Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2009

Kompas, Minggu 26 Juli 2006 (http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/26/08263260/Kehidupan.Ribuan.Orangutan.Teracam)

Kehidupan Ribuan Orangutan Teracam
Minggu, 26 Juli 2009 | 08:26 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com – Kehidupan ribuan ekor orangutan (Pongo pygmaeus) yang berada di kawasan Taman Nasional (TN) Sebangau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terancam hingga perlu pelestarian kawasan itu dalam upaya penyelamatan satwa tersebut.

Salah satu yayasan yang peduli terhadap pelestarian kawasan TN Sebangau dalam upaya penyelamatan orangutan dan satwa lainnya, adalah yayasan World Wide Fund For Nature (WWF) Indonesia, demikian Pimpinan Proyek WWF Indonesia Kalteng, Rosenda CH Kasih, Minggu (26/7).

Rosenda mengatakan yayasannya bekerja sama dengan pihak lain, terutama Balai Taman Nasional Sebangau melakukan berbagai kegiatan pelestarian habitat orangutan.

TN Sebangau terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan. Secara administrasi merupakan bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya.

Kawasan ini merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalteng setelah gagalnya Proyek Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare pada tahun 1995.

Mengutip berbagai hasil penelitian (Husson dan Bernad tahun 2004, WWF, Ancrenasz, BKSDA/BTNS (2007), ia menyimpulkan terdapat 6.000-9.000 populasi orangutan di Sebangau.

Namun populasi satwa itu berada dalam ancaman, terutama hilangnya habitat, fragmentasi habitat dan perburuan, pembalakan liar yang terjadi dimasa yang lalu mengakibatkan berkurangnya habitat satwa itu secara signifikan.

“WWF bekerja sama dengan TN Sebangau mendukung upaya konservasi orangutan baik untuk kelestariannya dan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut,” tuturnya.

Hal lain yang membuat TN Sebangau harus diselamatkan dari kerusakan lantaran terdapatnya ekosistem Sebangau yang menyediakan gudang air bersih untuk tempat-tempat di sekitarnya.

Ekosistem itu mengandung keanekaragaman hayati, serta produksi ekonomi non kayu bagi sekitar 62 ribu warga masyarakat lokal.

Warga lokal umumnya bekerja sebagai petani, nelayan pencari ikan, pengumpul rotan, pengumpul gemor (kulit kayu sebagai bahan obat nyamuk bakar), pencari getah jelutung, penyadap karet, dan memproduksi buah-buahan yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya alam di kawasan itu.

Bukan hanya itu, di TN Sebangau berdasarkan data Cimtrop terdapat 150 spicies burung, 34 spicies ikan, 35 spicies mamalia, serta terdapat sedikitnya 808 spicies flora.

Advertisements

Read Full Post »

Kompas, Selasa 21 Juli 2009 (http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/21/09424178/mari.selamatkan.hutan.gambut.terakhir)

Mari Selamatkan Hutan Gambut Terakhir
Selasa, 21 Juli 2009 | 09:42 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Selatan (Sumsel) mendesak penyelamatan kawasan hutan rawa gambut terakhir di daerahnya, justru kini telah dikelola sebagai kawasan hutan tanaman industri (HTI) oleh salah satu perusahaan swasta.

Direktur Eksekutif WALHI Sumsel, Anwar Sadat, di Palembang mengingatkan, konsesi pengelolaan HTI oleh PT Rimba Hutani Mas (RHM) — kelompok usaha milik Sinar Mas Group — berdasarkan izin usaha dari Menteri Kehutanan sesuai SK Menhut No. 90/Menhut-II/2007 tentang pemberian IUPHHK pada RHM seluas 67.100 hektare.

Areal konsesi itu terletak di tiga blok, yaitu blok 1 di Hutan Produksi Meranti, blok 2 di Hutan Produksi Lalan (Kelompok Hutan Merang), dan blok 3 yang juga terletak di Kelompok Hutan Merang, di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel.

“Kami mengkhawatirkan diterbitkan izin usaha bagi PT RHM di wilayah tersebut, akan berdampak secara ekstrem terhadap kelangsungan dan kestabilan ekologi di wilayah ini,” kata Sadat lagi.

