Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Flora Fauna’ Category

Kunjungan singkat di Kota Muar, Johor sambil mencatat jenis-jenis tumbuhan mangrove yang tumbuh di sekitar muara Sungai Muar. Tepi Sungai Muar bagian timur sebagian besar telah dibeton dan lantai lahan ditimbun dengan pecahan batu. Meskipun demikian, bagian sempit dari tepi sungai di bagian timur tersebut masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada bagian barat tepi Sungai Muar tidak dibeton dan masih terdapat tegakan hutan mangrove yang masih bagus. Berdasarkan pengamatan dari sebelah timur tepi sungai, tepi sebelah barat dari Sungai Muar didominasi oleh mangrove jenis Avicennia spp. Tampak juga jenis-jenis Rhizophora spp dari seberang sungai.

Pada tepi sebelah timur Sungai Muar yang berdekatan dengan Pelabuhan Jeti Emas dapat ditemukan anakan Avicennia alba, A. marina, A. officinalis, Rhizophora apiculata dan Nypa fruticans. Anakan tumbuhan mangrove ini diperkirakan berasal dari tegakan mangrove di sebelah barat sungai yang terbawa oleh pasang surut air laut. Pada bagian yang lebih hulu dekat Hotel Muar Traders  yang juga berada di tepi timur Sungai Muar dapat ditemukan pepohonan Avicennia alba dan Sonneratia caseolaris. Pada daerah ini juga banyak ditemukan anakan berbagai jenis tumbuhan mangrove yang telah disebutkan di atas, kecuali anakan Rhizophora apiculata.

Salah satu hal yang penting dicatat adalah anakan jenis Ficus benjamina dapat tumbuh pada celah tembok yang dibagun di tepi sungai. Jenis terakhir ini bukan termasuk jenis pohon mangrove.


1

2

Advertisements

Read Full Post »

Mangifera caesia

Mangifera caesia Jack (Anacardiaceae)

Nama lokal: Danish (binjai); Filipino (bayuno); Indonesian (palong, binglu); Javanese (binglu); Malay (sedaman,beluno); Thai (lam-yaa, bin-ya)

Nama perdagangan: machang

Jenis ini diyakini berasal dari Borneo, namun biasanya ditanam di Semenanjung Malaysia, Sumatra, Borneo dan Bali dan jarang dibudidayakan di Jawa atau negara-negara lain (WCMC 1998). Namun menurut Orwa dkk (2009), sekarang jenis ini juga dibudayakan di negara-negara selain Malaysia dan Indonesia, yaitu Papua New Guinea, Philippines, Thailand.

Jenis ini merupakan salah satu jenis mangga yang berharga. Buahnya untuk makanan atau minuman dan kayunya bisa untuk konstruksi ringan.

Saat ini, mangga jenis ini sudah mulai jarang dijumpai. Upaya penanaman, baik secara in situ maupun ex situ penting dilakukan untuk menghindakan dari kepunahan, sehingga  manfaatnya dapat dirasakan sampai masa-masa mendatang.

Ref.

Orwa C, A Mutua, Kindt R , Jamnadass R, S Anthony. 2009 Agroforestree Database:a tree reference and selection guide version 4.0 (http://www.worldagroforestry.org/sites/treedbs/treedatabases.asp)

WCMC [World Conservation Monitoring Centre] (1998). Mangifera caesia. In: IUCN 2014. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.1. . Downloaded on 22 June 2014.

Photo taken by Prof Isa Ipor; at Penang Botanical Garden, 21 Juni 2014

Read Full Post »

Peltophorum pterocarpum (DC.) Backer ex K.Heyne (Caesalpiniaceae) berhabitus pohon yang aslinya berasal dari daerah tropika Asia Tenggara, dan India. Pohon ini banyak digunakan sebagai tumbuhan ornamental, terutama pada hutan kota. Pohon besar dengan tajuk yang lebar sehingga banyak digunakan sebagai pohon peneduh. Pohon ini sangat berperan dalam menjaga iklim mikro di perkotaan, sehingga tetap nyaman dan sejuk. Sebagaimana tumbuhan dalam keluarga polong-polongan, pohon jenis ini juga berperan dalam meningkatkan kesuburan lahan karena kemampuannya dalam mengikat unsur nitrogen.

