Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘review’ Category

Kunjungan singkat di Kota Muar, Johor sambil mencatat jenis-jenis tumbuhan mangrove yang tumbuh di sekitar muara Sungai Muar. Tepi Sungai Muar bagian timur sebagian besar telah dibeton dan lantai lahan ditimbun dengan pecahan batu. Meskipun demikian, bagian sempit dari tepi sungai di bagian timur tersebut masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada bagian barat tepi Sungai Muar tidak dibeton dan masih terdapat tegakan hutan mangrove yang masih bagus. Berdasarkan pengamatan dari sebelah timur tepi sungai, tepi sebelah barat dari Sungai Muar didominasi oleh mangrove jenis Avicennia spp. Tampak juga jenis-jenis Rhizophora spp dari seberang sungai.

Pada tepi sebelah timur Sungai Muar yang berdekatan dengan Pelabuhan Jeti Emas dapat ditemukan anakan Avicennia alba, A. marina, A. officinalis, Rhizophora apiculata dan Nypa fruticans. Anakan tumbuhan mangrove ini diperkirakan berasal dari tegakan mangrove di sebelah barat sungai yang terbawa oleh pasang surut air laut. Pada bagian yang lebih hulu dekat Hotel Muar Traders  yang juga berada di tepi timur Sungai Muar dapat ditemukan pepohonan Avicennia alba dan Sonneratia caseolaris. Pada daerah ini juga banyak ditemukan anakan berbagai jenis tumbuhan mangrove yang telah disebutkan di atas, kecuali anakan Rhizophora apiculata.

Salah satu hal yang penting dicatat adalah anakan jenis Ficus benjamina dapat tumbuh pada celah tembok yang dibagun di tepi sungai. Jenis terakhir ini bukan termasuk jenis pohon mangrove.


1

2

Advertisements

Read Full Post »

Kawasan hutan Batangtoru yang terletak di sebelah selatan Danau Toba berdasarkan berbagai hasil penilitian merupakan habitat penting bagi orangutan Sumatera (Rijksen & Meijaard 1999; Djojoasmoro et al. 2004; Ellis et al. 2006; Wich et al. 2008). Populasi orangutan Sumatera lainnya sebagian besar terletak di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan kawasan ekosistem Leuser yang mengelilingi kawasan TNGL yang terletak di sebelah utara Danau Toba. Sampai saat ini, sebagian besar kawasan hutan Batangtoru belum berupa kawasan konservasi, sehingga ancaman habitat orangutan tergolong tinggi.

Picture3

Meskipun kawasan Hutan Batangtoru Barat merupakan habitat utama pendukung populasi orangutan di Sumatera utara bagian selatan, namun kini kawasan tersebut mengalami ancaman kehilangan habitat akibat pembukaan lahan (land clearing), termasuk untuk pertanian subsisten, eksploitasi pertambangan emas, pembukaan lahan baru untuk menampung pertambahan penduduk dan ekspansi perkebunan komersial, penebangan hutan liar, Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), perburuan liar dan pembangunan jalan. Selain itu, juga banyak terdapat perambahan hutan yang dilakukan oleh pemukim dari suku tertentu (Ellis et al. 2006), sehingga selain mengurangi habitat orangutan juga menyebabkan terjadinya fragmentasi habitat, baik di dalam kawasan Hutan Batangtoru maupun dengan hutan di sekitar kawasan Hutan Batangtoru, khususnya dengan kantong populasi di Hutan Dolok Adian Ginjang dan Hutan Batangtoru Timur Padahal, orangutan Sumatera sangat sensitif terhadap gangguan habitat alamiahnya yang disebabkan oleh aktivitas penebangan kayu dan perburuan.

Picture2

Rehabilitasi hutan terfragmentasi diperlukan untuk meningkatkan ketersedian habitat dan sekaligus pakan bagi orangutan Sumatera. Tidak hanya itu, rehabilitasi hutan tersebut juga sekaligus akan meningkatkan kapasitas hutan dalam memberikan berbagai fungsinya bagi kehidupan manusia, seperti pengatur tata air, penjaga kesuburan lahan pertanian, sumber hasil hutan non kayu dan berbagai manfaat lainnya yang melekat pada hutan yang baik.

Ketersedian pohon pakan dan bersarang sangat berpengaruh pada kepadatan populasi orangutan (van Schaik et al., 1995). Oleh karena itu, diperlukan seleksi khusus jenis-jenis pohon untuk rehabitasi habitat orangutan yang telah rusak agar mampu kembali berfungsi untuk mendukung populasi orangutan dan berbagai fungsi hutan lainnya.

