Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Mangrove restoration/rehabilitation’ Category

 

[tulisan ini pertama diterbitkan di Mongabay Indonesia pada 2 Januari 2016: http://www.mongabay.co.id/2016/01/02/mencermati-kondisi-mangrove-11-tahun-pasca-tsunami-aceh/]

 

Mencermati Kondisi Mangrove 11 Tahun Pasca Tsunami Aceh

Picture1

Kita baru saja memperingati 11 tahun tsunami Aceh. Waktu berjalan terasa begitu cepat. Tak terasa telah 11 tahun sudah bencana alam berupa gempa sangat kuat yang memicu tsunami besar pada 26 Desember 2004 berlalu. Saking dahsyatnya, tsunami itu tidak saja melanda pesisir utara Sumatera, namun juga wilayah pesisir di 13 negara lainnya di Samudera Indonesia/India sampai pantai timur Afrika. Meski demikian, ingatan kita tak akan lupa akan besarnya dampak yang diakibat oleh bencana alam itu. Sejarah mencatat,  sebagaimana dilaporkan oleh Athukorala dan Resosudarmo tahun 2006, bahwa kombinasi gempa dan tsunami di akhir tahun 2004 itu menyebabkan korban manusia dan kerugian terbesar dalam sejarah kehidupan manusia di bumi sampai saat ini. Dan kerusakan terberat dan korban terbanyak terdapat di Aceh.

Selain berita kesedihan, tsunami itu juga memberi pelajaran penting bagi kita. Salah satu pelajaran pentingnya adalah hutan mangrove yang sehat mampu menjadi benteng, peredam tsunami, sehingga mampu mengurangi dampak kerusakan tsunami. Fakta-fakta di lapangan seperti banyak dilaporkan oleh banyak peneliti sesaat setelah tsunami melanda bahwa perkampungan yang berada di belakang hutan mangrove yang lebat selamat dari terjangan tsunami. Sebaliknya, kerusakan berat serta korban nyawa banyak terjadi pada perkampungan yang berhadapan langsung dengan laut atau hutan mangrovenya telah rusak atau hilang sebelum tsunami melanda. Pada kasus hutan mangrove yang rusak malah dapat meningkatkan daya rusak tsunami karena (1) tsunami tersebut membawa pepohonan mangrove yang tumbang karena tegakannya sudah tidak kompak sebelum tsunami tiba dan atau (2) fragmentasi hutan mangrove menyebabkan aliran tsunami teralirkan kepada celah-celah mengikuti fragmentasi hutan sehingga arusnya semakin kuat.

Mangrove Aceh sebelum tsunami dan dampaknya

Sebelum tsunami melanda sebagian besar lahan pasang surut pantai Aceh sudah tak ditumbuhi mangrove. Chen dkk (2005) melaporkan bahwa pada tahun 2004, mangrove di Aceh Besar dan Banda Aceh hanya sekitar 0,5% saja dari areal pesisir, dan hutan pantai jauh lebih kecil lagi, hanya sekitar 0,2% saja. Sebagian besar hutan mangrove telah dikonversi menjadi tambak. Hutan mangrove dan hutan pantai yang tersisa itupun dalam kondisi terfragmentasi.

Hal yang sama juga dilaporkan oleh BAPPENAS dan The International Donor Community (2005) untuk seluruh kawasan pesisir Aceh diinformasikan bahwa pada tahun 2000, hutan mangrove yang bagus hanya 30.000 ha (8,8%) yang sebagian besar terdapat di Pulau Simeulue, 286.000 ha (83,9%) ) dalam kondisi rusak sedang dan 25.000 ha (7,3%) rusak berat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebagian besar kawasan pesisir Aceh tanpa pelindung alami ketika tsunami di akhir tahun 2004 melanda.

Pulau Simeulue yang terletak paling dekat dengan pusat gempa dan tsunami, namun tingkat kerusakan dan jumlah korban nyawa yang ditimbulkan sangat sedikit dibandingkan daerah pesisir lainnya, seperti Banda Aceh dan Aceh Besar. Selain memiliki hutan mangrove yang masih terjaga baik, warga Simeulue juga memiliki kearifan lokal yang dikenal dengan budaya Smong. Ketika gempa besar terjadi, mereka dengan segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Respon cepat tersebut karena mereka tahu bahwa setelah gempa besar, akan diikuti oleh naiknya air laut yang sekarang dikenal dengan tsunami. Ini adalah pengetahuan yang disampaikan secara turun temurun melalui cerita dan lagu oleh penduduk Simeulue sebagai pelajaran dari tsunami tahun 1907 yang melanda kawasan tersebut. Kearifan lokal seperti Smong tersebut, saat tsunami 2004 melanda, belum dimiliki oleh sebagain warga pesisir Aceh di daratan utama Sumatera, ditambah lagi dengan kerusakan dan kehilangan hutan mangrove yang telah terjadi.