Fungsi lainnya, adalah menjerab dan menyerap berbagai polutan, termasuk gas karbon dioksida. Semakin besar pohon, semakin banyak gas karbon (sebagai salah satu pemicu pemanasan global) yang dapat diserap dan kemudian disimpan didalam bagian-bagian pohon.

Mari tanam dan rawat pohon.

Picture1 Picture2

Informasi tambahan: http://www.fao.org/ag/agp/AGPC/doc/gbase/data/pf000376.htm

 

 

Read Full Post »

ou2

Dari empat primata kera besar (great apes) di dunia, orangutan merupakan satu-satunya yang hidup di benua Asia, sedangkan tiga kerabat lainnya, yakni gorila, simpanse, dan bonobo hidup di benua Afrika (Rijksen & Meijaard 1999; Buij et al. 2002). Sampai akhir masa Pleistocen, orangutan masih menyebar pada kawasan yang meliputi China bagian selatan hingga Pulau Jawa, namun saat ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Borneo (Bacon & Long 2001). Hasil lokakarya IUCN-Primate Spesialist Group membagi orangutan menjadi dua spesies, yaitu orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang menempati daerah sebaran yang sempit di sebelah utara bagian utara dan selatan Danau Toba di Pulau Sumatera dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terdapat di pulau Kalimantan dan di beberapa tempat yang merupakan kantong-kantong habitat hutan Sabah dan Serawak (Groves 2001; Rijksen & Meijaard 1999; Supriatna & Wahyono 2000). Sekarang, orangutan Sumatera di dunia hanya ditemukan di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

ou1

Orangutan merupakan “umbrella species” dalam konservasi hutan hujan tropis di Indonesia, khususnya hutan Sumatera dan Kalimantan. Mengingat kondisi hutan sebagai habitat alami orangutan dan kebutuhan akan daerah jelajah yang luas serta keanekaragaman jenis flora fauna hidup bersamanya, orangutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Keberadaan dan kepadatan populasi orangutan dapat digunakan sebagai ukuran konservasi hutan hujan tropis tanpa analisis yang lebih jauh mengenai struktur keanekaragaman jenis flora dan fauna di suatu kawasan tertentu. Hal ini dapat berarti bahwa konservasi populasi orangutan liar identik dengan melakukan konservasi terhadap ekosistem hutan hujan tropis yang memiliki struktur keanekaragaman yang unik (Whitten et al. 1997; Rijksen & Meijaard 1999).

Sebagian besar makanan orangutan adalah buah-buahan. Dengan demikian, bagi kelestarian hutan, orangutan merupakan pemencar biji terbaik. Oleh karena itu, orangutan sangat berperan penting bagi regenerasi hutan tropika.

ou3

Orangutan Sumatera tinggal dengan densitas yang rendah (mulai dari nol sampai tujuh ekor per km2 di Sumatera), sehingga membutuhkan ruang yang sangat luas berupa blok-blok hutan yang luas (Departemen Kehutanan 2007). Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu habitat terpenting dan mengandung sebagian besar dari orangutan Sumatera yang masih tersisa.

OU

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan luas sekitar 1.094.962 ha selain merupakan rumah bagi orangutan Sumatera, juga merupakan rumah bagi berbagai satwa langka lainnya, seperti harimau Sumatera, badah Sumatera, harimau Sumatera, ratusan jenis burung dan satwa lainnya serta berbagai jenis flora yang membentuk hutan tropika yang sangat kaya. Kawasan hutan TNGL selain berfungsi sebagai habitat flora fauna langka dan penting, juga merupakan hulu dari 10 DAS utama di Aceh dan Sumatera Utara yang airnya menghidupi lebih dari 4 juta penduduk yang hidup di sekitar kawasan TNGL. Keberadaan hutan di kawasan TNGL juga menjadi benteng bagi daerah di sekitarnya dari ancaman banjir saat musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.  Oleh karena itu, keutuhan ekosistem TNGL sangat penting untuk dijaga, tidak saja untuk kelestarian orangutan Sumatera dan berbagai jenis flora fauna lainnya, namun lebih daripada itu, hutan TNGL adalah benteng dalam menjaga kehidupan manusia.

