Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Menanam Yok’ Category

Isu perubahan iklim semakin hangat dibicarakan. Tak hanya berhenti pada tahap pembicaraan, tapi berlanjut pada tindakan sebagai respon perubahan iklim tersebut, baik upaya mitigasi maupun adaptasi.

Para ahli perubahan iklim menyatakan bahwa peningkatan emis gas-gas rumah kaca (GRK) diantaranya gas karbon yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia telah memicu perubahan iklim.

Nah, berapa emisi karbon yang kita hasilkan? Tak hanya berhenti disitu, kitapun bisa “menyerap” gas karbon, tepatnya karbon dioksida (CO2) dari udara melalui penanaman pohon. Berapa pula CO2 yang diserap oleh poho atau tanaman lain yang kita tanam.

Ingin tahu? Kini Dewan Nasional Perubahan Iklim telah menyediakan “tool” untuk kita menghitung emisi dan serapan karbon dari berbagai aktivitas kita. Silahkan kunjungi Kalkulator Karbon: http://kalkulator.dnpi.go.id/apps/dnpi/cgi-bin/dw.cgi

Advertisements

Read Full Post »

Bumi makin panas, dampak pemanasan global semakin terasa, lahan kritis makin bertambah. Global warming telah menjadi issue dunia sejak beberapa dekade ini.

Banyak cara yang bisa dilakukan. Industri ramah lingkungan, energi terbarukan, dsb. Namun salah satu yang penting adalah menanam pohon. Mengapa? Pohon, sebagaimana tumbuhan hijau lainnya melakukan fotosistesis yang antara lain memanfaatkan gas CO2 (Karbondiokasida) sebagai salah satu gas rumah kaca (GRK) yang jumlahnya semakin meningkat di udara dan memicu pemanasan global. Sehingga pohon mampu menjaga konsentrasi GRK, khususnya CO2 di udara.

Pohon juga mampu menyerap dan menjerap zat pencemar udara, tanah dan air lainnya. Pohon juga menghasilkan O2 (oksigen) yang dibutuhkan seluruh makhluk hidup. Masih banyak lagi kegunaan pohon bagi kehidupan yang lebih baik.

Menanam itu mudah, bisa kita lakukan kapan saja, murah dan menyehatkan.

Saya mengajak berbagai elemen, termasuk pengguna jaringan sosial FB, groups, dsb untuk menginisiasi Penanaman Pohon Serentak Se-Indonesia sebagai kesadaran bersama untuk membangun dan menghadirkan lingkungan yang bersahabat, kehidupan yang lebih baik untuk masa kini dan masa datang.

Bagi yang mau berminat silahkan bergabung!

Go green. Selamatkan bumi kita, save the earth.

FORM INISIASI PENANAMAN POHON SERENTAK SE-INDONESIA

Onrizal – 20 July 2009 (onrizal03@yahoo.com; onrizal@gmail.com)

Read Full Post »

Bersama Rimbawan Muda: Sepenuh Hati Merehabilitasi Hutan Mangrove di Pulau Sembilan, Sumatera Utara

Hasil inventarisasi BP DAS Wampu Sei Ular tahun 2006 diketahui tidak sampai 10% hutan mangrove dalam kondisi baik di Kab. Langkat. Selebihnya dalam kondisi rusak dan rusak berat. Konversi hutan mangrove dan penebangan hutan mangrove yang berlebihan menjadi penyebab utama kerusakan hutan mangrove di wilayah tsb dan juga wilayah lain di Indonesia (JICA & RLPS, 2005) dan bahkan 35% kerusakan hutan mangrove di dunia (Valiela et al., 2001).