Apalagi selama beroperasi sejak tahun 2008, RHM dinilai WALHI Sumsel cenderung mengeksploitasi kekayaan hutan alam Sumsel di kawasan itu, padahal hutan yang ada saat ini telah dan terus mengalami penyusutan.

“Berdasarkan penelusuran kami bahwa usaha PT RHM, khususnya di HP Lalan atau Kelompok Hutan Merang itu berada pada kawasan hutan alam yang kondisinya masih sangat baik,” ujar dia lagi.

Terdapat banyak jenis vegetasi tumbuh-tumbuhan (pepohonan) yang berada di dalam kawasan ini, selain banyak pula spesies (fauna) yang hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan tersebut, yang sebagian besar dari fauna itu dilindungi oleh Undang-undang.

Dipertanyakan pula, izin PT RHM juga berada kawasan rawa gambut yang memiliki ketebalan yang sangat dalam, berkisar 1-6 meter (survei Wetlands International dan SSFFMP).

“Gambut yang berada di dalam kawasan ini merupakan satu-satunya gambut alami yang terluas dan yang masih tersisa di provinsi ini,” ujar Sadat lagi.

Perusahaan tersebut, diketahui kini tengah mengajukan perluasan usaha kepada Menhut seluas 20 ribu hektare, dan telah disetujui Dinas Kehutanan (Kabupaten Muba dan Sumsel), Bupati Muba dan Gubernur Sumsel.

“Kami memandang, selain semakin meluasnya dampak ekologi yang ditimbulkan, juga akan berdampak bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar kalau izin perluasan itu disetujui,” kata dia.

Dia menyebutkan, di dalam dan sekitar kawasan yang menjadi target perluasan PT RHM terdapat sekitar 500 keluarga yang selama ini berdiam diri dan menggantungkan hidup dari kekayaan sumberdaya alam sekitar kawasan tersebut.

Karena itu, WALHI Sumsel bersama sejumlah elemen prolingkungan di daerahnya, mendesak pencabutan izin usaha PT RHM.

Keberadaan perusahaan itu, khususnya yang berada pada lokasi Kelompok Hutan Merang atau di kawasan Hutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK), dinilai hanya akan merusak lingkungan Sumsel yang saat ini tengah berada pada kondisi yang sangat kritis, sehingga eksploitasi hutan alam oleh PT RHM hanya akan semakin mempercepat laju kepunahan hutan tropis Sumsel.

WALHI Sumsel juga mengingatkan bahwa izin usaha PT RHM yang berada pada wilayah tersebut dinilai bertentangan dengan spirit yang terkandung di dalam PP No 3 Tahun 2008 ayat 3 bahwa Pemanfaatan hasil hutan kayu pada HTI, diutamakan pada kawasan hutan produksi yang tidak produktif.

Izin itu juga dinilai bertentangan dengan Keppres Nomor 32 Tahun 1990 khususnya pasal 9 dan 10, yang menyebutkan bahwa kawasan bergambut lebih dari tiga meter merupakan kawasan lindung.

Berkaitan sikap itu, beberapa hari lalu, WALHI Sumsel bersama elemen peduli kelestarian gambut dan pelestarian lingkungan daerahnya (SAWA Sumsel, KPMD, KP SHI Sumsel, dan Komunitas Gambut Sumsel

telah menggelar aksi di Dinas Kehutanan Sumsel untuk menolak diterbitkan izin perluasan yang saat ini tengah diajukan oleh PT RHM.

Perluasan izin RHM, dinilai mereka, hanya akan memperparah kerusakan hutan gambut di kawasan tersebut, selain berpotensi mengancam kelangsungan sosial ekonomi masyarakat sekitar.

Belum diperoleh konfirmasi dan tanggapan dari pejabat Dishut Sumsel maupun PT RHM atas sikap kritis WALHI dan sejumlah elemen prolingkungan di Sumsel itu.

Read Full Post »

Alhamdulillah, kelompok bimbingan Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah (PKM AI) menjadi salah satu dari 380 kelompok PKM AI yang mendapat penghargaan dari Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tahun 2009. Sebanyak 2.885 judul artikel ilmiah dilombakan dalam PKM AI tahun 2009 dan 380 diantaranya mendapat penghargaan. Berikut link pengumumannya:

Pengumuman Proposal PKM-AI Tahun 2009
Download file : Pengumuman PKM-AIthn2009.pdf (314KB)
Download file : Srt Lampiran Isian PKM-AI.doc (35KB)

Selamat buat para pemenang, semoga esok lebih baik dan mampu memacu mahasiswa yang lain untuk berkompetisi dan semakin kreatif.  Bagi yang ingin ikut pelatihan pembuatan proposal PKM bidang Penelitian, silahkan daftar via email: onrizal@gmail.com dengan menyebutkan nama, nim, program studi, dan no kontak (telp). Ayo bergabung!