Mangrove Aceh kini dan tantangannya

Pasca tsunami, perhatian untuk penyelamatan mangrove yang masih baik dan rehabilitasi mangrove yang rusak meningkat dengan tajam. Sampai akhir tahun 2006 saja sekitar 30 juta bibit mangrove telah ditanam oleh berbagai lembaga baik lokal, nasional dan internasional pada areal terdampak tsunami di Aceh sebagaimana dilaporkan oleh Wibisono dan Suryadiputra. Bila dengan jarak tanam 1 x 1 m, maka 3.000 ha lahan mangrove dapat tertanam. Jumlah bibit mangrove yang ditanam sampai akhir operasional BRR tahun 2009 tentu lebih besar lagi atau 5 tahun pasca tsunami. Apa lagi bila sampai saat ini, dimana rehabilitasi mangrove yang rusak tetap menjadi program prioritas pemerintah dan berbagai lembaga lainnya pasca BRR selesai melaksakan mandatnya.

Hasil analisis spasial yang dilakukan penulis sampai satu dasawarsa pasca tsunami pada daerah terdampak tsunami di Banda Aceh dan Aceh Besar terlihat bahwa tingkat pemulihan mangrovenya baru mencapai 70% dari kondisi tahun 2004 atau sesaat sebelum tsunami. Padahal, sebagian besar kegiatan rehabilitasi mangrove pasca tsunami dilakukan di lokasi tersebut. Apa sebab? Berdasarkan hasil observasi lapang dan laporan dari berbagai lembaga diketahui bahwa pada 2 tahun pertama kegiatan rehabilitasi tingkat keberhasilan rehabilitasi tergolong rendah atau gagal. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti rendahnya kualitas bibit, kesalahan penanganan di persemaian, kesalahan dalam pemilihan lokasi tanam dan persiapan lahan yang kurang, kurangnya pengalaman dalam rehabilitasi mangrove dan atau konflik kepentingan. Kelemahan dan kesalahan serupa masih ditemukan sampai saat ini, meski dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan 2 tahun pertama pasca tsunami.

Picture4

Berdasarkan pengamatan terkini, pada beberapa lokasi, hutan mangrove hasil rehabilitasi tumbuh dengan baik. Berbagai jenis biota air dan burung-burung air kembali hadir. Menunjukan hutan mangrove hasil rehabilitasi kembali pulih fungsinya. Namun demikian, ditemukan pula perusakan terhadap hutan mangrove hasil rehabilitasi, padahal sebelumnya mangrove telah tumbuh dengan baik. Kegiatan perusakan tersebut berupa penebangan dan juga pengalihfungsian dari hutan mangrove menjadi penggunaan lain. Hal ini tentu menjadi tantangan ke depan bagaimana menjamin kelestarian hutan mangrove hasil rehabilitasi, apalagi yang berada di kawasan milik, bukan hutan negara.

Picture8

Picture7

Selain perusakan hutan mangrove hasil rehabilitasi, juga dijumpai upaya penjualan hutan mangrove hasil regenerasi alami dengan baik di Gampong Jawa, Banda Aceh. Hal ini karena lahan tersebut berupa lahan milik. Penulis mengusulkan, agar pemerintahan Kota Banda Aceh atau pemerintahan Aceh dengan skema yang memungkinkan untuk memiliki lahan mangrove tersebut dan kemudian dijalakan kawasan lindung atau konservasi. Hutan mangrove tersebut bila dikelola demikian akan menjadi monument bagi generasi yang akan datang, dan sekaligus akan menjadi benteng alami serta juga sebagai tempat hidup biota perairan. Hal ini dalam jangka panjang akan menjamin populasi biota perairan dan pada akhirnya akan menjaga ketahanan ekonomi masyarakat pesisir di wilayah tersebut.

Picture5

Oleh karena itu, masih terdapat banyak pekerjaan rumah untuk memulihkan kondisi mangrove Aceh. Kerjasama yang baik antara pemerintah, warga dan berbagai lembaga terkait menjadi salah satu kunci utama. Kunci berikutnya adalah menghadirkan jembatan keseimbangan antara aspek ekologi, sosial dan ekonomi dan aktivitas rehabilitasi dan pengelolaan mangrove. Semoga itu mampu kita hadirkan.

