Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2008

Nipah swamp community in Sungai Serapuh included the primary and secondary nipah swamp vegetation community, however, all of nipah swamp community in Sungai Besitang was only composed by disturbed community. Undisturbed nipah swamp community did not found in Sungai Besitang. Therefore, the nipah swamp community in Sungai Serapus is more complete and representative than Sungai Besitang for PhD research program.

 

Full Report in doc, ppt

Advertisements

Read Full Post »

Beberapa artikel yang ditulis oleh Onrizal maupun dengan penulis lain tersedia di website Perpustakaan USU.

Daftar artikel dimaksud adalah:

Restorasi Lahan Terkontaminasi Logam Berat
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Secara umum diketahui bahwa logam berat merupakan unsur yang berbahaya di permukaan bumi, sehingga kontaminasi logam berat di lingkungan merupakan masalah besar dunia saat itu, oleh Onrizal…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2006-04-05 |  Dibaca: 1846 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Hutan Dan Pengaturan Tata Air
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Air esensial bagi kehidupan. Kehidupan manusia, flora dan fauna, baik yang terlihat (makroorganisme) Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 4040 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Ekosistem Sungai Dan Bantaran Sungai
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Sungai diibaratkan sebagai urat nadi dalam tubuh manusia, sementara air yang mengalir dalam urat nadi tersebut adalah seumpama darah. Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 5559 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Adaptasi Tumbuhan Mangrove Pada Lingkungan Salin Dan Jenuh Air
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Hutan mangrove merupakan formasi hutan yang tumbuh dan berkembang pada daerah landai, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 5261 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Pembukaan Lahan Dengan Dan Tanpa Bakar
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Pertambahan penduduk dunia antara lain berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan lahan, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 2258 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Pengelolaan hutan alam tropika basah untuk tujuan produksi berpedoman pada azas kelestarian hasil, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 2153 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Restorasi Lahan Terkontaminasi Logam Berat
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Secara umum diketahui bahwa logam berat merupakan unsur yang berbahaya di permukaan bumi, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 5383 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Teknik Pembuatan Herbarium
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Kegiatan penelitian dalam bidang kehutanan semakin beraneka ragam, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2005-02-25 |  Dibaca: 2014 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Metodologi Penilaian Tegakan Hutan Tanaman
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Pengelolaan hutan selalu ditujukan untuk mendapatkan manfaat optimum. Memahami manfaat hutan, mengandung arti harus dilakukannya penilaian terhadap Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2002-08-29 |  Dibaca: 460 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Flora Dan Habitat Hutan Mangrove
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Sebagai negara kepulauan, Indonesia terdiri atas lebih dari 17.508 buah pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km (Soegiarto, 1984). Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2002-08-29 |  Dibaca: 1587 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Studi Pengelolaan Hutan Mangrove Sebagai Suaka Margasatwa: Studi Kasus Di Suaka Margasatwa Karang
Penulis: Onrizal
Deskripsi: SM KGLTL merupakan satu-satunya suaka mergasatwa di Indonesia yang sebagian besar kawasannya berupa hutan mangrove. Bersarkan letaknya di pesisir pantai, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2002-08-29 |  Dibaca: 638 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Evaluasi Kerusakan Kawasan Mangrove Dan Alternatif Rehabilitasi Di Jawa Barat Dan Banten
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Mangrove sebagai salah satu komponen ekosistem pesisir memegang peranan yang cukup penting, Oleh ONRIZAL…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2002-08-29 |  Dibaca: 2088 kali |  Di-download: 0 kali |  Komentar: 0
Model Penduga Biomassa Dan Karbon Tegakan Hutan Kerangas Di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat
Penulis: Onrizal
Deskripsi: Biomassa dan karbon di atas permukaan tanah dari tegakan hutan kerangas di Taman Nasional Danau Sentarum TNDS, Kalimantan Barat telah diduga dalam kurun waktu Desember 2003 – Februari 2004. Metode hubungan alometrik digunakan untuk menduga biomassa dan ka…
[ baca selanjutnya ]
Tanggal Upload: 2008-04-23 |  Dibaca: 80 kali |  Di-download: 3 kali |  Komentar: 0

Read Full Post »

Hutan dan pengaturan tata air

Onrizal

Air esensial bagi kehidupan. Kehidupan manusia, flora dan fauna, baik yang terlihat secara kasat mata(makroorganisme) maupun yang tidak terlihat dengan mata telanjang (mikroorganisme) sangat tergantung pada air. Sehingga, secara alamiah, dapat dipahami bahwa tanpa air tidak ada kehidupan, karena berbagai fungsi air bagi kehidupan tidak tergantikan oleh benda lain.