Berikut abstrak dari kelompok bimbingan yang memenangkan kompetisi tsb.

ANALISIS KEANEKARAGAMAN VEGETASI MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA DI PULAU SEMBILAN, SUMATERA UTARA

 

Oleh

Suci Arisa Purba, Leli Wahidah, Wahyuni

Mahasiswa Departemen Kehutanan FP USU

 

Pembimbing

Onrizal

Dosen Ekologi Hutan Departemen Kehutanan FP USU

ABSTRAK

Pulau Sembilan, Sumatera Utara sampai akhir tahun 1970-an dikeliling oleh hutan mangrove lebat dengan lebar mencapai 400 m. Namun akibat konversi mangrove menjadi tambak, hutan mangrove yang tersisa saat ini hanya berupa tegakan yang tumbuh terpencar dengan lebar yang sempit. Meskipun hutan mangrove di kawasan tersebut telah lama dimanfaatkan, namun data kekayaan flora fauna mangrove belum pernah dipublikasikan, sehingga pengelolaan dan pemanfaatan yang dilakukan selama ini diyakini tidak berdasarkan pertimbangan yang matang dan lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur struktur vegetasi dan keanekaragaman jenis vegetasi mangrove di Pulau Sembilan, Sumatera Utara. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode kuadrat berupa jalur berpetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove di Pulau Sembilan disusun oleh 18 jenis mangrove dalam petak ukur seluas 0,3 ha yang didominasi oleh jenis Rhizophora apiculata. Tipisnya lebar hutan mangrove mengancam kelestarian permudaan mangrove karena sebagian besar buah mangrove yang kecil dibawa hanyut oleh air pasang. Pemanfaatan tumbuhan mangrove oleh masyarakat setempat masih terbatas pada penggunaan kayu bakar, perancah dan atap rumah. Oleh karena itu, sosialisasi pemanfaatan tumbuhan mangrove selain yang telah dikenal oleh masyarakat Pulau Sembilan penting untuk dilakukan dalam mewujudkan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan.

Kata kunci: mangrove, keanekaragaman, pemanfaatan, Pulau Sembilan-Sumatera Utara


Read Full Post »

Wetland Science Vol. 7 No. 2 Page 130-134 (June 2009)

The Effect of Tsunami in 2004 on Mangrove Forests, Nias Island, Indonesia

Onrizal1,2, Cecep Kusmana3, Mashhor Mansor2

(1. Department of Forestry Sciences, Faculty of Agriculture, Univesitas Sumatera Utara, Medan 20155, Indonesia; 2. Wetland Ecology Research Group, School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia, 11800 Pulau Pinang, Malaysia; 3. Forest Ecology Laboratory, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University, Bogor 16001, Indonesia)

Abstract: The earthquake and tsunami that devastated coastal area in Nanggroe Aceh Darussalam Province and North Sumatra Province, especially Nias Island on December 26, 2004, caused damage to most mangrove and coastal forests in the areas. Before the 2004 tsunami, there is no report or publication about mangrove and coastal vegetation in Nias Island. The aims of this research were to describe the mangrove forests and coastal vegetation after tsunami disaster and to learn the ecological functions of mangrove forests and coastal vegetation on shore protection. Field surveys, in eastern, northern and western coast of Nias Island within 10 days of the middle weeks in March 2005 and in southern coast of Nias Island within 6 days of the first weeks in November 2006 , were conducted. Our research results showed that dense mangrove forests and coastal vegetation had been proven to be effective on protecting coastal area from the tsunami, while heavy damage occurred in the areas that have degraded mangrove and coastal forests. Therefore, mangrove forests play an important role on shore protection, and this protection depends on the quality of mangrove habitats. It should be noted that degraded habitats with mangrove associate species instead of true mangrove species do not provide adequate protection.