Onrizal

Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

Email: onrizal@usu.ac.id

Read Full Post »

Wanamina 2014

BPK dan Perannya dalam Pelestarian Mangrove
Pasca tsunami 26 Desember 2004, perhatian terhadap sumberdaya mangrove semakin meningkat. Kerusakan hutan mangrove telah memicu berbagai bencana ekologi. Pada sisi laian, hutan mangrove yang baik tidak saja memberikan keuntungan secara sosial, ekonomi dan budaya, namun jug mampu meredam dan meminimalisir kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami. Fakta-fakta ini lan yang membuka mata masyarakat dunia untuk melestarikan sumberdaya mangrove dan merehabilitasi mangrove yang telah rusak.
Berbagai upaya rehabilitasi mangrove yang rusak telah banyak dilakukan dengan dukungan mulai dari tingkal lokal, nasional, regional sampai dunia internasional. Demikian pula lembaga kementerian Republik Indonesia dan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) yang cakupan kegiatannya mencakup ataupun beririsan dengan sumberdaya mangrove membuat dan melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove yang rusak baik secara langsung maupun menyokong atau memfasilitasi pihak lembaga non pemerintah dalam kegiatan rehabilitasi mangrove.

Mengingat dana yang digunakan oleh pemerintahan pusat maupun daerah untuk kegiatan rehabilitasi mangrove merupakan keuangan negara, sehingga kegiatannya harus dapat dipertanggung jawabkan. Dalam konteks ini, para pemeriksa (auditor) Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) Republik Indonesia yang oleh UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara diberikan kewenangan kepada BPK untuk melaksanakan pemeriksaan atau pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, termasuk didalamnya aset negara berupa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, serta biaya/kewajiban untuk mengelola aset tersebut. Dengan demikian peran para pemeriksa BPK antara lain adalah turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan dengan mengintegrasikan perspektif lingkungan dalam langkah-langkah pemeriksaan yang akan dilakukan pada setiap jenis pemeriksaan, termasuk pemeriksaan kegiatan rehablitasi mangrove. Dalam konteks ini, pemeriksa BPK berperan untuk memastikan sumberdaya keuangan negara yang digunakan dalam kegiatan rehabilitasi mangrove dapat dipertanggungjawabkan dan mencapai tujuan sebagaimana yang diamanatkan.

Selengkapnya di Wanamina 2014

Read Full Post »

Buletin WANAMINA (Wahana Berita Mangrove Indonesia) 2014 (2): 6-11

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yakni 3.112.989 ha atau ~ 22,6% dari luar total mangrove dunia yang seluas 13.776.000 ha (Giri et al. 2011). Namun demikian, Indonesia juga menyumbang kerusakan hutan mangrove terbesar dibandingkan negara-negara lain. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menginformasikan bahwa hutan mangrove Indonesia yang rusak mencapai 57,6% (RLPS, 2001). Berbagai dampak negatif akibat kerusakan mangrove telah dirasakan, seperti berkurangnya populasi ikan dan malah banyak jenis-jenis ikan yang hilang, abrasi pantai, air tanah yang menjadi asin karena intrusi air laut, banjir rob seperti sekarang yang rutin “menenggelamkan” permukiman di pantai utara Jakarta ketika bulan purnama dan berbagai dampak negatif lain. Oleh karena itu, hutan mangrove yang rusak perlu direhabilitasi sebagai bagian dari upaya pemulihan fungsi dan manfaat hutan mangrove bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Berbagai program rehabilitasi mangrove yang rusak telah banyak dilakukan dengan tingkat keberhasilan dari rendah (gagal) sampai sukses. Salah satu langkah penting untuk menjamin keberhasilan program rehabilitasi mangrove diawali dengan merancang kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai secara terpadu dan partisipatif.