#save forest; #save orangutan, #save our live

Read Full Post »

Picture1menyeberang dan mendaki

Picture2orangutan Sumatera dan keahliannya 🙂

Picture3orangutan Sumatera menuju sarang diujung dahan,

senyum petugas dan peneliti

🙂

#save forest, #save orangutan, #save our life

 

Read Full Post »

Orangutans are the only great ape recorded in tropical Asia. Two species of orangutans are found, i.e. Pongo abelii in Sumatra and P. pygmeus in Borneo.

Sumatran orangutans (SOUs) are strictly distributed in the Northern Sumatra and their populations are drastically reduced and are gradually decrease. The main factors of decline are the habitat loss due to deforestation and forest degradation (1) and also a long mean inter-birth interval (2).

van Schaik et al. (3) stated that the tree availability, as food sources and nesting sites for orangutan population in the tropical forest ecosystem, has become the most influential factor on density of orangutans.

Vegetation analyses were carried out to identify tree species diversity and tree species as feeding source of Sumatran orangutan (SOU) in Batangtoru forests. The 378 tree species are recorded within 20 plots or the total area is 0.8 ha. Only 173 tree species (46%) are as feeding sources of SOU.

feeding sources

1 Rijksen, H.D. & Meijaard, E (1999) Our Vanishing Relative: Status of Wild Orangutan at the Twentieth Century. Dordrecth, Netherlands: Kluwer Academic Publisher.

2 Galdikas, B.M.F., Wood J.W. (1990) Birth spacing patterns in humans and apes. American Journal of Physical Anthropology 83:185—191

3 van Schaik, C.P., Priatna, D., Priatna, A. (1995). Population estimates and habitat preferences of orang-utans based on line transects of nests. In The Neglected Ape (eds R.D. Nadler, B.M.F. Galdikas, L.K. Sheeran & N. Rosen), pp. 129–147. New York, USA: Plenum Press.

Part of this research will be presented by Onrizal and Mashhor Mansor at the 2014 AAAS Annual Meeting on 13-17 February 2014 in Chicago, IL, USA

Read Full Post »

Jenis Baru Kelelawar Berhidung seperti Daun
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Minggu, 26 Februari 2012 | 13:42 WIB
Vu Dinh ThongHipposideros griffini

HANOI, KOMPAS.com – Ilmuwan dari Vietnam Academy of Science and Technology di Hanoi, Vu Dinh Thong, menemukan spesies baru kelelawar yang kemudian dinamai Hipposideros griffini atau kelelawar Griffin.

Spesimen kelelawar tersebut ditemukan di Taman Nasional Chu Mom Ray di Vietnam pada tahun 2008. Kelelawar memiliki daun-daun pada hidung yang sejatinya adalah fitur yang berfungsi mendukung ekolokasi.

Awalnya, Vu Dinh sempat mengira bahwa spesies tersebut merupakan kelelawar hidung daun yang sudah dikenal. Namun, penelitian lanjut membuktikan bahwa kelelawar itu spesies yang berbeda.

“Ketika ditangkap, kelelawar yang ukurannya sama, misalnya kelelawar hidung daun, bereaksi keras. Tapi, kelelawar Griffin bereaksi cukup lembut,” ungkap Vu Dinh dikutip situs National Geographic, Jumat (24/2/2012).

Vu Dinh dan timnya menganalisis suara yang dihasilkan kelelawar Griffin dan mengambil jaringannya untuk melakukan analisis genetik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi suara yang dihasilkan kelelawar Griffin berbeda dengan kelelawar berhidung daun lainnya. Analisis genetik juga menunjukkan bahwa kelelawar Griffin ialah spesies baru.

Sejauh ini, belum banyak yang diketahui tentang kelelawar Griffin. Satwa ini diketahui juga hanya terdapat di dua taman nasional di Vietnam meskipun mungkin saja habitat lain bisa diketahui nantinya.

“Penemuan menunjukkan bahwa Vietnam adalah rumah bagi beragam kelelawar dan beberapa di antaranya belum ditemukan,” kata Vu Dinh.

Read Full Post »

Older Posts »