Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Expedition’ Category

Gambir

Gambir. Ya, gambir biasa digunakan untuk menemani makan sirih. Tradisi yang sudah sangat lama, meskipun kini mulai berkurang ya?

Gambir yang dimaksud dihasilkan dari tumbuhan gambir (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.) yang merupakan tumbuhan perdu. Gambir yang digunakan untuk menemani makan sirih tersebut sebenarnya dalah getahnya yang telah kering yang sebelumnya diesktrak melalui perebusan.

 

Petani gambir di Desa Bongkaras di tepi Hutan Lindung Batuardan, Dairi menceritakan bahwa dalam setahun, tanaman gambir dapat dipanen sebanyak 3 s.d. 4 kali, atau sekali dalam 3 atau 4 bulan. Setiap panen saat ini dapat menghasilkan sekitar Rp. 12.500.000 per hektar dari gambir yang telah dikeringkan. Hasil yang cukup lumayan, bukan?

Persoalannya adalah tanaman gambir biasanya ditanam tanpa pohon peneduh, dan biasanya untuk perluasan kebun terlebih dahulu dengan menebang hutan alias mengkonversi hutan menjadi kebun gambir. Oleh karena tanaman ini ditanam di dataran tinggi, konversi hutan pada daerah demikian dapat memicu terganggunya fungsi hutan dalam pengaturan tata air dan pencegahan erosi dan tanah longsong. Sehingga perlu terobosan untuk mengurangi dampak negatif dari budidaya gambir selama ini. Ada ide atau solusi?

Picture1

Tanaman Gambir

Picture2Getah gambir yang sedang dikeringkan setelah diekstrak

Advertisements

Read Full Post »

Sungai Batu terletak di bagian selatan Pulau Pinang, Malaysia. Lokasi ini hanya sekitar 2 km dari Bandara Internasional Penang.

Survey singkat pada tanggal 8 Juni 2014 menemukan 10 jenis tumbuhan mangrove, dimana 8 jenis merupakan jenis mangrove sejati dan 2 jenis lainnya tergolong jenis mangrove ikutan.

species

Catatan: +++++ = banyak/dominan; +++ = sedang; + = jarang

 

Picture1 Picture2 Picture3

Read Full Post »

Letter from Peter C Boyce

 

Message: 1
Date: Sun, 15 Apr 2012 12:40:32 +0800
From: Peter Boyce <phymatarum@googlemail.com>
To: <fm-info@lists.floramalesiana.org>
Subject: [fm-info] new URL for our Flickr site
Message-ID: <001001cd1ac1$e6debde0$b49c39a0$@com>
Content-Type: text/plain; charset=”us-ascii”

Dear Friends & Colleagues,

Please take note that our Flickr site has a new url:

http://www.flickr.com/photos/indomalayan_aroids/

In addition, we are also now experimenting (very tentatively) with a blog:

http://indomalayan-aroids.blogspot.com/

Best wishes

Peter

 

 

Read Full Post »

Ekspedisi Genografi Indonesia (EGI) 2009 Sumatera Utara dimotori oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nsional (Bakosurtanal) dengan melibatkan stakeholders di Sumatera Utara. Kegiatan ini antara lain ditujukan untuk mengenal dan menyebar luaskan kekayaan suatu daerah: tak kenal maka tak sayang, sebagai salah satu kata kunci dari kegiatan ini.

Alhamdulillah saya menjadi bagian kegiatan EGI 2009 Sumatera Utara dan mendapat bagian untuk menulis bidang dampak. Berikut 3 tulisan saya pada jurnal EGI 2009 Sumatera Utara:

  1. Onrizal. Diambang kepunahan: sejuta asa menyelamatkan kekayaan dunia di Sumatera Utara. Jurnal Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 Sumatera Utara: 84-87
  2. Onrizal. Refleksi 4,5 tahun pasca tsunami: kearifan masyarakat Lahewa, Nias – menyelamatkan lingkungan, menyelamatkan kehidupan manusia. Jurnal Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 Sumatera Utara: 90-92
  3. Onrizal. Lubuk larangan yang mengalirkan kehidupan. Jurnal Ekspedisi Geografi Indonesia 2009 Sumatera Utara: 101-103

Artikel lengkap dapat diperoleh di EGI-092-Dampak atau http://www.egi-bakosurtanal.com/download/doc_details/26-dampak.html)

Selamat membaca dan berkontribusi.