rehabmng

Konsep Rehabilitasi Mangrove
Rehabilitasi ekosistem mangrove adalah tindakan sebagian atau (lebih jarang) sepenuhnya menggantikan karakteristik struktural atau fungsional dari suatu ekosistem mangrove yang telah berkurang atau hilang, atau pengganti yang berkualitas atau karakteristik ekosistem mangrove hasil rehabilitasi memiliki lebih banyak nilai sosial, ekonomi atau ekologi dibandingkan dengan keadaan lahan mangrove yang terganggu atau terdegradasi. Dengan demikian, rehabilitasi ekosistem mangrove merupakan kegiatan pemulihan lahan mangrove yang terdegradasi ke ekosistem mangrove yang dapat berfungsi kembali terlepas dari keadaan asli dari lahan yang terdegradasi tersebut. Restorasi mangrove adalah tindakan membawa ekosistem mangrove ke, sedekat mungkin, dengan kondisi aslinya (Gambar 1). Dengan demikian, restorasi merupakan kasus khusus dari rehabilitasi (Field, 1998, 1999)
Rehabilitasi termasuk didalamnya restorasi ekologi merupakan salah satu cabang ekologi yang paling menantang (Bradshaw, 1987). Namun demikian, rehabilitasi ekosistem mangrove memiliki tantangan yang lebih lagi karena merupakan ekosistem alam yang sangat dinasmis sebagai akibat pengaruh pasang surut air laut serta gangguan akibat manusia dan alam (natural and anthropogenic disturbances) (Biswas et al., 2009).
Restorasi ekologi menurut Society for Ecological Restoration (2002) adalah proses untuk membantu pemulihan suatu ekosistem yang telah terdegradasi, rusak atau hancur. Namun demikian, seringkali tidak praktis menuntut pemulihan total dari ekosistem mangrove ke kondisi semula (kondisi sebelum mengalami gangguan; pre-disturbance state). Akan terdapat gap (perbedaan) antara kondisi ekosistem mangrove yang alami (tidak terganggu atau gangguan alam dengan intensitas dan frekuensi yang rendah) dengan ekosistem mangrove hasil rehabilitasi. Tujuan rehabilitasi (termasuk restorasi) adalah meminimalkan gap antara ekosistem alami dengan ekosistem hasil rehabilitasi (Gambar 2) (Biswas et al., 2009).

Selengkapnya di Isi Edisi2 Tahun 2014_Onrizal artikel

Read Full Post »

burung airBurung-burung air kembali hadir pada kawasan mangrove hasil rehabilitasi di Banda Aceh. Sebelumnya kawasan ini terdampak tsunami 26 Desember 2004. Kehadiran berbagai jenis burung air ini menjadi salah satu indikator mulai pulihnya kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

 

 

Read Full Post »

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15#save mangrove, #save our life

Disampaikan pada Rapat Koordinasi Regional Kelompok Kerja Mangrove Daerah se Wilayah Kerja BPHM-II di Hotel Mercure, Batam, 17 – 18 Oktober 2013

Read Full Post »

Assalamualaikum,

Salam Mangrovers,

Wanamina 2013e3

Baru saja saya mendapatkan kiriman Wanamina (Wahana Berita Mangrove Indonesia) edisi ke 3 tahun 2013. Berikut daftar isinya:

Laporan Utama
Mangrove Sum berdaya Alam Penting Yang Terancam … 1
Oleh : Onrizal
Artikel
Bekantan (Nasalis lavartus) Primata Endemik Hutan Mangrove Kalimantan … 10
Oleh: Rita Savitri C. Sinaga, S,Hut
Profil
Masyarakat Peduli Pelestarian Hutan Mangrove di Desa Sei Nagalawan Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara … 14
Oleh : Nurul Muslikah, S.Pi
Berita Gambar … 17
Artikel
Menilik Potensi Kawsan Bergambut Sebagai Salah Satu Ekositem Lahan Basah Yang Harus Dipulihkan … 20
Oleh : Ika Noor Muslihah M, S.Si
Artikel
Hutan mangrove sebagai Benteng Kawasan Pesisir … 27
Oleh : Susan Natalia Tarigan, S.Hut
Liputan
Pelatihan Pendidikan Lingkungan Bagi Anak Sekolah Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara … 32
Oleh Tri Susmalinda, S.Si dan Abdullah Okta Eriza
File selengkapnya dapat diunduh di:

Cover Wanamina Edisi 3 tahun 2013;

Dafis dan Kata Pengantar

Buletin edisi 3 BPHM_Artikel

Read Full Post »

Wanamina 2013 (3): 1-9

Mangrove: sumberdaya alam penting yang terancam

Onrizal

Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
Jl Tri Darma Ujung No 1, Kampus USU Medan 20155.
Email: onrizal@usu.ac.id, onrizal@gmail.com

Pendahuluan

Mangrove terdapat di pantai tropika dan sub-tropika (Chapman 1976, Tomlinson 1986), dan secara geografis, mangrove tersebar antara 30oLU – 30oLS (Gambar 1) (Giri et al., 2011). Ekosistem mangrove menyediakan berbagai jenis barang dan jasa bagi komunitas baik pada level nasional maupun internasional (FAO, 1982, Hamilton & Snedaker 1984, Aksornkoae, 1993, Dahdouh-Guebas et al. 2000, Johsi et al., 2006).

