Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Selamatkan Mangrove dan Lahan Basah’ Category

Abstract

A field study was carried out from 2nd until 5th of June 2015 in North Sumatra, Indonesia. We focused on the Singkil swamp area located in west coast of Aceh Province where was influenced by large earthquake on 26 December 2005. The earthquakes triggered large tsunami, called Indian Ocean tsunami and subsequently caused land subsidence of about 1.0m to 2.0m along Singkil coast, resulting in the devastation of most of the inter-tidal vegetation communities due to the environmental changed. We explored 10 sampling sites and listed plant communities and populations starting from Sungai Alas public jetty until Padang Malako with the estimated distance of 1 km interval. Each of the sampling sites had a unique plant community and population but Nypa fruticans as well as Sonneratia caseolaris were observed to be dominated most of the sites and be found along the riverside. The plant communities changed from aquatic plants and shrubs to cogon grass (Imperata cylindrica) land and peat swamp forest in Padang Malako. Padang Malako was named after the Malako Tree (Tetramerista glabra), a tree species of peat swamp forest which the fruits of tree species are used by Sumatran Orangutan (SOU) as their source of food. This vegetation succession is needed in order to be protected from the intrusion of human disturbances. Perhaps it can restore the loss of plant communities during tsunami and recover the ecosystem function mainly in maintaining the water regulation, fish resources and maintaining habitats of critically endangered SOU which is endemic to Northern Sumatra.

Singkil Swamp1_001

Advertisements

Read Full Post »

WKLBWarta Konservasi Lahan Basah volume 21 nomor 4 tahun 2013 antara lain menghadirkan artikel Kondisi Terkini Danau Sentani, “Hybrid Engineering” Pelindung Garis Pantai di Indonesia dari Erosi dan Abrasi. Ada juga artikel Keunikan Ekologi Rawa Danau Bangkau di Kalimantan Selatan, serta artikel terkait flora fauna lahan basah. Selengkapnya di WKLB Vol 21 No 4 (2013).

Selamat membaca dan kemudian menyelamatkan lahan basah kita. Better wetlands for better life.

Read Full Post »

[Presented at meeting on mangrove rehabilitation. Managed by Hutama Karya, Ssangyong-Korea & USAID, held in Jakarta, 23 Nov 2012]

Picture1

 

 

 

 

 

Picture2

 

 

 

Picture3

 

 

 

Picture4

 

 

 

Picture5

 

 

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb

Salam Mangrover,

BPHM II telah menerbitkan Wahana Berita Mangrove Indonesia Edisi 1 untuk tahun 2013.

Wanamina2013e1

Berikut isi Wanamina Edisi 1 Tahun 2013:

Daftar Isi

Laporan Khusus: Pelajaran dari rehabilitasi mangrove pasca tsunami 26 Desember 2004 di Aceh

Rehabilitasi mangrove merupakan salah satu program prioritas dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi daerah terdampak gempa dan tsunami 26 Desember 2004 di Aceh dan Nias. Beberapa bulan setelah bencana alam dahsyat tersebut, berbagai program dan aktivitas rehabilitasi mangrove seperti jamur yang tumbuh di musim hujan, saking banyaknya yang dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah (NGO), baik dari dalam maupun luar negeri. Kondisi tersebut tergambar dari perhitungan kasar oleh Wibisono & Suryadiputra (2006) dari berbagai sumber mencatat lebih dari 29 juta bibit mangrove telah di tanam dalam kurun waktu 1,5 tahun. Hasil penilaian yang penulis lakukan maupun oleh Wibisono & Suryadiputra (2006) menunjukkan hasil serupa, yakni sebagian kecil program rehabilitasi mangrove tersebut berhasil, namun sebagian besar gagal dalam kurun waktu sampai akhir tahun 2006. Setelahnya berbagai upaya perbaikan dilakukan, agar kegiatan rehabilitasi mangrove dapat berhasil dengan baik.