Wassalam

Onrizal

Read Full Post »

http://sains.kompas.com/read/2010/05/17/22333882/Katak.Pinokio.Spesies.Baru.dari.Papua.-3#

Katak “Pinokio” Spesies Baru dari Papua
Senin, 17 Mei 2010 | 22:33 WIB
Tim Laman/National Geographic
Katak pohon jenis baru (Litoria sp. nov.) yang ditemukan di Papua belum lama ini unik dengan bagian tubuh memanjang di mukanya sehingga seperti hidung Pinokio.

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah ekspedisi ilmiah menemukan sejumlah spesies baru di Pegunungan Foja, di pulau Guinea Baru, Provinsi Papua. Salah satunya jenis katak baru yang pantas disebut katak Pinokio karena memiliki bagian tubuh memanjang di mukanya.

Spesies baru itu yakni katak (Litoria sp. nov.) yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti Pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktifitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.

Kepala Komunikasi Conservation International (CI) Elshinta S Marsden di Jakarta, Senin (17/5/2010) malam mengatakan katak tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak spesies baru yang ditemukan selama Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2008. Ekspedisi ini merupakan kolaborasi ilmuwan dari dalam dan luar negeri termasuk para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain katak Pinokio, spesies baru yang ditemukan lainnya antara lain tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp. nov.) anggota kangguru terkecil di dunia, serta seekor kangguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka penampakannya dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah Guinea Baru lainnya.

Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp. nov.) dengan bulu-bulu yang terlihat berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei RAP itu, antara lain kelelawar kembang baru (Syconycteris sp. nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp. nov.), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

“Untuk menentukan temuan tersebut betul-betul terbaru perlu diteliti dulu famili dan habitatnya. Hal itu butuh waktu bertahun-tahun,” katanya. Kepastian penemuan itu diungkapkan dalam rangka menandai peringatan Hari Keanekaan Ragam Hayati se-Dunia (International Day for Biological Diversity) pada 22 Mei.

Pada ekspedisi RAP yang didukung The National Geographic Society dan Smithsonian Institution ini, para ahli biologi bertahan menghadapi hujan badai yang lebat dan banjir bandang yang mengancam sambil terus melacak spesies-spesies, mulai dari bukit rendah di Desa Kwerba sampai ke puncaknya pada kisaran 2.200 meter di atas muka laut.

Disebutkan juga, Wakil Presiden Regional CI Indonesia Jatna Supriatna PhD, mengatakan temuan ini dapat menunjukkan berapa banyak bentuk spesies unik yang hanya hidup di hutan-hutan pegunungan Papua, dan menyadarkan dunia betapa hutan-hutan ini harus dilestarikan.

“Para peneliti LIPI merasa sangat bersyukur turut terlibat dalam pengungkapan keanekaan ragam hayati kawasan Pegunungan Foja, Mamberamo. Adanya kerja sama penelitian ini jelas mendukung program-program konservasi pada kawasan yang memiliki biodiversitas sangat tinggi dan termasuk dalam daftar perlindungan Undang-Undang RI,” kata Ketua Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr. Hari Sutrisno.

Sedangkan Gubernur Papua, Barnabas Suebu mengingatkan, pihaknya sepakat dan sangat mendukung agar wilayah-wilayah ber-biodiversitas sangat tinggi di Provinsi Papua dipertahankan, karena banyak spesies endemik di wilayah ini yang masih terisolasi, dan tidak terdapat di belahan dunia lain.

Read Full Post »

Sepertiga akhir bulan April 2009, saya bersama tim (alumni kehutanan USU, dan mahasiswa tingkat akhir Departemen Kehutanan USU) beserta staf BKSDA Seksi Singkil dan masyarakat lokal melakukan survey di Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui simpanan karbon baik pada tegakan hutan, maupun dalam gambut yang hampir menutupi 95% suaka margasatwa tersebut. Selain hutan rawa gambut, pada SMRS juga dijumpai hutan mangrove, rawa nipah, dan hutan pantai.

Berbagai hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa hutan rawa gambut di SMRS merupakan habitat bagi berbagai satwa langka yang hampir punah, seperti orangutan Sumatera, harimau Sumatera dan gajah Sumatera serta berbagai satwa liar lainnya. Hutan rawa gambut tersebut juga menyediakan berbagai jenis ikan yang dapat dikonsumsi masyarakat. Selain itu, hutan pada SMRS juga menjadi pelindung dari angin badai, dan bencana tsunami yang terjadi di akhir tahun 2004 lalu.