Untuk artikel lengkap silahkan download pada web Perpustakaan USU

Read Full Post »

Buku “Jenis-jenis pohon mangrove di Teluk Bintuni, Papua” merupakan sebagian dari hasil penelitian skripsi Onrizal (NIM: E29.1447) saat menyelesaikan studi sarjana pada Fakultas Kehutanan IPB. Penelitian dan penerbitan buku tersebut dibiayai oleh PT BUMWI.

Buku tersebut telah diterbitkan sebanyak 3 kali, yaitu edisi pertama tahun 1997, edisi kedua tahun 2003 dengan penambahan data kondisi lingkungan, silvikultur dan pemanfaatan, dan edisi ketiga tahun 2006 dengan penyempurnaan dari 2 edisi sebelumnya.

Wassalam,

Onrizal

Read Full Post »

ABSTRACT

Ecological studies on mangrove forest in East Coast of North Sumatra have been carried out with field work in transect method and laboratory analyses. This study would be covered on floristic composition, abrasion, green belt, soil properties, and water quality of mangroves. Land system map and landsat TM imagery (year 1996 coverage) as main material in this study were used and overlay to determine training area. Based on vegetation inventory found that 20 mangrove species and by vegetation analyses, we known that Avicennia marina was as dominant tree species of seedling and sapling stage. Tree stage was not found in the area, yet. Environment properties of the mangrove area were suitable for mangrove growth and rehabilitation with the exception of pyrite content in the mangrove soil. Average of mangrove green belt was 25 m with range from 10 to 80 m in KJP land system and 30 m with range 10 to 50 m in PTG land system. Abrasion rate in the area was very high, i.e. 6 m per year in KJP land system, and 10 m per year in PTG land system.

Artikel lengkapnya di: sini

 

Read Full Post »

SETAHUN PASCA TSUNAMI:

MENGAPA HUTAN MANGROVE DAN HUTAN PANTAI HARUS DILESTARIKAN?

 

ONRIZAL

 

Hutan mangrove dan hutan pantai merupakan salah satu topik yang banyak dibicarakan setelah tsunami setahun lalu – 26 Desember 2004 – yang menelan korban ratusan ribu nyawa dan kehancuran sarana dan prasarana kehidupan di sebagian besar pesisir Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan pantai barat Sumatera Utara dan belasan negara lainnya mulai dari Asia Tenggara sampai pantai timur benua Afrika hanya dalam waktu beberapa menit saja. Pembicaraan itu bukan hanya pada tingkatan lokal, namun mencapai tingkat nasional dan internasional mengingat dampak tsunami yang massif dengan jangkauan yang luas.

Sebagai contoh misalnya, masyarakat lokal yang selamat menginginkan pantainya ditanamai kembali dengan hutan bakau (istilah umum untuk hutan mangrove) atau hutan pantai. Pada tingkat nasional, Menteri Kehutanan – MS Kaban langsung memprioritaskan rehabilitasi hutan mangrove yang rusak, tidak hanya di NAD dan Sumatera Utara namun di seluruh Indonesia dalam kerangka Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) mulai tahun 2005. Dana puluhan milyar rupiah-pun telah disiapkan. Sekitar bulan Maret 2005, Menhut langsung secara simbolis melakukan penanaman mangrove di Aceh. Lalu pada tingkat Internasional ada pertemuan para ahli ekologi dunia di India yang berakhir pada 2 Februari 2005 menyimpulkan bahwa hutan mangrove secara nyata mengurangi dampak tsunami di pesisir pantai Asia, sehingga hutan mangrove merupakan pelindung alami pantai dari tsunami dan apabila mangrove hilang, maka kerusakan yang terjadi akan maksimal.