Liputan: Proyek kerjasama teknis Indonesia dan Jepang

Keunikan Sonneratia sp., si apel mangrove

Calophyllum innophylum (nyamplung) obat HIV/AIDS

Pemberdayaan kelompok tani melalui pembuatan bibit mangrove

Masyarakat peduli pelestarian hutan mangrove

Berita Gambar

Mangrove dan kepiting bakau

Muara sungai sokong kehidupan

Selamat membaca

Read Full Post »

Sadarkah kita bahwa dalam kurun waktu 1989-2009 (20 tahun) kita kehilangan hutan mangrove seluas l.k 1,5 kali negara Brunai Darussalam? Laju kehilangan per tahun dalam periode itu setara dengan 61% luas Singapura. Bagaimana hitungannya?

Hutan mangrove Indonesia pada tahun 1989 berdasarkan hasil RePProt (1985-1989) yang diacu oleh Giesen et al. (1991) adalah seluas 4.098.527 ha, dan empat tahun kemudian (1993)  luasnya berkurang menjadi 3.765.250 ha (Ditjen Intag, 1993). Hasil pengukuran terbaru oleh Bakosurtanal (2009), luas hutan mangrove Indonesia menjadi 3.247.016 ha.

Dengan demikian, luas hutan mangrove Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun (1989-2009) telah hilang seluas 851.511 ha (setara dengan 1,5 kali luas negara Brunai Darussalam, yakni 5.770 km2) dengan laju kehilangan rata-rata sekitar 42.575,6 ha/tahun (setara dengan 61% dari luas negara Singapura, yakni 697 km2).

Oleh karena itu, kehilangan hutan mangrove Indonesia sangat sangat sangat memprihatinkan.

Kawan, keluarkan usul dan ide terbaiknya untuk hutan mangrove kita yang lebih baik?

*Disarikan dari Onrizal (2013) Pengelolaan Mangrove Partisipatif dan Kaitannya dengan Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove di Indonesia. Makalah disampaikan pada Lokakarya “Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Mangrove di Indonesia” dalam rangka pengembangan kapasitas pemeriksaan berspektif lingkungan. Dilaksanakan oleh BPK RI di Menara Peninsula Hotel, Jakarta, 26-28 Juni 2013

Read Full Post »

pic02

Wisata alam dan wisata kuliner merupakan atraksi andalan pariwisata dunia saat ini, termasuk dunia pariwisata di Indonesia. Bila kita ke wilayah bagian selatan Jepang, misalnya ke pulau Iriomote, menjelajahi hutan mangrove dengan kayak atau kapal merupakan salah satu atraksi wisata alam yang banyak ditawarkan dan banyak peminatnya, tidak saja wisatawan lokal, namun juga wisatawan manca negara. Jepang dengan luas hutan mangrove yang hanya dalam hitungan ratusan hektar, mampu menghasilkan devisa yang tidak sedikit tanpa merusak sumberdaya hutan mangrove yang dimilikinya. Hutan mangrove juga merupakan objek penelitian yang sangat menarik dalam skala global.

Namun, Indonesia yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia (3.112.989 ha atau ~ 22,6% dari hutan mangrove dunia) (Giri et al., 2011) belum mampu menjadikan kegiatan wisata alam di hutan mangrove yang sangat luas tersebut sebagai salah satu andalan pendapatan devisa negara. Pada beberapa wilayah di Indonesia, seperti di hutan mangrove Bali, dan hutan mangrove di Angke Kapuk, Jakarta telah dimulai pembangunan sarana prasarana yang mendukung wisata alam mangrove. Selain melihat berbagai keunikan vegetasi mangrove, seperti perakarannya yang khas, hutan mangrove juga menyediakan atraksi pemancingan ikan, udang dan kepiting serta atraksi pemantauan burung-burung air.

Selengkapnya di  Wanamina 2 (2012): 6-11

Read Full Post »

Hutan mangrove bukan sekedar hutan yang tumbuh di daerah pasang surut pantai. Namun, bila lebih dalam kita menggali, hutan mangrove berperan penting dalam menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperjuangkan dengan harta dan jiwa oleh para pahlawan bangsa, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan. Benarkan demikian? Jika ya, apa argumentasinya dan bagaimana caranya?

pic01

Selengkapnya di Wanamina 2 (2012): 1-5

Read Full Post »

Older Posts »