Hutan mangrove di sepanjang pantai dan sungai-sungai yang terdapat dalam hutan mangrove menyediakan habitat bagi berbagai hasil perikanan pantai, seperti ikan, udang, kepiting dsb. Lebih dari 80% jenis ikan laut baik komersial maupun untuk hiasan di Florida, AS sangat tergantung pada keberadaan hutan mangrove pada beberapa tahapan kehidupan biota laut tersebut (Hamilton & Snedaker, 1984). Hutan mangrove juga berkontribusi terhadap 67% hasil tangkap nelayan di Australia bagian timur (Hamilton & Snedaker, 1984), 49% ikan demeresal yang tertangkap di Selat Malaka bagian tenggara (Macinthos, 1982).

Kerusakan mangrove di Kab. Langkat telah memicu hilangnya Pulau Tapak Kuda, meningkatkan laju abrasi (Onrizal & Kusmana, 2008), serta menurunnya hasil tangkap dan sekaligus mengurangi pendapatan nelayan sampai 45% (Purwoko, 2005; Onrizal et al. 2009). Oleh karena itu, rehabilitasi hutan mangrove yang rusak menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.

Pada 14 Juni 2009 lalu, saya bersama Rimbawan muda, mahasiswa semester 4 Dept. Kehutanan USU melakukan penanaman mangrove yang rusak di Pulau Sembilan, Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara. Areal yang menjadi sasaran rehabilitasi adalah areal tambak milik Bapak Grendel. Areal tambak tersebut sudah tidak produktif lagi untuk budidaya ikan maupun udang. Sebagian kecil areal lainnya digunakan Bapak Grendel untuk budidaya kepiting yang masih bisa bertahan.

Pada pagi hari itu telah ditanam 1.000 dari 3.000 bibit mangrove bantuan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat. Sisa bibit lainnya (2.000) ditanam oleh grup kedua rimbawan muda yang melakukan praktek di Pulau Sembilan. Rencananya 3.000 bibit mangrove jenis Rhizophora apiculta tsb  akan ditanam sekaligus, namun karena bibitnya datang terlambat dan air lagi surut sehingga tidak memungkin untuk membawa keseluruhan bibit ke lokasi penanaman.

Sebelumnya pada bulan April 2009, saat membimbing mahasiswa kehutanan USU praktek m.k. Ekologi Hutan (Semester 4) dan Dendrologi (Semester 2) juga dilakukan kegiatan penanaman mangrove di Pulau Sembilan. Lokasi yang menjadi sasaran adalah pematang tambak dan tepi sungai atau pantai.

Dengan penuh senyum dan semangat, para peserta penanaman mangrove untuk rehabilitasi mangrove dengan pola sylvofishery tsb menyelesaikan kegiatan penanaman dengan penuh suka cita. Semoga bibit yang ditanam tumbuh baik, sehingga hutan mangrove di kawasan tsb kembali pulih dan kembali menjadi tempat biota pesisir pantai seperti ikan, udang, kepiting dan sebagainya untuk berkembangbiak dengan baik dan akhirnya kembali mampu meningkatkan pendapatan nelayan dan masyarakat pesisir. Semoga.

0

 

1

 

2

 

3

 

4

 

5

Read Full Post »

Mangrove Pulau Sembilan: Akankah menjadi primadona kembali?

Onrizal

Pulau Sembilan merupakan salah satu pulau di pesisir timur Sumatera Utara, tepatnya di Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. Pulau tersebut dapat ditempuh dari Medan dengan bus sekitar 2,5 jam, kemudian dilanjutkan dengan naik boat selama kurang lebih 30 menit.

Ketika akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an booming pembukaan tambak, sebagian besar hutan mangrove yang mengelilingi pulau tersebut dikonversi menjadi tambak. Masyarakat meminta izin aparat desa dan kecamatan untuk membuka hutan mangrove kemudian diusakan untuk budidaya udang, bandeng dan berbagai jenis produk perikanan lainnya. Pada beberapa tahun awal konversi tersebut, budidaya tambak sangat produktif sehingga perekonomian masyarakat di pulau tersebut meningkat dengan tajam. Atas dasar prestasi tersebut, kelompok tambak Pulau Sembilan meraih Juara Nasional dalam intensifikasi tambak dan mendapat penghargaan dari Presiden RI ketika itu.