Ya, memang, pembicaraan tentang hutan mangrove dan hutan pantai semakin meningkat sejak peristiwa tersebut. Sebelumnya sangat jarang yang membicarakannya. Jangankan di masyarakat umum, kondisi yang hampir sama pun dijumpai pada mahasiswa kehutanan. Mungkin informasi berikut bisa memberikan gambaran. Saat penulis kuliah di Fakultas Kehutanan IPB di awal tahun 1990, sangat sedikit mahasiswa yang mengambil skripsi dengan topik hutan mangrove dan hutan pantai. Semacam “guyonan” sering ada di antara mahasiswa: “sudah berlumpur dan banyak nyamuk, namun kalau lulus sangat sedikit HPH yang mau nampung” Memang kalau penelitian di hutan mangrove pasti akan setiap hari berkubang lumpur dan digigiti nyamuk, lalu setelah lulus sangat sedikit HPH (hak pengusahaan hutan) yang arealnya berupa hutan mangrove dan hanya bisa dihitung dengan jari, sehingga otomatis lapangan kerjanyapun “sempit”. Selain itu, penggunaan kayu mangrove yang komersial saat itu masih terbatas. Begitu juga dengan hutan pantai, meskipun tidak berlumpur, namun tidak ada HPH yang mengelola hutan pantai karena kayunya tidak komersial. Sampai saat ini, masih sangat sedikit laporan terkait dengan berbagai hal tentang hutan pantai di Indonesia

Beda dengan hutan hujan tropika dataran rendah yang kaya akan jenis-jenis komersial, seperti meranti dan keruing yang jumlahnya banyak dan harganya pun tinggi serta ratusan HPH dengan luas jutaan ha merupakan lapangan kerja yang menggiurkan bagi kebanyakan lulusan sarjana kehutanan. Oleh karenanya sangat sedikit yang mau mengambil keahlian di bidang hutan mangrove dan hutan pantai dibandingan dengan hutan hujan tropika dataran rendah.

Akibat berikutnya adalah banyak hutan mangrove dan hutan pantai yang rusak akibat konversi menjadi peruntukkan lain, misalnya tambah, perkebunan, areal industri dan lain sebagainya. Salah satu alasan yang sering digunakan adalah daripada areal tersebut tidak bernilai ekonomi, semacam areal terlantar, maka lebih baik dijadikan tambak yang hitung-hitungan keuntungannya “sudah jelas” Namun apa lacur, berbagai fakta dilapangan kemudian menunjukkan bahwa tambak yang dibangun dengan menebang habis hutan mangrove yang sebelumnya tumbuh di daerah itu hanya produktif sekitar 3 – 4 tahun saja. Setelah itu, ikan dan udang yang diusahakan habis oleh hama dan penyakit. Selain itu, abrasi atau pengkisan pantai oleh arus laut meningkat tajam, dimana diberbagai pantai laju abrasinya lebih dari 10 m setiap tahunnya. Bisa dibanyangkan berapa luas daratan pantai yang hilang. Kondisi tersebut jelas terlihat di pantai utara (pantura) Jawa, Sulawesi, Bali, dan Sumatera.

Contoh terakhir adalah kehancuran sebagian besar pesisir pantai akibat tsunami di akhir tahun lalu. Pada sisi lain juga dijumpai pesisir pantai yang selamat dari tsunami karena energi gelombang tsunami diredam oleh hutan mangrove dan hutan pantai yang masih baik dan kompak di daerah tersebut, misalnya di pantai utara Nias, seperti yang penulis temukan dan di Lhok Pawoh dan Ladang Tuha di Aceh Selatan, seperti dilaporkan WI-IP. Kondisi inilah yang kemudian menjadi pemicu meningkatnya pembicaraan tentang hutan mangrove dan hutan pantai pasca tsunami. Dan tentu, hal ini pulalah sebagai alasan utama mengapa hutan mangrove dan hutan pantai harus dipertahankan atau harus dilestarikan. Lalu, apa alasan lainnya?

Berbagai fungsi hutan mangrove dan hutan pantai

Hutan mangrove dan hutan pantai merupakan sumberdaya alam daerah tropika yang mempunyai manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat luas ditinjau dari aspek sosial, ekonomis, dan ekologi. Besarnya peranan hutan atau ekosistem mangrove dan hutan pantai bagi kehidupan, dapat diketahui dari banyaknya jenis flora dan fauna yang hidup di dalam ekosistem perairan dan daratan yang membentuk ekosistem mangrove.

Fungsi fisik

Secara fisik hutan mangrove dan hutan pantai menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi pantai, melindungi daerah dibelakangnya dari hempasan gelombang dan angin kencang, dan mencegah intrusi air garam (salt intrution) ke arah darat. Selain itu, secara khusus hutan mangrove juga berguna sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, mengolah limbah organik, dan sebagainya.

