kg per ha per hari untuk shellfish dan 4.5 kg per ha per hari untuk finfish day, sehingga mendukung pendapatan sebesar US$ 17 per hari (US$ 14 per day dari shellfish dan US$ 3 per hari dari finfish). Onrizal dkk. (2009) melaporkan kerusakan hutan mangrove telah menyebabkan penurunan rata-rata pendapatan nelayan yang mencapai 41%. Amala (2004) melaporkan bahwa konversi hutan mangrove di pantai Napabalano, Sulawesi Tenggara juga menyebabkan berkurangnya secara nyata populasi kepiting bakau (Scylla serrata) yang menyebabkan berkurangnya pendapatan nelayan.
Para nelayan di kawasan hutan mangrove yang telah rusak atau dikonversi menjadi areal penggunaan lain di pantai timur Sumatera Utara menyampaikan keluhan terkait penurunan hasil tangkap dan pendapatan mereka setelah hutan mangrove rusak atau hilang (Gambar 1). Pada sisi lain, pada kawasan dengan hutan mangrove yang relatif masih terjaga masih dapat tersenyum dengan hasil tangkap yang memadai (Gambar 2). Hasil observasi yang dilakukan penulis, hasil tangkap nelayan di kawasan hutan mangrove yang telah rusak hanya berkisar 10-30% dibandingkan dengan hasil tangkap nelayan di kawasan hutan mangrove yang masih baik.

Picture1 Picture2

Penutup
Berbagai hasil-hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas menunjukkan besarnya kontribusi hutan mangrove bagi produksi perikanan pesisir pantai, dan kehilangan besar akan terjadi bila hutan mangrove rusak apalagi musnah. Kerusakan mangrove telah secara nyata menurunkan produktivitas ekosistem pesisir, mengancam kehidupan nelayan dan selanjutnya memicu kekurangan sumber gizi bagi anak bangsa. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk melestarikan hutan mangrove dan merehabilitasi hutan mangrove yang rusak merupakan inventasi yang sangat produktif, bukan hanya untuk generasi saat ini, juga bagi generasi yang akan datang.

Read Full Post »

 

Floods are the most common natural disaster in tropical regions [1], including in Malaysia. According to Shaluf and Ahmadun [2], during the period of 1968-2004, 39 disasters hit the Malaysia which they are categorized as natural disaster (49%), man-made disaster (46%) and subsequent disasters (5%). They stated that most of the natural disasters were resulted from the heavy rains. Subsequently, Tan-Soo et al. [3] concluded that the conversion of inland tropical forests to oil palm and rubber plantations significantly increased the number of days flooded during the wettest months of the year in Malaysia.

Kelantan is one of the east coast states of Malaysia. According to Jusoff and Setiawan [4], and Jusoff and Skidmore [5], the state, geographically is from 101o 20’ E to 102o 40’ E and from 04o 30’ N to 06o 15’ N covers an area of approximately 1.5 million hectares. This state has faced yearly floods especially during north east monsoon seasons.

The December 2014 flood recorded as one of the worst floods to hit the Malaysia in decades which most affected areas were in Kelantan. The disaster did not only caused human fatalities and hardship; it also caused deterioration of environment and destruction of the biodiversity and natural resources.

Kelantan riparian vegetation-A4

 

Read Full Post »

Nelayan berjibaku selamatkan mangrove

[Warta Konservasi Lahan Basar, Volume 23, Nomor 1, (April 2015) Hal. 4, 5, dan 19]

 

Nelayan berjibaku Nelayan berjibaku0

 

Gangguan hutan mangrove
Areal mangrove itu termasuk hutan register 8/L pesisir timur Kabupaten Langkat. Dengan demikian, hutan mangrove tersebut berstatus kawasan lindung (L) dan telah ditetapkan sejak zaman kolonial Belanda. Sampai awal tahun 2000-an, hutan mangrove di kawasan tersebut masih tergolong baik. Beberapa gangguan hutan mangrove umumnya terbatas pada sumur minyak bumi yang merupakan bagian eksloitasi minyak bumi Brandan-Pangkalan Susu yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Azhar Kasim selaku Ketua Kelompok Tani Mangrove Keluarga Bahari yang juga warga Brandan, Langkat mengisahkan awal okupasi lahan mangrove register 8/L dimulai pada tahun 2003. Ribuan hektar hutan mangrove di kawasan tersebut di tebang habis (land clearing) untuk dijadikan kebun kelapa sawir secara ilegal, baik perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun perorangan. Diduga modus utamanya adalah merekayasa seolah-olah masyarakat lokal menklaim lahan hutan mangrove tersebut adalah lahan warisan mereka dan kemudian dijual kepada pihak perusahaan, tanpa mengindahkan bahwa areal tersebut termasuk ke dalam hutan register. Pada tahun 2007, hutan mangrove yang telah dibabat habis itu mulai ditanami kelapa sawit.