Setelah berjalan sekitar 5 tahun, kondisi mulai berbalik. Sebagian besar tambak tersebut mulai diserang banyak penyakit. Ikan dan udang yang ditabur tidak sampai umur panen, tiba-tiba mati mendadak. Kepala Desa Pulau Sembilan Bapak Ishak menginformasikan bahwa bibit udang yang ditanam hanya bertahan kurang dari satu bulan, kemudian mati hampir serempak. Kasus tersebut telah pernah disampaikan kepada pihak dinas terkait dan telah pernah dilakukan survey untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut. Namun sampai saat ini belum ada penjelasan tentang hasil survey tersebut. Salah seorang tokoh masyarakat, Bapak Burhan, menduga, kondisi tersebut akibat akumulasi pencemaran akibat penggunaan bahan kimia yang selama ini dipraktekkan dalam budidaya tambak.

Sebagian besar tambak desa tersebut telah ditinggalkan begitu saja dan malah ada yang mulai dijual untuk dikonversi menjadi sawit. Selain konversi menjadi tambak, kerusakan mangrove di Pulau Sembilan juga disumbang oleh penebangan yang tidak terkendali untuk bahan baku arang kayu. Penebangan dijumpai pada jalur hijau mangrove yang saat ini lebarnya hanya 5-10 m. Pohon-pohon dari kelompok Rhizhopora (bakau) dan Bruguiera (mata buaya) merupakan kelompok utama yang ditebang untuk insdustri kayu arang. Akibat sempitnya jalur hijau mangrove dan penebangan pohon-pohon mangrove pada jalur hijau mangrove tersebut, abrasi mulai mengancam desa pulau tersebut.

Kepala Desa dan masyarakat desa sangat kawatir, kejadian hilanganya Desa Tapak Kuda yang juga berupa pulau di Tanjung Pura juga menimpa desa mereka akibat abrasi yang dipicu oleh kerusakan mangrove. Atas dasar kondisi tersebut, meskipun masih sangat kecil, inisiasi untuk memulai kegiatan rehabilitasi mangrove yang rusak di desa tersebut telah mulai tampak. Sejak tahun 2007, mangrove di desa tersebut telah menjadi sasaran kegiatan rehabilitasi mangrove dalam program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan). Selain itu, mahasiswa kehutanan USU telah menjadikan areal mangrove di desa Pulau Sembilan tempat laboratorium lapangan untuk belajar hutan mangrove dan terlibat dalam rehabilitasi hutan mangrove di pulau tersebut secara swadaya. Kegiatan pertama dilakukan pada bulan Juni 2008 selama 20 hari bersamaan dengan kegiatan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H), dan 13 November 2008.

Mudah-mudahan berbagai upaya pemulihan hutan mangrove di desa yang berupa pulau tersebut terus berjalan dengan baik, dan kembali mampu menjadi tempat berbagai biota perairan pantai untuk tumbuh dan perkembang. Pada akhirnya, ekonomi masyarakat di desa tersebut diharapkan kembali meningkat.

Read Full Post »

Mari Menanam

Onrizal

Ahad kemaren, 30 November 2008, saya bersama 5 orang asisten mendampingi mahasiswa Kehutanan USU semester 3 fieldtrip di Pulau Sembilan, Langkat sebagai bagian dari praktikum Dendrologi. Seperti kegiatan yang sama tahun lalu di Secanang Medan,  selain pengenalan flora fauna dan pemanfaatan mangrove, kami juga melakukan penanaman sebagai salah satu bentuk kepedulian untuk perbaikan kondisi hutan mangrove yang rusak khususnya dan hutan Indonesia umumnya.