Keywords: coastal vegetation; tsunami; shore protection; Nias Island

Received date: 2008-12-15; Revised date: 2009-05-26

Corresponding author: Onrizal – onrizal03@yahoo.com

Read Full Post »

Bumi makin panas, dampak pemanasan global semakin terasa, lahan kritis makin bertambah. Global warming telah menjadi issue dunia sejak beberapa dekade ini.

Banyak cara yang bisa dilakukan. Industri ramah lingkungan, energi terbarukan, dsb. Namun salah satu yang penting adalah menanam pohon. Mengapa? Pohon, sebagaimana tumbuhan hijau lainnya melakukan fotosistesis yang antara lain memanfaatkan gas CO2 (Karbondiokasida) sebagai salah satu gas rumah kaca (GRK) yang jumlahnya semakin meningkat di udara dan memicu pemanasan global. Sehingga pohon mampu menjaga konsentrasi GRK, khususnya CO2 di udara.

Pohon juga mampu menyerap dan menjerap zat pencemar udara, tanah dan air lainnya. Pohon juga menghasilkan O2 (oksigen) yang dibutuhkan seluruh makhluk hidup. Masih banyak lagi kegunaan pohon bagi kehidupan yang lebih baik.

Menanam itu mudah, bisa kita lakukan kapan saja, murah dan menyehatkan.

Saya mengajak berbagai elemen, termasuk pengguna jaringan sosial FB, groups, dsb untuk menginisiasi Penanaman Pohon Serentak Se-Indonesia sebagai kesadaran bersama untuk membangun dan menghadirkan lingkungan yang bersahabat, kehidupan yang lebih baik untuk masa kini dan masa datang.

Bagi yang mau berminat silahkan bergabung!

Go green. Selamatkan bumi kita, save the earth.

FORM INISIASI PENANAMAN POHON SERENTAK SE-INDONESIA

Onrizal – 20 July 2009 (onrizal03@yahoo.com; onrizal@gmail.com)

Read Full Post »

Bersama Rimbawan Muda: Sepenuh Hati Merehabilitasi Hutan Mangrove di Pulau Sembilan, Sumatera Utara

Hasil inventarisasi BP DAS Wampu Sei Ular tahun 2006 diketahui tidak sampai 10% hutan mangrove dalam kondisi baik di Kab. Langkat. Selebihnya dalam kondisi rusak dan rusak berat. Konversi hutan mangrove dan penebangan hutan mangrove yang berlebihan menjadi penyebab utama kerusakan hutan mangrove di wilayah tsb dan juga wilayah lain di Indonesia (JICA & RLPS, 2005) dan bahkan 35% kerusakan hutan mangrove di dunia (Valiela et al., 2001).

Hutan mangrove di sepanjang pantai dan sungai-sungai yang terdapat dalam hutan mangrove menyediakan habitat bagi berbagai hasil perikanan pantai, seperti ikan, udang, kepiting dsb. Lebih dari 80% jenis ikan laut baik komersial maupun untuk hiasan di Florida, AS sangat tergantung pada keberadaan hutan mangrove pada beberapa tahapan kehidupan biota laut tersebut (Hamilton & Snedaker, 1984). Hutan mangrove juga berkontribusi terhadap 67% hasil tangkap nelayan di Australia bagian timur (Hamilton & Snedaker, 1984), 49% ikan demeresal yang tertangkap di Selat Malaka bagian tenggara (Macinthos, 1982).

Kerusakan mangrove di Kab. Langkat telah memicu hilangnya Pulau Tapak Kuda, meningkatkan laju abrasi (Onrizal & Kusmana, 2008), serta menurunnya hasil tangkap dan sekaligus mengurangi pendapatan nelayan sampai 45% (Purwoko, 2005; Onrizal et al. 2009). Oleh karena itu, rehabilitasi hutan mangrove yang rusak menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.

Pada 14 Juni 2009 lalu, saya bersama Rimbawan muda, mahasiswa semester 4 Dept. Kehutanan USU melakukan penanaman mangrove yang rusak di Pulau Sembilan, Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara. Areal yang menjadi sasaran rehabilitasi adalah areal tambak milik Bapak Grendel. Areal tambak tersebut sudah tidak produktif lagi untuk budidaya ikan maupun udang. Sebagian kecil areal lainnya digunakan Bapak Grendel untuk budidaya kepiting yang masih bisa bertahan.