1 BKSDA Office at SingkilSebelum memasuki kawasan SMRS, peneliti harus mendapatkan izin dan BKSDA setempat dan selama di lapangan didampingi oleh staf BKSDA. Untuk memasuki kawasan SMRS dapat melalui Singkil, Rundeng maupun Trumon.

 

 

 

2 SMRS from Sungai Alas

Sebagian besar kawasan SMRS berbatasan dengan Sungai Alas di bagian Selatan dan Timur dan dengan Sumadera Indonesia di bagian Barat. Pemandangan bentang alam yang sangat indah tersaji saat menyusuri Sungai Alas dari pelabuhan boat di Kilangan, Singkil.

4 Using boat in SMRS

Boat merupakan alat transportasi utama untuk menjelajahi SMRS mengingat hampir sebagian besar kawasannya berupa hutan rawa gambut, dan hutan mangrove serta hutan pantai yang langsung berbatasan dengan lautan lepas. 

5 Author at Coastal Forest within SMRS

Hutan pantai di bagian barat kawasan berperan penting dalam melindungi kawasan di belakangnya dari angin badai dari laut dan gelombang tsunami, seperti yang terjadi pada tsunami 26 Desember 2004 akibat gempa besar yang berpusat dekat Pulau Seumeulu, dan 28 Maret 2005 akibat gempa besar yang berpusat dekat Pulau Nias.

6 Local community

Sebagian kecil masyarakat lokal Kuala Baru, Singkil mengumpulkan kayu bakar dari pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbang atau sudah tua di lahan milik mereka di luar kawasan SMRS. Perkampungan Kuala Baru terletak di bagian barat SMRS dan langsung berbatasan dengan Samudra Indonesia.

7 Measuring the tree's dbh

8 Measuring the mangrove tree's dbh

Pengukuran diameter pohon merupakan salah satu kegiatan untuk menduga simpanan karbon dalam tegakan hutan dengan menggunakan persamaan alometrik.

 

14 Sampling the peat soil

15 Soil sampling by ring sampler

 Pengukuran kedalaman gambut dengan bor gambut dan pengambilan contoh tanah dengan ring sampler merupakan salah satu kegiatan lapangan untuk pendugaan karbon yang tersimpan dalam tanah. 

10 Survey team

12 Bakung-bakung way

 Sebagian besar sungai-sungai di dalam hutan rawa gambut SMRS hampir ditutupi oleh tumbuhan air yang disebut dengan bakung-bakung. Sungai tersebut sebelum memiliki lebar antara 50-100 m dengan kedalaman mencapai 10 m.  Berbagai jenis ikan hidup di bawah tumbuhan bakung-bakung tersebut.

11 Forest stand die due to eartquake

17 Flooding due to soil subsidence as impact of eartquake

Akibat gempa besar di akhir tahun 2004 dan akhir bulan Maret 2005, tanah di bagian barat SMRS turus sekitar 1,0-2,0 m. Hal ini menyebabkan seringnya pasang air laut merendam permukiman penduduk. Sebelum kejadian gempa tersebut, rumah-rumah tersebut umumnya minimal berada  1 m dari air pasang tertinggi. Selain itu, turunnya tanah tersebut diduga memicu kematian massal pohon brembang (Sonneratia caseolaris) dan beberapa jenis lainnya di hutan mangrove dan hutan rawa gambut sebagai akibat lanjutan dari semakin lama, semakin sering dan semakin tingginya air pasang menerpa lahan tersebut.

Salah satu artikel berjudul The Earthquake and Tsunami Impact on Coastal Forests, Mangrove Forests and Nipah Swamp Vegetation in Aceh Singkil, Northern Sumatra, Indonesia akan penulis sampaikan pada the South China Sea Tsunami Workshop 3 (SCSTW3). Workshop tsb akan berlangsung pada 03-05 November 2009 at Eureka Complex, Minden Main Campus, USM Penang, Malaysia.