9-cara-menanaman-mangrove

10-mahasiswa-bersemangat

 

Berikut press release yang telah kami kirimkan ke media massa (kalau terbit, mungkin besok)

Mahasiswa Kehutanan USU

One person ten trees: satu orang tanam sepuluh pohon

 

Ketika Jumat 28 November 2008 Presiden RI mencanangkan program Hari Menanam Pohon Nasional dengan motto One man one tree atau satu orang menanam satu pohon, maka pada Ahad 30 November 2008, mahasiswa Kehutanan USU melakukan penanaman hutan mangrove di Pulau Sembilan yang merupakan salah satu pulau yang termasuk wilayah Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. Kegiatan tersebut dinamakan one person ten trees atau satu orang menanam 10 pohon. Kegiatan ini, merupakan kegiatan kedua bagi mahasiswa Kehutanan USU menanam mangrove di Pulau Sembilan. Kegiatan pertama dilakukan pada bulan Juni 2008 lalu juga berupa one person ten trees.

1-briefing-di-kampusMengapa memilih Pulau Sembilan? Onrizal sebagai dosen pembimbing kegiatan tersebut menyatakan bahwa bagi kami Pulau Sembilan merupakan simbol bagaimana pengelolaan sumberdaya alam, khususnya hutan mangrove atau sering disebut hutan bakau yang dilakukan secara tidak seimbang telah mengakibatkan kerusakan lingkungan dan pada akhirnya menyengsarakan masyarakat.

2-menaiki-bus-untuk-berangkat3Pada era 1980-an, Pulau Sembilan pernah mendapatkan Juara Nasional dalam intensifikasi tambak. Kemudian di awal 2000 meraih peringkat 3 Nasional budidaya ikan kerapu dan usaha tangkap ikan kerapu. Atas prestasi tersebut, perwakilan masyarakat desa Pulau Semibilan menerima penghargaan dari Presiden Soeharto untuk intensifikasi tambak, dan dari Presiden Abdurrahman Wahid untuk budidaya ikan kerapu. Namun belakangan, sebagian besar tambak budidaya udang dan ikan yang terletak di sekeliling pulau tersebut tidak bisa diusahakan lagi, karena banyaknya serangan penyakit. 3-naik-kapal-menuju-pulau-sembilan

Kepala Desa Pulau Sembilan, Bapak Ishak menginformasikan luas tambak di desa mereka adalah sekitar 500 ha atau seperlima dari luasan pulau yang mereka huni, namun hampir hanya sekitar 10% yang masih bisa berproduksi meskipun hasilnya terus berkurang. Bapak Burhan, yang juga merupakan salah seorang tokoh masyarakat di Pulau Sembilan menambahkan bahwa hampir seluruh tambah di desa mereka telah tercemar. Sehingga udang yang ditabur, hanya bertahan sekitar setengah atau satu bulan, lalu mati. Sekitar setahun lalu pihak dinas perikanan atau pengaduan masyarakat telah meneliti ke tambak desa tersebut, namun sampai saat ini belum ada informasi hasilnya.

4-dosen-dan-asisten-di-atas-boat1Masyarakat desa menduga, pencemaran karena pupuk kimia yang telah lama mereka gunakan yang terakumulasi sejak tahun 1980-an lalu. Hampir sebagian besar hutan mangrove di desa tersebut telah berubah menjadi tambak yang sudah mati atau tidak diusahakan lagi.

Atas dasar itu, Onrizal yang saat ini juga sedang studi doktor di School of Biological Sciences, USM Malaysia dengan mendalami ekologi, rehabilitasi dan manajemen hutan mangrove sejak S1 di IPB menyatakan bahwa kami ingin berpartisipasi dalam memulihkan kembali kondisi hutan mangrove di Pulau Sembilan yang saat ini telah rusak.