Pada pagi hari itu telah ditanam 1.000 dari 3.000 bibit mangrove bantuan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat. Sisa bibit lainnya (2.000) ditanam oleh grup kedua rimbawan muda yang melakukan praktek di Pulau Sembilan. Rencananya 3.000 bibit mangrove jenis Rhizophora apiculta tsb  akan ditanam sekaligus, namun karena bibitnya datang terlambat dan air lagi surut sehingga tidak memungkin untuk membawa keseluruhan bibit ke lokasi penanaman.

Sebelumnya pada bulan April 2009, saat membimbing mahasiswa kehutanan USU praktek m.k. Ekologi Hutan (Semester 4) dan Dendrologi (Semester 2) juga dilakukan kegiatan penanaman mangrove di Pulau Sembilan. Lokasi yang menjadi sasaran adalah pematang tambak dan tepi sungai atau pantai.

Dengan penuh senyum dan semangat, para peserta penanaman mangrove untuk rehabilitasi mangrove dengan pola sylvofishery tsb menyelesaikan kegiatan penanaman dengan penuh suka cita. Semoga bibit yang ditanam tumbuh baik, sehingga hutan mangrove di kawasan tsb kembali pulih dan kembali menjadi tempat biota pesisir pantai seperti ikan, udang, kepiting dan sebagainya untuk berkembangbiak dengan baik dan akhirnya kembali mampu meningkatkan pendapatan nelayan dan masyarakat pesisir. Semoga.

0

 

1

 

2

 

3

 

4

 

5

Read Full Post »

Sepertiga akhir bulan April 2009, saya bersama tim (alumni kehutanan USU, dan mahasiswa tingkat akhir Departemen Kehutanan USU) beserta staf BKSDA Seksi Singkil dan masyarakat lokal melakukan survey di Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui simpanan karbon baik pada tegakan hutan, maupun dalam gambut yang hampir menutupi 95% suaka margasatwa tersebut. Selain hutan rawa gambut, pada SMRS juga dijumpai hutan mangrove, rawa nipah, dan hutan pantai.

Berbagai hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa hutan rawa gambut di SMRS merupakan habitat bagi berbagai satwa langka yang hampir punah, seperti orangutan Sumatera, harimau Sumatera dan gajah Sumatera serta berbagai satwa liar lainnya. Hutan rawa gambut tersebut juga menyediakan berbagai jenis ikan yang dapat dikonsumsi masyarakat. Selain itu, hutan pada SMRS juga menjadi pelindung dari angin badai, dan bencana tsunami yang terjadi di akhir tahun 2004 lalu.

1 BKSDA Office at SingkilSebelum memasuki kawasan SMRS, peneliti harus mendapatkan izin dan BKSDA setempat dan selama di lapangan didampingi oleh staf BKSDA. Untuk memasuki kawasan SMRS dapat melalui Singkil, Rundeng maupun Trumon.

 

 

 

2 SMRS from Sungai Alas

Sebagian besar kawasan SMRS berbatasan dengan Sungai Alas di bagian Selatan dan Timur dan dengan Sumadera Indonesia di bagian Barat. Pemandangan bentang alam yang sangat indah tersaji saat menyusuri Sungai Alas dari pelabuhan boat di Kilangan, Singkil.

4 Using boat in SMRS

Boat merupakan alat transportasi utama untuk menjelajahi SMRS mengingat hampir sebagian besar kawasannya berupa hutan rawa gambut, dan hutan mangrove serta hutan pantai yang langsung berbatasan dengan lautan lepas. 

5 Author at Coastal Forest within SMRS

Hutan pantai di bagian barat kawasan berperan penting dalam melindungi kawasan di belakangnya dari angin badai dari laut dan gelombang tsunami, seperti yang terjadi pada tsunami 26 Desember 2004 akibat gempa besar yang berpusat dekat Pulau Seumeulu, dan 28 Maret 2005 akibat gempa besar yang berpusat dekat Pulau Nias.

6 Local community

Sebagian kecil masyarakat lokal Kuala Baru, Singkil mengumpulkan kayu bakar dari pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbang atau sudah tua di lahan milik mereka di luar kawasan SMRS. Perkampungan Kuala Baru terletak di bagian barat SMRS dan langsung berbatasan dengan Samudra Indonesia.