Setiap saat pantai terancam abrasi akibat arus dan gelombang laut yang selalu bergerak. Tanpa keberadaan hutan mangrove dan hutan pantai, sangat besar peluang pinggir pantai tergerus oleh arus dan gelombang yang terus menerpanya.

Beberapa contoh hasil penelitian juga menunjukkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai dalam meredam energi arus gelombang laut, seperti tergambar dari hasil penelitian Pratikto et al. (2002) dan Instiyanto dkk (2003). Pratikto melaporkan bahwa hutan mangrove di Teluk Grajagan – Banyuwangi mampu mereduksi atau mengurangi energi gelombang yang menerpa kawasan pantai tersebut. Istiyanto dkk (2003) melalui pengujian laboratorium juga menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut. Seorang ahli ekologi – Venkataramani tahun 2004 menyatakan bahwa hutan mangrove yang lebat berfungsi seperti tembok yang melindungi kehidupan masyarakat pesisir di belakang mangrove dari tsunami. Selanjutnya, lembaga penelitian MSSRF tahun 2005 menjelaskan bahwa hutan mangrove mengurangi dampak tsunami melalui dua cara, yaitu kecepatan air berkurang karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat, dan volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan menjadi sedikit karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove.

Vegetasi mangrove juga dapat menyerap dan mengurangi pencemaran (polutan).  Jaringan anatomi tumbuhan mangrove mampu menyerap bahan polutan, misalnya penelitian Darmiyati dkk tahun 1995 menemukan jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap 300 ppm Mn, 20 ppm Zn, 15 ppm Cu dan penelitian Saefullah tahun 1995 menginformasikan pada daun Avicennia marina terdapat akumulasi Pb ³ 15 ppm, Cd ³ 0,5 ppm,   Ni ³ 2,4 ppm. Unsur-unsur tersebut merupakan pulutan berupa logam berat jika berada dilingkungan akan berbahaya bagi flora lain dan fauna, termasuk bagi manusia. Dengan demikian hutan mampu mereduksi polutan dari lingkungan

Selain itu, hutan mangrove dapat mengendalikan intrusi air laut sebagaimana yang dilaporkan Hilmi tahun 1998, yakni percepatan intrusi air laut di pantai Jakarta meningkat dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 km menjadi 4,24 km pada areal tidak berhutan.

Hasil analisis sedimentologi oleh Sediadi (1990) menunjukkan bahwa pada habitat Rhizophora spp. dan Avicennia spp. kandungan lumpurnya mencapai 61 %, sedangkan sisanya berupa pasir dan kerikil.  Selanjutnya Suryana dkk (1998) melaporkan bahwa tanah timbul di pantai utara pulau Jawa hanya dijumpai didepan hutan mangrove dengan fenomena semakin lebar mangrove semakin lebar pula tanah timbulnya dengan perimbangan ratio rataan sekitar 5 m tanah timbul per 1 m lebar mangrove.

 

Fungsi biologis

Secara biologi hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah berkembang biak (nursery ground), tempat memijah (spawning ground), dan mencari makanan (feeding ground) untuk berbagai organisme yang bernilai ekonomis khususnya ikan dan udang. Habitat berbagai satwa liar antara lain, reptilia, mamalia, hurting dan lain-lain. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan sumber plasma nutfah.

Ekosistem hutan mangrove memiliki produktivitas yang tinggi. Seorang peneliti, White (1987) melaporkan produktivitas primer ekosistem mangrove ini sekitar 400-500 gram karbon/m2/tahun adalah tujuh kali lebih produktif dari ekosistem perairan pantai lainnya. Oleh karenanya, ekosistem mangrove mampu menopang keanekaragaman jenis yang tinggi. Seperti dilaporkan Naamin tahun 1990, daun mangrove yang berguguran diuraikan oleh fungi, bakteri dan protozoa menjadi komponen-komponen bahan organik yang lebih sederhana (detritus) yang menjadi sumber makanan bagi banyak biota perairan (udang, kepiting dan lain-lain). Dengan demikian, kerusakan apalagi kehilangan hutan mangrove akan menyebabkan terputusnya awal rantai makanan di pesisir pantai, sehingga ikan dan udang serta fauna perairan pantai tidak mendapatkan pakan. Akibat berikutnya adalah berkurangnya populasi ikan dan selanjutnya berdampak langsung pada menurunnya tangkapan nelayan.