Onrizal

Read Full Post »

2012 in review

The WordPress.com stats helper reader prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 14,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Read Full Post »

Isu perubahan iklim semakin hangat dibicarakan. Tak hanya berhenti pada tahap pembicaraan, tapi berlanjut pada tindakan sebagai respon perubahan iklim tersebut, baik upaya mitigasi maupun adaptasi.

Para ahli perubahan iklim menyatakan bahwa peningkatan emis gas-gas rumah kaca (GRK) diantaranya gas karbon yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia telah memicu perubahan iklim.

Nah, berapa emisi karbon yang kita hasilkan? Tak hanya berhenti disitu, kitapun bisa “menyerap” gas karbon, tepatnya karbon dioksida (CO2) dari udara melalui penanaman pohon. Berapa pula CO2 yang diserap oleh poho atau tanaman lain yang kita tanam.

Ingin tahu? Kini Dewan Nasional Perubahan Iklim telah menyediakan “tool” untuk kita menghitung emisi dan serapan karbon dari berbagai aktivitas kita. Silahkan kunjungi Kalkulator Karbon: http://kalkulator.dnpi.go.id/apps/dnpi/cgi-bin/dw.cgi

Read Full Post »

Perubahan iklim: ancaman bagi kesehatan manusia

Perubahan iklim telah mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi sebagai dampak dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir (Alvarado & Wertz-Kanounnikoff, 2007). Sebagian besar ilmuwan iklim dunia menyatakan bahwa emisis GRK akibat akumulasi aktivitas manusia telah berkontribusi nyata pada peningkatan pemanasan global (IPCC, 2007). Hasil penelitian terbaru NASA (Cole & McCarthy,  2012) menunjukkan bahwa suhu permukaan rata-rata global pada tahun 2011 merupakan yang terpanas kesembilan sejak tahun 1880. Temuan ini menjadi suatu trend dimana sembilan dari 10 tahun terpanas dalam catatan meteorologi telah terjadi sejak tahun 2000. Data ini juga menunjukkan suhu rata-rata di seluruh dunia meningkat 0,51 oC dibandingkan data baseline pertengahan abad ke-20.

Konsentrasi GRK secara terus-menerus meningkat dalam tempo yang cepat. Konsentrasi gas CO2 di atmosfir pada tahun 1880 sekitar 285 ppm. Pada tahun 1960, konsentrasi rata-ratanya mencapai 315 ppm dan saat ini melebihi 390 ppm (Cole & McCarthy, 2012). Boer (2004) menyatakan sekitar 270 (±30) giga ton karbon (Gt C) telah dilepas ke atmosfir selama periode 1850 – 1998. Hasil invetarisasi GRK Nasional menunjukkan bahwa pada tahun 2000 total emisi GRK Indonesia untuk tiga GRK utama (yaitu CO2, CH4 dan N2O) tanpa LULUCF (land use, land use change and forestry, yakni perubahan penggunaan lahan dan hutan serta kebakaran gambut) mencapai 594,738 Gg CO2e. Dengan memasukkan LULUCF, total emisi GRK Indonesia meningkat menjadi 1.415.988 Gg CO2e (SNC, 2010).

Sektor berbasis lahan pada tahun 2000 menyumbang emisi GRK sekitar 65% dari emisi nasional dan ini merupakan yang terbesar dibandingkan sektor lain. Emisi sektor berbasis lahan tersebut berasal dari kegiatan perubahan penggunaan lahan dan kehutanan (land use change and forestry; LUCF) (47%), termasuk kegiatan pertanian (5%) dan kebakaran lahan gambut (13%). Selanjutnya, sektor energi menyumbang 23% dari total emisi GRK Indonesia. Sekitar 98% dari total emisi sektor energi berasal dari pembakaran bahan bakar, dan 51,5% berasal dari minyak bumi dan penyulingan gas, 18,2% dari transportasi, 12,2% dari produksi listrik, 7,4% dari perumahan dan 5,9% dari industri manufaktur dan konstruksi. Jumlah emisi sektor energi tersebut meningkat 25% pada tahun 2005 dibandingkan emisi tahun 2000. Sektor lainnya sebagai penyumbang emisi adalah industri dan limbah (SNC 2010). Oleh karena itu, terlihat bahwa sektor-sektor utama penyumbang emisi tersebut merupakan hasil dari kebijakan pemerintah dan kemudian diikuti oleh perilaku penduduk Indonesia.

Perubahan iklim telah mempengaruhi kesehatan manusia. Hal ini termasuk dampaknya terhadap perubahan sebaran beberapa vektor penyakit infeksi (seperti kutu pada daerah lintang yang lebih tinggi atau malaria di dataran tinggi) dan dampak cuaca ekstrim dan kejadian iklim yang terkait dengan kematian, kecelakaan dan kondisi kesehatan lainnya (Zell, 2004, Kovats et al., 2005, McMichael & Lindgren, 2011). Secara global, tingkat kerentanan manusia terhadap perubahan iklim antara lain dipengaruhi perbedaan geografis (misalnya kepadatan penduduk, letak dari garis equator) dan perilaku dalam kebijakan perubahan iklim (Kovats et al., 2005, Wiley, 2010, Samson et al., 2011).