Perlawanan masyarakat nelayan
Akibat konversi hutan mangrove tersebut menjadi perkebunan kelapa sawit, hasil tangkap nelayan turun drastis pada wilayah tersebut. Hal ini kemudian memicu perlawanan masyarakat nelayan yang terkena dampak. Pada tahun 2011, masyarakat nelayan bergerak massif dan terus-menerus serta dengan melibatkan jaringan nelayan di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Termasuk upaya yang dilakukan adalah penyebaran informasi di media massa. Hal ini mampu “menekan” aparat penegak hukum untuk bertindak, sehingga sekitar 1,200 ha lahan yang telah dikonversi berhasil dibebaskan.
Namun kasus hukumnya berjalan lambat, dan pada 18 September 2013 salah satu terdakwa bernama Sutrisno atau Akam yang merupakan Direktur UD Harapan Sawita dijatuhi hukuman yang ringan, yakni hanya enam bulan penjara dengan masa percobaan delapan bulan dan denda Rp 5 juta serta subsider satu bulan, seperti dilaporkan Kompas Online pada 18 September 2014 (http://regional.kompas.com/read/2013/09/18/2201049/Alihkan.Mangrove.Jadi.Sawit.Sutrisno.Dihukum.6.Bulan). Artinya sang pelaku tidak dipenjara, hanya hukuman percobaan.

Berjuang merehabilitasi mangrove yang rusak
Kelompok Tani Mangrove Keluarga Bahari Kabupaten Langkat kemudian secara swadaya mulai melakukan rehabilitasi lahan mangrove yang telah berhasil dibebaskan. Secara swadaya kelompok ini juga telah melakukan penanaman mangrove seluas ± 70 ha. Meskipun demikian berbagai bentuk intimidasi sering mereka dapatkan, antara lain berupa perusakan persemaian atau tanaman mangrove di lokasi rehabilitasi ataupun intimidasi pada nelayan yang terlibat dalam program rehablitasi secara langsung. Namun hal tersebut tak menyurutkan langkah mereka untuk merehabilitasi hutan mangrove yang telah rusak dan menjaga yang masih baik bersama masyarakat nelayan. Selain itu, pendekatan kepada pihak pemerintah terkait terus dilakukan.
Dukungan pihak pemerintah secara nyata oleh pihak nelayan mulai dirasakan pada tahun 2012. Kelompok nelayan ini mendapatkan dukungan program dari Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II yang berkedudukan di Medan untuk merehabilitasi 25 ha lahan mangrove yang rusak yang lokasinya bersebelahan dengan 70 hektar lahan mangrove yang telah mereka rehabilitasi sebelumnya secara swadaya. Dukungan pihak BPHM Wilayah II ini semakin mengokohkan perjuangan nelayan setempat. Selanjutnya, dukungan diperoleh dari Pemerintahan Kabupaten Langkat, dan Bupati Langkat hadir dan ikut menanam mangrove sebagai tanda Program Pembuatan Areal Model Rehabilitasi Mangrove yang bekerjasama dengan BPHM Wilayah II dimulai diimplementasikan.
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan anggota kelompok tani, namun juga nelayan sekitar yang tak termasuk kelompok tani. Jumlah pengurus dan Kelompok Tani Mangrove Keluarga Bahari ini adalah 175 orang yang tersebar di 7 desa yang tercakup dalam 3 kecamatan (Sei Lepan, Brandan Barat, dan Babalan), Kabupaten Langkat.
Dukungan pada upaya kelompok nelayan terus bertambah. Pada tahun 2012 juga, kelompok ini bekerjasama dengan KLH dalam rehabilitasi mangrove seluas 25 ha dengan jumlah bibit sekitar 80.000 batang. Pada tahun yang sama bersama pasukan Marinir mereka menanam sekitar 50.000 batang mangrove pada areal mangrove bekas konversi tersebut. Selanjutnya pada tahun 2013, kelompok ini kembali mendapat kepercayaan dari pihak BPDAS Wampu Sei Ular untuk melaksanakan pembuatan bibit mangrove untuk rehabilitasi mangrove dengan luas 304 ha pada kawasan register L/8.
Fasilitasi pembuatan areal model rehabilitasi mangrove seluas 25 ha oleh BPHM II sangat membantu dan meningkatkan kepercayaan kelompok dalam melanjutkan rehabilitasi mangrove pada kawasan tersebut karena dukungan lembaga resmi pemerintah, yakni BPHM II, Pemerintahan Kabupaten Langkat, BPDAS, KLH dan Marinir. Pada sisi lain, hal ini juga menyebabkan berkurangnya tingkat gangguan dan ancaman dari pihak-pihak yang diduga dari kelompok/kaki tangan perusahaan yang sebelumnya telah mengkonversi kawasan register tersebut.
Meskipun tingkat tekanan dan ancaman mulai berkurang, serta kehadiran nelayan, namun pada malam hari tanggal 7 Juli 2013 pembibitan yang dibuat kelompok diduga disiram minyak mentah oleh orang tak dikenal. Sehingga, 200.000 batang dari 800.000 batang bibit mangrove yang sedang di persemaian mengalami kerusakan/kematian. Kasus ini juga telah dilaporkan kelompok kepada pihak kepolisian, namun sampai sekarang belum ditemukan tersangkanya. Untuk sementara, penjagaan secara bergilir oleh anggota kelompok merupakan upaya menjaga keamanan kegiatan kelompok di lapangan.