Fungsi ekonomi atau fungsi produksi

Mangrove sejak lama telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ahli ekologi mangrove dunia, Saenger (1983) mencatat sekitar 67 macam produk yang dapat dihasilkan oleh ekosistem hutan mangrove dan sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat, misalnya untuk bahan bakar (kayu bakar, arang, alkohol); bahan bangunan (tiang-tiang, papan, pagar); alat-alat penangkapan ikan (tiang sero, bubu, pelampung, tanin untuk penyamak); tekstil dan kulit (rayon, bahan untuk pakaian, tanin untuk menyamak kulit); makanan, minuman dan obat-obatan (gula, alkohol, minyak sayur, cuka); peralatan rumah tangga (mebel, lem, minyak untuk menata rambut); pertanian (pupuk hijau); chips untuk pabrik kertas dan lain-lain. Secara tradisional, sudah sejak lama masyarakat yang berada di pesisir pantai mendapatkan bahan-bahan obat-obatan dari hutan mangrove dan hutan pantai.

Penutup

Keberadaan hutan mangrove dan hutan pantai tidak saja mampu secara nnyata melindungi pesisir pantai dari kerusakan akibat angin, abrasi sampai gelombang tsunami, namun juga memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya.  Sehingga kehilangan hutan mangrove dan hutan pantai, secara langsung akan berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir, termasuk hilangnya mata pencaharian serta sumber kehidupan mereka lainnya dan ancaman kehancuran pesisir pantai akibat gempuran arus laut dan angin yang pasti selalu hadir di kawasan tersebut. Dengan demikin, keberadaannya di kawasan pesisir pantai adalah sebuah kemestian. Oleh karena itu, hutan mangrove dan hutan pantai yang rusak harus segera direhabilitasi agar kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Sebagai kesimpulan akhir, mengelola hutan mangrove dan hutan pantai berarti menjaga hidup dan kehidupan manusia serta makhluk lainnya. Inilah alasan utama, mengapa hutan mangrove dan hutan pantai harus dikelola secara lestari.

  

Read Full Post »

ANCAMAN KELESTARIAN SUAKA MARGASATWA PULAU RAMBUT DAN ALTERNATIF REHABILITASINYA

 

Oleh:

Onrizal

 

Sejarah Kawasan

          Pulau Rambut merupakan salah satu pulau dari 108 pulau yang menyusun Kepulauan Seribu yang terletak di Teluk Jakarta. Secara geografis, pulau ini berada di antara 106,5 o 41’ 30” BT dan 5,5 o 57’ LS. Sedangkan berdasarkan administrasi pemerintahan, kawasan ini termasuk ke dalam wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

          Pulau Rambut pertama kali diusulkan sebagai kawasan konservasi disampaikan oleh Direktur Kebun Raya Bogor kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta.  Alasan yang paling penting adalah untuk melindungi berbagai jenis burung air yang banyak terdapat di pulau tersebut. Menindaklanjuti usulan tersebut, pada tahun 1937 Pulau Rambut ditetapkan secara resmi sebagai cagar alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 7 tanggal 3 Mei 1937.  Selanjutnya keputusan tersebut dibuat dalam Lembaran Negara (Staadblat) No. 245 tahun 1939.  Sedangkan pelaksanaannya diatur dalam peraturan (Ordonansi) Perlindungan Alam tahun 1941 yang dimuat dalam Lembaran Negara No. 167 tahun 194 Pada saat penetapan Pulau Rambut sebagai cagar alam pada tahun 1937 tersebut luasnya dinyatakan sebesar 20 ha. 

          Dalam perkembangannya, kondisi dan potensi Pulau Rambut terus berubah.  Berdasarkan hasil studi PPKHT IPB(1997) diketahui bahwa sebagian besar vegetasi mangrove mengalami kematian akibat pencemaran sampah dan minyak.  Selain itu, akibat tercemarnya habitat mangrove oleh sampah dan minyak juga menyebabkan terhambatnya regenerasi tumbuhan mangrove.  Oleh karena dalam suatu kawasan cagar alam tidak dibenarkan adanya campur tangan manusia dalam kegiatan pembinaan habitat di dalam kawasan, maka diusulkan dan direkomendasikan agar status Pulau Rambut dari cagar alam diubah menjadi suaka margasatwa.