Peta Sebaran mangrove dunia

Hutan mangrove di sepanjang kawasan pesisir pantai merupakan sumberdaya alam yang sangat penting bagi manusia dan lingkungan. Nilai penting mangrove terutama pada keunikan fungsinya berupa fungsi ekologi, fungsi ekonomi dan fungsi lindung. Fungsi utama hutan mangrove mencakup (a) sebagai habitat flora dan fauna, (b) penghasil kayu olahan, tiang, kayu bakar, bahan baku arang bakau, dan serat, (c) penghasil berbagai hasil hutan bukan kayu (HHBK), seperti tanin, madu lebah, lilin madu lebah dan lain-lain, (d) sebagai tempat pembiakan (breeding ground) dan pengasuhan (nursery ground) bagi ikan, krustase, moluska, dan berbagai jenis daratan dan peraiaran pantai lainnya, (e) pengatur iklim mikro, (f) pelindung pantai dari erosi, (g) peningkatan pengendapan sedimen/pertambahan lahan, (h) penyuplai hara melalui jatuhan serasah ke kawasan pesisir pantai untuk mendukung produktivitas perairan pantai, (i) mengurangi dampak bencana alam, seperti tsunami, angin badai, dan perubahan drastis pasang surut, dan (j) perbaikan lingkungan melalui penyerapan karbon dan bahan pencemar lainnya (Macnae 1968, Aksornkoae, 1993, FAO, 1993, 1994, Fransworth & Ellison 1997, Kusmana et al., 1997, Soeroyo & Sapulete, 1998, Aprilwati, 2001, Joshi et al., 2006, Walton et al. 2006, Le et al., 2007, Dahdouh-Guebas & Pulukkuttige, 2009, Onrizal et al, 2009, Ostling et al., 2009, Onrizal, 2012a, 2012b).

Fungsi dan manfaat mangrove sudah dikenal dengan baik secara luas, namun karena akses yang mudah serta nilai guna komponen biodiversitas dan lahan yang tinggi telah menjadikan sumberdaya mangrove sebagai sumberdaya alam yang terancam kelestariannya (Valiela et al., 2001, Onrizal, 2005). Dalam kurun waktu 1980 – 2000 (20 tahun), hutan mangrove dunia telah hilang sebesar 35% (Valiela et al., 2001, MA, 2005), dan hutan mangrove Indonesia dalam kurun waktu 1989-2009 (20 tahun) telah hilang sebesar 851.511 ha atau berkurang sebesar 20,8% (Onrizal, 2013), yakni dari 4.098.527 ha pada tahun 1989 (Giesen et al. 1991) berdasarkan hasil RePProt (1985-1989) menjadi 3.247.016 ha (Bakosurtanal, 2009) berdasarkan hasil analisis citra landsat terbaru.

Kehilangan mangrove seluas 851.511 ha dalam kurun waktu 20 tahun (1989-2009) itu setara dengan 1,5 kali luas negara Brunai Darussalam, yakni 5.770 km2. Angka tersebut juga menjadikan laju kehilangan rata-rata mangrove Indonesia sekitar 42.575,6 ha/tahun atau setara dengan 61% dari luas negara Singapura, yakni 697 km2. Artinya, tidak sampai dua tahun, luas mangrove Indonesia yang hilang melebihi luas negara Singapura. Apakah kita masih bisa bersantai-santai saja?

Meskipun mangrove terus terancam kelestariannya, namun berbagai aktivitas penyebab kerusakan hutan mangrove terus terjadi dan adakalanya dalam skala dan intensitas yang terus meningkat (Primavera, 2005, Dave, 2006). Akibatnya, laju kehilangan hutan mangrove semakin cepat dibandingkan dengan kehilangan hutan tropis daratan dan terumbu karang (Duke et al., 2007). Hal ini telah menyebabkan penurunan produktivitas ekosistem mangrove dan pesisir pantai (Primavera, 2005, Dave, 2006) dan menjadikannya sebagai salah satu pusat dari isu lingkungan global.

Selengkapnya di Mangrove yang terancam

Cover Wanamina tahun 2013 edisi ke 3

Read Full Post »

Older Posts »