Evaluasi keberhasilan rehabilitasi
Tingkat hidup tanaman pada areal model rehabilitasi berkisar antara 65-75% pada pertengahan tahun 2013. Penyebab utamanya diduga akibat tingginya kandungan pirit pada lahan mangrove yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indikasi kehadiran pirit tanah pada lahan areal model rehabilitasi tersebut dapat dilihat pada lapisan coklat keperakan pada permukaan air. Kandungan pirit pada areal akar tanaman (atau sekitar 0-50 cm) bersifat racun bagi tanaman mangrove, sehingga menghambat pertumbuhan sampai menyebabkan kematian. Pada areal demikian, disarankan dilakukan pencucian lahan terlebih dahulu sebelum kegiatan penanaman dilakukan. Proses pencucian pirit tanah dapat dilakukan dengan menjebol sebanyak mungkin tanggul yang dibagun oleh perkebunan kelapa sawit, sehingga aliran pasang surut berjalan lancar yang sekaligus proses pencucian lahan tersebut terus berjalan.
Program ini sekarang manfaatnya telah mulai dirasakan. Pembukaan kanal-kanal dan anak-anak sungai yang sebelumnya ditutup oleh perkebunan kelapa sawit telah memungkinkan perkembang biakan biota air, sehingga hasil tangkap nelayan perlahan-lahan kembali meningkat. Saat survey lapangan, masyarakat nelayan lokal telah kembali menjaring ikan dan udang. Perangkap kepiting bakau yang sebelumnya terhenti ketika kawasan tersebut dikuasai perkebunan sawit ilegal sebelumnya, kini mulai tampak lagi. Kehadiran nelayan ini, secara otomatis juga meningkatkan pengamanan kawasan termasuk tanaman mangrove hasil rehabilitasi.

Tindakan kedepan
Agar upaya pelestarian mangrove terus berjalan dan berhasil, kelembagaan rehabilitasi yang telah ada di kawasan tersebut perlu terus diperkuat. Peningkatan kapasitas kelompok untuk mengelola sebagai kawasan wisata mangrove perlu didukung, termasuk kapasitas untuk membuat berbagai makanan dan minuman hasil olahan dari bagian selain kayu tumbuhan mangrove, serta dukungan pemasaran produk-produk tersebut. Dengan demikian, tidak hanya hasil tangkap biota peraiaran yang meningkat, namun hasil penjualan jasa wisata mangrove dan berbagai produk olahan dari hutan mangrove selain kayunya.
Semoga program rehabilitasi mangrove yang sedang berjalan dapat berhasil, sehingga mampu memulihkan kembali fungsi ekosistem hutan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir dan mendukung kecukupan gizi anak bangsa dari berbagai hasil tangkap biota perairan dan hasil hutan mangrove selain kayu, seperti lebah madu dan berbagai makanan dan minuman berbahan baku bunga, buah dan daun mangrove.

Ucapan terima kasih.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak BPHM Wilayah II atas fasilitasi survey lapangan.

Artikel versi WKLB 23 (1) Nelayan berjibaku selamatkan mangrove

Read Full Post »