18 Forest types in SMRS as ecosystem protection, carbon pool and habitat of wildlifes

Berbagai tipe hutan di SMRS berperan penting dalam menyediakan jasa lingkungan, misalnya gudang simpanan karbon yang penting dalam upaya mencegah pemanasan global, melindungi daerah di belakangnya dari terjangan angin badai dan gelombang tsunami, habitat bagi berbagai satwa liar yang hampir punah, pencegah banjir dan sekalian menjaga ketersediaan air tanah serta mencegah intrusi air laut. Lahan basah berupa rawa gambut dan hutan mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat lokal. Selian itu, jatuhan serasah hutan rawa gambut dan hutan mangrove akan selalu mengalirkan berbagai bahan makanan bagi perikanan pesisir pantai.

Save the tropical peat swamp forests in Rawa Singkil Sanctuary.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Conservation International Indonesia, khususnya kpd Ykh Ibu Saodah, Bung Farid dan Bung Erwin atas diskusi dan kerjasamanya serta dukungan dana dalam survey ini. Terima kasih yang besar kami sampaikan kpd Bpk Nurdin, M.Si atas kerjasamanya, kpd ibu Dr Deni atas diskusi dan bantuan dalam analisis tanah. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pimpinan dan staf BKSDA Seksi Singkil atas izin dan pendampingan selama di lapangan. Selanjutnya kepada mahasiswa tingkat akhir dan alumni kehutanan USU, seperti Sdr Sanusi, Sdr Ari, Sdr Zainal dan Sdr Stanly atas bantuan dalam survey lapangan. Terima kasih yang tinggi kami sampaikan kepada yang kami hormati Panglima Hutan wilayah Singkil sampai Buluh Seuma, Bapak Rusli atas bantuan dan bimbingan bagi tim survey selama survey di lapangan kami sampaikan terima kasih. Terima kasih juga kami sampaikan kepada masyarakat di sekitar SMRS, nakhkoda boat: bapak Mahmud dan bapak Haji atas bantuan dalam pelaksanaan survey di lapangan.

Onrizal

Read Full Post »

LUBUK LARANGAN YANG MENGHIDUPKAN

Onrizal

Peneliti Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan USU

Staf Pengajar Departemen Kehutanan FP USU

 

Umumnya kita manusia ingin selalu hidup bebas. Tidak ada yang ingin ada larangan apalagi apa-apa tidak boleh. Larangan dianggap membatasi dan merugikan! Bukankah demikian?

Namun bagi masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), terutama yang hidup di pinggiran sungai, misalnya Batang Gadis dan Batang Toru atau sungai lainnya, kata “larangan” sudah menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Jika pembaca sempat mengunjungi atau melewati daerah aliran sungai tersebut, kita akan dengan mudah menjumpai papan pengumuman tentang lubuk larangan.

Lalu, apa yang dimaksud dengan lubuk larangan? Lubuk larangan yang dipraktekan di daerah Tapsel dan Madina adalah bagian tertentu dari sungai dengan panjang tertentu dengan larangan mengambil ikan dengan cara apapun bagi siapa saja, kecuali pada waktu tertentu. Daerah yang dilarang tersebut disebut dengan “lubuk larangan”. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda berupa sejumlah uang tertentu (Onrizal, 2007).

……………………..

Lubuk larangan hanyalah salah satu contoh kearifan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam. Mereka memberikan contoh nyata dalam pengelolaan sumberdaya alam secara lestari dan dilakukan secara mandiri. Mereka menjaga sungai yang ada di hulu, sehingga masyarakat di hilir tidak terkurangi haknya untuk mendapatkan sumber kehidupan dari sungai yang airnya terus mengalir. Mereka melakukan hal tersebut bukan karena pengarahan orang ‘terpelajar’ dari kota, tetapi kedekatan mereka dengan alam menjadikan mereka arif dan bijak dalam mengelola sumberdaya alam, sehingga tahu apa yang harus dilakukan untuk kehidupan mereka dan apa yang harus dihindari yang bisa membahayakan atau merugikan (Onrizal, 2007).

Konsep “larangan” yang ada dalam khasanah budaya Mandailing dan Angkola dalam hal ini adalah “lubuk larangan” telah ditransformasikan ke dalam bentuk baru yang lebih rasional oleh komunitas-komunitas desa di sepanjang aliran sungai di wilayah Tapsel dan Madina (Perbatakusuma, 2007). Alam telah menjadi guru bagi mereka untuk berbuat dan berperilaku. Saatnya bagi kita untuk mengambil pelajaran dari mereka.

Selengkapnya setelah Buku EGI 2009 Sumatera Utara terbit

Read Full Post »

Older Posts »