5-sambutan-kadesKami mengajak para mahasiswa kehutanan USU untuk terjun langsung dalam perbaikan hutan yang hari ke hari kondisinya terus memprihatinkan. Pulau Sembilan yang pernah juara nasional kemudian kondisinya rusak, dan kami ingin menjadi bagian perbaikan, sehingga sumberdaya hutan mangrove di kawasan tersebut pulih dan kembali memberikan manfaat ekonomi dan ekologi, khususnya masyarakat Pulau Sembilan dan masyarakat di pesisir timur Sumatera Utara umumnya.

Kegiatan one person ten trees diikuti oleh 104 mahasiswa semester tiga Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan 5 orang asisten dan 1 orang dosen pembimbing. Awalnya direncanakan one person five trees, namun karena semangatnya peserta, akhirnya menjadi one person ten trees. Kegiatan diawali dengan persiapan di kampus kehutanan USU dan berangkat menuju Pangkalan Susu pada jam 7.00 pagi dengan menggunakan dua bus. Lalu menyeberang ke Pulau Sembilan menggunakan tiga boat. Rombongan tersebut di Pulau Sembilan disambut oleh Kepala Desa, Ketua LMD, beserta tokoh masyarakat desa Pulau Sembilan.

7-turun-ke-areal-mangrove6-diatar-tokoh-ke-lapangan

8-tambak-yang-telah-mati1

 

 

 

 

 

 

Kepala Desa sangat berterima kasih atas dipilihnya desa mereka untuk kegiatan tersebut. Selain berpartisipasi dalam pemulihan hutan mangrove yang telah rusak di desa mereka, Kepala Desa juga berharap tim Kehutanan USU juga bisa berkontribusi dalam mengatasi abrasi pantai yang terus terjadi di pulau mereka. Masyarakat desa kawatir kejadian pulau Tapak Kuda di Tanjung Pura yang hilang akibat abrasi juga menimpa desa mereka.

Dalam tanggapannya, Onrizal menyatakan bahwa selain mampu melindungi pantai dari abrasi,  hutan mangrove juga memberikan manfaat yang sangat besar bagi perekonomian baik skala lokal, nasional maupun internasional. Hasil penelitian yang dilakukan Onrizal bersama peneliti lainnya serta dari berbagai publikasi internasional, diketahui bahwa 80% species biota laut (ikan, udang dan kepiting) komersial sangat tergantung pada kawasan mangrove di kawasan Florida, USA, demikian juga 67% jenis hasil tangkapan perikanan di bagian timur Australia, dan hampir 100% udang yang ditangkap pada kawasan ASEAN bergantung pada kawasan mangrove.

Pada skala lokal ditemukan bahwa di Kecamatan Secanggang dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya menunjukkan bahwa sekitar 56,32% jenis ikan menjadi langka/sulit didapat, dan 35,36% jenis ikan menjadi hilang/tidak pernah lagi tertangkap. Kondisi ini disertai dengan penurunan pendapatan sebesar 33,89%, dimana kelompok yang paling besar terkena dampak adalah nelayan dan sekitar 85,4% masyarakat kesulitan dalam berusaha dan mendapatkan pekerjaan dibandingkan sebelum kerusakan mangrove. Hal ini diduga sangat terkait dengan kerusakan hutan mangrove di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang juga mencakup wilayah Secanggang. Dalam kurun waktu 15 tahun dari tahun 1989 sampai tahun 2004, hutan mangrove primer di kawasan tersebut berkurang sebesar 64,3%. Oleh karena itu, Onrizal menyatakan agar rehabilitasi hutan mangrove harus segera dilakukan secara masif dengan melibatkan masyarakat luas.

Mahasiswa yang ikut kegiatan tersebut, termasuk salah satunya adalah putra Bapak Ir. Supandi Tarigan yang saat ini sebagai Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat, mengatakan sangat gembira bisa terlibat langsung sejak dini ketika mereka baru menjadi mahasiswa kehutanan USU. Kegiatan tim kehutanan USU di Pulau Sembilan berakhir jam 6 sore dan malamnya langsung kembali menuju Medan dan sampai di Kampus USU pukul 22.00 atau jam 10 malam.

Read Full Post »