Banyak penyakit menular yang sensitif terhadap kondisi iklim (Gambar 1). Suhu, curah hujan dan kelembaban mempengaruhi replikasi, pematangan dan kelangsungan hidup patogen, organisme vektor (jika ada), dan kisaran dan sebaran berbagai jenis hewan yang berperan sebagai perantara atau pembawa. Sebagai contoh, penyakit yang disebabkan oleh serangga ‘berdarah dingin’ yang sangat sensitif terhadap suhu (McMichael & Lindgren, 2011).

Gambar 1. Faktor iklim yang berpengaruh terhadap penyakit infeksi pada manusia (Human ID) melalui banyak jalur dan kompleksitas yang bervariasi (Sumber: McMichael & Lindgren, 2011)

Sebagai contoh, penyakit infeksi yang terpengaruh oleh perubahan iklim diantaranya adalah malaria, demam berdarah dengue (DBD) dan tubercolosis (TBC). Malaria disebabkan gigitan nyamuk malaria (sebagai vektor) yang mengandung parasit. Infeksi DBD terjadi melalui gigitan vektor berupa nyamuk Aedes spp. (misalnya nyamuk Ae. aegymti yang berkembang di daerah perkotaan di Indonesia dan Kamboja sampai daerah beriklim sedang seperti Nepal dan Argentina, dan nyamuk Ae. albopictus yang baik dari Asia tenggara sampai utara (Jepang dan Cina) sampai Amerika dan Eropa)  (Ng, 2011), sedangkan TBC disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tubercolosis (WHO, 2009, Alavi et al., 2011) yang tingkat kerentanannya antara lain dipengaruhi perubahan iklim (Ford et al., 2010).

Secara global, tantangan yang ditimbulkan oleh DBD telah meningkat secara tajam dalam tiga dekade terakhir, tanpa tanda-tanda mereda. Diperkirakan DBD mempengaruhi setidaknya 50-100 juta orang setiap tahun. Dengan lebih dari 124 negara endemik dengue, 3,6 milyar orang beresiko terinfeksi (WHO, 2012a). Lebih dari 70% dari mereka yang beresiko berada di kawasan Asia Pasifik yang mebuat wilayah ini menjadi pusat aktivitas dengue (Gambar 2) (Ng, 2011), termasuk Indonesia. Laporan WHO (2009) memperkirakan perubahan iklim berperan penting pada 3,8% kematian di seluruh dunia akibat DBD pada tahun 2004. Pada tahun 2009 prevelensi TBC secara global adalah sebesar 5.797.317 dan sebesar 292.754 (5,05%) terdapat di Indonesia (WHO, 2011) dengan sebaran seperti pada Gambar 3.

 Gambar 2. Sebaran DBD pada tahun 2011 menurut negara atau daerah yang beresiko terserang (Sumber: WHO, 2012b)

Gambar 3. Prakiraan sebaran tuberkolosis di seluruh dunia berdasarkan kasus baru tahun 2010 (Sumber: WHO, 2012c)

Bagaimana upaya mitigasi dan adaptasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan penduduknya terkait dengan kerentanan terinfeksi penyakit dalam iklim yang berubah? Apakah data yang dimiliki cukup untuk mengambil kebijakan dan program aksi yang tepat, baik mitigasi ataupun adaptasi? Berdasarkan penelusuran penulis, pada tingkat regional dan nasional di Indonesia, masih sangat terbatas analisis sebaran dan perubahan berbagai penyakit yang terkait dengan perubahan iklim.

Lalu, …..?

Bagaimana kesiapan dan saranmu sahabat?


Read Full Post »

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

The average container ship can carry about 4,500 containers. This blog was viewed about 18,000 times in 2010. If each view were a shipping container, your blog would have filled about 4 fully loaded ships.

In 2010, there were 31 new posts, growing the total archive of this blog to 151 posts. There were 25 pictures uploaded, taking up a total of 19mb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was January 27th with 234 views. The most popular post that day was Dendrologi.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were en.wordpress.com, facebook.com, google.co.id, shots.snap.com, and search.conduit.com.

Some visitors came searching, mostly for onrizal, silvika, pengantar ilmu kehutanan, metode penelitian karya ilmiah, and dendrologi.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Dendrologi September 2008
24 comments

2

Onrizal September 2008
52 comments

3

Silvika February 2009
6 comments

4

PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DALAM MENUNJANG KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR October 2008
2 comments

Read Full Post »