          Menyambut rekomendasi tersebut dan juga dalam rangka menyelamatkan kondisi dan potensi Pulau Rambut, maka pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999 memutuskan untuk merubah status Pulau Rambut dari cagar alam menjadi suaka margasatwa dengan luas 90 ha yang terdiri atas sekitar 45 ha daratan dan 45 ha perairan.

 

Burung-burung di Pulau Rambut dan Habitatnya

 

          Secara alami, kawasan Pulau Rambut merupakan habitat berbagai satwa, terutama burung-burung air (merandai) dan tempat persinggahan burung-burung migran.  Berdasarkan berbagai hasil pengamatan, Pulau Rambut memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi, dimana sudah tercatat 56 jenis burung yang dijumpai di pulau ini. Secara umum, burung-burung tersebut terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok burung air (18 jenis) dan kelompok bukan burung air (38 jenis).

          Jumlah dan komposisi burung yang dijumpai di Pulau Rambut dari waktu ke waktu bisa saja berbeda karena dinamika habitat, perilaku dan perkembangan berbagai jenis burung tersebut.  Sebagai contoh misalnya, Suwelo (1973) dalam Fakultas Kehutanan IPB (2002) menjumpai 49 jenis burung di Pulau Rambut yang terdiri dari 16 jenis burung air dan 33 jenis  bukan burung air. Sedangkan Mardiastuti (1992) melaporkan bahwa terdapat 15 jenis burung air di Pulau Rambut. Lebih lanjut Mardiastuti (1992) menjelaskan bahwa dari 15 jenis burung air yang dijumpai tersebut, famili Heron (Ardeidae) dan Cormorant (Phalacrocoracidae) merupakan famili yang memiliki populasi terbesar. Jenis yang lainnya termasuk ke dalam family Darter (Anhingidae), Stork (Ciconiidae) dan Ibises (Threskiornithidae).

          Pulau Rambut memiliki kelebihan yang sangat menonjol sebagai tempat berbiak burung-burung air terbesar di Jawa Barat dan sekitarnya. Hutan campuran merupakan habitat burung di Pulau Rambut yang berfungsi sebagai tempat sarang, tempat kawin, tempat berkembangbiak, tempat membesarkan anak, tempat berlindung dari ancaman predator, dan tempat beristirahat. Mardiastuti (1992) melaporkan bahwa habitat burung di Pulau Rambut terdiri dari hutan mangrove primer, hutan mangrove sekunder dan hutan dataran kering campuran.

          Hutan pantai merupakan habitat yang berfungsi sebagai tempat beristirahat burung pemakan biji dan serangga, seperti tekukur, kucica dan kepodang. Hutan pantai yang didominasi oleh pohon kepuh dan kedoya yang berbatasan dengan hutan mangrove merupakan habitat yang berfungsi sebagai tempat bersarang dan tempat membesarkan anak serta tempat beristirahat.  Sulistiani (1991) menyatakan bahwa Egretta garzetta membuat sarang di hutan magrove terutama pada pohon Rhizophora sp. dan Ceriops tagal. Ayat (2002) menemukan bahwa pohon yang dijadikan sebagai tempat bersarang adalah Sterculia foetida, R. mucronata, Ficus timorensis dan Excoecaria agallocha.  Karakteristik jenis pohon sebagai inang berupa pohon masih hidup dan jenis emergent, kecuali pada tipe hutan mangrove yang memiliki tajuk yang tidak berhubungan dengan tajuk pohon di sekitarnya dan berukuran lebar, tinggi pohon > 11 meter dan diameter sekitar 66,6 cm. Sebelumnya, Imanuddin (1999) juga menemukan bahwa Myctenia cinerea bersarang pada Sterculia foetida, Manilkara kauki dan Xylocarpus granatum dengan tinggi pohon > 6 meter dan penutupan tajuk > 25,9 meter persegi. 

         Habitat kelompok bukan burung air di Pulau Rambut adalah hutan campuran, hutan pantai, dan hutan mangrove sekunder yang digunakan sebagai tempat bersarang dan tempat berlindung. Di hutan mangrove primer tidak ditemukan jenis bukan burung air. Di habitat hutan pantai, jumlah individu burung ditemukan paling banyak. Hal ini disebabkan di hutan pantai terdapat banyak pohon yang digunakan sebagai tempat bersarang dan tempat berlindung (Departemen Kehutanan,1994).

          Selengkapnya: sm-pulau-rambut 

 

Read Full Post »

Older Posts »