7 Measuring the tree's dbh

8 Measuring the mangrove tree's dbh

Pengukuran diameter pohon merupakan salah satu kegiatan untuk menduga simpanan karbon dalam tegakan hutan dengan menggunakan persamaan alometrik.

 

14 Sampling the peat soil

15 Soil sampling by ring sampler

 Pengukuran kedalaman gambut dengan bor gambut dan pengambilan contoh tanah dengan ring sampler merupakan salah satu kegiatan lapangan untuk pendugaan karbon yang tersimpan dalam tanah. 

10 Survey team

12 Bakung-bakung way

 Sebagian besar sungai-sungai di dalam hutan rawa gambut SMRS hampir ditutupi oleh tumbuhan air yang disebut dengan bakung-bakung. Sungai tersebut sebelum memiliki lebar antara 50-100 m dengan kedalaman mencapai 10 m.  Berbagai jenis ikan hidup di bawah tumbuhan bakung-bakung tersebut.

11 Forest stand die due to eartquake

17 Flooding due to soil subsidence as impact of eartquake

Akibat gempa besar di akhir tahun 2004 dan akhir bulan Maret 2005, tanah di bagian barat SMRS turus sekitar 1,0-2,0 m. Hal ini menyebabkan seringnya pasang air laut merendam permukiman penduduk. Sebelum kejadian gempa tersebut, rumah-rumah tersebut umumnya minimal berada  1 m dari air pasang tertinggi. Selain itu, turunnya tanah tersebut diduga memicu kematian massal pohon brembang (Sonneratia caseolaris) dan beberapa jenis lainnya di hutan mangrove dan hutan rawa gambut sebagai akibat lanjutan dari semakin lama, semakin sering dan semakin tingginya air pasang menerpa lahan tersebut.

Salah satu artikel berjudul The Earthquake and Tsunami Impact on Coastal Forests, Mangrove Forests and Nipah Swamp Vegetation in Aceh Singkil, Northern Sumatra, Indonesia akan penulis sampaikan pada the South China Sea Tsunami Workshop 3 (SCSTW3). Workshop tsb akan berlangsung pada 03-05 November 2009 at Eureka Complex, Minden Main Campus, USM Penang, Malaysia.

18 Forest types in SMRS as ecosystem protection, carbon pool and habitat of wildlifes

Berbagai tipe hutan di SMRS berperan penting dalam menyediakan jasa lingkungan, misalnya gudang simpanan karbon yang penting dalam upaya mencegah pemanasan global, melindungi daerah di belakangnya dari terjangan angin badai dan gelombang tsunami, habitat bagi berbagai satwa liar yang hampir punah, pencegah banjir dan sekalian menjaga ketersediaan air tanah serta mencegah intrusi air laut. Lahan basah berupa rawa gambut dan hutan mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat lokal. Selian itu, jatuhan serasah hutan rawa gambut dan hutan mangrove akan selalu mengalirkan berbagai bahan makanan bagi perikanan pesisir pantai.

Save the tropical peat swamp forests in Rawa Singkil Sanctuary.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Conservation International Indonesia, khususnya kpd Ykh Ibu Saodah, Bung Farid dan Bung Erwin atas diskusi dan kerjasamanya serta dukungan dana dalam survey ini. Terima kasih yang besar kami sampaikan kpd Bpk Nurdin, M.Si atas kerjasamanya, kpd ibu Dr Deni atas diskusi dan bantuan dalam analisis tanah. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pimpinan dan staf BKSDA Seksi Singkil atas izin dan pendampingan selama di lapangan. Selanjutnya kepada mahasiswa tingkat akhir dan alumni kehutanan USU, seperti Sdr Sanusi, Sdr Ari, Sdr Zainal dan Sdr Stanly atas bantuan dalam survey lapangan. Terima kasih yang tinggi kami sampaikan kepada yang kami hormati Panglima Hutan wilayah Singkil sampai Buluh Seuma, Bapak Rusli atas bantuan dan bimbingan bagi tim survey selama survey di lapangan kami sampaikan terima kasih. Terima kasih juga kami sampaikan kepada masyarakat di sekitar SMRS, nakhkoda boat: bapak Mahmud dan bapak Haji atas bantuan dalam pelaksanaan survey di lapangan.

Onrizal

Read Full Post »